
"Mobilmu ini sangat antik, Charlotte." Ucap Oliver yang kini duduk di sebelah bangku supir yang ditumpaki Charlotte yang tengah menyetir.
"Antik? Kata lain dari kuno, bukan begitu?" Timpal Charlotte.
"Aku serius, sudah lama aku tak melihat mobil dengan model seperti ini."
"Ini pemberian mendiang nenek ku. Saat aku berhasil masuk universitas, nenek tak punya barang lain yang bisa diberikannya kepada ku. Jadi ya... Nenek memberiku mobil ini." Jelas Charlotte.
"Ku rasa mesinnya masih sangat bagus."
"Aku menjaganya dengan apik."
"Pantas saja."
Oliver menurunkan kaca mobil bangkunya, menikmati semilir angin dan menghirupnya dalam-dalam. Menikmati pemandangan siang menuju senja.
Mobil mereka melaju di jalanan tepi pantai. Suara ombak dan daun pepohonan yang terhembus angin sore menyatu menjadi remedi bagi siapapun yang merasakannya.
"Hah.... Kapan terakhir kali aku dapat bernapas bebas seperti ini..."
"Apa menjadi tuan putri itu melelahkan, Yang Mulia?" Ucap Charlotte.
"Sedikit." Jawab Oliver.
"Tapi Yang Mulia tahu? Yang Mulia mengerjakan tugas dengan baik–"
"Ku bilang panggil aku Oliver ketika hanya kita berdua." Potong Oliver.
"Maaf, aku belum terbiasa– Oliver, kau melakukan tugas dengan baik dan rakyat suka kepada mu." Sambung Charlotte.
"Kau tahu Charlotte, aku tak pernah berpikir bahwa menjadi seorang putri akan sesulit ini. Ada banyak hal yang harus kulakukan, banyak hal baru yang tidak aku tahu sebelumnya, namun kau tahu? Satu hal yang membuatku bersyukur adalah karena aku bisa bertemu dengan banyak sekali orang, rakyatku, rakyat Zinnia."
"Terkadang tanggung jawab membuat kita terbelenggu, tapi dari sanalah kita banyak belajar." Ucap Charlotte.
"Aku bertanya-tanya... Bagaimana Xavier mampu melakukan semua ini? Dengan semua tugas dan kewajiban di pundaknya, belum lagi ia harus banyak belajar, tampil di depan umum, bertemu para menteri dan orang-orang penting. Aku bahkan tak bisa membayangkannya."
Charlotte melirik Oliver dari kaca spion tengah, "Dahulu, pangeran bukan seperti sekarang. Ia tak senang dengan banyak peraturan dan tugas kerajaan. Entah sejak kapan Yang Mulia menjadi lebih dewasa seperti sekarang."
"Sejak Pangeran Nathaniel meninggal." Ucap Oliver.
"...Benar." Timpal Charlotte.
"Kau tahu Charlotte, saat itu Xavier sangat berduka. Hampir dua bulan ia tidak datang ke sekolah, dan saat ia kembali... Aku dapat melihat dengan jelas perbedaan pada wajah dan sikapnya. Ia terkesan lebih dingin."
"Aku yakin Yang Mulia atau siapapun itu tak menyangka akan kehilangan Pangeran Nathaniel secepat itu." Ujar Charlotte.
"Di usia kanak-kanaknya ia sudah kehilangan banyak orang di hidupnya. Aku merasa kasian." Oliver menghela napasnya kembali.
Mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah toko es krim. Charlotte membawa Oliver ke sini karena Charlotte ingin memberi tahu Oliver toko es krim favoritnya.
"Kita sudah sampai." Ucap Charlotte.
Ia kemudian turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Oliver.
"Terima kasih." Ucap Oliver.
Sebuah toko sederhana yang tak terlalu kecil namun juga tak begitu besar. Toko tersebut menyediakan beberapa meja dan kursi untuk pelanggan yang ingin makan di tempat.
Ketika kalian masuk, kalian akan disambut dengan dekorasi warna-warni yang memikat mata. Di bagian etalase di sebelah kasir, terdapat berbagai loyang es krim yang berjejer dengan banyak rasa berbeda. Kalian bisa memilih apa saja rasa yang kalian suka.
Sore hari itu, toko es krim sederhana ini tak memiliki pelanggan satu orang pun. Hanya ada Charlotte dan Oliver.
"Wah...." Ucap Oliver.
"Mereka benar-benar menjual banyak es krim." Oliver berjalan melihat-lihat varian es krim yang toko tersebut jual.
"Silahkan pilih apa saja yang kau suka, biar aku yang bayar." Ujar Charlotte.
"Benarkah???!" Seru Oliver.
Charlotte pun mengangguk mengiyakan.
Tak lama setelah itu, seorang pelayan dan seseorang yang tampaknya pemilik toko tersebut keluar dari dapur di bagian belakang.
"Yang Mulia...? YANG MULIA?"
"Benar, itu Putri Oliver!!" Seru si pelayan.
"Hormat kami, Yang Mulia." Ucap sang pemilik toko.
Oliver tersenyum, "Selamat sore..."
"Sebuah kehormatan bagi kami, Yang Mulia. Kami tidak percaya anda mengunjungi toko kecil ini." Mata sang pemilik toko dan pelayannya berbinar-binar melihat Oliver datang ke toko mereka. Mereka sangat tidak percaya bisa bertemu langsung dengan Oliver.
"Charlotte– Maksudku, tutorku di istana merekomendasikan toko kalian padaku, aku sangat penasaran dan tak sabar mencoba es krim milik kalian." Ucap Oliver ramah.
"Tentu saja! Kami akan menyajikan es krim terbaik milik kami." Seru si pelayan.
"Bolehkah aku memesan rasa coklat dan yang raspberry?"
"Tentu saja, Yang Mulia. Akan kami hidangkan."
"Dan kau Charlotte–? Ingin memesan apa?"
"Hmm... Satu scoop es krim vanila dengan chocochip untuk ku." Balas Charlotte.
__ADS_1
"Baik, tuan."
Oliver pun memilih tempat untuk mereka duduk. Ia memilih sebuah meja di pojok kanan toko. Di meja itu ia dapat melihat langsung pemandangan keluar.
"Ini pesanannya, Yang Mulia. Tuan."
"Terima kasih." Ucap Oliver.
Di tengah cuaca yang sedikit terik, mereka berdua menyantap es krim yang mereka pesan dengan lahap. Dengan sedikit gelak tawa di antara keduanya. Mereka membicarakan banyak hal, makanan kesukaan mereka, kampung halaman mereka, warna favorit mereka, dan masih banyak hal lainnya.
Tapi hal itu tak berlangsung lama. Charlotte menyadari sedari tadi ada seseorang di arah jam dua yang memegang kamera dan menyoroti mereka. Sebuah kerjapan lampu kilat kamera itu membuat Oliver juga sadar bahwa ada paparazi yang membuntuti mereka.
"Charlotte.... Bagaimana ini?" Lirih Oliver.
"Jangan melihat ke arah mereka." Tegas Charlotte.
"Pakailah topi ini, Yang Mulia. Aku akan keluar lebih dulu dan menunggu mu di mobil. Tunggu lah beberapa menit, barulah susul aku." Jelas Charlotte.
Oliver mengangguk paham. Ia tak pernah nyaman menjadi bual-bualan paparazi. Toh ia hanya ingin makan es krim, apakah hal tersebut semenarik itu dan mengharuskannya menjadi tajuk utama berita?
Seperti perkataan Charlotte, Oliver menunggu beberapa menit di dalam toko es krim. Sang pemilik es krim yang menyaksikan kejadian tersebut memberikan Oliver kaca mata hitam dan sebuah scarf untuk menutupi dirinya.
"Terima kasih." Ucap Oliver dengan sopan.
"Berhati-hatilah Yang Mulia, dan terima kasih sudah mengunjungi toko kami." Balas sang pemilik toko.
Oliver mengangguk dan tersenyum. Ia kemudian pergi meninggalkan toko tersebut dan berlari masuk kedalam mobil Charlotte.
Tak perlu lama-lama, setelah sabuk pengaman dikenakan Charlotte langsung tancap gas. Pergi ke manapun yang tak terjangkau oleh paparazi.
Charlotte sekilas melirik Oliver yang masih terengah-engah mengambil napas setelah berlari kecil masuk ke dalam mobil. Tampak sekali ia gelisah dengan kekhawatiran di matanya.
"Tenanglah... Aku yang mengajakmu keluar istana, jika terjadi sesuatu aku yang akan bertanggung jawab." Ucap Charlotte.
Oliver termenung, "Kau tak perlu bertanggung jawab untukku yang hanya makan es krim."
"Baiklah...." Charlotte mengalah.
"Lalu– Apa sekarang kita kembali ke istana?" Sambung Charlotte.
Oliver menggeleng, "Tidak, selagi kita di luar... Bagaimana jika kita pergi ke pantai? Sebentar lagi mataharinya terbenam bukan?"
Mobil antik itu melaju cepat ke arah pantai. Jaraknya cukup jauh dari toko es krim barusan. Pantai tersebut memang memiliki pemandangan yang indah, namun tak banyak yang mengunjungi karena hanya sedikit orang yang tahu.
Mobil mereka diparkirkan tak jauh dari garis pantai, dan benar saja sebentar lagi matahari sudah akan terbenam. Oliver turun dari mobil untuk melihatnya lebih jelas. Sebuah pemandangan yang memanjakan mata.
Oliver menghirup dalam-dalam angin pantai. Merasakan rambut pirangnya terhembus angin dan kakinya yang dapat merasakan butiran-butiran pasir secara langsung. Oliver dapat melepas stresnya walau hanya sebentar.
Charlotte masih berdiam di belakang setir mobilnya. Ia tengah menyiapkan diri untuk konsekuensi apapun yang bisa terjadi setelah mereka kembali ke istana, terutama jika para reporter sialan itu mengunggah foto-foto tadi.
"Yang Mulia bisa dirumorkan macam-macam.... Haahhh– mengapa kau bodoh sekali Charlotte..." Ucap Charlotte pada dirinya sendiri.
Oliver kembali dan mengetuk jendela mobil, "Kau tak ingin turun?" Tanya Oliver pada Charlotte.
Charlotte pun turun dan hanya berdiri di samping pintu mobil.
"Nikmatilah selagi bisa, Charlotte." Ucap Oliver.
Charlotte tersenyum, "Benar... Kesempatan tidak datang dua kali, bukam begitu?" Timpalnya.
Mereka berdua kini menatap laut dan mentari yang akan terbenam sepenuhnya. Tak ada obrolan, hanya keheningan sembari menatap senja.
"Oliver, kita harus kembali. Sebentar lagi waktunya makan malam, Elia akan sibuk mencarimu." Jelas Charlotte.
Oliver menghela napas, "Baiklah, kita kembali ke istana."
Mereka pun pada akhirnya kembali pulang ke Istana Cassania. Istana yang penuh cerita namun terkadang menyesakkan dada.
"Yang Mulia! Anda kemana saja?! Setengah mati aku mencarimu, untung saja penjaga melihatmu pergi bersama Tuan Charlotte. Syukurlah kau baik-baik saja." Omel Elia sesampainya mereka di gerbang masuk istana.
"Hei hei tenanglah, aku hanya keluar sebentar kok." Ucap Oliver.
"Yang Mulia tidak tahu seberapa paniknya aku ketika mendapati Yang Mulia tidak ada di ruang belajar saat aku mengantar cemilan sore." Jelas Elia.
"Baiklah– Maafkan aku... Aku salah tidak bilang pada mu dulu."
"Baguslah kalau kau sadar akan kesalahanmu." Potong seseorang dari arah belakang.
"Xavier??! Kau sudah pulang?"
"Hormat kami, Yang Mulia." Ucap Elia dan Charlotte di belakangnya.
"Apa susahnya izin lebih dulu jika kau ingin keluar?" Tegas Xavier, ia tampak sedikit marah akan kejadian ini.
"T-Tapi aku tak pergi jauh–"
"Jauh dekat sama saja, tidak lihat bawahan mu panik?? Jika terjadi apa-apa bagaimana???!!" Suara Xavier sedikit meninggi.
Xavier menatap Oliver dengan tatapan marah, Oliver hanya bisa menunduk dan mengakui bahwa dirinya yang salah di posisi ini. Ia tak berani menatap mata Xavier di depannya.
"Satu istana akan repot mencarimu, bahkan kau pergi tanpa pengawal satu orang pun. Kau tidak paham bahwa itu BAHAYA?" Sambungnya.
Charlotte yang tak tahan pun akhirnya buka suara, "Maaf, Yang Mulia. Tapi ini semua salah saya, saya yang mengajak Putri Oliver untuk keluar mencari angin sebentar–"
"Saya tidak berbicara dengan anda, Tuan Charlotte." Potong Xavier.
Charlotte pun akhirnya terdiam, Oliver pun sontak kaget mendengar Xavier marah seperti ini untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Aku tidak melarang mu untuk keluar, Oliver. Tapi sekarang kau ini putri, apa susahnya mengikuti protokol yang ada? Karena statusmu, meski kau salah sekalipun bawahan mu lah yang akan terkena getahnya, mereka yang akan repot karena sudaj tugas mereka lah untuk menjaga mu tetap aman. Kau mengerti?" Jelas Xavier.
Oliver mengangguk pelan, sebenarnya ia tengah menahan agar matanya tak berkaca-kaca.
"Ku yakin ada paparazi yang membuntuti kalian, benar kan?" Tanya Xavier
'Darimana Xavier bisa tahu itu?' batin Oliver.
"B-Benar..." Ucap Oliver pelan.
Xavier menghela napasnya, ia memegang keningnya yang semakin pusing, "Sudah kuduga."
"Kau pergi dengan lelaki yang media tahu bukan pasanganmu, apa yang kau harapkan? Sudah pasti kau menjadi bahan gosip empuk bagi mereka, Oliver."
"Sudahlah, sekarang masuklah ke dalam, bersihkan diri mu dan siap-siap untuk makan malam." Sambung Xavier.
Kemudian Xavier masuk terlebih dulu meninggalkan Oliver, Charlotte dan Elia yang masih terpaku di halaman depan istana.
"Yang Mulia sedang banyak pikiran, ia sedang sensitif hari ini. Saya harap Yang Mulia dapat mengerti itikad baik Pangeran Xavier." Ucap Liam kepada Oliver.
Oliver hanya mengangguk lesu, kemudian Liam pun membungkuk memberi hormat dan pergi menyusul Xavier kedalam.
"Maafkan aku, Yang Mulia jadi kena marah." Ucap Charlotte tak enak hati.
"Bukan salahmu, Charlotte. Santai saja."
"Aku masuk dulu." Sambung Oliver.
Oliver pun masuk kedalam dan bersiap untuk makan malam. Ditemani Elia yang selalu mengekorinya kemanapun ia pergi.
'Aku jadi tak enak hati.' batin Charlotte.
Di ruang kerjanya, Xavier terduduk di kursi kerjanya. Dengan Liam yang setia berdiri di dekatnya.
Jari Xavier tengah sibuk menggulirkan tombol scroll pada mouse komputer miliknya. Ia mendapati bahwa foto-foto Oliver dan Charlotte tadi telah tersebar dengan cepat di internet.
"Lihat lah ini." Ucap Xavier kepada Liam.
Xavier kembali memegangi dahinya, kepalanya tengah pusing bukan main.
"Mereka juga menuliskan banyak judul artikel, Yang Mulia." Ucap Liam.
Benar, tak hanya foto saja yang tersebar tapi beberapa artikel mulai menanyakan identitas sebenarnya dari lelaki yang pergi bersama Oliver tadi.
"Kencan Sore di Toko Es Krim dan Tepi Pantai."
"Tidak Dengan Pangeran Xavier, Putri Oliver Pergi Dengan Lelaki Misterius. Siapakah Dia?"
"Car Date of Princess Oliver and The Mysterious Man."
"Sangat Intim! Putri Oliver Terciduk Berduaan Dengan Laki-laki Lain!"
"The First Scandalous News of Princess Oliver!!!"
Liam membacakan judul-judul artikel tersebut dan beralih ke kolom komentar yang ada, ia melihat berbagai reaksi berbeda akan berita ini.
"Mereka tampaknya menggila akan berita ini, Yang Mulia." Ucap Liam sambil menunjukkan komentar-komentar di internet pada Xavier.
Xavier menghela napas panjang, "Lagi-lagi media terus mencari kesalahan dari keluarga ku. Masalah terus datang dengan silih berganti.... Ini membuatku gila, Liam."
"Saya akan mengatasinya, Yang Mulia. Tak perlu khawatir, kita tunggu 24 jam beritanya akan reda dengan sendirinya." Ucap Liam percaya diri.
"Aku kehilangan selera makan, katakan pada ayah bahwa aku akan makan di ruangan ku dan minta pelayan membawakan makanan kemari." Pinta Xavier.
"Baik, Yang Mulia. Istirahatlah."
"Xavier akan malam di ruangannya?" Tanya Raja Arthur.
"Benar, Yang Mulia. Pangeran sedang tak berselera makan malam ini." Jelas Liam.
"Ada-ada saja bocah itu. Yasudah lah, aku akan makan dengan Oliver saja." Ucap Raja Arthur.
Liam pun pergi meninggalkan ruang makan istana. Kini hanya ada Oliver dan Raja Arthur di ruang makan yang sangat besar tersebut.
Suasananya cukup berbeda jika hanya ada mereka berdua. Meski Raja Arthur adalah ayah mertua Oliver, ia tetap saja seorang raja bagi Oliver.
"Kenapa?? Apa kau dan Xavier berkelahi?" Tanya Raja Arthur yang peka terhadap situasi.
"Hmm.... Tidak ayah, Xavier hanya sedikit marah karena aku pergi keluar istana tanpa izin." Jelas Oliver.
"Begitukah...?" Raja Arthur berucap sambil mengangguk-angguk.
"Tak biasanya anak itu marah, ada apa dengannya hari ini?" Sambung Raja Arthur.
"Liam bilang, Xavier sedang sensitif hari ini."
"Biarkan saja ia, nanti juga marahnya reda sendiri."
Alasan mengapa Xavier banyak pikiran hari ini adalah karena ia sudah mengetahui nama-nama pejabat yang melakukan korupsi dana militer dan penggelapan senjata. Ia sangat marah mengetahui bahwa nama-nama yang ada du daftar tersebut ternyata mereka yang sudah memiliki kepercayaan ayahnya. Xavier pening bukan main, memikirkan bagaimana cara memberi tahu ayahnya soal ini.
"Aku bisa gila lama-lama." Ucap Xavier seorang diri.
🌹To be continued....
...----------------...
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan cara vote, like, komen dan jadikan cerita ini favorit❣️...
__ADS_1
...Satu like akan sangat membantu author untuk terus semangat menulis dan melanjutkan cerita ini. Terima kasih sudah membaca😊💗...
XOXO~!👋