Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 24 : Keseharian Baru Oliver


__ADS_3


Matahari sudah berada di atas kepala, tak terasa sudah waktunya untuk makan siang.


"Ganti bajumu" Ucap Xavier kepada Oliver.


"Eh?"


Setelah sesi wawancara tadi, kini mereka berjalan di sepanjang lorong menuju kamar mereka berdua.


"Bukannya Elia sudah menyiapkan baju untukmu seharian ini?"


"Sudah sih... Tapi maksudku apa tak bisa kita makan siang mengenakan baju ini saja? Bajunya sangat cantik, aku suka-"


"Kita akan makan di luar, ah sebenarnya kuta akan bertemu perdana menteri."


"E-EH? KOK GAK BILANG??!"


"YA KAMU GAK NANYA." Ujar Xavier sambil menaikkan kedua bahunya.


"Apa akan ada ayah juga?"


"Tidak, ayah sudah pergi ke perbatasan pagi-pagi sekali."


"Begitukah..."


"Sudah, cepat ganti baju sana."


.


.


.


.



Oliver dan Xavier sampai di tempat yang dimaksud. Pertemuan mereka dengan perdana menteri tentu menarik perhatian media, para wartawan sedari tadi tak henti mengambil gambar semenjak Oliver dan Xavier turun dari mobil mereka hingga masuk ke dalam restoran.


"Hormat kami, Yang Mulia." Pria berumur kepala 4 dan istrinya berdiri, membungkuk memberi hormat.


Xavier menjabat tangan mereka berdua disusul oleh Oliver yang masih canggung membaca keadaan.


"Ini pertama kalinya saya bertemu langsung dengan anda, Tuan Putri Oliver. Anda sungguh cantik. Perkenalkan, saya Alfonso Boris Livsey, perdana menteri Zinnia dan istri saya Rose."


"Salam kenal, Yang Mulia." Ucap sang istri.


Oliver tersenyum dan membalas salam mereka, "Salam kenal."


Keempat orang itu pun duduk di sebuah meja yang tak terlalu besar, namun tak juga terlalu sempit.


Tujuan dari makan siang ini tentunya untuk membuka relasi bagi Oliver. Istana akan mengadakan pesta resmi sekaligus upacara untuk menyambut Oliver sebagai anggota keluarga kerajaan, sekaligus memperkenalkannya pada anggota keluarga yang lain, para petinggi pemerintahan, diplomat luar negeri dan bangsawan-bangsawan lainnya.


"Anda terlihat lebih bahagia, Yang Mulia." Ucap Tuan Alfonso pada Xavier.


"Benarkah? Apa aku terlihat seperti itu?" Disusul dengan tawa kecil Xavier.


"Pertama-tama, kuucapkan selamat atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian diberkati."


"Semoga pernikahan kalian diberkati." Ucap Tuan Alfonso dan istrinya.


"Terima kasih banyak." Balas Oliver.


"Ah benar, kami mengundang kalian berdua untuk datang ke upacara penyambutan Oliver di istana."


'Upacara? Upacara apa?' batin Oliver, rupanya dia belum diberi tahu.


"Suatu kehormatan bagi kami, Yang Mulia. Kapan upacaranya dilaksanakan?"


"Sekitar 1 bulan lagi, undangan resminya akan segera disebar."


"Sungguh luar biasa kalian masih mempertahankan tradisi ini."


"Tentu saja, jika bukan kita siapa lagi yang akan mempertahankannya?"


"Benar sekali, Yang Mulia."


Mereka lanjut menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Nyonya Rose pun tak segan mengajak Oliver berbincang-bincang dengannya.

__ADS_1


"Ah benar Yang Mulia, ku dengar paduka raja sedang pergi ke perbatasan? Apa keadaannya semakin parah di sana?"


"Bukan ranah ku membicarakan ini, tapi angka masyarakat yang melakukan pemberontakan semakin banyak. Menteri pertahanan dan dalam negeri sedang mengurusnya, yang ditakutkan adalah pemberontakan ini bisa mengarah ke kudeta."


Tuan Alfonso terkejut bukan main, "KUDETA?!" Oliver yang mendengar pun sedikit tersentak, ia belum tahu menahu tentang permasalahan kerajaanm


"Ya."


"Apa mereka gila?"


Xavier menggeleng, "Memberontak boleh saja, asal beralasan."


Masalah pemberontakan ini bukan lagi hal baru, pemberontakan terjadi di sebelah utara Zinnia yang berbatasan langsung dengan negeri tetangga. Daerah mereka lah yang paling berdampak ketika perang, dan dampaknya masih terasa hingga sekarang. Banyaknya janda perang dan anak-anak yang putus sekolah karena tak ada fasilitas di sana.


Mereka menuntut perhatian lebih dari pihak kerajaan. Jika tidak, mereka memilih untuk bergabung dengan negara sebelah.


"Aku sendiri sempat bertugas di sana, dan keadaannya memang mengkhawatirkan." Ucap Xavier.


"Mengapa bisa seperti itu Yang Mulia?"


"Kau tahu menteri keuangan sebelumnya? Dana yang diberikan kerajaan bagi mereka 10 tahun terakhir tidak diberikan sepenuhnya, namun dikorupsi di tengah jalan."


Tuan Alfonso terdiam.


"Tenang saja, dia sudah diberhentikan secara tidak terhormat. Lagipula ayah, aku dan menteri dalam negeri sudah membuat program bagi mereka. Tinggal merekanya saja yang mau menerima atau tidak."


.


.


.


"Terima kasih sudah memenuhi undangan makan siang kami, Yang Mulia."


"Sama-sama."


"Lain kali bolehkah kuajak Tuan Putri berbelanja bersama?" Ucap Nyonya Rose


"TENTU SAJA!" Seru Oliver, rupanya ia punya teman baru sekarang.


Xavier tersenyum melihat tingkah istrinya, "Hahaha, tentu saja nyonya, aku pun tak keberatan."


"Kalau begitu kami pamit duluan."


Setelah mengucapkan selamat tinggal, Xavier dan Oliver masuk ke dalam mobil limusin mereka.


"Punya teman baru rupanya?" Goda Xavier


"Hah? Ah... Nyonya Rose sangat baik, dia tak henti-henti mengajak ku bicara."


Xavier hanya tersenyum lembut.


"Kau masih ada jadwal bukan? Minum teh sore bersama Women's Health Community."


Oliver menghemburkan napas, "...benar."


Xavier menepuk-nepuk kepala istrinya itu, "Istirahat lah dulu, masih ada banyak waktu bukan?" Ia tahu istrinya belum terbiasa dengan tugas kerajaan seharian padat begini.


"Sudah sampai, Yang Mulia."


"Terima kasih."


Mereka kembali ke istana dengan selamat, dan ya Oliver kembali berganti pakaian untuk jadwal selanjutnya.


"Ini pertama kalinya dalam hidupku berganti pakaian sebanyak ini dalam satu hari."


"Kau akan berganti lebih banyak pakaian lagi ke depannya." Balas Xavier.


"Apa ada alasan mengapa aku harus berganti baju sebanyak ini?"


"Hmm... Simpel saja, keluarga kerajaan harus selalu tampil rapih di depan semua orang. Selain itu, selalu akan ada yang mengambil gambar mu kemanapun kau pergi dan mereka akan membuat artikel-artikel berita aneh jika kau terlihat memakai baju yang sama dalam sehari."


"Merepotkan."


"Setuju."


Oliver selesai berganti pakaian untuk kali ketiganya hari itu.


"Kau sendiri? Tak ada jadwal lagi kah?"

__ADS_1


Xavier menggeleng.


"Curang." Oliver mendengus kesal.


"Aku akan berkuda lalu minum teh, hehe."


Oliver hanya memberikan senyum tak ikhlasnya.


"Semangat, sayang." Ucap Xavier.


"Tunggu sebentar, sejak kapan kau memanggilku sayang?"


"Hmm... Sepertinya sejak tadi pagi, kurasa, atau mungkin kemarin ya? Aku lupa."


"Dasar...-"


"Kenapa? Gak suka? Mau panggilan lain?"


"ENGGAK."


"Yasudah, sayang."


Entah kenapa hati Oliver berdegup kencang tiap kali mendengar Xavier memanggilnya seperti itu.


.


.


.



"Selamat datang, Yang Mulia." Oliver sampai di acara minum teh sore bersama Women's Health Community. Ini baru pertama kalinya Oliver mengetahui tentang komunitas ini, komunitas yang dibuat langsung oleh mendiang Ratu Issabela. Sang ratu mendirikan komunitas ini sebagai bentuk mengajak kesadaran masyarakat akan kesehatan perempuan.


Selain itu mereka juga menyediakan fasilitas konseling bagi perempuan korban kekerasan seksual, bukan hanya untuk korban namun juga keluarga mereka.


"Selamat atas pernikahan anda, Yang Mulia. Semoga pernikahan anda diberkati."


"Semoga pernikahan anda diberkati." Ucap seluruh staf yang berdiri menyambut Oliver saat itu.


"Terima kasih banyak."


"Kami sangat senang bisa bertemu anda di sini, Yang Mulia. Anda tampak sangat cantik, muka anda mengingatkan ku dengan mendiang ratu, bukan begitu?"


"Ya benar."


"Benar, mirip sekali."


"Sebelum acara intinya dimulai, kami ingin mengajak anda berkeliling kantor kami. Lewat sini Yang Mulia."


Oliver diajak berkeliling kantor tersebut. Sangat luas untuk disebut kantor. Banyak sekali ruangan di sini, namun kalian bisa melihat banyak ruang terbuka hijau di dalamnya.


Komunitas ini juga digunakan sebagai fasilitas pemberdayaan perempuan, di sini mereka bisa mendapat bermacam pelatihan yang berguna untuk kehidupan mereka ke depannya. Seperti cara merajut, menjahit, bercocok tanam, merancang busana, memasak, merias, dll.


"Bisa Yang Mulia lihat, di sana adalah tempat rehabilitasi korban kekerasan seksual. Kami juga memberikan konseling terhadap keluarga korban. Kami ingin kehadiran kami dapat sedikit menyembuhkan luka mereka." Ujar manajer yang bertugas kala itu.


"Begitu ya... Komunitas ini bagus sekali... Aku sangat ingin membantu kalian ke depannya."


Manajer itu tersenyum.


"Mari ikut saya."


Oliver kembali berjalan berdampingan dengan manajer tersebut. Mereka berhenti di sebuah tembok berisikan foto-foto yang terpaku di sana.


"Ini kegiatan rutin kami, memberikan bantuan sukarela kepada mereka yang membutuhkan. Membantu anak-anak putus sekolah dan janda-janda perang yang kesulitan dalam ekonomi mereka."


"Wah... Hebat sekali."


"Dulu... Ratu Isabella sangat aktif di komunitas ini. Ia selalu hadir di festival tahunan yang kami buat dan memberikan pidatonya. Ia... Selalu menjadi sosok perempuan hebat di mata rakyat dan menjadi inspirasi bagi para perempuan lain."


"Andai aku dapat mengenal sosoknya langsung..."


"Ia ratu yang dicintai rakyatnya, ku rasa ia akan sangat senang mengetahui menantunya secantik Yang Mulia."


"Kau membuatku tersanjung-" Pipi Oliver merona tanpa ia sadari.


Kegiatan mereka diakhiri dengan minum teh bersama. Oliver dapat mengenal komunitas itu lebih dalam, ia bertemu dengan staf-staf lain dan relawan yang bekeja di sana.


"Apa anda lelah, Yang Mulia?" Ucap pengawal Oliver.

__ADS_1


"Tidak... hanya saja kaki ku pegal. Sungguh hari yang melelahkan...-" Ujar Oliver ketika pada akhirnya ia dapat bersandar dengan nyaman di bangku mobilnya.


"...namun aku menyukai kesibukkan ini."


__ADS_2