
Xavier terbangun di sebuah taman bunga yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Taman bunga yang dipenuhi bunga Zinnia dan bunga-bunga lainnya. Ia terkejut ketika menyadari bahwa ia ada di paviliun kerajaan, atau dikenal sebagai paviliun ratu. Sebab, tempat tersebut merupakan tempat favorit Ratu Issabela.
Xavier yang masih setengah sadar mencoba mencerna apa yang terjadi. Seingatnya, tadi ia tertidur di meja ruang belajarnya. Entah bagaimana ia bisa sampai dimari.
Dilihatnya ada siluet sosok yang familiar di matanya berdiri tak jauh di ujung taman. Ia pun perlahan berjalan menyusuri anak tangga menuju ke taman bunga. Taman yang ada tak begitu besar dan mengelilingi paviliun. Meski begitu, entah kenapa langkahnya tak juga sampai ke sang pemilik siluet. Seolah siluet itu berdiri teramat sangat jauh darinya.
Sembari melangkah, matanya menilik-nilik. Ia sangat yakin bahwa sosok di hadapannya bukanlah orang asing,
"Kak Ashton-??" Ujar Xavier ragu-ragu.
Yang dipanggil pun menolehkan kepalanya. Benar, sosok yang berdiri adalah Nathaniel.
"Kak Ashton!" Panggil Xavier sembari melambaikan kedua tangannya.
Sosok yang berdiri di hadapannya kini berbalik. Nathaniel menyunggihkan senyumannya sebelum ia melangkah menjauh. Xavier yang melihatnya hanya dibuat bingung keheranan.
"Kak Ashton?"
"KAK ASHTON!!!" Dilihatnya Nathaniel yang pergi menjauh dari penglihatannya.
Di penglihatan Xavier, Nathaniel dikelilingi oleh cahaya putih di sekujur tubuhnya. Pemandangan yang sangat membingungkan. Namun, Xavier tak berhenti mengejar sosok Nathaniel. Tapi tetap saja ia tak berhasil mengejarnya.
Langkahnya terhenti ketika melihat ada sesosok wanita dengan pakaian serba putih sama seperti Nathaniel. Wanita itu mengulurkan tangannya menyambut Nathaniel.
Xavier memicingkan matanya untuk mengenali sosok wanita itu,
__ADS_1
"Ibu?" Tanyanya keheranan.
Meski sudah 8 tahun sejak kematian sang ibu, tentu saja Xavier masih ingat betul bagaimana wajah sang ibu.
"Ibu! Kak Ashton!" Xavier kembali berlari mengejar keduanya.
Kedua sosok itu lagi-lagi tersenyum ke arah Xavier. Senyum yang sangat hangat, seolah membuat Xavier ingin merangkul keduanya saat itu juga.
"IBU! KAK ASHTON!"
Kedua sosok tersebut semakin menjauh dari hadapan Xavier. Tapi Xavier masih gigih mengejar mereka.
"Ibu... Kak Ashton..." Langkah Xavier terhenti ketika dilihatnya kedua sosok itu sudah tak terlihat lagi di hadapannya.
"Ibu, Kak Ashton jangan pergi... Kalian mau ke mana? Jangan pergi..." Tanpa sadar bulir-bulir air mata sudah menumpuk di ujung mata Xavier.
"Ibu... Kak Ashton..."
"Yang Mulia-..."
"Ibu... Ibu! Kak Ashton! KAK ASHTON!" Xavier berteriak.
"Yang Mulia!" Liam pun membangunkan Xavier dengan sedikit meneriakinya.
"Hah... Hah.... Liam..." Xavier dipenuhi dengan bulir keringat di wajahnya, napasnya terngah-engah.
"Di mana aku?" Tanya Xavier yang baru saja terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Anda di ruang belajar, Yang Mulia." Jelas Liam.
"Anda bermimpi buruk?" Tanya Liam.
"Entahlah, aku tak mengerti apa yang terjadi barusan..."
"Anda mungkin kelelahan seharian ini, tak seharusnya anda tertidur dengan posisi yang tidak nyaman seperti tadi." Sahut Liam sembari mengisi sebuah cangkir dengan teh hangat dari teko yang tersedia.
"Silahkan diminum, Yang Mulia."
"Terima kasih Liam."
Xavier meminum teh tersebut dan berusaha menenangkan dirinya.
"Apa barusan Yang Mulia memimpikan paduka ratu?" Tanya Liam.
"Ya, setelah sekian lama, ibu muncul kembali di mimpiku. Dan kali ini juga ada Kak Ashton di sana."
"Aku tak mengerti Liam, mereka tampak bahagia dan tersenyum kepadaku. Tapi saat itu juga hatiku terasa sangat sakit. Seolah mereka akan pergi sangat jauh dan meninggalkanku sendirian. BAHKAN aku hatiku masih terasa sakit sekarang." Jelas Xavier panjang lebar.
Liam mendekat dan menepuk pundak sebelah kanan milik Xavier, "Tenangkan dirimu, Yang Mulia. Semua akan baik-baik saja."
Meski hubungan mereka hanyalah sebatas atasan dan bawahan. Keduanya sangat menghargai satu sama lain. Xavier tak pernah serta merta memandang Liam hanya sebagai ajudannya, Liam adalah ajudan sekaligus sahabat dan orang terpercaya yang selalu bisa Xavier andalkan. Ia adalah orang yang juga penting di hidupnya.
Begitu juga dengan Liam. Ia tahu Xavier adalah pangeran yang sangat berbeda kelas dan statusnya dari dirinya, tapi ia juga sudah menyayangi Xavier sebagaimana adiknya sendiri. Liam pernah bersumpah pada dirinya sendiri, ia akan melindungi Xavier meski nyawanya lah yang menjadi taruhannya.
"Liam, aku takut..."
__ADS_1