
"PERNIKAHAN PUTRA MAHKOTA."
" ZINNIA's ROYAL WEDDING AFTER SO MANY YEARS. WHO IS THE BRIDE?"
"Diam-diam Bertunangan, Siapakah Pengantin Pangeran Xavier? Fakta Nomor Lima Akan MENGEJUTKANMU!"
Begitulah isi headline berita satu minggu belakangan ini. Entah di surat kabar, majalah, internet, televisi, radio, semua media mengabarkan tentang kabar pertunangan dan rencana pernikahan Xavier. Beritanya telah menyebar ke seluruh negeri, bahkan hingga jauh ke negeri-negeri tetangga.
Saat itu media belum mengetahui siapa calon dari putri mahkota baru Zinnia. Rakyat dibuat penasaran akan calon putri baru mereka. Tetapi entah darimana, dengan cepatnya kabar bahwa Oliver yang akan menjadi calon istri Xavier bocor ke publik.
Pihak kerajaan tak ambil pusing, toh cepat atau lambat identitas Oliver akan diungkap. Kabar ini tentunya disambut dengan respon baik oleh masyarakat. Mereka senang bahwa calon putri mahkota berasal dari kelas menengah, bukan sesama keluarga kerajaan lainnya.
Identitas Oliver sudah terkuak di publik, masyarakat mencari-cari tentang latar belakangnya, siapa keluarganya, riwayat pendidikannya, antusiasme warga menjadikan Oliver bual-bualan paparazi untuk beberapa minggu terakhir. Hal itu cukup membuat Oliver kurang nyaman untuk berdiam di rumahnya, apalagi para wartawan yang tak henti-henti mendatangi kediaman keluarganya tentu membuatnya sesak. Terlebih banyak media yang malah sengaja mengunjungi kampusnya untuk sekadar mewawancarainya.
Antusiasme ini bisa dibilang maklum. Bagaimana tidak, sudah sangat lama sejak terakhir kali pernikahan kerajaan digelar di Zinnia. Terakhir kali terjadi adalah saat pernikahan Raja Arthur dan mendiang Ratu Issabela yang terjadi kurang lebih 20 tahun silam, ditambah lagi karena ini adalah pernikahan Pangeran Xavier selaku putra mahkota, otomatis pasangannya nanti adalah calon ratu baru yang sudah sangat lama dinantikan warga.
Usut punya usut, pernikahan kerajaan digadang-gadang akan diadakan di musim gugur. Pihak istana menghargai keputusan Keluarga de Mauren yang meminta agar pernikahan diadakan setelah Oliver lulus dari perkuliahannya. Di momen ini juga Raja Arthur meminta keduanya untuk lebih saling mengenal satu sama lain sebelum mereka menikah.
Namun karena sifat keras kepalanya Xavier yang masih tak mau mengikuti perjodohan ini, ia menolak tuk’ bertemu Oliver. Bahkan ia belum pernah bertemu Oliver lagi semenjak kelulusan mereka 4 tahun silam. Sedangkan Oliver mau tak mau menerima perjodohan ini, toh dia tak mempunyai pilihan lain. Ia tak tega melihat ayahnya yang terus menerus memohon untuk menerima perjodohan ini kepadanya.
Dalam tahap perkenalan ini, Oliver juga diminta datang ke istana. Ia 'terpaksa' harus bulak-balik ke Istana Cassania dan mendapatkan sedikit banyak hal yang ia perlu ketahui untuk menjadi calon putri mahkota. Mulai dari pelajaran sejarah dasar, tata hukum kerajaan, pelajaran tata krama kerajaan, hingga pelajaran berdansa. Tak mudah baginya beradaptasi dengan lingkungan istana yang teramat sangat luas, meskipun ia sudah beberapa kali mengunjungi Istana Cassania.
Xavier yang melihat Oliver mundar-mandir di lingkungan istana pun lama-lama menjadi tertarik dengan apa yang Oliver lakukan. Ia mendapati Oliver yang sangat tekun mengikuti pelatihan yang diberikan para dayang dan pelayan istana kala itu.
“Mengapa dia berusaha sangat keras sih?” Ucap Xavier yang diam-diam memperhatikan Oliver dari kejauhan.
“Apa hati mu belum luluh juga? Ku rasa dia gadis yang baik.” Ucap Raja Arthur yang mengejutkan Xavier dari belakang.
“Ayah-“
“Bukankah dia cantik? Pikirkan lah baik-baik. Rakyat mu mendukung pernikahan ini, itu berarti mereka meyukai Oliver. Jangan kecewakan mereka.” Ujar Raja Arthur.
Setelah identitas Oliver diungkap ke publik namanya selalu menjadi perbincangan hangat orang-orang. Masyarakat selalu tertarik dengannya. Latar belakang keluarganya, riwayat pendidikannya, gaya berpakaiannya, menjadi buah bibir masyarakat. Sosoknya disambut hangat karena dianggap sangat cocok menjadi ratu. Media juga mengabarkan kepada publik bagaimana Oliver sering terlibat dalam menjadi relawan dan membantu mereka yang kesulitan di daerah-daerah pelosok yang tertinggal saat ia berkuliah dulu. Jelas hal ini membuat rakyat tambah menyukainya. Banyak orang mengatakan bahwa sosok Oliver sangat mirip dengan mendiang Ratu Issabela.
Rakyat pun menyebut Oliver dengan sebutan "Lady Luxia", karena ia bukan berasal dari keluarga kerajaan, gelar "putri" belum bisa diberikan hingga ia resmi menikah dengan Xavier. Sebutan ini diambil dari nama tengahnya 'Luxia' yang berarti "Sebuah permata yang cantik". Sebutan ini sangat selaras dengan arti namanya, 'Oliver' yang berarti berarti simbol perdamaian, kebanggan dan kecantikan. Juga sosok yang baik dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Apa lebih baik aku menikah saja?" Ucap Xavier dalam benaknya.
Tanpa sadar kakinya melangkah menuju tempat Oliver berada. Suasananya saat canggung saat itu, meski mereka berdua adalah teman satu sekolah dulu tetap saja rasany canggung bertemu seperti ini.
"Hai…” Ucap Xavier.
"Oh! Hai..." Balas Oliver dengan sedikit canggung. Oliver saat itu baru saja menyelesaikan pelajarannya menganai tata krama kerajaan.
"Aku tak tahu apa yang terjadi hingga kita berdua bisa di posisi seperti ini.” Ucap Xavier sembari menggeleng.
Namun Oliver tak berkata apa-apa setelahnya. Sejujurnya ia juga bingung ingin berkata apa, ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama dan keadaannya kini telah berubah, mereka adalah tunangan satu sama lain yang akan menikah beberapa bulan lagi.
“Kau tak perlu melakukannya jika terpaksa. Ucap Xavier.
"Aku telah memutuskannya dengan kepala dingin bahwa aku akan melakukannya." Jelas Oliver.
“Kalau begitu lakukan lah dengan baik.”
"Tentu, aku akan berusaha semampu ku. Kau sendiri?" Tanya Oliver.
"Aku? Tentu aku akan melakukannya dengan baik." Jawab Xavier.
Hari sudah petang, Oliver sudah selesai dengan kegiatannya di dalam istana dan kini ia berniat untuk pulang. Di jalan pulang, ia sempat mampir ke sebuah kedai kopi dan berniat untuk membeli segelas americano untuk meningkatkan energinya yang sudah terpakai habis seharian. Ia pun memesannya dan langsung membayarnya di kasir. Saat ia berbalik untuk mencari tempat duduk untuk menunggu pesanannya, betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang laki-laki familiar yang berdiri tepat di hadapannya,
“Kak Louis?”
"Oh, hai!” Ucap Louis yang tersenyum sambil melambaikan tangan
Dan di sinilah mereka berdua duduk di samping jendela kedai kopi ditemani 2 gelas americano milik mereka masing-masing. Pertemuan tak terduga yang tak pernah terpikirkan oleh keduanya. Alhasil Oliver yang hendak pulang pun menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan Louis, karena bagaimana pun Louis adalah senior yang baik kepadanya saat sekolah dulu.
"Kau masih sama cantiknya seperti dulu" Ucap Louis tanpa basa-basi.
"Dan kakak masih sama seperti dulu, senang memuji ku.” Oliver terkekeh.
“Jadi... apa benar kau akan menikah seperti apa yang media katakan?” Tanya Louis penasaran.
"Benar. Aku pun tak menyangka.” Dirasanya haus, Oliver meminum es americano yang ia pesan.
__ADS_1
“Bagaimana ceritanya sampai kau bisa bertunangan dengan Xavier?”
"Perjodohan. Ceritanya panjang kak, aku tak ingin membahasnya.”
"Baiklah, ceritakan saja jika pada ku jika kau punya waktu.” Ucap Louis dengan tersenyum.
Ada perasaan iri dalam hati Louis. Cinta pertamanya kini sudah menjadi tunangan sahabatnya sendiri. Oliver memang cinta pertamanya yang tak bisa ia lupakan. Sosok Oliver yang ceria, cerdas, cantik dan pekerja keras membuatnya jatuh hati. Namun, perasaannya tak pernah tersampaikan. Louis takut untuk menyatakannya duluan. Ia tahu bahwa Oliver selalu memandangnya sebagai senior dan sahabat yang selalu dapat dipercaya, ia takut jika mengambil langkah lebih dulu Oliver malah hanya akan menjauh dan suasana akan canggung setelahnya. Sepertinya lagi-lagi Louis harus mencintai Oliver dalam diam. Namun, bedanya kini ia tak lagi memiliki kesempatan untuk memiliki Oliver.
"Lantas apa kau mencintainya?" Ujar Louis.
"Aku? Hm... Kurasa belum- Entahlah kak."
"Kau tahu kan, banyak keluarga kerajaan yang menikah bukan karena cinta namun karena kekuasaan. Apa tak apa jika kau menikah dengannya? Dia bahkan belum tentu menyukaimu." Jelas Louis.
Mereka sudah bersahabat lama. Louis paham betul gelagat Xavier, meski ia tak pernah mengatakannya langsung, dari sorot matanya Louis tahu bahwa Xavier menyukai adiknya dulu.
Oliver yang mendengar perkataan Louis hanya terdiam. Ia jadi memikirkan apa yang Louis katakan, benar juga ucapannya.
“Kalau begitu, apa sekarang aku harus memanggil Yang Mulia kepada calon putri mahkota Zinnia?” Meski sudah berlalu bertahun-tahun sifat senang bercandanya Louis tak pernah hilang.
“KAK LOUIS!”
"HAHAHAHA”
Sore itu diakhiri dengan candaan dan gelak tawa dari dua orang sahabat yang pernah berbagi kisah di bangku sekolah dulu.
__ADS_1