Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 11 : Zinnia Air Force


__ADS_3


Setibanya ia di sana, para prajurit sudah bersiap dan berkumpul di lapangan. Hanya dengan sebuah perintah, mereka sudah sangat siap untuk lepas landas. Ini pertama kalinya Nathaniel bertugas sebagai komando yang langsung diperintahkan oleh ayahnya. Sangat menegangkan, pikirnya.


"Kapal perang 501 milik negara Calendula, kami perintahkan anda untuk mundur dan membawa kembali pasukan kalian. Sekali lagi, kapal perang 501 milik Calendula, kami perintahkan untuk mundur." Ucap Raja Arthur melalui radio dari kapalnya.


"Lapor, bagaimana ini jenderal? Mereka menyuruh kita tuk' mundur, ganti." Ucap pihak lawan kepada atasan mereka.


"Luncurkan tembakan, incar kapal utamanya, di sana ada raja mereka." Ucap sang atasan.


"Tapi jenderal, jumlah kapal mereka lebih banyak-"


Dan saat itu pula pesawat tempur dari arah lawan mulai berdatangan.


"Kami peringatkan, satu buah tembakan yang diluncurkan dari pihak anda itu berarti anda setuju untuk berperang." Ucap Raja Arthur dengan tegas.


"Siapkan pesawat tempur kita." Titah Raja Arthur.


Ketika perintah diluncurkan, Nathaniel dan pasukannya pun bersiap untuk lepas landas. Mereka semua naik ke pesawat tempur dan segera menuju Laut Nirwana.


"Apa yang kalian inginkan?" Ucap Raja Arthur kepada pihak lawan. Tak ada jawaban dari mereka.


Pihak Calendula saat itu masih ragu untuk meluncurkan tembakan meski sudah diperintahkan untuk menembak. Bagaimana tidak, jumlah kapal mereka tidak sebanding. Kapal perang Zinnia banyaknya bukan main. Ditambah lagi pesawat tempur yang sudah datang.


"KUBILANG TEMBAK RAJANYA!" Perintah atasan dari pihak lawan.


"Siapkan meriamnya!" Ucap si kapten kapal musuh.


"SIAPKAN MERIAMNYA!" Teriak anak buah awak kapal tersebut.


Meriam pun disiapkan. Hanya satu buah kalimat perintah, maka tembakan tak berujung dapat terjadi di Laut Nirwana ini.


"Yang Mulia, mereka sudah bersiap untuk menembak."


"Hubungi angkatan udara, kita lawan serangan mereka dari udara dulu."


Pesawat tempur Zinnia sudah sedari tadi mundar-mandir di langit. Saling mengejar dengan pesawat tempur Calendula yang tak seberapa banyaknya.


"Tembakan meriamnya!" Perintah sang kapten kapal lawan.


"TEMBAKAN MERIAMNYA!"


Dengan sebuah kalimat, perang terjadi dan kedamaian yang susah payah kedua negara ini pertahankan sirnalah sudah. Dibanding dengan negara lain di sekitarnya, Zinnia memang memiliki riwayat tak mengenakkan dengan Calendula di masa lampau. Invasi yang mereka lakukan puluhan tahun silam untuk memperebutkan wilayah di bagian timur, membuat luka tersendiri bagi warga Zinnia. Tapi Zinnia berhasil mempertahankan wilayah mereka, dan setelah itu keadaan di Zinnia berkembang pesat baik dari segi teknologi maupun ekonomi.


"Angkatan udara, bersiaplah untuk menembak kapal tempur mereka setelah meriam kedua mereka ditembakkan." Ucap Raja Arthur.


"Roger, sir!" Ucap Nathaniel dari radio pesawat tempurnya.

__ADS_1


Meriam kedua ditembakkan. Seperti strategi sang raja, perlawanan dilakukan dari udara terlebih dahulu. Setelah tembakan ketiga, barulah perintah menembakkan meriam dari kapal perang Zinnia dilakukan.


Sebenarnya tak butuh waktu lama untuk menghancurkan kapal musuh, tapi entah kenapa pihak lawan sangat bebal dan tidak mau mundur.


"Lapor kapten, terjadi kebocoran di kapal dan kerusakan di bagian depan. Apa yang harus kita lakukan? Ganti." Ucap seorang awak kapal pihak lawan tersebut.


"Sialan... Laporkan kepada markas utama!"


Calendula tidak punya pilihan selain mundur, tidak ada gunanya mereka menembakkan meriam kepada pihak Zinnia. Kapal canggih mereka memiliki ketahanan yang kuat nyatanya.


"Kapten..."


"Ya, Jenderal? Ganti." Ucap dari suara di seberang sana yang ditangkap oleh radio pesawat tempur Calendula yang sedang melaju di udara.


"Siapa yang memimpin pesawat tempur dari pihak mereka?"


Sang kapten pesawat tempur itu segera melihat ke kanan dan kiri dan dilihatnya pesawat tempur yang melintas di depannya memiliki dua buah bintang di bagian ekor pesawatnya. Menandakan bahwa itulah pesawat komandan mereka. Dilihatnya sang pengemudi yang tak terlalu jelas karena tertutup helm dan kacamata khusus.


"Maaf jenderal, wajahnya tidak begitu jelas, ganti."


"Tapi kau menemukan pesawatnya bukan?"


"Iya, jenderal, ganti."


"Incar dia dan tembak terus pesawatnya."


"Roger, sir!"



"Kami peringatkan untuk memerintahkan pesawat tempur Calendula kembali mundur." Ucap Raja Arthur kepada radio kapal mereka.


"Apalagi yang mereka lakukan?!" Ucap Raja Arthur yang terlihat marah.


Bersamaan dengan mundurnya kapal perang Calendula, kapal perang yang dinaiki Daja Arthur pun kembali ke dermaga dan sisanya berjaga di perairan. Ia bergegas pergi ke pangkalan udara militer yang tempatnya cukup jauh dari dermaga menggunakan mobil Jeepnya tadi. Sehingga dilakukanlah mode darurat, di mana tidak ada yang menghalangi mobil Jeepnya untuk melaju di jalanan, dengan tujuan mempercepat waktu perjalanan.


Raja Arthur kini sampai di pangkalan udara, ia langsung saja ke bagian menara pengatur lalu lintas pesawat. Dilihatnya ke mana perginya pesawat dari radar yang muncul di layar. Pesawat-pesawat itu berada di atas kawasan hutan.


"Zinnia air force, kuperintahkan kalian untuk kembali ke pangkalan. Ini titah! Sekali lagi, Zinnia air force kembali ke pangkalan." Saat itu ada perasaan gundah sekaligus marah yang dirasakan Raja Arthur.


Tapi tak lama, titik titik pesawat yang terpancar di radar menjauh dari kawasan hutan dan mendekat ke pangkalan. Ada sedikit perasaan tenang di sekujur tubuh Raja Arthur, meski terlihat dua buah pesawat milik Calendula yang belum juga mundur dan sebuah pesawat milik Zinnia yang tampaknya terapit oleh kedua pesawat lawan itu.


"Lapor, pesawat tempur Zinnia 01 terjebak oleh pesawat lawan, ganti."


"01...? Siapa pengemudinya?" Tanya Raja Arthur.


Ada jeda sekitar 5 detik sebelum Raja Arthur menerima jawaban dari pertanyaannya,

__ADS_1


"....Pangeran Nathaniel, Yang Mulia."


Suasana di menara yang mencekam menambah tegang suasana. Raja Arthur yang mendengar jawaban tersebut terkejut bukan main. Dia memegang dahinya yang tiba-tiba menjadi pusing, sangat khawatir dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di sana.


"Nathaniel kembali ke pangkalan SEKARANG!" Tapi perintah tidak kunjung diindahkan.


Nyatanya Nathaniel masih berputar-putar di atas kawasan hutan. Dilihatnya titik-titik pesawat itu dari radar, dan didapatinya pesawat lawan yang mulai memencar untuk mengepung Nathaniel dari depan dan belakang,


"DEMI TUHAN- NATHANIEL KELUAR DARI SANA SEKARANG JUGA!" Teriak Raja Arthur.


Meski sudah dihubungi berkali-kali, Nathaniel tidak memberikan jawaban melalui radionya.


Kini Raja Arthur melihat keadaan langsungnya melalui monitor kamera pengawas. Tak henti-hentinya, perintah untuk kembali dilontarkan. Tapi nihil, kondisi Nathaniel semakin bahaya di atas sana.


Tiba-tiba radio di menara itu menangkap suara masuk. Terdengar suara Nathaniel dari seberang sana,


"A-AYAH..."


"A-Ayah... Aku... Harus.... B-Bagaimana?... A-Ayah... M-Maafkan.. A-ku. Aku tak bisa menjadi... K-Kapten yang... B-baik..." Suaranya terputus-putus.


"Nathaniel, demi tuhan kembali ke markas sekarang!"


Pesawatnya memasuki kawasan pegunungan. Akan sangat sulit untuk menerima sinyal radio di sana.


"Nathaniel- Jawab aku! Nathaniel!" Wajah Raja Arthur sudah sangat gelisah tak karuan.


"Bagaimana ini Yang Mulia?" Tanya Elthon.


"Kirimkan bala bantuan SEKARANG!"


Demi tuhan, Nathaniel dibuat mereka sulit untuk kabur atau bahkan menghindar dari mereka. Beberapa kali peluru ditembakkan, syukurnya dia berhasil menghindar. Tapi pikirannya kacau bukan main, ia takut setengah mati.


Tempatnya berada kini sudah sangat jauh dari jangkauan militer, meski bala bantuan dikirimkan akan butuh waktu hingga sampai kemari. Hingga pada akhirnya pesawat Nathaniel tertembak di bagian sayap kanan, membuatnya susah untuk memegang kendali. Mau tak mau pesawatnya oleng dan semakin turun ke bawah.


Peluru kedua berhasil mengenai bagian sayap kiri pesawat Nathaniel. Nathaniel meraa waktunya sudah tak banyak sebelum ia terjatuh, ia berusaha sebisa mungkin untuk meraih radio kecil yang disematkan di dada kirinya sembari tetap berusaha membuat pesawatnya stabil, tapi kini tembakan berkali-kali mengenai badan pesawatnya.


"A-ayah..."


"NATHANIEL- NATHANIEL AYAH MOHON BERTAHANLAH!"


"Sekali lagi maafkan aku yang mengecewakan ayah dan Zinnia, tolong jaga Xavier.... dan.... A-Aku mencintai kalian... Sangat-"


Setelahnya terdengar suara ledakan yang begitu besar setelah pesan tersebut. Semua orang di ruangan menara itu terkejut dan ada raut tidak percaya di wajah mereka.


"Nathaniel? Nathaniel?! NATHANIEL?!!"


Pukul 15.57 waktu setempat, pesawat tempur 01 Zinnia dinyatakan jatuh dan meledak di tempat dengan pengemudinya yang sudah tak tertolong.

__ADS_1



__ADS_2