
"Xavier...?" Lirih Oliver ketika ia menyadari Xavier sudah terbangun dan tak lagi berada di tempat tidur.
"Anda sudah bangun, Yang Mulia? Boleh saya masuk?" Ucap seseorang dari luar pintu kamarnya.
"Eh? Siapa?"
"Elia, Yang Mulia."
"Oh masuklah..." Pinta Oliver.
Oliver masih terduduk di pinggir kasurnya dengan baju tidurnya, "Xavier pergi ke mana pagi-pagi buta begini?" Ucap Oliver lirih.
"Pangeran ada pertemuan dengan komandan militer, Yang Mulia." Jelas Elia
"Akhir pekan begini masih juga ada rapat?"
"Begitulah... Keadaan di perbatasan cukup memanas belakangan ini."
"Lalu bagaimana dengan upacara penyambutan ku minggu depan?"
"Upacara akan tetap dilakukan sesuai titah Paduka Raja, Yang Mulia tenang saja."
Oliver hanya memberikan tatapan kosong, "Mau kusiapkan air mandi, Yang Mulia?" Tawar Elia.
.
.
.
"Begini... Jika kita terus seperti ini, uang pajak rakyat akan habis sedangkan persenjataan terus menurun. Banyak pesawat tempur yang harus diservis rutin tapi tak bisa karena tak ada dana. Bahkan kami sudah mengirit untuk pelatihan-pelatihan militer yang lalu."
"Apa sudah memberi tahu raja?" Ucap Xavier.
"...Kami ingin Yang Mulia yang menyampaikannya secara langsung kepada paduka."
"Kenapa harus aku? Maksudku, bukankah selalu ada prosedur agar permasalahan ini sampai di telinga raja?"
__ADS_1
"Kami sudah melakukannya berdasarkan prosedur, tapi entah kenapa laporan yang kami buat selalu saja hanya berhenti hingga di kementrian keuangan. Kami berpikir bahwa laporan itu tidak disetujui, tapi hingga sekarang tak ada kemajuan dan keadaan semakin genting, Yang Mulia."
"Berhenti di kementrian?"
"Ya, Yang Mulia. Makanya kami mengadakan rapat darurat bersama anda."
"Bukankah sudah jelas ini korupsi?" Duga Xavier.
"Korupsi?!"
"Menurutmu kenapa laporannya tak pernah sampai ke tangan raja?"
Seluruh tentara yang hadir di rapat itu hanya diam tak bergeming.
"Karena laporan itu lenyap di tangan mereka. Dengan sengaja. Ada yang bermain-main dengan keuangan Zinnia."
"Apa menurut Yang Mulia, Tuan Doneen akan berani berbuat seperti itu?"
"Dia tak mungkin hanya sendiri, ada banyak orang di kementerian keuangan."
'Apa ayah tak memeriksa kembali laporan keuangan?' Pikir Xavier.
"Betul itu, ini pengkhianatan!" Ucap tentara lainnya.
Xavier dibuat berpikir keras.
"Liam." Panggil Xavier.
"Ya, Yang Mulia?"
"Minta kembali laporan keuangan 6 bulan ke belakang dan cek apakah ada kejanggalan pengeluaran, tak peduli apa itu dari kementerian keuangan atau instansi lain. Periksa semua yang mencurigakan dan beri laporannya pada ku lusa."
"Baik laksanakan."
"Untuk sekarang, saya akan ajukan dana darurat, agar militer kita bisa membeli keperluan utama terlebih dahulu."
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Ini aneh, semua harusnya sudah pada tempatnya. Mengapa tiba-tiba militer kita kekurangan dana?"
__ADS_1
.
.
.
.
"Jadwal anda selanjutnya adalah ke museum negara, Yang Mulia." Ujar Liam.
"Museum?"
"Akan ada peletakkan prasasti kuno Zinnia yang baru saja dikembalikan."
"Baiklah, kita berangkat."
Di perjalanan Xavier tenggelam dalam renungannya, ia berpikir bagaimana jadinya jika ayahnya tahu bahwa salah satu menterinya diduga ada yang korupsi? Tuan Doneen sendiri adalah menteri yang ditunjuk Raja Arthur langsung tanpa suara dari parlemen, dan ia sudah menghancurkan kepercayaan ayahnya.
"Liam."
"Ya, Yang Mulia?"
"Menurutmu mengapa mereka mengkorupsi anggaran militer? Mereka merencanakan apa menurutmu?"
"Saya mendengar kabar burung bahwa Tuan Doneen berencana mendirikan yayasan pribadi dari 2 tahun lalu, ia juga berencana mengirimkan anak-anaknya bersekilah di luar negeri."
"Tck... Sebuah rencana picik." Ketus Xavier.
"Kita sudah sampai, Yang Mulia."
Ini dia Museum Nasional Zinnia, tempatnya melihat koleksi rangkaian peristiwa yang terjadi di Zinnia dan juga pusaka-pusaka nasional.
Xavier disambut oleh para staf yang berkerja dan juga para wartawan yang sudah menunggu kehadirannya.
"Selamat datang, Yang Mulia. Mari ikuti kami." Ucap sang manajer museum.
Xavier mengikutinya dengan para staf yang lain sampai tiba di aula utama, tempat acaranya berlangsung. Prosesi serah terima benda pusaka itu dilakukan dengan khidmat dan berlangsung dengan baik.
Di tengah keramaian mata Xavier tertuju pada seorang staf wanita yang berdiri di seberangnya, berkalungkan tanda pengenal bertuliskan "Kurator".
__ADS_1
"Eveline...??"