
Kedua pasangan kerajaan telah sampai di sebuah restoran Michelin bintang 5. Restoran itu telah dibooking sebelumnya oleh staf.
Jujur, baru pertama kali Oliver ke restoran semewah ini. Ia jarang sekali makan di luar, karena sang ayah selalu memasak makanan untuknya.
"Selamat datang, Yang Mulia." Ucap sang pemilik restoran sambil membungkuk, ia repot-repot langsung menyambut Xavier dan Oliver di pintu masuk.
Bungkukkannya dibalas oleh Oliver, "Sebuah kehormatan bagi kami, silahkan masuk, lewat sini Yang Mulia." Timbalnya sambil menunjukkan jalan.
Interior ruangannya sangat mewah, ditambah kesan megah dari furnitur yang mereka pilih. Mereka berjalan menuju sebuah ruangan privat yang dikhususkan bagi tamu VVIP.
Xavier melirik ke belakang, dilihatnya Oliver yang tertinggal beberapa langkah darinya, "Gandeng tanganku." ucapnya.
"Eh?? Ah! Ya." Oliver mengiyakan dan tangan kanannya langsung menggandeng tangan Xavier.
"Ruangan kalian di sini, Yang Mulia. Untuk hidangannya silahkan ditunggu." Ujar pemilik restoran itu.
Xavier dan Oliver memasuki ruangan bernuansa hitam dan emas tersebut, beberapa pengawal dan pelayan menunggu di pintu luar untuk memberi mereka berdua privasi.
Xavier menarikkan kursi tempat untuk Oliver duduk dari dalam meja, "Duduklah." ucapnya.
"Ini baru pertama kali bagiku makan malam di restoran semegah ini." Ujar Oliver
"Memangnya selama ini kalau makan malam di mana?" Tanya Xavier.
"Aku lebih sering makan malam di rumah bersama ayah, walaupun makan di luar tentu hanya di restoran biasa atau bahkan kedai pinggir jalan. Tentunya tidak semewah ini." Timpal Oliver.
Xavier menghela napas, "Kedai pinggir jalan?!?!!"
"Ya! Aku dah ayah senang makan dengan melihat suasana jalanan, bahkan jika di restoran ayah akan memilih tempat di pinggir jendela."
Xavier menggeleng-geleng, ia tahu ayahnya tak akan pernah membiarkannya makan di pinggir jalan seperti itu.
"Lalu... Sekarang kita makan apa?" Tanya Oliver dengan polosnya.
"Tunggulah, mereka akan menghindangkan menu mereka."
"Hm." Oliver mengangguk, ia sangat penasaran dengan menu apa yang restoran ini miliki.
Lagi, Xavier melirik Oliver. Dilihatnya Oliver yang menggosokkan tangannya di kedua lengannya, ia tampak kedinginan. Tak ambil pusing, ia berjalan ke arah Oliver sembari melepaskan jas hitam yang ia kenakan.
Xavier menanggalkan jasnya di punggung Oliver, "Pakailah, kau tampak kedinginan." Dan dengan kerennya ia kembali ke tempat duduknya.
"Terima kasih." Ucap Oliver pelan.
Tak lama seorang koki dan beberapa pelayan restoran datang dengan mendorong troli berisi nampan-nampan yang sudah terdapat berbagai makanan di atasnya.
Para pelayan itu dengan telaten meletakkan makanan-makanan di atas meja, "Ini makanan pembuka kalian."
Untuk sesi makanan pembuka terdapat Hors d'oeuvre, Canape, Sweer Aspic Arcimboldo Jelly, dan Kamikaze Cocktail. Mereka dibuat sedemikian menarik bagi mata, sehingga sangat sayang bagi Oliver menyentuh makanan-makanan ini, pikirnya.
"Silahkan dinikmati, Yang Mulia."
"Terima kasih."
Koki dan para pelayan tersebut pun pergi kembali ke dapur untuk menyiapkan menu utama.
"Bukankah ini fine dining, sayang sekali untuk dimakan makanan-makanan ini sangat indah." Oliver memasang wajah cemberut.
"Maka perutmu akan kelaparan nanti, udah makan aja."
Mereka pun mulai menyantap hidangan mereka. Rasa baru yang belum pernah Oliver coba sebelumnya. Ia tak berhenti menyuapkan sendoknya ke dalam mulit kecilnya itu.
"Makan dengan perlahan, kita tidak sedang buru-buru."
Oliver menyengir, "Ahahahah, maaf."
__ADS_1
Tidak ada pembicaraan di sesi makan malam mereka karena Xavier terbiasa tidak berbicara saat makan. Namun meski begitu, sesekali Xavier menimpali ocehan Oliver tentang deskripsi rasa makanan yang ia makan.
Setelah beberapa saat koki itu kembali membawakan troli nampannya berisikan hidangan utama.
"Ini hidangan utama kami, Yang Mulia. Grilled Chicken with Mushed Potatoes and Sautee Vegetables. Silahkan dinikmati." Ujarnya kemudian kembali meninggalkan ruangan.
"Oh! Ayah pernah buat ini sebelumnya. Wah.... Tak kusangka masakannya ternyata salah satu menu bintang lima juga." Ucap Oliver.
Xavier hanya tersenyum mendengar ocehan gadis itu. 'Gadis pirang ini sangat suka makan ternyata.'
Mereka kembali menyantap menu makan malam utama mereka. Sebenarnya Xavier sudah merasa perutnya 85% terisi sekarang, hidangan pembukanya tadi cukup banyak.
"Aku tak sabar dengan hidangan penutup mereka." Celoteh Oliver.
"Kau tak merasa kenyang?" Ujar Xavier.
Oliver kembali tersenyum sampai-sampai matanya sisa segaris, "Selalu ada ruang untuk makanan penutup."
'Benar-benar.... Menggemaskan' batin Xavier.
Benar saja, setelah menu utama selesai dihabiskan, koki tersebut kembali masuk dengan troli nampannya.
"Sebagain hidangan penutup, kami menghidangkan Affogato dan Belgian Waffle, menu khas dan kebanggan restoran kami. Semoga anda suka, Yang Mulia."
Xavier mengangguk, "Terima kasih."
Tanpa basi-basi Oliver kembali menyantap hidangan dengan lahap. Jujur saja ia sangat lapar sebelum ke sini, tenaganya sudah habis seharian ini dan menurutnya menu restoran ini sangat cocok dengan lidahnya. Matanya tertuju pada hidangan dingin berupa gelato rasa vanilla dengan siraman espresso bernama, Affogato.
"HMMM AFFOGATO INI SANGAT ENAK, Xavier cobalah!" Oliver berseru.
"Benarkah segitunya?" Xavier mengambil sendoknya dan mulai mencicipi Affogato seperti yang Oliver katakan.
Xavier membelalakkan matanya dan mengangguk pelan, "Hm... Benar, ini enak."
Acara makan malam mereka ditutup dengan hidangan manis yang sangat teramat lezat. Setelah dirasa selesai, Xavier dan Oliver memutuskan menyudahi kegiatan makan malam mereka dan bersiap untuk pulang.
Kepala koki dan beberapa pelayan saat itu kini mengantarkan Xavier dan Oliver hingga ke depan restoran mereka.
"Terima kasih atas hidangannya Tuan Flynn, kami benar-benar menikmatinya." Ucap Xavier.
"Syukurlah jika Yang Mulia menikmatinya."
"Tiramisunya sangat enak tuan!" Seru Oliver disusul dengan acungan kedua jempolnya.
"AHAHAHA Terima kasih banyak. Kami bisa membuatkannya untuk anda kapan saja anda mau, Yang Mulia." Koki itu pun tersenyum ke arah mereka berdua.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa lain waktu Tuan Flynn." Ujar Xavier.
"Restoran kami selalu terbuka untuk anda, Yang Mulia." Timpal Koki Flynn.
Xavier dan Oliver pun bergegas masuk ke dalam mobil mereka, "Oh benar Yang Mulia!" Ucap Koki Flynn menghentikan langkah Xavier, "Ya?"
Koki Flynn tersenyum, "Kuucapkan selamat untuk pernikahan kalian."
Xavier membalas dengan senyum di wajahnya, "Terima kasih banyak." Ia pun masuk ke dalam mobil limusin hitamnya dan bergegas pulang.
"Langsung ke Istana Cassania, Yang Mulia?" Ucap si supir.
"Antarkan dulu Oliver, ke kediaman Keluarga de Mauren." Jawab Xavier.
"Baik, Yang Mulia."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Ucap Oliver.
"Ini sudah malam, mana mungkin kau pulang sendiri. Lelaki jantan mana yang meninggalkan wanita di jalan semalam ini." Timpal Xavier.
__ADS_1
Oliver terdiam, ia sebenarnya hanya tak terbiasa diantar sampai ke rumah apalagi dengan limusin seperti ini.
.
.
.
.
Tak lama mereka sampai di kediaman Keluarga de Mauren.
Kebetulan Tuan Eden sedang berada di pekarangan rumah, ia melihat sebuah mobil limusin hitam dengan logo Kerajaan Zinnia berhenti di depan pagar rumahnya, "Oliver! Kau sudah pulang nak?"
"Ayah!!!" Oliver berlari memghambur ke pelukan sang ayah, disambut dengan kecupan di keningnya oleh Tuan Eden.
Xavier bersamaan turun untuk menyapa Tuan Eden, "Selamat malam, Tuan." Xavier membungkuk.
"Astaga, Yang Mulia kenapa tidak bilang jika hendak kemari?"
"Saya hanya mampir sebentar untuk mengantar Oliver, Tuan. Bagaimana kabar anda?"
"B-Baik, tentu saja aku baik dan sehat." Tuan Eden tersenyum, "Bagaimana perjalanan kalian tadi, pasti melelahkan bukan? Kau tidak merepotkan Xavier kan, nak?"
"Tentu saja tidak ayah, hehehe." Kekeh Oliver.
"Tidak Tuan, tenang saja." Ucap Xavier
"Terima kasih sudah mengantarkan Oliver sampai ke rumah, Yang Mulia."
"Sudah kewajiban ku, Tuan." Xavier melihat gelagat Oliver yang sepertinya sudah ingin masuk ke dalam rumah, "Baiklah, mungkin Oliver sudah lelah seharian kalau begitu aku pamit pulang dulu, Tuan."
"Tak mampir minum teh?" Tawar Tuan Eden
Xavier tersenyum, "Mungkin lain kali saja."
"Pastikan kau mampir." Timpal Tuan Eden.
"Pasti. Oliver, Tuan Eden, aku pamit dulu. Selamat malam." Xavier pamit dan menuju mobilnya.
"Selamat malam." Balas mereka berdua bersamaan.
"Hati-hati di jalan!" Teriak Tuan Eden dari ambang gerbang rumah mereka.
Xavier hanya membalas dengan melambaikan tangan dari kaca mobil. Mobil limusin hitam itu pun melaju kencang meninggalkan kediaman Keluarga de Mauren menunu ke istana.
"Ayo masuk yah!" Ucap Oliver.
"Ayo."
"AH BENAR! Jasnya... Jas milik Xavier ketinggalan." Ujar Oliver sembari menujukkan jas milik Xavier kepada ayahnya.
.
.
.
.
"Langsung ke istana, Yang Mulia?"
Xavier menyenderkan punggungnya itu ke sandaran mobil, "Ya, mari pulang, aku sudah lelah." Jawab Xavier
Dalam perjalanan menuju istana hanya ada keheningan di dalam mobil, sesekali Xavier membuka sentengah kaca jendela mobilnya untuk melihat langit malam yang gelap tanpa bintang, pikirannya melayang-layang di sepanjang jalan pulang.
Di tengah-tengah keheningan,
"Hei, bukankah mereka berdua sangat mirip?" Ucap Xavier
"Siapa yang anda maksud, Yang Mulia?" Supirnya bertanya balik.
"Oliver dan ayahnya. Mereka sangat mirip, kurasa Oliver benar-benar menuruni wajah dan perangai ayahnya."
__ADS_1
"Tentu saja, Yang Mulia." Timpal sang supir.
Tanpa sadar Xavier tertidur di kursi penumpang dengan senyum terpampang di wajahnya.