Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 18 : Gaun Pernikahan


__ADS_3


H-2 Bulan pernikahan.


Hari pernikahan sudahlah dekat, mulai dari gaun dan rancangan gedung sudah dipersiapkan oleh pihak istana. Tibalah saatnya bagi kedua mempelai untuk fitting baju pernikahan mereka.


Sesuai dengan jadwal yang telah disiapkan, hari ini adalah jadwal Xavier dan Oliver untuk mencoba setelan pernikahan mereka. Rancangan gaun dan tuxedo yang dibuat khusus oleh designer ternama di Zinnia. Di mana hanya bahan terbaik yang dipilih, tak lupa dengan memperhatikan detail-detai dari kedua pakaian mereka.


"Apa jadwalku untuk hari ini, Liam?" Tanya Xavier.


"Jadwal anda hari ini adalah untuk menemui Tuan dan Nyonya Laurence pada pukul 1 siang untuk fitting baju pernikahan, memilih beberapa dekorasi dan karangan bunga di jam 6, dan makan malam bersama Yang Mulia Calon Tuan Putri Oliver."


"Sebentar- makan malam bersamanya kau bilang? Kenapa tiba-tiba? Kupikir hari ini aku hanya fitting baju." Sahut Xavier


"Ini perintah Yang Mulia Raja Arthur."


"Atasanmu itu sebenarnya aku atau ayah sih?" Ucap Xavier kesal.


"Maaf Yang Mulia, tapi tentu saja Paduka Raja." Sahut Liam sembari tersenyum hingga menunjukkan giginya.


"HAH, yang benar saja." Xavier mendengus kesal sembari membuka lembar halaman baru buku yang ia baca.


"Kalau begitu tanyakan pada Oliver, dia ingin makan malam di mana."


"Baik, Yang Mulia." Ujar Liam, disusul dengan dirinya yang pergi meninggalkan Xavier yang masih sibuk membaca bukunya kala itu.


"Makan malam dengannya? Hanya berdua? Yang benar saja." Xavier mendengus kesal


.


.


.


.


.


"Baik, perkenalkan ini adalah Tuan Charlotte Giovanni, ia adalah profesor kepercayaan keluarga kerajaan. Mulai sekarang kau tidak akan diajarkan oleh para pelayan, tetapi dengan Tuan Charlotte sebagai pengajar pribadimu. Dia juga akan mengajarkanmu banyak hal, mulai dari sejarah kerajaan, tata hukum, pelajaran tata krama dan beretika, berdansa, dan cara untuk menghadapi pers. Oh iya, ini adalah Elia, mulai sekarang dia akan menjadi asisten pribadimu." Jelas Elthon kepada Oliver.


"Salam hormat Yang Mulia."


"Salam hormat Yang Mulia." Ucap Tuan Charlotte dan Elia berbarengan.


Oliver membungkuk, sungguh ia tak biasa dipanggil dengan sebutan 'Yang Mulia'.


"Mereka berdua adalah dua orang pilihan langsung Yang Mulia Raja Arthur. Kalau ada apa-apa, kau bisa langsung mengatakannya pada saya, Yang Mulia." Ujar Elthon, ia kemudian pergi meninggalkan ketiga orang itu yang masih sama-sama terdiam di ruang belajar perpustakaan istana.


"Ekhm- Jadi... Kita harus apa sekarang?" Ujar Oliver canggung.


"Paduka raja menyuruhku untuk mengajari anda beberapa pelajaran untuk menghadapi pers. Seperti yang kita tahu, bagi orang awam tak akan mudah bagi mereka ketika dihujani berbagai macam pertanyaan dan kilatan cahaya kamera. Tapi anda harus terbiasa-"


"Panggil aku Oliver." Potong Oliver.


"Baik, Oliver. Kau bisa memanggilku Charlotte, sejujurnya umur ku tak beda jauh dengan mu." Ucap lelaki berusia akhir 20-an itu.


"Yang Mulia, anda harus segera bersiap-siap. Anda harus pergi bersama Pangeran Xavier untuk fitting gaun pernikahan." Jelas Elia.


"Benarkah? Sudah waktunya pergi bersamanya?"


"Ya Yang Mulia."

__ADS_1


"Baiklah. Charlotte kita lanjutkan pelajarannya nanti."


"Tentu saja, Yang Mulia." Balas Charlotte


"Akan kupersiapkan bajumu Yang Mulia." Ucap Elia.


"Baju? Tak bisakah pergi dengan baju yang kukenakan sekarang?"


"Ehm-"


"Anda sudah dari pagi di sini, setidaknya rapihkan penampilan dan bajumu. Kalian berdua akan menjadi objek empuk para paparazzi di luar sana. Jika tak mau menjadi bahan gosip majalah murahan, tak ada salahnya mengenakan pakaian yang sudah disediakan." Jelas Liam


"Oh tuhan.... Melelahkan saja, baiklah."



.


.


.


.


Kini Oliver dan Xavier duduk bersebelahan di dalam mobil menuju butik Tuan dan Nyonya Laurence. Tak ada yang berbicara, suasananya hening hingga mereka tiba di butik yang dituju.


"Sebuah kehormatan bagi kami untuk bisa menerima kalian di butik sederhana kami, silahkan masuk, Yang Mulia." Sambut Tuan Laurence.


Kini Oliver, Xavier serta para asisten pribadi, dan beberapa pengawal masuk ke dalam butik tersebut.


"Kami akan terlebih dahulu mengukur ukuran kalian berdua. Siapa yang mau lebih dulu?" Tanya Nyonya Laurence.


Keduanya saling bertukar tatapan,


"Aku? Tidak. Kau dulu, ladies first." Jawab Xavier.


Ayolah mereka hanya akan diukur untuk membuat gaun dan jas pernikahan.


"Baiklah..." Akhirnya Oliver mengalah dengan menatap sinis Xavier, ialah yang akhirnya diukur terlebih dulu. Dengan meteran kain, Nyonya Laurence mengukur tubuh Oliver. Hal ini dilakukan supaya gaun yang dibuat akan pas di tubuh Oliver, tidak kekecilan atau tidak kebesaran. Sebenarnya bisa saja mereka membeli gaun yang sudah jadi dan tersedia di butik, namun Tuan dan Nyonya Laurence merasa tidak enak dan mereka mengatakan bahwa mereka bersedia untuk membuat gaun spesial dengan rancangan baru yang hanya ada satu-satunya di dunia.



"Tubuh anda sangat bagus, Yang Mulia." Ucap Nyonya Laurence yang kini tengah mengukur lingkar pinggang Oliver.


"Ahahaha- Benarkah?" Oliver tersipu malu.


"Mulai dari lingkar dada dan lingkar pinggangmu sangat ideal, ku rasa Pangeran Xavier akan sangat senang mengetahuinya. Anda juga sangatlah cantik, lebih cantik dibanding ketika saya melihat anda di TV." Bisik Nyonya Laurence


"Nyonya jangan terlalu memujiku, aku jadi malu." Oliver tersenyum. Sudah jadi rahasia umum, gadis pirang satu ini murah sekali senyum.


"Kami juga menyediakan gaun yang sudah jadi sebagai referensi. Jika berkenan anda boleh mencobanya, Yang Mulia." Ucap Nyonya Laurence


Oliver pun mencoba beberapa gaun yang dikiranya sesuai dengan model yang ia inginkan.


Akibat pujian dari Nyonya Laurence, Oliver tak lagi merasa canggung. Ia juga merasa suasananya menjadi lebih cair. Tibalah giliran Xavier yang diukur.


"Silahkan, Yang Mulia."



Sembari menunggu Xavier, Oliver berkeliling. Ia melihat koleksi bermacam pakaian yang dimiliki butik tersebut. Mulai dari pakaian casual, formal, hingga bermacam gaun pernikahan serba ada di sana. Bagian gaun pengantin menarik perhatiannya. Gaun-gaun yang digantung di etalase dengan detail-detail yang dibuat dengan teliti tampak sangat cantik.

__ADS_1


"Apa ada yang kau sukai, Yang Mulia?" Ucap Tuan Laurence mengejutkan.


"Oh!- Aku hanya melihat-lihat. Gaun-gaunnya sangat cantik!" Ujar Oliver.


"Kami membuat semuanya sendiri. Terutama untuk gaun pengantin, kami ingin membuatnya sebagai gaun satu-satunya yang ada di dunia. Ada yang berdasarkan ide istriku, ideku, atau bahkan ide dari pembeli itu sendiri." Ujar Tuan Laurence.


"Waw hebat sekali! Apa kalian berdua sudah lama menjadi designer?" Tanya Oliver.


"Ya, kurasa sudah 28 tahun. Kami berdua bertemu saat berkuliah di jurusan fashion designer di universitas yang sama. Kami jatuh cinta dan memutuskan menikah. Lalu istriku bermimpi membuka sebuah butik, setelah kami memiliki putra pertama kami, ia mulai merintisnya. Awalnya aku hanya mendukungnya dari belakang dan tidak terjun langsung di lapangan. Tapi melihatnya dengan gigih berjuang membuat nama butik kami terkenal, aku tanpa sadar ikut turun langsung di sampingnya. Hingga akhirnya ya seperti sekarang." Jelas Tuan Laurence panjang lebar.


"Kalian berdua hebat sekali-" Oliver kemudian mengacungkan jempolnya



"Bukankah menyenangkan bisa melakukan hal yang kalian berdua suka bersama-sama? Mewujudkan mimpi kalian berdua.", Sambung Oliver.


"Sangat menyenangkan. Kalian berdua juga bisa mulai melakukannya."


"Kami berdua?"


"Ya, Yang Mulia dengan Pangeran Xavier. Mewujudkan mimpi kalian berdua. Ku yakin kalian akan menjadi pasangan raja dan ratu yang hebat dalam sejarah Zinnia. Kalian sangat cocok bersama." Sahut Tuan Laurence.


Sejujurnya bahkan Oliver tak tahu apa mimpi mereka bersama, "....mimpi kami berdua ya?"


Oliver kembali ke ruangan Xavier tadi. Ia telah selesai dengan urusannya.


"Untuk veil gaunnya kami akan membuatnya dari bahan satin sepanjang 6,78 meter dan sutra gading sebagai bahan utama dari gaunnya. Untuk gaunnya sendiri, di bagian korset akan dipasang lebih dari 500 berlian sebagai detailnya, dan 1.500 mutiara di bagian roknya ditambah lapisan renda. Dan bagian lengannya akan dibuat di atas siku. Sesuai dengan rancangan seperti ini." Jelas Nyonya Laurence.


Xavier hanya mengangguk, sebenarnya ia kurang mengerti apa yang designer wanita itu katakan. Berbeda dengan Oliver yang sepertinya terlihat terkagu kagum ketika melihat rancangan desain gaun di selembar kertas.


"Kami akan menghubungi kalian kembali dalam 10 hari." Ucap Tuan Laurence


Oliver tersenyum dari ambang pintu butik, "Sebelumnya terima kasih banyak, Tuan dan Nyonya Laurence." Ucap Oliver sopan.


"Sebuah kehormatan, Yang Mulia." Balas kedua pasangan tua itu.


Pemberhentian selanjutnya adalah pergi menuju toko bunga.


.


.


.


New Cast Unlocked :



...Charlotte Giovanni...


...Nickname: Charlotte...


...Age : 29 tahun...


...Status : Mentor baru Oliver, Profesor termuda di salah satu universitas Zinnia. Sempat bekerja dan menjadi seniornya Lucas di Institut Penelitian Zinnia....



...Elia...


...Nickname : Elia...

__ADS_1


...Age : 24 tahun...


...Status : Lulusan terbaik sekolah manajemen, Asisten pribadi baru Oliver...


__ADS_2