Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 29 : The Ball


__ADS_3


Aula istana sudah dipenuhi dengan tamu hadirin yang hadir. Suasana megah tleah terasa dari mulai gerbang utama. Pekarangan gerbang timur sudah dipenuhi dengan bermacam kendaraan milik para tamu undangan. Para pelayan dan staf yang bekerja hilir mudik berlarian memastikan semua hal berada pada tempatnya.


Jam menunjukkan pukul 7.15 malam, 15 menit sebelum acara utamanya dimulai.


"Anda tampak cantik sekali, Yang Mulia." Ucap Elia kepada Oliver.


Oliver tersenyum, "Syukurlah... Gaun ini bukan aku yang memilih– Xavier memilihkannya untukku."


Malam ini Oliver dibalut sebuah gaun berwarna biru pastel polos dengan rambut panjangnya yang diuraikannya begitu saja.



"Oliver..." Panggil Xavier dari luar ruang kabinetnya berganti pakaian.


"Apa kau sudah selesai?" Tanya Xavier.


Tak lama, Oliver keluar dengan dirinya yang sudah sangat siap untuk upacara malam ini.


Mata Xavier langsung tertuju pada paras wanita cantik di depannya ini, ia memandangnya dari atas hingga ke bawah.


'Cantiknya–' batin Xavier.


"Bagaimana penampilan ku?" Tanya Oliver.


"Cantik, sangat cantik–" Ucap Xavier tanpa basa-basi dan sukses membuat Oliver tersipu malu.


"Ayo." Ucap Oliver.


Keduanya kini berjalan menuju aula dansa. Upacara malam ini sebenarnya tidaklah susah, hanya upacara sederhana berupa persembahan salam kepada leluhur yang akan dipimpin oleb Raja Arthur sebagai bentuk memperkenalkan anggota keluarga baru. Dilanjutkan dengan memperkenalkan Oliver kepada para bangsawan lainnya dan ditutup dengan pesta dansa serta jamuan makan malam prasmanan.


'Apakah ayah sudah datang?' batin Oliver bertanya-tanya.


Di aula utama sendiri Raja Arthur sudah datang. Karena malam ini bintang utamanya adalah Oliver dan Xavier, tak masalah jika raja datang mendahului mereka.


"Putra mahkota Xavier Hellen Rayton dan Tuan Putri Oliver Luxia de Mauren memasuki ruangan. Para tamu undangan diharap berdiri."


Semua mata kala itu tertuju ke arah mereka berdua. Xavier dan Oliver menuruni tangga utama yang berada di tengah-tengah ruangan. Mereka berdua berjalan dengan penuh wibawa, memberikan kesan bahwa merekalah sang bintang utamanya malam ini


Sesampainya di bawah, semua tamu yang hadir memberi hormat kepada pasangan tersebut. Kecuali Raja Arthur, seseorang yang tak pernah menundukkan kepalanya kepada orang lain.


"Kau gugup?" Ucap Xavier berbisik-bisik.


Oliver menggeleng, "Aku mulai terbiasa."


Raja Arthur menyambut mereka dengan memberikan pelukan singkat pada keduanya.


"Kita mulai upacaranya." Ujar Raja Arthur.


Ritual upacara itu pun dimulai dengan khidmat. Para tamu yang hadir pun memperhatikan dengan seksama. Prosesi tersebut berlangsung kurang lebih 10 menit. Sejujurnya Oliver tidak familiar dengan upacara seperti ini sebelumnya, semua terasa asing baginya. Bagaimana ia harus membakar dua batang dupa, kemudian berdoa dan dilanjut dengan dirinya dan Xavier yang mengelilingi meja persembahan sebanyak tiga kali. Ditutup dengan wejangan Raja Arthur dan Oliver yang diharuskan meminum secawan anggur. Dengan begitu, secara ritual Oliver sudah resmi menjadi bagian dari keluarga Rayton.



Tibalah saatnya untuk menyapa para bangsawan. Syukurlah Xavier selalu berada di samping Oliver, karena sejujurnya Oliver sama sekali belum mengenal keluarga bangsawan lain terutama dari kalangan para pejabat. Ia takut suasananya akan canggung jika harus bertegur sapa sendirian.


"Oliver, kenalkan ini Tuan Alfonso Boris Livsey dan istrinya, Rose Livsey." Ujar Xavier.


Tuan Alfonso dan istrinya pun membungkuk memberi hormat disusul dengan Oliver yang menyalami mereka.

__ADS_1


"Hormat kami, Yang Mulia."


"Tuan Alfonso adalah perdana menteri Zinnia, kau pasti sudah pernah melihatnya beberapa kali keluar masuk istana bukan, Oliver?" Tanya Xavier.


"Tentu saja, aku pernah melihat Tuan Alfonso beberapa kali. Namun, baru kali ini aku bisa bertemunya langsung seperti ini." Jelas Oliver.


"Maafkan saya, Yang Mulia harusnya saya langsung menyapa anda saat itu."


Oliver menggeleng, "Tak apa, aku tahu anda orang yang sibuk. Senang bisa bertemu mu langsung di sini." Ucap Oliver sembari tersenyum.


"Mari temui yang lain, Oliver." Ujar Xavier.


Dalam benak Xavier, ia bertanya-tanya apa Eveline dan keluarganya hadir atau tidak? Harusnya ia sudah dapat melihat dan menyambut mereka atau paling tidak ia dapat melihat Tuan Morgan di ruangan ini.


"Kau mencari seseorang?" Tanya Oliver yang menyadari bahwa tampaknya Xavier sedang menanti seseorang.


"Ehm- tidak." Xavier bergeleng.


"Ayo temui Tuan Joseph." Sambung Xavier.


Tak berapa lama, waktu untuk pesta dansa pun tiba. Acara ini juga menjadi salah satu hal yang paling ditunggu, terutama bagi muda-mudi yang bertujuan mencari pasangan di lantai dansa. Kenapa? Karena mereka bisa berdansa dengan orang asing, dan saling berkenalan.


Xavier dan Oliver pun berjalan ke tengah lantai dansa. Pesta dansa akan dibuka terlebih dahulu oleh mereka sebelum yang lainnya ikut berdansa.


Xavier memberikan hormatnya, mengajak Oliver untuk berdansa dengannya.


"Bolehkah aku berdansa denganmu?" Ucap Xavier.


Oliver menjawab sembari melakukan curtsy, "Tentu saja, dengan senang hati."


Xavier pun mendekat dan mengulurkan tangannya, menjemput tangan Oliver yang terbalut sarung tangan putih. Keduanya saling mendekat dengan tatapan mereka yang saling bertaut. Tangan kanan Xavier mulai merangkul pinggul milik Oliver, dan Oliver menanggalkan pegangannya pada pundak kiri Xavier. Tangan mereka yang lain saling menggenggam satu sama lain.


Musik pun dimainkan. Mereka mulai berdansa dengan langkah kecil ke kiri dan ke kanan.


"Tentu saja tidak." Ujar Oliver.


Beberapa hari yang lalu Oliver bahkan masih kaku dalam berdansa, namun rupanya kini dia telah mahir dan tak perlu lagi khawatir.



.......


.......


.......


.......


Beberapa minggu sebelumnya...


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan." Ucap seorang instruktur tari.


Oliver menghela napas, "HAHHHH.... Ini sangat sulit."


Sesi latihan dansa Oliver sudah dimulai dari siang hari tadi, dan sekarang matahari sudah mulai menggelincir terbenam. Ia ditemani oleh seorang instruktur dansa dan penari laki-laki yang menggantikan Xavier sementara ini.


Mau tak mau ia harus berdansa di depan umum untuk upacaranya nanti.


"Apa tak ada cara lain??" Rengek Oliver.

__ADS_1


"Tidak ada Yang Mulia. Anda harus fokus." Ucap instruktur dansa tersebut.


Sudah berulang kali Oliver menghela napasnya hari ini. Ia benar-benar tak mahir berdansa.


"Belum juga bisa, huh?" Ucap Xavier yang baru saja pulang.


"Yang Mulia!– Hormat kami Yang Mulia." Instruktur dansa itu pun tertegun oleh kehadiran Xavier yang tiba-tiba.


"Sini, menari denganku. Kau akan cepat mahir jika menari langsung denganku." Ucap Xavier.


"B-Baiklah..."


Meski begitu, tetap saja tak berubah. Sudah beberapa kali Oliver tak sengaja menginjak kaki Xavier.


"Kau ini..."


"M-Maaf..."


"Kalau begitu injak saja kaki ku."


"E-Eh???"


"Iya, injak saja. Gak apa apa kok." Tawar Xavier.


Oliver pun menuruti apa kata Xavier, ia menginjak kaki Xavier dan membuat tubuh mereka menjadi sangat amat dekat.


"Rasakan dan ingat gerakan ini. Paham?"


Oliver mengangguk, dan dengan diiringi oleh musik waltz mereka pun mulai berdansa, atau bisa dibilang Xavier lah yang berdansa.


"Saat di lantai dansa nanti, yang paling penting adalah menatap mata pasangan dansa mu. Kontak mata adalah salah satu tata krama untuk menghargai pasangan, namun jangan terlalu menatapnya seolah ingin mengintimidasi. Kau boleh mengobrol pelan dengannya, tak perlu terlalu tegang." Jelas Xavier


Oliver mengangguk paham. Namun tetap saja, menatap mata Xavier saat ini membuatnya gelagapan dan sedikit malu.


"Kalau begitu tatap aku, Oliver."


"E-Eh...A-Ahh"


"Kau 'tak kan terus-terusan menatap lantai bukan?"


Oliver pun mengangkat pandangannya, mencoba menatap kedua mata biru safir milik Xavier.


"Begini lebih bagus bukan?" Ucap Xavier


'Bagus sih... Tapi tidak bagus untuk jantungku' batin Oliver.


"Sekarang kau coba untuk berputar."


Dengan bimbingan Xavier, Oliver pun mencoba melakukannya tanpa ragu.


"Perhatikan kepalamu."


"Letakkan tanganmu di sini."


"Ayunkan tangannya."


"Hati-hati dengan langkah mu."


"Kau bisa mengalungkan tanganmu di leherku."

__ADS_1


"Kau bisa berayun mengikuti irama musiknya."


Xavier mengajari Oliver berdansa dengan sangat telaten. Kalau bukan karena Xavier, entah berapa lama lagi Oliver dapat menguasai tarian seperti ini.


__ADS_2