Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 22 : Malam Pertama


__ADS_3


Pesta pernikahan berakhir dalam sekejap mata. Semua kegiatan mulai dari upacara inti, foto keluarga, hingga memyambut tamu telah selesai di sore hari. Terkesan singkat dan padat. Tersisa Raja Arthur, Xavier, Oliver di Istana Cassania dan Tuan Eden yang baru saja berpamitan pulang kepada Oliver dan menantu barunya itu.


Masih ada sisa beberapa waktu sebelum waktu makan malam. Xavier memutuskan untuk membersihkan dirinya setelah seharian penuh bertemu banyak orang. Sedangkan Oliver? Ia benar-benar canggung tak tahu harus apa, alhasil ia terduduk di pinggir ranjang dengan masih mengenakan gaun pengantinnya lengkap.


"Tak mandi?" Ucap Xavier dengan bertelanjang dada dan hanya dibalut satu buah handuk yang menutupi tubuhnya dari bagian pinggang hingga atas lutut.


"Ya! Pakai bajumu!" Seru Oliver yang tak terbiasa dengan pemandangan seperti itu.


"Kenapa? Tak pernah liat badan pria sebelumnya?"


"A-Aku... B-BUKA ORANG MESUM!"


"Ha-ha-ha lagipula ini kamarku, aku bertelanjang bulat di sini pun harusnya tak apa, bukan begitu?" Goda Xavier.


"YAK! CEPAT KALAU MAU MANDI!"


"Baiklah... Kau mau ikut?"


"HAH?!"


"Mandi bersama... Gitu aja harus dijela-" Ucapan Xavier terpotong kala Oliver yang sudah jera melempar sebuah bantal ke arahnya.


"Oke oke, aku mandi." Xavier melempar balik bantal tersebut dan tepat mengenai wajah Oliver.


"Huft–"



Xavier mandi cukup lama, membuat Oliver bosan menanti giliran mandinya. Oliver yang dilanda bosan pun kini mulai berjalan melihat-lihat kamar Xavier, yang akan menjadi kamarnya juga nanti. Kamar bernuansa metal gray dengan interior yang mayoritas berwarna hitam, abu, dan navy memberikan kesan misterius namun tetap enak dipandang. Tak banyak barang yang ada di kamar ini, hanya ada lemari baju, meja kerja dan sebuah lemari buku, disertai beberapa pajangan dan foto. Mata Oliver tertuju pada sebuah patung pahatan kayu berbentuk dua ekor kuda yang terletak di sebelah foto keluarga.


"Pahatan ini... Sangat tidak cocok dengan nuansa kamar." Batin Oliver.


Ia meletakkan kembali pahatan itu dan perhatiannya teralih ke sebuah foto keluarga. Tak ada yang tak tahu keluarga ini, Keluarga Rayton.


"Ini.... Raja Arthur, mendiang Ratu Issabela, mendiang Pangeran Nathaniel dan Xavier."


Di foto tersebut Xavier masih berusia 3 tahun, sebuah foto yang terbilang tua.


"Aku juga pangeran tau."


Oliver berbalik dan ia tersentak karena Xavier ternyata sudah ada di belakangnya sedari tadi.


"OOHH!" Seru Oliver, tanpa sadar punggungnya membentur lemari buku di belakangnya dan membuatnya kehilangan keseimbangan.


Xavier dengan sigap memegang tubuh Oliver yang hampir jatuh, "Hati-hati" ucapnya.


Pipi Oliver memerah, "M-Maaf..." Ia pun buru-buru meletakkan foto keluarga Xavier yang masih dipegangnya dan berlari menuju kamar mandi.


Xavier mendengus, "Dasar–" Ia pun kembali melanjutkan kegiatan berpakaiannya. Xavier kali ini memakai kemeja coklat susu dengan bawahan hitam, setelan yang pas untuk di sore hari.


Belum selesai ia mengancingkan kemejanya, Oliver memanggilnya dari arah kamar mandi.


"Xavier! Kemari lah!" Panggilnya.


Xavier berjalan menuju sumber suara, "Ada apa?"


"Ehmm.... Bisakah kau membuka resleting gaun ku? Ini sangat sulit, aku tak bisa menjangkaunya." Ucap Oliver malu-malu.


"Sini ku coba."


Oliver berbalik dan Xavier kini melepas pengait pada bagian atas resleting dan menurunkan resleting di sepanjang punggung Oliver.


'Kulitnya... Sangat putih.'


"Sudah?" Tanya Oliver.


"A-Ah ya, sudah."


"Terima kasih." Sambung Oliver yang kemudian kembali masuk dan menutup pintu kamar mandi.


'Mikir apa kau Xavier.' Ucap Xavier pada dirinya sendiri.


.


.


.


.


.


Tak berapa lama Oliver keluar dengan jubah mandinya sembari masih mengeringkan rambut pirang panjangnya yang masih basah.


"Di sana ada pengering rambut, pakai saja." Ucap Xavier sembari menunjuk laci bawah lemarinya.


"Ok."


"Cepatlah, sudah waktunya kita turun ke bawah untuk makan malam."


"S-Sebentar, aku tak tahu di mana stop kontaknya."


"Di sana ada." Tunjuk Xavier.


Oliver bergegas ke arah yang dimaksud dan langsung mengeringkan rambutnya.


"Sini, biar aku yang keringkan."


"Baiklah... Terima kasih."


Oliver duduk di sebuah kursi dengan Xavier yang berdiri di belakangnya memegang pengering rambut. Xavier mengeringkan rambut Oliver dengan telaten,


"Kau tahu, mereka dengan status lebih rendah tidak boleh hadir telat dibanding dengan sang raja. Itu bisa dianggap tidak sopan, apalagi jika di acara makan." Jelas Xavier.


"Apa kau pernah telat hadir di acara makan malam?"


"Sering. Tapi itu dulu, saat-saat aku masih bandel dan terus melawan ayahku."


"Kenapa?"


"Entahlah, aku hanya ingin menjadi seorang pembangkang saat itu."


"Kalau sekarang?"

__ADS_1


"Tidak lagi, aku ingin mengubah penilaian ayah padaku. Terlebih lagi dengan para anggota keluarga besar yang kerap kali mencereweti ku karena sering telat di acara-acara besar."


"Sudah selesai." Ucap Xavier.


Oliver menatap Xavier, "Kenapa?" Tanya Xavier.


Oliver menggeleng, "Cepat ganti bajumu kalau begitu, aku tunggu di luar."


"Hm."



Oliver mengenakan gaun sederhana untuk makan malam kali ini. Ini makan malam perdananya sebagai bagian dari anggota keluarga kerajaan. Betapa gugupnya ia.


"Udah siap?" Xavier yang sedari tadi berdiri menunggu di luar berbalik dan mendapati gadis di depannya itu telah siap untuk makan malam, mengenakan setelan gaun sederhana bermotif bunga-bunga berwarna hitam.


Oliver membalas dengan anggukan, "Ayo." Ajak Xavier.


Mereka turun ke bawah menuju ruang makan istana. Meja makan panjang dengan banyak sekali kursi yang sudah pernah Oliver lihat tetap membuatnya terkejut, pertanyaan siapa saja yang akan makan di meja sepanjang ini kerap kali muncul di benaknya. Jawabannya tak ada orang lain selain mereka bertiga di meja sepanjang ini, meja panjang yang mungkin bisa dijadikan lintasan bermain golf.


"Duduk." Ucap Xavier yang telah menarikkan kursi, mempersilahkan Oliver duduk.


"Terima kasih."


Xavier pun duduk di sebelah Oliver. Kini mereka tengah menanti kehadiran Raja Arthur.


Mata Oliver tak berhenti melihat ke sekeliling, "Apa hanya akan ada kita bertiga?" Tanyanya.


"Ya. Tak ada orang lain di istana sebesar ini."


"Ku dengar Raja Arthur memiliki 2 orang adik, apa keluarga mereka tidak tinggal di sini?"


"Tak boleh ada 2 matahari dalam satu atap, tak boleh ada dua pangeran di dalam satu istana. Setelah mereka berumur dua puluh tahun, para pangeran atau yang bukan pewaris takhta di garis pertama akan keluar dari Istana Cassania. Mereka akan diberi tempat tinggal lain di luar istana."


"Ah... begitukah?"


"Ya, hal ini agar mengurangi konflik antar keluarga. Maka dari itu keluarga besar hanya akan berkumpul jika ada acara-acara resmi saja."


"Bukankah akan sangat sepi di istana sebesar ini? Aku saja merasa sangat kesepian di rumah ku yang besarnya tidak ada apa-apanya dibanding istana ini."


"Ya begitulah.... Tak ada yang dapat aku perbuat, tradisi tetaplah tradisi." Tutup Xavier.


Selang beberapa saat Raja Arthur masuk ke dalam ruangan, Xavier dan Oliver berdiri, membungkuk memberi hormat.


"Wah wah wah, pasangan baru kita. Duduk duduk."


Mereka semua pun duduk, dan tak lama para pelayan masuk membawa baki-baki berisi makanan yang telah dimasak koki kerajaan.


Sesekali Oliver melirik Xavier yang dengan cermatnya memakai serbet makannya. Ia sudah belajar mengenai table manner, tapi tetap saja gugup jika harus dipraktekkan.


"Santai saja nak." Ujar Raja Arthur menenangkan.


"Ha-ha-ha maafkan aku, Yang Mulia." Sahut Oliver.


"Yang Mulia? Panggil aku ayah, kau menantuku sekarang. Tak usah terlalu formal, nak."


"B-Benar, ayah."


"Nah begitu!" Sambung Raja Arthur, sebenarnya Raja Arthur juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Kini ia dapat merasakan rasanya memiliki seorang anak perempuan.


Xavier yang dibicarakan hanyak asyik makan, menyuapkan sendok berisi sup jamur ke dalam mulutnya.


"B-Baik ayah."


Makan malam pun selesai. Oliver kembali ke kamar lebih dulu karena rupanya Xavier masih ingin berbincang-bincang dulu dengan sang ayah.


"Jaga dia. Kurasa dia masih sangat polos, mungkin akan sulit baginya beradaptasi di istana." Ucap Raja Arthur.


"Tentu, ayah."


"Apa kau mulai jatuh hati padanya?"


"....Entahlah, aku tak yakin."


"Tak apa, cinta ada karena terbiasa dan kau akan terbiasa dengannya."


"Kurasa mungkin begitu– sudahlah, aku ingin ke kamar dulu yah."


"Dasar anak muda, masih jam segini sudah ke kamar saja." Goda Raja Arthur sembari tersenyum.


"Aku lelah yah....."


"HAHAHAHA iya iya, sudah pergi sana Oliver menunggumu."


"Kalau begitu selamat malam, yah."


"Selamat mal– OH IYA! Xavier ambil ini!" Raja Arthur melemparkan sebuah botol hitam kecil misterius pada Xavier.


"Apa ini yah?"


Raja Arthur terkekeh, "Untuk malam ini, agar kau kuat."


"AYAH!!"


Raja Arthur yang melihat anaknya kesal itu hanya tertawa renyah, tak ada habisnya ia menjahili dan menggoda anak bungsunya itu.


.


.


.



Xavier pun kembali menuju kamarnya. Ia mendapati Oliver sudah berganti pakaian mengenakan piyamanya dan tengah duduk membaca buku dengan menggunakan kacamata bulatnya.


Maka dari itu Xavier juga turut berganti pakaiannya menjadi baju tidur, setelan kaos putih polos dan celana tidurnya. Tanpa ba bi bu, ia membuka cepat kemejanya disusul omelan dari Oliver,


"GANTI BAJUNYA DI TOILET SANA!"


"Ha-ha-ha kenapa? Sekarang kan kita suami-istri, kau harus terbiasa dengan ini."


Oliver yang malu, menutupi wajahnya dengan buku yang tengah ia baca.


'Lucunya...' Batin Xavier.

__ADS_1


Setelah selesai berganti pakaian, Xavier berjalan ke arah Oliver, ia menunduk, menyamakan tingginya dengan Oliver yang masih duduk dan menurunkan buku yang masih menutupi wajah istrinya itu,


"Lucunya, kau masih malu-malu akan hal-hal seperti ini." Goda Xavier.


"TENTU SAJA, aku tak pernah satu kamar dengan laki-laki sebelumnya–"


Mata mereka saling bertemu, mata coklat terang Oliver bertemu dengan birunya mata biru zamrud Xavier.


'Indah, matanya sangat indah.' Pikir Oliver.



Eye contact itu berlangsung cukup lama, dan tanpa sadar Oliver tersipu malu sehingga ia menarik kembali buku yang ia baca menutupi wajahnya, hal itu mengundang kekehan Xavier. Salah tingkah Oliver terlihat sangat-sangat menggemaskan bagi Xavier.


Daripada membuat sang istri tambah salah tingkah lagi, Xavier pada akhirnya pergi dan merebahkan dirinya di atas kasur. Jujur, badannya benar-benar lelah kala ini.


"Tidurlah, kau sudah lelah seharian." Ujar Xavier pada Oliver.


"Di mana aku tidur?" Xavier yang mendengarnya pun jadi terbangun,


"Tentu saja di sini." Xavier menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.


Mau tak mau, Oliver naik ke ranjang itu. Berbaring di sebelah Xavier dengan jarak yang cukup berjauhan, memandang langit-langit kamar.



"Apa itu stiker-stiker bintang?" Tanya Oliver sembari menunjuk langit-langit kamar.


"Ya, aku yang memintanya untuk dipasangkan di sana." Jelas Xavier.


"Mereka menyala dalam gelap, indahnya."


"Indah, bukan? Karena sulit melihat bintang di langit malam, akhirnya aku membuat bintang di kamar ku sendiri."


"Apa kau suka berkemah?" Tanya Oliver.


"Kemah?"


"Ya, kemah. Dengan tenda, api unggun, dan tidur hanya beralaskan rumput atau tikar."


"Tidak, aku tak pernah melakukannya. Kecuali saat pelatihan militer dulu, itu pun hanya sekali."


Oliver tersenyum, "Sesekali kau harus melakukannya, di alam bebas mungkin kau bisa melihat bintang yang asli. Aku suka sekali berkemah, kau bisa melakukannya dengan ku kalau kau mau."


"Terdengar sangat menyenangkan."


Oliver mengangguk, "Hm, benar-benar menyenangkan."


"Oliver..."


"Ya?"


"Apa alasanmu menikahiku?"


"Ah itu–"


"Jujur saja, tak apa."


Perjodohan ini berlangsung dengan cepat, Oliver yang disibukkan dengan urusan kelulusan kuliahnya, persiapan pernikahan yang merepotkan membuatnya tak memiliki ruang tuk bernapas sebentar. Ia pun bingung apa alasan sebenarnya ia menikahi Xavier. Apa karena perjodohan yang tak bisa ia tolak? Apa karena Xavier sahabat lamanya? Apa karena Xavier seorang pangeran? Apa dan kenapa?


"Kalau ku bilang aku menikahimu karena aku tak bisa menolak perjodohan ini, apa kau akan percaya?" Ujar Oliver.


Xavier mengangguk, "Tentu saja, kita.... Di posisi yang sama."


"Jika orang yang dijodohkan padaku bukan kau, mungkin aku akan bersikeras menolaknya. Meski sudah lama tak bertemu, sedikit banyak aku mengetahui bagaiman sikapmu dulu. Bukan hanya karena kau seorang pangeran, tapi kau orang yang baik. Dan ayahku percaya padamu, aku.... Tak ingin mengecewakan ayah." Jelas Oliver.


"Aku pun begitu, ada tanggung jawab yang harus ku emban di pundakku. Dan ayahku sudah mengeluarkan titahnya, apa boleh buat."


Oliver menghadapkan badannya pada Xavier, "Xavier– apa jika bukan aku orang yang dijodohkan denganmu, apa kau tetap akan menerimanya?"


Kini Xavier yang berbalik menghadap Oliver, "Aku menyetujuinya karena aku tahu orangnya adalah kau."


"Tapi kau bilang ini perintah."


"Hanya karena itu perintah bukan berarti aku tak bisa menolak, kau tahu kan aku ini pembangkang? Menolak perintah ayah bukan hal sulit."


"Ada perasaan tenang ketika ku tahu orangnya adalah dirimu, seseorang yang ku kenal."


"Layaknya takdir, bukan begitu?"


"Ya, benang takdir."


Kini tubuh mereka berdua saling berhadapan, dengan wajah yang tak begitu jauh dari satu sama lain.


"Terima kasih." Ucap Xavier.


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Oliver kebingungan.


"Karena kau bersedia menikah denganku. Aku tahu ini pilihan sulit bagimu, tapi terima kasih banyak." Sambung Xavier.


Oliver tersenyum, "Aku pun, terima kasih karena kau bersedia menerimaku ketika kau tahu wanita yang dijodohkan denganmu adalah aku. Aku... Akan menjalankan tugas dan kewajiban ku dengan baik!" Ujar Oliver.


"Oliver–" panggil Xavier.


Oliver menaikkan kedua alisnya, "Ya?"


"Bolehkah aku memeluk mu?"


Oliver membalasnya dengan anggukan kecil. Xavier kemudian mendekat dan memeluk tubuh mungil Oliver. Hangat, sangat hangat.


Oliver pun membalas pelukan itu. Tak ada kata-kata, hanya kehangatan dari kedua insan.


"Oliver–" Tak ada jawaban dari Oliver.


"Oliver?" Xavier kemudian menarik badannya dan terlihatlah bahwa Oliver tertidur di dalam dekapannya.


"Lucunya... Selamat malam, Oliver." Ucapan selamat malam Xavier diakhiri dengan sebuah kecupan manis di kening Oliver.



...Maaf rada telat update-nya 😭😭😭😭...


...Author lagi ada kesibukan lain soalnya, makasih banyak yang udah mau mampir dan nungguin episode malem ini. **Sekali lagi author minta maaf. 🙏🙏😭😭😭...


...Karena gak sempet bikin 2 episode, episode hari ini dipanjangin sampai lebih dari 2000 kata. Selamat membaca** ><...

__ADS_1


^^^- With luv, author ❣️^^^


__ADS_2