
Keduanya tiba di sebuah toko bunga yang terletak di dekat pedesaan. Suasananya asri, dengan lokasi dekat bukit dan peternakan warga desa. Meskipun terkesan sederhana, toko bunga yang mereka kunjungi adalah toko bunga terlengkap. Semua jenis bunga ada di sana, dan juga tempat Ratu Issabela membeli karangan bunga untuk pernikahannya dulu.
Pintu yang dibuka membuat sebuah lonceng yang dikait di pintu berbunyi, "Permisi..." Ucap Xavier.
Kali ini hanya Xavier dan Oliver yang masuk ke dalam toko tak diikuti banyak pengawal, karena tempatnya terlalu kecil jika harus dimasuki banyak orang.
Tidak ada jawaban dari sang pemilik toko, mereka membuat janji jam lima sore dan sekarang sudah jam lima lebih 15 menit.
"Apa mungkin pemiliknya kelupaan?" Tanya Oliver.
Tak berselang lama terdengar suara pintu terbuka dari belakang, arah berlawanan dari tempat mereka berdiri.
"Ya tuhan, rupanya kalian semua sudah sampai! Maafkan saya Yang Mulia, tadi saya harus pergi ke kebun belakang dulu." Ucap wanita yang tampaknya masih berusia kepala empat itu.
Oliver tersenyum, wanita di hadapannya tampak ramah dan bersahabat, "Tidak apa nyonya."
"Astaga... apakah ini calon mu, Xavier? Dia cantik sekali." Tanya wanita itu.
Oliver dilanda tanda tanya 'Xavier? Nyonya ini hanya memanggil namanya?'
"Iya bibi. Perkenalkan dia Oliver Luxia de Mauren." Jawab Xavier.
'Bibi? Apa mereka sudah dekat?' lagi-lagi Oliver kebingungan.
Wanita yang dipanggil bibi itu pun membungkuk memperkenalkan diri.
"Dan Oliver, ini Bibi Emma. Dia sahabat ibuku sedari SMA."
'Pantas saja.' batin Oliver.
Bibi Emma tersenyum, "Benar, saya adalah sahabat dari mendiang Ratu Issabela. Yang juga membantunya memilih karangan bunga untuk pernikahannya dulu. Paduka ratu sering ke sini saat Xavier masih di dalam kandungan untuk sekadar bersantai sambil minum teh. Tak ku sangka, anaknya ini sekarang sudah akan menikah pula."
Xavier tertawa kecil, "Aku takkan selamanya kecil, bi."
"Kalau begitu karangan bunga apa yang kalian cari untuk pernikahan kalian? Bibi bisa menyediakan semuanya!" Seru Bibi Emma.
"Untuk urusan itu biar Oliver yang memilih, aku tak tahu banyak tentang bunga." Timpal Xavier.
Sebenarnya bisa saja staff istana yang memilih karangan bunga untuk bunga tangan Oliver nanti, tapi Raja Arthur berpikir kenapa tidak Oliver yang memilihnya sendiri, toh sekalian menghabiskan waktu berdua bersama Xavier. Supaya lebih dekat maksudnya.
"Aku??" Oliver tersentak, ia sebenarnya juga tak begitu paham tentang bunga. "A-Ah kalau begitu izinkan aku melihat-lihat dulu."
"Silahkan, Yang Mulia."
.
.
__ADS_1
.
.
Setelah diizinkan sang pemilik toko, barulah Oliver berkeliling melihat bunga-bunga yang dimiliki toko tersebut. Tangkai-tangkai bunga yang tersusun rapih dalam vas di etalase, contoh rangkaian bunga yang tergantung di dinding, semuanya lengkap dan berwarna-warni. Ia berjalan menyusuri etalase dengan sesekali melirik Xavier yang mengikutinya dari belakang, siapa tahu ada bunga yang secara pribadi Xavier suka.
"Pilih saja yang kau suka." Ucap Xavier yang menyadari Oliver sesekali meliriknya dari tadi. Setelah sekian lama baru sekarang Xavier berbicara padanya.
Tak lama, Oliver berhenti seolah sudah menemukan bunga yang ia suka, "Calla Lily!" serunya sambil mengambil setangkai bunga tersebut dari vas di hadapannya.
Xavier melihat ke arah Oliver, "Calla Lily?"
"Ya, nama bunga ini adalah Calla Lily!" Sahut Oliver dengan senyum terpatri di wajahnya.
"...kau suka bunga ini?" Tanyanya.
"Ini bunga yang ku lihat di foto pernikahan orangtua ku, ibu memegangnya dan terlihat sangat indah. Cantik bukan?" Ujar Oliver.
"Hm." Xavier mengangguk.
"Bolehkah aku menggunakan bunga ini untuk bunga tanganku nanti?"
Xavier terkekeh, "Tentu saja boleh, itu tujuan kita kemari bukan?" Wanita di hadapannya ini punya banyak pesona, ucapnya dalam hati.
Bibi Emma kembali dari bagian dalam toko, "Apa kalian sudah menemukan bunga yang kalian suka?"
"Sudah bi, Oliver akan mengambil bunga Calla Lily." Sahut Xavier.
"Bunga ini akan membuat pengantin yang membawanya tampak cantik, elegan, namun tetap terlihat lembut. Pilihan tepat Oliver." Timpal wanita itu sembari mengacungkan jempol ke arah Oliver.
Xavier melirik Oliver kembali, "Tak ada lagi yang ingin kau pilih?"
"Apa aku boleh memilih untuk bagian dekorasi?" Tanya Oliver lugu.
Xavier memiringkan kepalanya tanda ia setuju, "Pilihlah." Disusul senyum sumringah dari Oliver. Kelihatannya gadis pirang satu ini menikmati kegiatan memilih bunga.
Sambil menunggu Oliver memilih kembali bunga yang ia senangi, Xavier berjalan ke arah Bibi Emma berdiri. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia berjumpa dengan sahabat ibunya itu.
"Kau tahu, wanitamu itu sangat pintar dalam memilih bunga." Ucap Bibi Emma
Xavier hanya diam menunggu kelanjutan dari ucapan Bibi Emma tersebut.
Bibi Emma menambahkan, "Perasaan seorang pengantin perempuan tentang pernikahan bisa diungkapkan melalui arti bunga tangan yang ia pilih. Kau mau tahu apa artinya?"
"Memang apa artinya bi?"
"Calla Lily putih yang ia pilih memiliki arti sebagai simbol kepercayaan dan kesetiaan. Warna putih adalah kesucian. Bunga ini dipakai untuk menunjukkan kepada pasangan mereka bahwa mereka serius dalam hubungan jangka panjang yang mereka punya. Pilihan bagus bukan?" Jelas Bibi Emma.
__ADS_1
Xavier yang mendengar penjelasan tersebut dibuatnya linglung, 'Apa Oliver mulai menyukaiku?' batinnya.
"Aku tak tahu bagaimana kisah cinta kalian, tapi ku harap kau setia padanya. Sekilas aku melihat bayangan ibumu padanya dan tampaknya ia gadis baik-baik. Kau beruntung Xavier."
Xavier tersenyum mendengarnya, sudah banyak orang yang mengatakan bahwa ia beruntung bisa mendapatkan Oliver sebagai calon istrinya.
"Tapi kau tidak bisa membohongiku Xavier, aku bukan orang kemarin sore jika dalam urusan percintaan." Xavier tak paham apa maksudnya itu.
Bibi Emma kemudian menyuruh Xavier mendekat kemudian berbisik kepadanya, "....Kalian belum saling cinta bukan?"
Hal itu hanya membuat Xavier memelototkan matanya, karena apa yang dikatakan Bibi Emma ada benarnya.
"Bagaimana bibi bisa tahu?"
Bibi Emma pun tertawa renyah, "Hahaha dugaanku benar, dasar anak muda. Asal kau tahu, mata kalian tidak menunjukkan mata seseorang yang dimabuk cinta. Ketika kau masuk toko, kau tidak menggandeng tangannya. Begitu pula saat berkeliling tadi, aku tak melihat kalian bergandengan mesra layaknya pasangan. Malahan kau memilih berjalan di belakangnya. Aku benar bukan?" Ditutup dengan Bibi Emma yang tersenyum sembari menaik-turunkan sebelah alisnya.
"Kau menakutkan bi...." Ucap Xavier.
"Jangan sampai media tahu itu. Aku mengerti pernikahan tanpa cinta adalah hal umum bagi anggota keluarga kerajaan sepertimu, namun bermainlah dengan rapih jika memang ingin berpura-pura."
"Aku juga tak ingin seperti ini, bi."
"Aku punya firasat pada akhirnya kalian akan jatuh cinta, lihat saja nanti. Dia... Gadis yang punya banyak pesona, percaya padaku." Ucap Bibi Emma dengan penuh keyakinan.
Obrolan mereka harus terpotong ketika Oliver setengah berlari ke arah mereka dengan membawa banyak tangkai bunga dari jenis berbeda pilihannya.
"Aku ingin bunga-bunga ini jadi dekorasi bi!" Seru Oliver dengan senyum sumringah.
Bibi Emma tersenyum, "Aku benar 'kan, Xavier? Dia gadis yang punya banyak pesona."
Tanpa sadar matahari di luar sudah terbenam, dan acara memilih bunga mereka berakhir dengan Xavier dan Oliver yang mengucapkan selamat tinggal pada Bibi Emma, tak lupa mereka memberikan undangan pernikahan mereka secara langsung sebagai tamu VIP.
"Kau harus datang bi."
"Pasti datang."
Xavier kemudian melambaikan tangannya dari jendela mobil ke arah Bibi Emma.
Keduanya menyenderkan tubuh mereka yang sudah lelah di sandaran kursi mobil. Jadwal mereka penuh seharian ini, hingga Oliver merasa kakinya sangat pegal akibat sepatu heels yang ia kenakan.
Tak jarang ia memijat lututnya dan membungkuk dari kursi penumpang yang sempit untuk memijat tumitnya yang sedikit sakit.
Xavier sadar bahwa Oliver tak bisa diam dari tadi, "Kenapa? Apa kakimu lecet?"
"....Sepertinya begitu." Sahut Oliver lirih.
"Copot saja sepatunya kalau gitu." Timpal Xavier.
"Tak apa, aku masih bisa menahannya."
__ADS_1
Pemandangan malam di ibukota Zinnia, Esqavier. Sebuah kota yang nampaknya tak pernah padam. Langit malam yang membuat Oliver terbuai dalam lamunannya di bangku penumpang.
Tanpa sadar, mereka telah sampai di pemberhentian terakhir hari ini. Tempat makan malam mereka hari itu, sebuah restoran Michelin bintang 5 bernama 'Pierre Blue'.