Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 5 : Eveline


__ADS_3


"Kau sudah mau berangkat sekolah?" Ucap Nathaniel yang melihat Xavier sudah menggendong ransel di pundaknya.


"Ya, hari ini akan ada ulangan akhir semester. "


"Kapan kau kembali dari sekolah?"


"Hmm... Mungkin sore sebelum makan malam. Entahlah, aku ada kelas tambahan nanti."


"Baiklah, belajar yang rajin."


"Hm! Aku pergi dulu." Xavier berlari menuju mobilnya.


Setibanya di sekolah, sudah banyak murid yang ada seperti biasanya. Xavier berjalan menuju kelasnya. Belum saja sampai di kelas, tiba-tiba sebuah lengan merangkulnya dari belakang, "Yo!!! Selamat pagi pangeran!" Ucap Louis yang sontak membuat Xavier terkejut.


"ASTAGA KAU MENGEJUTKAN KU!"


"HAHAHA! Benarkah?"


"Kau ini..."


Mereka berdua sampai di kelas dan kini duduk di bangku masing-masing.


"Ku dengar di berita, kakakmu sudah kembali."


"Ah Kak Ashton? Ya, dia baru saja pulang kemarin."


Louis mengangguk paham.


Bel masuk berdering, semua siswa duduk di bangku mereka masing-masing. Hari pertama Ulangan Akhir Semester di Sekolah Kerajaan Helling Rosé, tak terasa bulan depan mereka sudah masuk ke semester terakhir di tingkat pendidikan dasar.


Kertas ujian dibagikan di meja paling depan dan diestafetkan ke belakang. Suasana sekolah terlihat hening untuk beberapa saat, hanya bunyi detak jarum jam saja yang terdengar. Wajah para siswa yang terlihat sangat serius lebih dari hari biasanya.


"Baik, waktunya selesai. Berhenti mengerjakan dan operkan kertas ujian kalian ke depan. Periksa kembali namanya, jangan sampai lupa."


Ulangan jam pertama selesai.


"Aku bahkan tak ngerti apa yang kubaca." Ucap Louis sambil menyenderkan kepalanya di atas meja.


"Tenanglah, habis ini pelajaran favoritmu bukan? Ayo ke kantin."


Mereka berdua kini beranjak menuju ke kantin untuk sekadar membeli cemilan pengganjal perut sebelum jam pelajaran selanjutnya.


"Bibi aku mau roti isi daging seperti biasanya."


"Hmm kali ini aku pesan roti coklat satu ya bi"


"Baik." Ucap bibi kantin.


"Tumben banget pesan roti coklat? Ada yang salah dengan perutmu?" Ucap Louis yang melihat Xavier tidak seperti biasanya.


"Kau lupa, setiap ulangan aku hanya akan makan roti coklat. Coklat bisa meningkatkan fungsi otak tahu~" Jelas Xavier.


"Ya ya pangeran." Ledek Louis


Sambil menunggu pesanan mereka, Xavier melihat ke sekeliling.



"Hei hei Louis, bukankah itu adikmu?"


"Oh, benar itu Eveline, sedang apa dia di lapangan?"

__ADS_1


Tatapan mereka kini tertuju pada Eveline. Tiba-tiba datang sekelompok anak laki-laki yang sepertinya terlihat menganggunya.


"Lihat lihat, sedang apa mereka dengan adikmu Louis?" Ucap Xavier panik


"KURANG AJAR!" Louis kemudian berlari menuju adiknya berada.


"Bibi kami akan kembali lagi, tolong simpan pesanan kami." Ucap Xavier sembari berlari menyusul Louis.


"Halo anak manis- Bukankah kau dari keluarga Gilbert, hm?" Ucap seorang lelaki besar sambil mendekati wajah Eveline.


"Wah itu berarti dompetmu tebal bukan, ya kan?" Eveline tertunduk, ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Benarkan, manis? JAWAB!" Lelaki itu mulai berteriak, ditambah lagi dengan yang lainnya mulai terkekeh kepadanya. Eveline tersentak bukan main.


"Jika tidak ada uang, apa kau mau pulang bersama kami, hmm?"


"Ya... putrinya Tuan Gilbert benar benar cantik, bukan begitu bos?" Ucap lelaki lain di sebelah lelaki besar tadi.


"Kau punya mata yang cantik rupanya, wajahmu juga lumayan, dan rambutmu...." Tangan lelaki besar itu mencoba membelai rambut Eveline.


"YA!" Louis yang datang langsung menangkis tangan lelaki besar itu. Lelaki besar itu merasa diremehkan, wajahnya tampak merah marah.


"Apa-apaan kau! Beraninya ke anak perempuan."


"Wah wah lihat siapa ini, memangnya kenapa? Apa dia kekasihmu dan kau berusaha menjadi pahlawan, begitu?"


"Pergilah sebelum ku panggil guru kemari."


"Eyy kami hanya bermain-main dengan gadis cantik tadi."


"Kak sudahlah..." Ucap Eveline yang terdengar lirih.


"Ah jadi dia kakakmu, rupanya anak-anak Tuan Gilbert toh."


"Menarik.... Apa yang akan ayah kalian lakukan jika aku sedikit 'bermain-main' dengan kalian?" Ucap lelaki besar itu sambil mengusap-usap dagunya.


"BERHENTI!" Teriak Xavier dari jauh.


"Siapa lagi dia, hah?"


"Bos... Dia..."


Xavier kini menghampiri sumber keributan,


"Enyahlah jika tidak mau berurusan dengan pihak berwajib." Xavier berteriak.


"HAHAHA laporan apa yang bisa dibuat oleh bocah sepertimu?"


"Bos... Lebih baik mundur saja bos..." Ucap teman-temannya yang lain.


"Tidak tahukah jika tindakanmu termasuk pelecehan seksual? Akan ku pastikan kau dikeluarkan dari sekolah ini." Ucap Xavier serius.


"SIALAN KAU INI!" Lelaki besar itu hendak mengayunkan tangannya tuk memukul Xavier, tapi dengan sigap kedua pengawalnya datang dan menodongkan pistol kepada lelaki itu.


"Sudah ku suruh kau untuk enyah bukan? Mengapa memilih jalan yang sulit?" Ucap Xavier.


"Siapa kau?!" Ucap lelaki itu yang perlahan melangkah mundur sambil mengangkat kedua tangannya.


"Bos... Anu... Dia Pangeran Xavier, apa bos lupa?" Jelas temannya yang bergidik ngeri di belakangnya.


"Pangeran? Di sekolah kita ada pangeran?"


"Iya bos... Lebih baik mundur bos..."

__ADS_1


Tanpa basa-basi sekelompok lelaki tadi berlarian terbirit-birit seperti tikus.


"Yang Mulia tidak apa-apa?" Tanya salah satu pengawalnya.


"Aku tidak apa-apa, kerja bagus Liam." Ucap Xavier sambil menepuk pundak Liam, lalu ia berjalan ke arah Louis dan Eveline


"Apa kau terluka Eveline?"


"...Tidak Yang Mulia." Ucap Eveline dengan suara yang masih bergetar dan kepala yang masih menunduk.


"Syukurlah... Kau tak apa Louis?"


"Tentu saja, terimakasih banyak."


"Bukan apa-apa."


"Aku akan mengantar Eveline ke kelasnya dahulu, kau kembalilah lebih dulu." Ucap Louis yang dibalas anggukan Xavier.


"Ayo Eveline!"


Louis dan Eveline pergi dari hadapan Xavier.



"Liam."


"Ya, Yang Mulia?"


"Cari tahu siapa mereka, bagaimana bisa ada preman di sekolah."


"Laksanakan, Yang Mulia."


Ketika keadaan sudah tenang, Xavier memutuskan kembali ke kelasnya. Tak lupa untuk mampir terlebih dahulu tuk membayar roti yang sudah ia dan Louis pesan tadi.


"Ini rotimu." Ucap Xavier kepada Louis yang ternyata sudah kembali dan duduk di bangkunya.


"Terima kasih."


"Siapa para pria tadi? Mengapa mereka mengganggu adikmu?"


"Kurasa mereka dari kelas 8-3."


"Maksudmu mereka anak SMP?"


Benar, Sekolah Kerajaan Helling Rosé tersedia hingga tingkat sekolah menengah atas. Mereka juga terkadang memberikan beasiswa kepada murid berprestasi untuk meneruskan ke perguruan tinggi.


"Lantas mengapa mereka mengincar adikmu?"


"Kau tahu, orang yang paling besar tadi?"


"Ya, sepertinya dia bosnya."


"Dia anak dari menteri keuangan, dan ayahnya itu sempat cari ribut dengan ayahku, entah masalah apa yang jelas berani-beraninya dia mengganggu adikku."


"Dia tampak seperti preman. Aku yakin tadi itu bukan pertama kalinya dia mengganggu siswi di sini. Tenang saja, aku akan coba katakan pada ayahku."


"Tidak usah, tak perlu dipersulit"


"Hei, dia tadi mengganggu ketentraman, berlaga seperti preman di sekolah, memangnya siapa dia." Jelas Xavier hingga mulutnya sedikit mengkerucut.


"Kau ini.... Untuk tadi, terima kasih banyak. Jika kau tidak datang entah apa yang terjadi."


"Bukan apa-apa." Xavier tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2