
"Masuk." Ucap Xavier ketika mendengar pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.
Kepala Oliver menyembul dari balik pintu, melirik-lirik ke dalam bermaksud ingin masuk.
"Mengapa ngintip-ngintip kayak gitu? Masuk aja." Ucap Xavier.
"He-he-he... Aku takut menganggu mu." Kekeh Oliver.
"Yang Mulia, aku permisi dulu." Ucap Liam meninggalkan Xavier dan Oliver di ruangan.
"Kau sudah makan?" Tanya Oliver. Ia khawatir Xavier melewatkan makan malamnya sebab ia tak turun untuk makan malam bersama.
"Sudah." Ucap Xavier dingin.
Oliver melihat Xavier masih berkutat dengan pekerjaannya bahkan sampai selarut ini. Seperti biasa, ada dokumen yang ia harus tanda tangani. Tapi memberikan tanda tangan persetujuannya tak semudah seperti menoreh tinta di atas kertas. Belum lagi hasil pekerjaan bawahannya yang harus ia cek satu persatu.
"Masih marah?" Tanya Oliver.
Xavier kini menaikkan pandangannya menatap mata Oliver namun masih dengan wajah tanpa senyum, "Siapa yang bilang aku marah?"
"Kalau bukan marah, lantas apalagi namanya?"
"Aku hanya kesal." Sambung Xavier yang kemudian melanjutkan membaca kertas-kertas di hadapannya.
'Kesal?' batin Oliver.
"Lain kali, kalau mau pergi kemana-mana itu bilang. Setidaknya pada asistenmu, Elia. Jika tidak ada aku, sampaikan saja pada Liam." Ucap Xavier dengan nada pelan.
Oliver pun mendekat dan berdiri di belakang kursi kerja yang diduduki Xavier, "Baiklah... Tidak akan kuulangi lagi..." Ucap Oliver sembari memijiti pundak Xavier yang sudah kaku sebab bekerja seharian.
"Dan jangan pergi dengan lelaki lain selain aku sendirian." Tambah Xavier.
"Kenapa? Kau cemburu?" Goda Oliver.
"Bukan....–"
Oliver tertawa kecil, "Kau cemburu pada Charlotte? Tutorku?"
"Bukan begitu...–" Xavier kemudian memutar kursi yang didudukinya itu dan langsung menghadap Oliver.
Tubuh mereka berhadapan, "Paparazi akan membuntuti mu dan membuat berita aneh-aneh tentang mu. Bukan cuma dirimu yang menderita, tapi Charlotte juga bisa terganggu oleh para paparazi sialan itu. Kau tak mau itu terjadi 'kan?" Jelas Xavier.
"Hmm–" Oliver mengangguk.
"Pintar." Xavier menepuk kepala Oliver dengan lembut dan memutar kembali kursinya menghadap meja.
"Maaf..." Lirih Oliver pelan.
"Maaf? Untuk apa?"
"Karena membuatmu khawatir..."
"Kau tak perlu meminta maaf hanya karena ingin makan es krim, ini bukan salahmu Oliver, dan bukan pula salah Charlotte. Kau lah yang harusnya mendapat permintaan maaf dari para reporter sialan yang memotret mu diam-diam. Aku akan minta Liam mengurus kejadian ini, tak perlu khawatir."
__ADS_1
Oliver terdiam, ia kira Xavier akan menyalahkannya atau paling tidak menghukumnya karena kejadian ini. Tapi Xavier malahan membuat hatinya lebih tenang. Hatinya dibuat hangat sekali lagi, sampai-sampai ia tak bisa membendung senyum di wajahnya.
*Cup
Satu kecupan mendarat di pipi Xavier berhasil membuat pemiliknya bersemu merah. Oliver dengan jahil mengecup pipinya dari samping dan langsung berlari begitu saja.
"Aku tidur duluan ya!!" Ucap Oliver sambil berlari keluar ruangan menuju kembali ke kamarnya.
'Aku... Tak terbiasa dengan afeksi ini...' batin Xavier yang masih mematung sembari tersenyum tipis.
Di sisi lain, Oliver pun wajahnya ikut bersemu merah dengan memasang senyum jahil sembari tertawa kecil. Hatinya berbunga-bunga, seolah-olah banyak kupu-kupu akan keluar dari perutnya.
Di lorong menuju kamarnya, Oliver mendapati seorang lelaki berumur awal lima puluhan yang tengah duduk di meja sebelah tangga menuju kamarnya. Ia cukup tersentak, sebab sosok yang ia dapati bukanlah sosok biasa dan sering ia temui di istana. Dia adalah adik Raja Arthur, yaitu Pangeran Dominick.
"Y-Yang... Mulia..." Ucap Oliver.
Pangeran Dominick menoleh ke arah Oliver, "Halo, keponakan ku."
Entah kenapa ada hawa dingin di setiap penggalan kata yang terucap dari mulut Pangeran Dominick. Bagi Oliver sendiri ini pertama kalinya ia bisa berbicara langsung empat mata dengan paman suaminya. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat upacara pernikahan, itu pun Pangeran Dominick langsung saja pulang setelah sesi foto bersama.
Pangeran Dominick berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Oliver, "Sejujurnya kau tak perlu memanggilku 'Yang Mulia', karena sekarang kau istri Xavier yang notabene putra mahkota maka status mu lebih tinggi daripada ku. Kau bisa memanggilku 'Tuan' atau menyebutku 'Paman' saja, Yang Mulia."
Oliver terdiam. Selain pelayan yang memanggilnya dengan sebutan 'Yang Mulia', terasa aneh mendapati anggota keluarga kerajaan senior memanggilnya seperti itu.
"B-Baik, Tuan." Timpal Oliver.
"Dan ya, aku belum memberi hormat yang pantas bagimu, Tuan Putri. Izinkan saya– Salam hormat, Yang Mulia." Pangeran Dominick pun membungkuk, Oliver lalu membalas salamnya. Ada satu hal yang Oliver sadari dari Pangeran Dominick, sorot matanya sangat tajam dan dingin seolah dapat menusuk tulangnya. Ia tak pernah tahu banyak tentang Pangeran Dominick selain fakta bahwa beliau adalah adik Raja Arthur, seperti apa orangnya? Bagaimana sifatnya?
"Sepertinya keponakan ku terkejut melihatku di sini, bukan begitu? Tapi tenang saja, aku hanya mampir untuk bertemu kakak ku. Sayang sekali aku melewatkan waktu makan malam." Ucap Pangeran Dominick dingin.
"Tidak sama sekali. Secara pribadi, aku sama sekali tak ingin menginjakan kaki lagi di istana memuakkan ini dan jika anggota keluarga kerajaan lain selain keluarga inti kakak ku ada di sini, berarti ada yang tidak baik-baik saja. Sampai sini paham?" Ujar Pangeran Dominick.
Oliver mengangguk paham, ia ingin sekali pergi menuju kamarnya. Ia tidak tahan dengan suasana canggung ini.
"Berhentilah berbuat gaduh."
'eh?'
"Berhenti membuat ayah mertua dan suami mu khawatir karena tingkah mu yang ceroboh."
"Gaduh? Apa maksud paman?" Oliver tak paham.
"Kejadian sore ini– Apa kau pikir hal tersebut tidak akan menyebar dengan cepat? Rumornya sudah sampai ke telingaku dan kakak ku yang malang sakit kepalanya semakin memburuk akibat ini." Pangeran Dominick menjawabnya dengan sangat dingin, dengan wajah datar dan suara tanpa emosi.
Pangeran Dominick mengambil satu langkah untuk lebih dekat dengan Oliver, "Kau ini dulunya orang luar, berterima kasihlah pada ayahku dan janji bodohnya itu. Sekali kau berbuat salah mungkin itu tak sengaja, dua kali akan lebih mudah, tiga kali sudah jadi kebiasaan– Kau bisa dengan mudah masuk ke istana ini itu berarti kau bisa dengan mudah juga dikeluarkan dari sini, ingat itu."
Kemudian derap langkah Pangeran Dominick terdengar, ia pergi meninggalkan Oliver di tempatnya dia berdiri. Entah memang masih butuh waktu untuk Oliver mengenal tiap-tiap karakteristik orang-orang di istana ini, tapi Oliver tahu bahwa ini tak 'kan mudah.
"Sudah jangan dipikirkan, lebih baik aku kembali ke kamar." Ucap Oliver pada dirinya.
Oliver kembali ke kamarnya dan dengan dibantu Elia, ia bergegas mengganti pakaian dengan piyama tidurnya.
"Selamat malam, Yang Mulia." Ujar Elia ketika meninggalkan Oliver 'tuk beristirahat.
"Terima kasih dan selamat malam, Elia." Timpal Oliver.
__ADS_1
Xavier belum juga kembali ke kamar mereka, tapi itu tak masalah, Oliver sudah biasa dengan hal tersebut belakangan ini. Kini ia berbaring dengan diselimuti oleh selimut besarnya yang hangat. Meski sudah mengubah posisi tidurnya berkali-kali tapi tetap saja, ia tak bisa terlelap cepat malam ini. Ada yang menganggu pikirannya.
'Ucapan paman tadi, apa maksudnya? Ayah sering sakit kepala? Apa dokter sudah memeriksanya? Apa Xavier tahu?'
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Ia juga jadi tak enak hati akan kejadian ini.
"Sudahlah– aku harus tidur."
.
.
.
.
.
"Masuk."
Derap suara langkah sepatu pantofel terdengar memasuki ruang kerja Xavier. Langkah yang terdengar berat namun tegas beradu dengan lantai keramik milik Xavier.
"Liam baru saja aku akan memanggil..... Mu–" Kalimat Xavier terpotong ketika ia mengetahui bahwa yang memasuki ruangannya bukanlah Liam yang dimaksud.
"Paman..."
"Hormat saya, Yang Mulia." Ucap seorang lelaki berumur setengah abad lebih itu sembari membungkuk.
"Ada apa gerangan paman jauh-jauh kemari?" Tanya Xavier heran.
Pangeran Dominick mendekat ke arah Xavier dan duduk di kursi yang ada tanpa dipersilahkan, "Bersiaplah, kondisi ayah mu semakin kritis." Ucap Pangeran Dominick dengan singkat, padat, dan jelas.
Xavier terdiam, "Kritis? Apa maksud paman?"
"Apa kau tidak tahu? Arthur mengidap kanker hati sejak 5 tahun lalu."
"KANKER? Apa maksud paman? Ayah tidak pernah berbicara tentang itu dengan ku." Xavier membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Memang, ia merahasiakannya dari mu. Tapi ku rasa ini sudah saatnya kau tahu dan bersiap diri. Aku memberitahukan ini pada mu tanpa sepengetahuan ayahmu, jangan marah padanya."
Xavier bergeleng, "Tidak, aku tak percaya. Ayah jelas sehat, apa maksud paman kanker?!"
Xavier kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Pangeran Dominick di ruangannya. Ia berlari menuju kamar sang ayah, sambil mengepalkan tangannya ia berusaha memberanikan diri untuk bertanya dan menerima kebenarannya.
"Ayah..." Panggil Xavier sembari mengetuk pintu kamar sang ayah.
"Xavier? Masuklah nak." Ucap Raja Arthur.
------
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan cara vote, like, komen dan jadikan cerita ini favorit❣️...
...Satu like akan sangat membantu author untuk terus semangat menulis dan melanjutkan cerita ini. Terima kasih sudah membaca😊💗...
🌹To be continued....
__ADS_1