
...Charlotte Giovanni (The Royal Tutor)...
"Hormat saya dan selamat pagi, Yang Mulia Putri Oliver." Ucap Charlotte ketika Oliver memasuki perpustakaan, tempat mereka akan belajar beberapa jam ke depan.
"Selamat pagi, Charlotte. Dan ya ingat– panggil aku Oliver." Balas Oliver.
"Baik Yang– maksudku, tentu saja Oliver." Ucap Charlotte ramah.
Oliver duduk dan menyiapkan seperangkat alat tulis dan buku-buku yang ia butuhkan.
"Hari anda akan belajar tentang politik pemerintahan–"
"Sebentar, Elia bilang pelajaran pertama adalah tentang etika. Mengapa jadi ilmu politik lebih dulu?" Potong Oliver.
"Ku rasa anda sudah mengusai bab etika, jadi akan lebih baik jika kita mulai bab ilmu politik lebih awal." Jawab Charlotte.
"Huhhh baiklah...."
.......
.......
.......
.......
.......
Di ruangan lain Raja Arthur, Xavier, Elthon dan Tuan Alfonso sedang melakukan briefing singkat,
"Tentang upacara penyambutan Yang Mulia Putri Oliver tiga hari lalu, reaksi yang diberikan masyarakat sangatlah memuaskan, mereka memberikan respon hangat soal itu. Tapi Yang Mulia..." Ucap Elthon menggantung.
"Ada apa?"
"Media pers mengendus kedatangan Tuan Nathan dan keluarganya di upacara kemarin. Ada beberapa surat kabar dan artikel berita yang menuliskan juga tentang Pangeran Dominick dan menduga-duga mengapa beliau tidak datang."
"Dominick.... Apa kunjungannya ke Andorra berjalan lancar?"
"Pangeran Dominick dan istrinya sudah melaksanakan tugas dengan baik di sana, Yang Mulia. Mereka akan tiba kembali di Esqavier esok pagi.
*) Andorra : Kota kecil di selatan Zinnia, berjarak 213 KM
*) Esqavier : Ibu kota sekaligus tempat pemerintahan terjadi, tempat Istana Cassania terletak.
"Baiklah, kalau begitu media akan mengetahui kebenerannya sendiri lewat kabar tentang Dominick cepat atau lambat dan untuk Nathan, urus semua surat kabar tentangnya. Tak ada untungnya mereka mengangkat topik tentangnya." Ucap Raja Arthur.
"Baik, Yang Mulia. Akan saya urus." Balas Elthon.
"Dan kau Alfonso,"
"Ya, Yang Mulia?"
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Hmm... Mengenai Pangeran Xavier."
"Kenapa lagi?"
"Partai dari sayap kanan dan juga anggota parlemen mulai mempertanyakan kredibel Putra Mahkota. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya Pangeran Xavier bisa lakukan? Terlebih lagi hingga saat ini belum ada kabar tentang Putri Oliver yang mengandung penerus baru di garis pewaris takhta Zinnia." Jelas Tuan Alfonso.
"Pak perdana menteri."
"Ya, Yang Mulia Pangeran Xavier?"
"Istriku bukan sekadar mesin pembuat anak, urusan keturunan ku itu adalah masalah personal kami berdua."
"Namun Yang Mulia, keturunan keluarga kerajaan bukan hanya masalah personal melainkan menjadi urusan nasional."
"Lalu apa mau mu? Membuat Oliver hamil dalam semalam?"
Tuan Alfonso terdiam, "T-Tapi Yang Mulia–"
"Anggota parlemen harus belajar bagaimana caranya tak ikut campur dengan urusan rumah tanggaku." Ujar Xavier yang terdengar sedikit marah.
"Mohon maaf Yang Mulia, tapi parlemen hanya menyuarakan kekhawatiran mereka. Terlebih lagi belum ada keturunan baru di garis pewaris takhta, mereka takut bahwa tidak ada lagi yang dapat mewarisi monarki."
"Apa maksudmu? Adik ayahku, Pangeran Dominick dan anaknya sekaligus sepupuku Aiden, secara sah masih berada di garis takhta. Kau anggap mereka apa? Mereka masih sehat dan tidak ada tanda-tanda akan meninggal dalam waktu dekat."
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya telah lancang."
"Sudahlah Xavier–" Ucap Raja Arthur.
"AYAH sesekali aku harus tegas pada mereka. Urusan rumah tanggaku, urusan pribadiku, bukanlah urusan mereka yang bisa dengan lancangnya mereka ikut campur."
"Ayah mengerti, tapi mereka tidak akan berhenti hingga kau benar-benar memiliki keturunan."
"Kalau begitu aku yang akan membuat mereka berhenti yah. Aku tak harus selalu menuruti permintaan mereka. Masih banyak cara untuk membuktikan kredibilitas ku."
"Baiklah jika itu mau mu. Lakukanlah kunjungan kenegaraan ke Vanhattan bulan depan, dengan begitu kau bisa mengambil simpati rakyat dan menunjukkan kredibilitas mu kepada parlemen. Kau bisa mengajak istrimu." Ujar Raja Arthur.
"Baik– Akan ku buktikan." Tegas Xavier.
"Vanhattan bukan sekadar negara tetangga bagi kita, Xavier. Mereka adalah sekutu, rekan sejawat, kerjasama dan hubungan baik yang sudah berlangsung semenjak kakek mu memerintah. Pertahankan itu. Mereka juga yang banyak membantu kita saat berperang dulu." Jelas Raja Arthur.
__ADS_1
"Aku mengerti, ayah."
.......
.......
.......
.......
.......
...(Aiden Abigail Rayton)...
"Yang Mulia, bolehkah saya masuk?" Ujar seorang pengawal.
"Masuklah..."
"Yang Mulia Pangeran Xavier meminta anda untuk datang ke istana."
"Xavier? Untuk apa?"
"Ia mengajak anda berburu."
Pria ini mendengus "Rupanya sepupu ku ini sedang banyak pikiran." Ucapnya pada dirinya sendiri.
"Baiklah, siapkan mobil. Kita ke istana sekarang."
"Baik, Yang Mulia."
Aiden. Pemilik nama lengkap Aiden Abigail Rayton. Sepupu sah Xavier. Lelaki yang berumur satu tahun lebih tua daripada Xavier ini ibarat pedang kepercayaan Xavier. Setelah Nathaniel atau sang kakak meninggal 14 tahun silam, Aiden secara tidak langsung menggantikan tempatnya sebagai kakak sekaligus teman bermain Xavier. Mereka berdua tumbuh bersama. Aiden pula lah yang menemani Xavier untuk berjalan menyusuri altar dan berdiri di sampingnya saat ia menikah di musim gugur kemarin.
Aiden tahu betul bermacam kebiasaan Xavier, salah satunya adalah ketika Xavier sedang banyak pikiran, ia akan melampiaskannya dengan berburu atau berkuda. Lalu berceloteh ria tentang keluh kesahnya, dan Aiden? Ia akan menjadi pendengar setia di sampingnya sembari memberikan saran jika diperlukan.
Bagi Aiden, Xavier terkadang terasa seperti masih anak-anak. Ia banyak mengomel ini dan itu, namun di sisi lain Aiden merasa iba karena Xavier harus dewasa lebih cepat. Semua mata tertuju padanya dan dunia menuntutnya untuk menjadi sempurna di umurnya yang masih sangat muda.
"Xavier sepupuku!" Sapa Aiden ketika ia sampai di hutan belakang istana tempat biasa mereka berburu.
"Kau sudah sampai?" Timpal Xavier basa-basi.
"Ada apa? Banyak pikiran lagi?"
Xavier menggeleng, "Temani saja aku berburu." Jawabnya.
"Ku tebak, parlemen menyaimu terus tentang keturunan?" Terka Aiden sembari memasukkan selongsong peluru pada senapannya.
Xavier mengernyitkan dahinya, "Dari mana kau tahu itu?"
"Topik itu sudah menyebar di parlemen, bahkan di internet. Ku rasa wajar dan sudah waktunya mereka menanyakan itu."
"Ya wajar, kalian sudah menikah apalagi yang akan mereka bicarakan selain menanti keturunan mu? Bukan begitu." Satu tembakan diarahkan ke seekor unggas yang sedang berlalu tak jauh di depan mereka.
"Kena!" Ucap Aiden.
Xavier merenung, rupanya semua orang berpikiran sama. Tak terkecuali sepupunya.
"Ayolah santai saja, sejak kapan kau menghiraukan orang-orang tua di parlemen itu?" Ucap Aiden.
"Sejak aku naik menjadi putra mahkota." Balas Xavier.
"B-Benar juga... Haha.." Kekeh Aiden.
"Tapi hubungan kalian berdua baik-baik saja 'kan? 'kan? 'kan? Maksud ku, kalian tidak bertengkar kan? Akan ku habisi nyawamu jika kau menyakiti Oliver." Ucap Aiden panjang lebar.
"HEI ENAK SAJA, tentu saja kami baik-baik saja dan mengapa kau jadi memihak Oliver?"
"Jelas, siapa yang tidak akan memihak Putri Oliver."
Giliran Xavier yang menembak seekor burung yang terbang di atas mereka, "Ohhh gitu... Jadi kau tidak di pihak ku lagi???"
"Sepupu mu ini akan selalu di pihak mu, Xavier." Ucap Aiden sambil mengangguk-angguk bangga.
"Cihhhh–"
"Lalu kenapa kau tak cepat-cepat punya anak?" Celoteh Aiden.
"Kau ini sama saja... Kau pikir hal itu bisa hanya terjadi dalam satu malam??"
"Logikanya sih.... Iya. Cukup satu malam, 'kan?" Canda Aiden.
"Cobalah kau menikah terlebih dulu, baru kau akan merasakannya sendiri."
"Jangan bilang sepupu ku ini belum pernah menyentuh istri mu sama sekali."
Ada hening di antara keduanya, "Eyyy– tidak mungkin 'kan? Sambung Aiden.
"Kalau ku bilang ya kami belum pernah bercinta, bagaimana?" Timpal Xavier.
Tembakan kedua Xavier dilontarkan, namun tembakannya meleset dari targetnya.
Aiden membelalakkan matanya, menatap Xavier tak percaya.
"Setelah 5 bulan??!! Sekalipun tidak pernah? Yang benar saja.... Xavier apa kau impoten???!!"
__ADS_1
"KURANG AJAR jelas tidak, aku pria sehat dan gagah begini mana ada aku impoten."
Ingatan tentang kegiatan mereka tadi pagi terlintas kembali di benak Xavier, membuatnya malu sendiri jika mengingatnya kembali.
"Habisnya aneh saja.... Kau benar-benar kuat Xavier, aku salut."
"Andai kami memiliki waktu berdua saja, tanpa tugas atau apapun itu."
"Astaga malangnya kalian... Kenapa tidak bulan madu saja? Ku rasa satu atau dua minggu tidak masalah, 'kan? Tenangmmm serahkan saja tugas kerajaan pada sepupu mu ini." Usul Aiden.
"Benar juga, bulan depan aku akan melakukan perjalanan dinas ke Vanhattan. Waktu yang tepat bukan?"
"Vanhattan? Tiba-tiba sekali."
"Ya, ayah ingin aku melakukannya untuk menjaga perdamaian dengan Vanhattan."
"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Melakukan tugas negara sekaligus tugas mu menjadi suami, Xavier kau luar biasa."
"Tak masalah 'kan jika aku mengambil satu minggu untuk berlibur?"
"Tentu saja, mau satu bulan pun tak jadi masalah. Asalkan bawakan aku keponakan ketika kau pulang nanti." Aiden menepuk-nepuk pundak Xavier bangga
"Memang mulutmu ini harus disekolahkan lagi."
"Hehehehe."
"Sekarang giliranku, kau sendiri kapan membawa calon?" Goda Xavier.
"Calon?"
"Ya, calon istri."
"Jangankan calon istri, aku saja sedang sibuk untuk ujian mendapat lisensi terbang."
"Cepatlah menikah sepupuku, maka hidupmu akan lebih berwarna."
"Ya, warnanya akan merah membara seperti neraka."
Keduanya pun berakhir tertawa, tak ada yang lebih menyenangkan selain menertawakan kehidupan masing-masing. Sesi berburu mereka pun berakhir dengan mendapatkan 4 ekor burung dara dan seekor bebek, yang nantinya akan menjadi bahan makanan dapur istana.
.......
.......
.......
.......
.......
...(Oliver Luxia de Mauren)...
"...sepanjang sejarah Zinnia, hanya ada dua negara yang menjadi sekutu setia Zinnia dan bertahan lama hingga sekarang..."
"Hahhhh–" Oliver menghela napas mendengar penjelasan Charlotte.
"...negara Vanhattan dan Estonia. Negara Vanhattan menjalin hubungan baik dengan Zinnia berawal dari pernikahan Mendiang Raja James Athelstan Rayton Yang Agung, atau Raja Athena dengan mendiang Ratu Elicia Liem, atau Ratu Mary yang merupakan calon ratu Vanhattan..."
Oliver memainkan ujung halaman bukunya dengan melipat-lipat ujungnya tersebut akibat kebosanannya.
"...Estonia sendiri adalah tempat mendiang Ratu Isabella berasal–...."
Oliver kembali melamun sembari memainkan pena yang ia pegang,
"Yang Mulia?"
Hanya keheningan.
"OLIVER." Ucap Charlotte.
"Ah! Ya??"
"Anda mesti fokus, Yang Mulia."
"Aku bosan, Charlotte. Tak bisa kah kita langsung belajar geografi saja?" Rengek Oliver.
Charlotte berpikir, mungkin saja Oliver memang sudah benar-benar bosan dan menginginkan angin segar.
"Apa anda mau mencari angin segar sebentar?" Tawar Charlotte.
"Hmm?" Oliver tak paham.
"Hari ini aku membawa mobil pribadi ku ke istana, jika berkenan kita bisa berjalan-jalan sebentar mengelilingi Esqavier menggunakan mobilku." Jelas Charlotte.
Oliver terdiam sebentar, ia berpikir bahwa ini kesempatan bagus baginya. Kapan lagi ia memiliki waktu untuk keluar tembok istana selain untuk bertugas.
'Tak akan apa-apa 'kan? Toh lagian hanya sebentar saja.' Batinnya.
Oliver mengangguk setuju, "Ayo!" Serunya gembira.
🌹To be continued....
...----------------...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan cara vote, like, komen dan jadikan cerita ini favorit❣️...
...Satu like akan sangat membantu author untuk terus semangat menulis dan melanjutkan cerita ini. Terima kasih sudah membaca😊💗...