Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 27 : Ciuman Pertama


__ADS_3


Cuaca di Zinnia sudah mulai mendingin. Memasuki bulan November, dedaunan di pepohonan sudah sepenuhnya gugur. Tersisa 3 hari lagi menuju upacara penyambutan Oliver dan untuk jadwal hari ini Oliver akan melakukan fitting gaun yang akan dikenakannya di acara nanti. Berbeda dengan saat pernikahan, kini pihak butik lah yang mendatangi Oliver ke istana. Hal itu dikarenakan Xavier risih bila Oliver harus keluar dari gerbang istana tanpanya, terlebih saat ia mengetahui Oliver sempat dibuntuti oleh beberapa paparazzi beberapa hari lalu.


"Tak apa jika kau lakukan ini sendiri?" Ujar Xavier.


Oliver mengangguk "Hm, tenang saja."


"Kalau begitu aku akan kembali waktu makan malam nanti." Sambungnya.


Xavier tak bisa menemani Oliver untuk fitting gaun kali ini, ia harus berkunjung ke pangkal militer karena tugasnya.


"Oh ya Oliver-" panggil Xavier.


"Kemarilah-"


Oliver menaikkan kedua alisnya kebingungan dan tak lama sebuah kecupan mendarat di dahinya, membuat kedua pipinya merona merah. Hal itu lantas membuat para pelayan yang menyaksikan gemas dibuatnya.


"Sudah... Pergi sana." Suruh Oliver.


Oliver merasa akhir-akhir ini Xavier lebih sering memberinya perhatian dan skinship dari biasanya. Entah apa yang ada dipikirannya, batin Oliver. Tapi tak masalah, toh Oliver juga tak keberatan akan itu.


Setelah itu, Oliver melanjutkan kegiatannya barusan. Memilih gaun yang akan ia kenakan. Ada beberapa pilihan gaun yang dibawakan untuknya. Dengan semua warna yang memikat mata dan desain yang elegan. Jujur, Oliver bingung memilihnya.


"Yang Mulia bisa mencobanya dan memilih mana yang paling anda suka." Ujar salah satu asisten dari butik tersebut.


"Hmm... Ini terlalu sulit-" Ucap Oliver.


"Yang manapun gaunnya, anda akan terlihat sangat anggun jika mengenakannya."


Setelah menimbang dan memilih, matanya tertuju pada dua gaun. Yang satu berwarna biru langit dan satunya lagi berwarna royal blue.


"Apa yang ini saja ya...?" Ucapnya Oliver dalam hati.


"Aku pilih yang ini saja." Oliver pun memilih sebuah gaun berwarna royal blue dengan renda rok yang bertumpuk dan pola bintik-bintik putih.


"Baik, Yang Mulia." Asisten tersebut langsung memisahkan gaun yang Oliver pilih.


"Yang Mulia..." Panggil salah satu asisten lainnya.


"Ya?" Sahut Oliver.


"Butik kami juga punya banyak koleksi gaun malam loh, seperti lingerie dan silk pajama misalnya."



"Lingerie???"


"Ya... Siapa tau Yang Mulia berkenan. Untuk bermain-main dengan putra mahkota." Kekeh asiten itu.


Oliver pun tersadar maksud asisten tadi, "HA-HA-HA TIDAK, aku tidak membutuhkannya." Tawanya canggung.


"Tak perlu malu, Yang Mulia. Hal ini normal bagi pasangan yang sudah menikah, bukan begitu?" Tanya asisten tersebut kepada asisten yang lainnya.


"Betul, bisa memberikan 'sinyal' pada pasang-"


"EYYY TIDAK PERLU." Ucap Oliver yang pipinya sudah merona seperti kepiting rebus.


'Kalau pun butuh aku bisa membelinya sendiri.' batinnya.


.


.


.


.


.


"Kembali ke istana." Ujar Xavier


"Baik Yang Mulia." Mesin mobil limusin hitam itupun dinyalakan dan segera menuju kembali ke istana.


Pekerjaannya Xavier hari ini sudah selesai. Badannya lelah bukan main, padahal hanya mengawasi lapangan saja.


"Yang Mulia, apa anda sudah melihat berita di internet ini?" Ucap Liam sembari menunjukkan sebuah berita dari ponselnya.


"Berita apa ini?" Tanya Xavier.


"Ada yang menulis berita gosip tentang Tuan Putri Oliver, Yang Mulia."


Xavier membaca berita itu dengan seksama. Berita itu tak lebih dari berita gosip murahan yang intinya berisikan tentang "Mengapa Tuan Putri tak memakai cincin pernikahannya?"


"Cihh, atasi ini Liam. Cari siapa penulisnya."


"Baik, Yang Mulia."


'Seperti dugaanku. Kini mereka pun mengincar Oliver.' batin Xavier.



.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


"Yang Mulia, waktunya makan malam." Elia mengetuk pintu kamar Oliver.


"Baik, sebentar lagi aku turun." Sahutnya dari dalam.


Oliver pun keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dan melewati beberapa lorong yang menurut Oliver cukup menakutkan jika malam. Sebelum menuju ruang makan, seperti biasa Oliver mampir ke toilet untuk mencuci tangannya. Setelah selesai mencuci tangan, sebelum ia keluar dari bilik kamar mandi, tak sengaja ia mendengar percakapan 2 orang pelayan yang lewat di luar.


"Benarkah?"


"Benar... Meski mereka tidur di ranjang dan kamar yang sama, Pangeran dan Tuan Putri belum menghabiskan 'malam bunga' mereka."


"Kau tahu dari mana?"


"Dari pelayan yang merapihkan kamar mereka."


"Menurutmu kenapa? Apakah pernikahan mereka hanya pura-pura?"


"Ku dengar Putri Oliver lah yang tak berkenan, padahal mereka suami istri."


"Kasihan sekali Pangeran Xavier."


"Betul."


Oliver menyimak perbincangan itu sampai habis. Entah bagaimana mereka bisa berbicara yang tidak-tidak tentang atasan mereka sendiri.


"Yang Mulia? Di sini kau rupanya..." Ucap Elia.


"Ah... Elia, aku baru saja akan ke sana."


"Cepatlah sebelum Paduka Raja datang."


"Xavier? Sudah pulang?"


"Pangeran sebentar lagi sampai."


.


.


.


.




Seusai makan malam, Oliver termenung di sebelah jendela dalam kamarnya. Tatapannya kosong, melihat ke arah gerbang istana yang jauh di sana.


Xavier memperhatikannya sedari tadi, ia tahu istrinya sedang memikirkan sesuatu, "Ada apa?"


"O-oh tak kenapa-napa." Oliver tampak jelas bahwa ia kenapa-napa.


"Mau jalan-jalan? Kita cari angin." Tawar Xavier.


"Ada taman dekat sini, di luar gerbang istana."


"Apa boleh?"


"Apa sih yang gak boleh emangnya."


Oliver pun mengangguk mengiyakan, "Pakai baju hangatmu, cuacanya dingin."


Di waktu malam begini, keduanya pergi menuju sebuah taman yang Xavier maksud. Beberapa pengawal mengawasi dari kejauhan, memberi ruang untuk keduanya. Xavier dan Oliver pun berjalan di jalan setapak, di bawah remang-remang lampu jalan dan cahaya rembulan.


"Ada yang kau pikirkan?" Tanya Xavier.


Oliver menggeleng pelan.


"Wajahmu tampak tak semangat semenjak makan malam tadi, kenapa? Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?"


Oliver masih tetap diam. Oliver pun mengajak Xavier duduk di sebuah bangku taman dan menghela napasnya sebentar.


"Ada yang ingin ku tanyakan padamu." Ucap Oliver membuka mulut.


"Tanya saja, akan ku jawab." Sahut Xavier.


"Pernikahan kita sudah jalan 3 bulan.... Apa kau tak masalah tentang kita yang belum pernah berhubungan badan meski sudah menjadi suami istri?" Dengan berat hati Oliver menanyakan hal itu.


Xavier terdiam sebentar, ia pun tertawa kecil "Jadi itu yang kau pikirkan-"


'Lucunya' batin Xavier.


Oliver menunggu jawaban Xavier dengan wajah cemberutnya.


"Kau... Mulai mendengar para pelayan istana membicarakan itu ya?" Tanya Xavier.


"Dari mana kau tahu?"


Xavier terkekeh pelan, "Sudah kubilang, tak ada rahasia di istana. Bahkan tembok saja memiliki telinga."


"Aku juga mendengarnya-" Sambung Xavier.


".... begitu ya."


"Ya begitu."


"Lalu? Apa jawabanmu untuk pertanyaanku tadi."


"Jawabanku...." Ada jeda sebelum Xavier melanjutkan ucapannya, "Tak masalah."


Oliver membelalakkan matanya, ia sudah memberanikan diri menanyakan hal itu. "E-Eh??? Tak masalah??"

__ADS_1


"Ya, tak masalah. Apa ada yang salah dengan itu?"


"Tak ada sih. Tapi katanya ketika lelaki sudah menikah, akan lebih sulit bagi mereka menahan nafsunya." Jelas Oliver.


"Kata siapa? Aku bukan hewan yang kebelet kawin, Oliver. Aku bisa mengontrolnya. Bukannya aku tak mau, aku hanya menunggumu siap."


"A-Aku??"


"Ya, kau. Aku tidak menyalahkan mu. Bisa berada di sisi mu seperti ini saja sudah membuatku nyaman, itu lebih dari cukup bagiku."


Oliver termenung, ia kini menatap mata Xavier. "Maafkan aku." Lirihnya pelan sembari menunduk.


"Maaf untuk apa? Kau tak salah."


Kini Xavier mengusap kepala Oliver pelan, "Pernikahan bukan cuma urusan ranjang, Oliver. Masih banyak hal menarik yang bisa kita lakukan bersama, bukam begitu?"


"Tapi apa kau tak masalah dengan ini? Aku seolah terus menundanya."


"Berhubungan badan itu persoalan kesepakatan bersama. Aku tak mau hanya aku saja yang merasa senang akan hal ini, kau juga harus senang ketika melakukannya. Pelan-pelan saja, bahkan jika perlu lebih banyak waktu aku akan menunggu."


Oliver dibuatnya berlinang air mata, "Kenapa??? Kenapa nangis?" Tanya Xavier.


"Karena aku, para pelayan jadi berbicara yang tidak-tidak."


"Mereka akan selalu seperti itu tentang apapun yang kita lakukan, jadi kuatkan dirimu."


Xavier mengusap air mata Oliver yang berlinang di pipinya.


"Xavier..."


"Ya?"


"Kau boleh memanggilku 'sayang' atau apapun panggilanmu kepadaku. Aku ingin kita tak tampak canggung dan terkesan lebih dekat."


"HAHAHA apa selama ini kita terkesan canggung?"


Oliver mengangkat kedua bahunya.


Xavier menyunggingkan senyumnya, "Baiklah, jika itu mau mu. Sayang."


Oliver merasa ada kupu-kupu di perutnya, ia menyukai panggilan itu.


"Satu lagi-" ucap Oliver.


"Apa itu?" balas Xavier.


"Aku belum melakukan ciuman pertamaku."


Xavier tersentak, ada apa dengan istrinya malam ini.


Oliver menghadap ke arah Xavier di sebelahnya, "Bolehkah?" Tanyanya malu-malu.


Xavier mengangguk, karena sebenarnya ia pun belum melakukan ciuman pertamanya dengan siapapun.


Dengan ragu-ragu Oliver mendekatkan wajahnya ke wajah Xavier dan mengecup bibirnya pelan dan singkat. Jika dibilang berciuman, itu lebih seperti kecupan singkat. Tuan putri ini, benar-benar tak tahu apa-apa.


"Sudah?" Tanya Xavier.


"Hm." Angguk Oliver.


Giliran Xavier yang mendekatkan wajahnya ke arah wajah Oliver. Ia memegang dagu Oliver dan menarik wajahnya perlahan. Tangannya menjelajahi rahang wanita di hadapannya. Ibu jarinya sengaja menekan pelan bibir berisi milik Oliver. Tak lama, Xavier mendaratkan bibirnya di bibir Oliver dengan lembut. Tangannya yang kini sudah berada di tengkuk Oliver, menekan leher bagian belakang itu dengan pelan, membuat ciuman mereka kini semakin dalam.


Oliver bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Seperti kejutan setrum listrik, ia menyukai sensasi ini.


Xavier kini melepas tautan bibir mereka untuk mengambil napas, "Ciuman itu seperti ini. Mau kuajarkan lebih?"


Oliver mengangguk.


Lagi, Xavier kembali menempelkan bibirnya pada bibir Oliver. Namun kini lebih sedikit bertenaga. Keduanya mencoba memejamkan mata, berusaha menikmati momen mereka berdua. Xavier berusaha menghisap bibir atas dan bawah Oliver bergantian. Oliver pun tanpa sadar terhanyut dengan kegiatan ini, dan berusaha membalas dengan melakukan hal yang sama. Kedua hidung mancung mereka saling menyentuh satu sama lain.


Xavier merangkul pinggang Oliver, berusaha membuatnya lebih dekat. Oliver pun refleks mengalungkan kedua lengannya di leher Xavier. Ciuman singkat dan pelan berubah menjadi ciuman panas yang cukup lama, seolah tak ada hari esok.


Suasana malam, cahaya rembulan, dan ditemani orang terkasih. Bahkan alam pun mendukung mereka.


Setelah dirasanya cukup, Xavier melepas tautan kedua bibir mereka. Ia menatap Oliver dalam. Mengusap pipinya yang memerah terhembus oleh angin malam musim dingin. Iris keduanya bertemu. Mata safir milik Xavier tampak begitu menyala di bawah cahaya bulan, begitu juga dengan mata coklat terang milik Oliver. Di mata Xavier, Oliver tampak sangat cantik. Sangat.


"Cantik." Ucap Xavier yang masih menatap dalam-dalam Oliver. Sebuah kecupan pelan mendarat di dahi Oliver dan kini Xavier mendekap Oliver di pelukannya. Tubuhnya Oliver terasa mungil dan sangat pas di dekapan Xavier.


"Mau pulang sekarang?" Ajak Xavier.


Oliver membalas ajakan itu dengan mengangguk di dalam dekapan Xavier.


Di tengah cuaca dingin ini, sembari bergandengan tangan keduanya pulang dengan hati yang hangat.


Biarlah dunia yang menjadi saksi kisah cinta mereka berdua.




.......


.......


.......


.......


...I was so happy after meeting you...


...I was able to love you so much...

__ADS_1


...Because you embraced and understood my young and immature mind warmly...


...Are you happy after meeting me, too?...


__ADS_2