Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 21 : Royal Wedding


__ADS_3


Hari pernikahan pun tiba. Pernikahan Xavier dan Oliver akan dimulai pukul sembilan pagi di Gereja Katedral Zinnia. Pernikahan ini akan dihadiri oleh lebih dari 1.900 tamu undangan dan disaksikan lebih dari 2.500.000 warga Zinnia yang datang ke halaman gereja dari seluruh negeri. Pernikahan ini pun disiarkan oleh berbagai stasiun TV nasional maupun swasta. Pernikahan termegah di dekade ini.


Oliver sudah bersiap dari pagi buta, ia bersama rombongannya bermalam di Istana Cassania dari kemarin sore. Sepupu-sepupunya hadir sebagai bridesmaids. Untuk pernikahannya, ia mengenakan gaun berwarna putih dari bahan sutra dilapisi dengan detail permata sebanyak 500 permata di bagian dada dan 2500 mutiara di bagian roknya yang dilapisi renda berkelap-kelip menambah kesan anggun bagi Oliver. Tak lupa veil gaun dari bahan satin sepanjang 6,78 meter yang akan dibawa menuntunnya melangkahi altar. Untuk hiasan kepala ia mengenakan tudung yang menutupi wajahnya dan sebuah tiara peninggalan Ratu Issabela yang kini diturunkan menjadi miliknya.


Bagi sang pengantin pria, Xavier mengenakan seragam militer resminya ditambah baret miliknya. Ia tampak gagah dengan setelah semi-suitnya hari itu. Perpaduan warna navy dan hitam sangatlah cocok baginya.



Kedua calon pengantin kini gugup bukan main. Mereka kini menunggu di ruang tunggu masing-masing. Masih tersisa beberapa menit sebelum iring-iringan mereka bersiap pergi membawa mereka dari Istana Cassania menuju gereja.


Tiba-tiba pintu ruang tunggu Xavier diketuk dari luar, Dan ternyata ayahnya Oliver, Tuan eden mengunjunginya.


“Oh silahkan masuk, tuan.”


"Apa kau sudah selesai bersiap Yang Mulia?" Tanya Tuan Eden.


“Ya, aku sudah selesai.”


"Aku baru bertemu dengan mu secara langsung beberapa kali, tak ada banyak waktu bagi kita untuk saling mengenal satu sama lain meski kau calon menantuku sekarang. Tapi aku yakin kau dapat menjaga putri ku dengan baik.” Ujar Tuan Eden.


"Maafkan aku tuan, seharusnya aku lebih sering meluangkan waktu untuk bertemu dengan mu." Ucap Xavier.


“Tak apa, aku memakluminya. Anda orang yang sibuk, Yang Mulia. Aku hanya ingin bilang bahwa.... Kau mendapat restu ku." Tuan Eden menggantung kata-katanya sebelum ia lanjut berbicara.


Netra Xavier kini fokus melihat kepada calon mertuanya, restu orang tua calon mempelainya jelas sangatlah penting, hal ini membuat hati Xavier benar-benar terenyuh. "Aku merestui kalian berdua. Aku mempercayakan satu-satunya putri ku pada mu, Xavier.”


Xavier terdiam. Entah kenapa hatinya terasa hangat saat itu, bahkan matanya hampir menitikkan air mata.


"Aku tak pandai dalam berbicara, maka dari itu aku menuliskannya dalam kata-kata. Ku harap kau membacanya sebelum pergi menuju gereja nanti.”


Tuan Eden memberikan sepucuk surat kepada Xavier dan menepuk pundaknya pelan. Tuan Eden tersenyum ke arah Xavier sebelum ia keluar dari ruang tunggu tersebut.


Xavier yang kini tinggal sendirian di ruangan itu pun duduk dan membaca surat yang diberikan kepadanya tadi.



"Kepada Pangeran Xavier yang terhormat,


Aku tak tahu harus memanggil apa kepada calon menantu ku.


Pertama-tama. aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua. Aku tahu pernikahan ini adalah sesuatu yang sangat mengejutkan bagi kalian berdua. Tapi ku harap kalian menjadi pasangan yang akur dan mencintai satu sama lain, hingga ajal memisahkan kalian.


Oliver besar tanpa kasih sayang ibunya, namun ku akui aku berhasil membesarkannya dengan baik. Semakin dewasa ia sangat mirip dengan ibunya. Dia tak pernah sekali pun mengeluh tentang tak memiliki ibu, ia berkata bahwa dengan ku saja sudah cukup baginya. Walau sedikit keras kepala seperti ku, namun ia tetap gadis yang baik.

__ADS_1


Melepasnya pergi untuk menikah dengan laki-laki pilihannya benar-benar tidak mudah bagi ku, meski ia seorang pangeran sekali pun. Benar, ia memilih untuk menikahimu. Ia membulatkan keberaniannya untuk menikahi keluarga bangsawan kelas pertama, garis keturunan langsung raja Zinnia.


Oliver memiliki mimpi menjadi seorang jurnalis, dia belajar dengan giat agar bisa lulus lebih cepat dari kuliahnya. Ia suka dengan kegiatan sosial, tapi terkadang dia juga butuh waktu untuk menyendiri. Ia gadis cantik dan ceria dengan berjuta mimpi, tapi kurasa mimpi-mimpinya itu harus ia kubur demi berada di sisimu. Ia lebih dewasa daripada yang aku kira, tapi di mataku Oliver tetaplah gadis kecil yang senang membawa boneka kesayangannya setiap kali kami pergi.


Xavier. Jika nanti dia kesulitan dengan kehidupan istana, tolong bantu dia. Dia anak yang belajar dengan cepat. Ia tak menyukai makanan pedas, dan ia suka sekali minum kopi, tapi tolong ingatkan dia untuk tidak meminumnya terlalu banyak. Ku harap kau mengingatnya. Dan satu lagi, jangan biarkan dia menangis sendirian, temani dia. Aku hanya berharap kau tak akan pernah membuatnya menangis.


Mulai sekarang hiduplah dengan bahagia bersama keluarga kecil kalian. Aku merestui hubungan kalian berdua.


Salam cinta, ayahnya Oliver,


Eden Philip de Mauren.”


.


.


.



Iring-iringan dimulai dari Istana Cassania melalui jalan besar hingga akhirnya sampai di Gereja Katedral. Masyarakat yang hadir saat itu sudah sangat tidak sabar untuk melihat pasangan kerajaan. Xavier sampai lebih dahulu, ia turun dari kereta kencananya dan melambaikan tangannya kepada orang-orang yang hadir saat itu, ditemani oleh sepupunya, Aiden Abigail Rayton, ia berjalan memasuki gereja. Di dalam gereja sudah banyak tamu undangan yang hadir, mereka semua langsung berdiri menyambut sang pangeran.


Kemudian kereta kencana milik Raja Arthur pun sampai. Barulah disusul oleh kereta kencana milik Oliver. Oliver turun dari kereta kencananya dibantu oleh beberapa pelayan yang memegang jubah sepanjang 6,78 meternya itu. Kehadirannya disambut antusias oleh warga Zinnia.


Oliver berjalan di altar dengan karangan bunga Calla Lily di tangannya. Setelah ia memasuki gereja, semua yang hadir di sana pun berdiri dan hal itu membuat Oliver tambah gugup. Lagu gereja pun dimainkan.


"Kau gugup?" Tanya Tuan Eden kepada putrinya.


Oliver hanya membalasnya dengan anggukan pelan.


"Tak perlu gugup, ayah akan selalu ada di samping mu." Ucap Tuan Eden menenangkan.


Tibalah mereka di depan pendeta dan sudah saatnya Tuan Eden melepaskan Oliver kepada Xavier. Tuan Eden pun melepaskan gandengan putrinya dan menyerahkan tangan Oliver kepada Xavier.


“Ku percayakan putri ku pada mu." Ucap Tuan Eden yang dibalas anggukan kecil oleh Xavier. Kemudian Tuan Eden pergi menuju tempat duduk tamu undangan, di barisan depan tepat di sebelah Raja Arthur.



Upacara pun dimulai. Pendeta yang berdiri di depan Xavier dan Oliver pun mulai melakukan serangkaian pemberkatan.


"Para hadirin sekalian, di hari yang berbahagia ini kita berkumpul dan disatukan untuk menyaksikan salah satu peristiwa suci bersejarah di Zinnia yaitu pernikahan Xavier Hellen Rayton dan Oliver Luxia de Mauren. Kepada kedua mempelai dipersilahkan untuk saling berhadapan." Ucap sang pendeta.


Kini Xavier dan Oliver pun saling berhadapan dengan menggenggam kedua tangan masing-masing. Iris keduanya pun bertemu, dan Xavier hanya dapat tersenyum kepada wanita di depannya itu,


“Silahkan ucapkan janji suci kepada pasangan kalian. Mempelai pria dipersilahkan terlebih dulu.” Pada saat ini lah pengantin mengucapkan janji untuk bersama sehidup semati.

__ADS_1


"Di hadapan tuhan, Zinnia, orang tua kita, dan semua orang yang hadir di sini. Aku, Xavier Hellen Rayton, mengambil mu, Oliver Luxia de Mauren menjadi istriku untuk saling memiliki dan menjaga, saling mengasihi dan menghargai, pada waktu susah maupun senang, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, dari sekarang hingga selama-lamanya sampai maut memisahkan." Xavier selesai mengucapkan janjinya.


"Kepada mempelai wanita dipersilahkan." Tibalah giliran Oliver.


Namun mulutnya berat untuk berusara, hatinya berat tuk berkata, kata-kata yang ingin ia sampaikan hanya berhenti di ujung lidah hingga membuatnya melamun beberapa detik.


"Mempelai wanita? Silahkan." Ulang sang pendeta.


”Di hadapan tuhan, Zinnia, orang tua kita, dan semua orang yang hadir di sini. Aku-.


Ada jeda sebelum Oliver melanjutkan ucapannya. Xavier yang melihat ada keraguan di mata Oliver memberikan tatapan seolah semua akan baik-baik saja kepadanya.


"Aku… Aku, Oliver Luxia de Mauren.. mengambil mu Xavier Hellen Rayton menjadi suamiku untuk saling memiliki dan menjaga, saling mengasihi dan menghargai, pada waktu susah maupun senang, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, dari sekarang hingga selama-lamanya sampai maut memisahkan." Oliver berhasil menyelasaikan janjinya.


"Silahkan pasang cincin pernikahannya." Ujar sang pendeta.


Kini Xavier memasangkan cincin di jari manis tangan kiri Oliver sebagai simbol ikatan pernikahan, begitu pula dengan Oliver.


"Atas kehadirat Tuhan di antara kita, kunyatakan kalian sebagai pasangan suami istri." Ucap sang pendeta yang disambut tepuk tangan meriah para tamu yang hadir.


"Kepada mempelai pria, dipersilahkan untuk membuka tudung pasanganmu."


Xavier membuka tudung wajah Oliver perlahan, kini wajah cantik nan rupawan Oliver tampak jelas di mata Xavier.


"Silahkan cium pengantinnya." Sambung sang pendeta.


Xavier yang paham bahwa Oliver masih malu melakukan hal seperti itu berakhir hanya mengecup keningnya singkat, namun tetap saja reaksi para tamu hadirin tak kalah hebat.



Setelah upacara selesai, mereka berjalan menyusuri altar bersama. Menyapa para tamu yang hadir di sebelah kanan dan kiri mereka.


Setelahnya mereka menuju balkon gereja dan menyapa rakyat yang hadir dan sudah menunggu mereka sedari tadi pagi. Setidaknya kini Oliver dapat menghirup udara segar, sebab ia merasa sangat sesak di dalam tadi.


Tak ada yang tak gembira melihat mereka kala itu. Semua rakyat berbahagia menyambut sang putra mahkota dan putri mahkota baru mereka. Setelah selesai, Xavier dan Oliver keluar dari gereja menuju kereta kencana yang sudah disiapkan. Mereka akan kembali menuju Istana Cassania.


Di sepanjang jalan, para warga tak henti-hentinya melambaikan tangan kepada pengantin baru tersebut. Ada rasa aneh di benak Oliver, namun ia menyukai perasaan ini. Perasaan aneh ini tanpa sadar membuatnya menyunggihkan senyuman di wajahnya.


Pasangan pengantin baru ini akhirnya sampai di Istana Cassania, yang kini akan menjadi rumah mereka. Setelah upacara pernikahan, kegiatan selanjutnya adalah sesi foto bersama. Seluruh keluarga besar Keluarga Rayton berkumpul untuk berfoto, sebagian besarnya sama sekali tidak Oliver kenal. Karena Raja Arthur sendiri memiliki dua orang adik, yang masing-masingnya memiliki keturunan juga.


Setelah sesi foto bersama keluarga besar, tersisalah keluarga inti. Hanya Raja Arthur, Tuan Edan, Xavier dan Oliver. Mereka berempat foto bersama untuk mengenang peristiwa ini di kemudian hari.


Setelahnya, seluruh keluarga besar kembali ke kediaman mereka. Tuan Eden pun mengucapkan pamit kepada putri kesayangannya. Tersisalah Xavier dan Oliver yang memutuskan untuk beristirahat di kamar Xavier, yang kini telah menjadi kamar mereka berdua.


Kehidupan pernikahan Xavier dan Oliver pun dimulai.

__ADS_1




__ADS_2