
"Selamat pagi semuanya. Kabar duka datang dari Istana Cassania. Pangeran Nathaniel Ashton Rayton atau yang lebih dikenal sebagai putera mahkota Zinnia telah gugur dalam peristiwa penyerangan yang dilakukan negara Calendula kemarin pukul 15.57 waktu setempat. Ia gugur di usianya yang masih sangat muda, yaitu 22 tahun. Pangeran Nathaniel yang dikenal sebagai anggota khusus Angkatan Udara Zinnia menjalankan tugasnya sebagai komandan angkatan udara untuk pertama dan terakhir kalinya dalam kejadian naas tersebut. Calendula pada awalnya mengirimkan 3 buah kapal perang di perairan Laut Nirwana, kapal perang tersebut berhasil dihadang dan kembali ke negara mereka. Akan tetapi 2 dari 6 buah pesawat tempur mereka terlibat dalam aksi kejar-kejaran dengan pesawat yang ditumpangi Pangeran Nathaniel, sehingga menyebabkan pesawatnya terjatuh di hutan bagian barat. Beliau sempat akan dilarikan ke rumah sakit, namun kondisinya sudah terlalu kritis hingga nyawanya tak lagi tertolong. Hingga saat ini belum diketahui motif asli dari tindakan yang dilakukan oleh Calendula. Dengan situasi yang masih berduka ini kepala bagian staf Istana Cassania pun masih sungkan memberikan tanggapannya atas kejadian naas ini. Dengan gugurnya Pangeran Nathaniel Ashton Rayton selaku pewaris sah takhta Zinnia, maka takhta Zinnia akan jatuh kepada adiknya, Pangeran Xavier Hellen Rayton selaku pewaris takhta Zinnia di urutan kedua. Atas nama media massa serta rakyat Zinnia, kami mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kejadian ini. Selamat jalan Pangeran Nathaniel, jasa mu akan selalu kami ingat, jiwa mu abadi di langit Zinnia. Dari ZNN mengabarkan."
Bagitulah isi setiap saluran televisi pagi ini, mulai dari radio, televisi, internet atau bahkan surat kabar. Zinnia kini diselimuti oleh duka. Langit yang biasanya terlihat biru, kini berubah menjadi warna abu-abu seolah tahu apa yang telah terjadi. Termasuk Istana Cassania yang terasa gelap dari biasanya. Tak ada yang percaya dengan kejadian mengejutkan kemarin, bagaimana tidak putra mahkota yang dicintai rakyatnya ini yang dikenal sangat ramah kepada siapapun terutama para staf istana yang kini sangat merasa kehilangan Nathaniel yang pergi dari sisi mereka.
Setelah jenazahnya dikembalikan pada pihak istana, proses pembalseman pun dilakukan kepada jenazah Nathaniel. Prosedur istana yang sudah ada sejak lama. Dengan pakaian serba hitam Raja Arthur melihat proses tersebut dari awal hingga akhir, sungguh sangat menyayat hati.
Xavier yang tak kuasa melihat proses tersebut hanya terdiam di luar bilik kamar Nathaniel. Matanya sudah sendu menangis semalaman, raut wajah tak percaya dan hati yang belum menerima. Rasanya ia ingin marah, tapi kepada siapa? Tak akan ada yang berubah.
Raja Arthur keluar dari ruangan pembalseman. Tepat saat itu ia berhadapan dengan Xavier yang tengah berdiri di luar kamar Nathaniel. Dapat dilihatnya bulir-bulir air mata di ujung pelupuk mata anaknya itu. Tak ada yang membuka mulut, hanya keheningan di antara keduanya. Setelah itu Xavier pergi ke arah yang berlawanan dari sang ayah tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.
"Yang Mulia, proses pembalseman sudah selesai." Ucap Elthon.
"Lanjutkan proses selanjutnya."
Setelah pembalseman upacara pemakaman pun dimulai. Serangkaian upacara pemakaman dilakukan secara kemiliteran yang dikawal oleh lebih dari 700 personil angkatan bersenjata Zinnia sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Pangeran Nathaniel yang sudah mengabdikan dirinya untuk Zinnia.
Pemakaman dilakukan sesuai tradisi kerajaan dan dihadiri oleh para anggota militer dan parlemen serta keluarga kerajaan. Juga tak lupa rakyat Zinnia yang sudah ramai berkumpul di luar pagar Istana Cassania untuk memberikan penghormatan terakhir mereka. Mereka membawa banyak sekali bunga Zinnia berwarna putih dan menumpuknya di sepanjang jalan.
Iring-iringan peti mati Nathaniel akan dibawa melewati para warga untuk menuju ke pemakaman. Nathaniel akan dikebumikan di tanah pemakaman keluarga kerajaan, di samping makam sang ibunda, Ratu Issabela. Proses ini berlangsung dengan khidmat dipimpin oleh pastur agung. Hingga saatnya para hadirin di sana pulang satu persatu, tersisalah Raja Arthur dan Xavier yang berdiri berdampingan dengan jarak yang cukup berjauhan memandang makam Nathaniel dengan tatapan kosong.
Seolah langit tahu akan kesedihan mereka, hujan mulai turun rintik-rintik.
"Jika saja ayah tidak menyuruhnya mengenakan seragam militernya saat itu, Kakak pasti masih ada bersama kita sekarang." Ucap Xavier yang langsung saja pergi ke arah mobil kerajaan yang sudah menunggunya.
Raja Arthur terbalalak mendengar perkataan Xavier. Apa yang dia katakan benar, andai saja dia bisa memutar waktu.
"Issabela...." Ucap Raja Arthur lirih di depan makam sang istri.
"Aku bahkan tak bisa menepati janjiku padamu untuk selalu melindungi keluarga kita. Ayah macam apa aku ini." Saat itu juga Raja Arthur tak bisa menahan air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya saat itu.
"Nathaniel pergi lebih dulu daripada aku. Kini ia pergi ke sampingmu, dan... Aku tak bisa menjaganya lagi." Di bawah rintik hujan, Raja Arthur menitikkan air matanya, menunjukkan kesedihannya.
"Isabella... Jaga ia untukku. Maafkan aku. Maafkan ayahmu ini Nathaniel."
__ADS_1
.
.
.
.
Xavier kini telah sampai di istana. Ia duduk termenung di samping jendela kamarnya melihat bulir-bulir air hujan yang perlahan menuruni kaca jendela kamarnya. Bulir air mata tanpa sadar menetes dari pelupuk matanya.
Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Mengapa dan kenapa sang kakak harus pergi secepat ini? Rasa sedih bercampur rasa tak percaya, baru kemarin ia mengajak kakaknya untuk menyamar ke perrgi ke pasar malam. Kini, tak ada lagi sosok penyayang dan penyabar itu di hidup Xavier.
Di tengah lamunannya, kamarnya diketuk dari luar.
"Yang Mulia, anda di dalam?" Suara yang tak asing milik Liam.
Cepat-cepat Xavier mengusap air matanya itu,
"Masuklah." Ucap Xavier
"Yang Mulia, ada sesuatu yang harus saya sampaikan."
"Ada apa? Sampaikan saja."
"Ini." Liam menyodorkan sebuah amplop coklat kepada Xavier, di mana ada tanda tangan Nathaniel di bagian depan. Xavier yang menerimanya nampak kebingungan.
"Pihak kepolisian menemukan surat ini di saku seragam Yang Mulia Pangeran Nathaniel. Menurut pengawal pribadinya, ini surat terakhir yang Pangeran Nathaniel tulis di dalam mobil saat sedang dalam perjalanan menuju pangkalan udara." Jelas Liam.
Xavier terdiam. Dengan terburu-buru ia membuka amplop tersebut. Sepucuk surat dengan tulisan tangan yang sangat familiar milik sang kakak.
"Saya permisi, Yang Mulia." Ucap Liam yang pergi untuk memberikan Xavier privasi.
Xavier mulai membaca surat itu dengan telit
__ADS_1
"Untuk adikku tersayang, Xavier.
Jika surat ini sudah ada di tangan mu, itu berarti sesuatu yang buruk telah terjadi kepada ku. Melalui surat ini kakak ingin meminta maaf dan mengutarakan hal-hal yang selama ini tidak bisa kakak sampaikan.
Xavier. Selama ini kau tumbuh menjadi sosok yang sangat berbeda dariku. Kau pemberani, periang, mudah bergaul, dan sangat percaya diri. Hal-hal yang tidak aku miliki dan membuat kakak mu ini sangat iri.
Xavier, teruslah menjadi dirimu sendiri. Kau adalah sosok yang kuat lebih dari apa yang aku bayangkan. Kakak yakin kau akan tetap tegar dan baik-baik saja tanpa kakak, bukan begitu? Maafkan kakak yang pergi secara tiba-tiba, aku tahu tugas kerajaan bukanlah hal yang kau sukai tapi untuk kali ini bertahanlah. Maaf membuatmu menanggung beban berat di pundakmu. Aku tahu kau bukan seseorang yang mudah menunjukkan emosi mu pada orang lain, namun jika kau merasa lelah, tak ada salahnya menangis.
Maafkan kakak yang tak bisa menjagamu lebih lama. Tapi kakak akan selalu mendoakan dan mendukungmu dari atas sana, kakak akan selalu ada di hati mu. Andai saja aku bisa melihatmu mengenakan mahkota, tapi nyatanya itu tak akan mungkin lagi.
Satu pesanku. Ketika kau menjadi raja suatu saat nanti dan kau merasa takut. Ingatlah bahwa itu wajar. Keberanian bukanlah melakukan suatu hal tanpa rasa takut, melainkan kamu tahu bahwa ada hal yang lebih penting dan utama yang harus dilakukan daripada rasa takutmu itu. Kau akan menjadi raja yang bijak Xavier, aku sangat yakin dengan itu.
Sekali lagi aku minta maaf karena tak bisa ada di sisimu lagi. Tak lagi bisa melihatmu tumbuh dewasa. Aku akan menunggu untuk berjumpa kembali dengan mu dan ayah.
Sampaikan salam cinta ku pada ayah, bilang padanya agar tak lupa meminum vitamin dan teh jahe kesukaannya. Meski waktu sudah berlalu 1000 tahun, kau akan tetap menjadi adik kecil ku yang manis. Dan juga kepada Paman Elthon ucapkan terima kasihku, bilang juga pada Liam bahwa aku menitipkanmu padanya.
Sampai hari di mana kita bertemu kembali, ingatlah bahwa aku sangat mencintai kalian berdua.
Salam sayang,
Nathaniel Ashton Rayton."
Begitulah isi surat yang ditulis Nathaniel. Surat itu berhasil membuat Xavier menangis sejadi-jadinya. Mengapa baru sekarang kakaknya mengatakan hal-hal seperti ini?
"Kak Ashton.... Sekarang aku harus bagaimana?"
__ADS_1