Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 25 : Gosip Kerajaan


__ADS_3


Hari-hari berjalan seperti biasa di Istana Cassania. Raja Arthur sudah kembali menyelesaikan urusan di perbatasan, Pangeran Xavier yang kini tengah sibuk mengurus urusan diplomatik dengan negara tetangga, Vanhattan dan Oliver yang mulai beradaptasi dengan tugas-tugasnya.


Seperti apa kata Xavier, istana akan mengadakan upacara penyambutan atau bisa dibilang pesta menyambut Oliver sebagai anggota keluarga kerajaan. Undangan telah disebar kepada keluarga besar kerajaan, bangsawan-bangsawan lain serta beberapa pejabat. Tersisa satu minggu sebelum upacaranya dilaksanakan.


Oliver berjalan-jalan di tengah hiruk-pikuk para pelayan yang sedang bekerja merapihkan aula utama istana yang nantinya akan dipakai untuk pesta. Tangannya gatal ingin sekali membantu mereka, namun Elia melarangnya melakukan pekerjaan apapun. Elia pikir bagaimana bisa ia membiarkan seorang tuan putri melakukan pekerjaan rumah.


'Hufhhh... Padahal aku ingin sekali membantu mereka.' Ucap Oliver pada dirinya sendiri.


Oliver melihat Elia yang berjalan di sampingnya, "Tak ada kah pekerjaan yang bisa ku kerjakan, Elia?"


"Tugas kerajaan anda hari ini sudah selesai, Yang Mulia." Jawab Elia.


"Bukan... Maksudku aku bisa membantu para pelayan."


"YANG MULIA-, aku bisa dimarahi Paman Elthon jika membiarkanmu bekerja terlebih lagi putra mahkota juga akan memarahiku...!"


"Ah... Begitukah... Baiklah...." Oliver kini memasang wajah cemberut.


Mereka kini berdiri memandangi beberapa pelayan yang sedang mengganti tirai utama.


"Permisi Yang Mulia," Elthon menghampiri keduanya.


"Oh! Paman Elthon! Ada apa?"


"Saya izin meminta waktu untuk meminjam Elia sebentar."


"Eh? Aku?" Ucap Elia.


"Ya, sebentar saja. Aku ingin berbicara tentang jadwal tuan putri untuk 2 minggu ke depan."


Oliver tersenyum, "Silahkan saja."


"Terima kasih, Yang Mulia." Ujar Elthon.


Oliver mengangguk, "Ikut saya, Elia."


Kini Oliver ditinggalkan sendirian. Sebenarnya ia sudah tak ada jadwal, makanya ia meminta Elia mengajaknya jalan-jalan mencari angin. Oliver tak suka berada di ruangannya seharian.


"Kau sudah dengar..." Tak sengaja Oliver mendengar para pelayan yang sedang berbisik tak jauh dari jaraknya berdiri.


"Adiknya paduka raja akan hadir di upacara nanti."


"Maksudmu Pangeran Dominick?" Ucap yang satunya.


"Bukan... Kalau itu sih sudah pasti datang. Kau belum tahu? Yang satunya lagi."


"Aku masih pelayan baru di sini belum tahu banyak. Memangnya yang mana."


"Kemarilah, mendekat." Tanpa sadar Oliver memfokuskan pendengarannya untuk berusaha mendengar.


"Pangeran yang terlupakan, Pangeran Nathan. Adik keduanya paduka raja."


"Ah.... Iya iya aku pernah mendengar namanya, tapi sama sekali tak pernah melihat mukanya."


"Itu karena tak pernah ada satupun fotonya yang dipasang di istana."


"Kenapa?"


"Itu karena...-"


"BERANINYA BERGOSIP SAAT BEKERJA!!!" Ujar suara lantang seseorang dari belakang kedua pelayan tersebut yang membuat keduanya kaget setengah mati. Rupanya Tuan Elthon sudah kembali dan tentu bersama Elia di sampingnya.


"Tuan Elthon!!" Ucap kedua pelayan itu berbarengan


"APA KALIAN LUPA PERATURAN ISTANA DAN SUMPAH KALIAN?!"


"Kami mengingatnya tuan, maafkan kami."


"UCAPKAN ULANG!"


"Sucikan hati, jernihkan pikiran. Mengabdilah dengan tulus dan bekerja sepenuh hati. Jaga perbuatan dan hati-hati dalam berucap, lidahmu bisa menjadi senjata yang lebih tajam dari mata pedang."


"BAGUS." Elthon tak sengaja melihat Oliver yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Bisa-bisanya kalian bergosip yang tidak-tidak ketika Putri Oliver ada di sini."


Kedua pelayan itu baru sadar akan kehadiran Oliver, "Maafkan kami Tuan Elthon, maafkan kami Yang Mulia."


Oliver menangguk dan tersenyum canggung.


"Sudah, kembali bekerja sana!"


"Baik tuan!" Ucap kedua pelayan itu.


Tuan Elthon merasa malu menghadap Oliver, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya kurang mendidik dan memperhatikan bawahan saya."


"Tidak apa paman, santai saja."


"Kalau begitu saya izin kembali bekerja." Elthon pun pergi meninggalkan Oliver bersama Elia.


'Ah padahal aku sedang mendengar perbincangan mereka, sayang sekali.' Batin Oliver.


"Mari kembali ke kamar mu, Yang Mulia."


.


.

__ADS_1


.


.



"Xavier belum juga kembali?"


"Pangeran sedang ada kegiatan berburu, tentu akan memakan waktu lama." Jelas Elia


"Membosankan..."


"Hari sudah sore, apa perlu ku siapkan air hangat untuk mu mandi, Yang Mulia?"


Oliver mengangguk, lebih baik ia berendam saja daripada bosan tak ada kegiatan.


Setelah dirasanya cukup, Oliver menyudahi kegiatan berendamnya. Elia yang menunggu di luar kamar mandinya, kini sudah menyiapkan pakaiannya.



"Mari kubantu menyisirkan rambutmu, Yang Mulia." Tawar Elia.


Oliver duduk di sebuah bangku tanpa sandaran dan Elia berdiri di belakangnya, membantu menyisirkan sekaligus mengeringkan rambut Oliver.


"Elia..." Panggil Oliver.


"Ya, Yang Mulia?"


"Sudah berapa lama kau kerja di sini?"


"Kurang lebih 2 tahun, ini tahun kedua ku. Memangnya kenapa Yang Mulia?"


"Ada yang ingin ku tanyakan.'


"Silahkan, Yang Mulia. Akan ku jawab jika aku tahu jawabannya."


"Apa kau tahu banyak tentang keluarga kerajaan dan gosip-gosip mereka?"


"Hmm.... Tak banyak, tapi aku banyak mendengarnya dari para pelayan lain."


"Begitukah... Kalau begitu ceritakan tentang silsilah keluarga kerajaan ini."


Elia terhentak, tangannya berhenti menyisirkan rambut Oliver. "Bukankah Yang Mulia harusnya sudah mendapat pelajaran tentang silsilah kerajaan?"


"Sudah sih... Tapi aku kan tidak tahu tentang gosip yang beredar di kalangan para staf istana. Ayolah.... Tak kan ku bilang pada siapa-siapa kau sumbernya." Oliver memohon dengan senyum lebar hingga gusinya kelihatan.


"Ah...-" Elia berpikir sejenak. 'Apa tak apa..?' batinnya.


"...baiklah."


"Bagus! Duduk sini." Ucap Oliver sembari menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.


"Kita mulai dari awal..." Ucap Elia.


Oliver pun hanya mengangguk-angguk dengan mata berbinar mendengar Elia memulai ceritanya.


"Mendiang Raja James Athelstan Rayton Yang Agung atau lebih dikenal Raja ke-16 Zinnia, ayah dari Raja Arthur dan kakek Pangeran Xavier. Beliau menikah dengan mendiang Ratu Elicia Liem di umur yang terbilang muda, yaitu di saat keduanya berumur 20 tahun."


"Wah muda sekali... Mengapa keluarga kerajaan senang sekali menikahkan anaknya di usia muda seperti ku?"


"...untuk meneruskan garis pewaris, mungkin?" Elia mengangkat kedua bahunya tak tahu.


"Keduanya baru dikaruniai keturunan setelah 4 tahun menikah. Dan Yang Mulia tahu... Pasangan ini disebut sebagai bangsawan darah murni, karena baik paduka raja maupun ratu merupakan pewaris langsung dari dua kerajaan. Paduka raja yang merupakan putra mahkota Zinnia dan paduka ratu yang merupakan bakal ratu Kerajaan Vanhattan, itu kenapa hingga sekarang Vanhattan masih menjadi sekutu setia Zinnia. Paduka ratu rela melepas takhtanya sebagai calon ratu demi menikah dengan Raja James."


"Itu berarti... anak-anak mereka juga bangsawan darah murni?"


"Betul, mereka keluarga kerajaan darah murni."


"Itu... Gila sekali bukan?" Elia pun hanya mengangguk.



...William Vamor Rayton...


"Mereka dikarunia 3 orang anak, di mana semuanya merupakan laki-laki. Tentu hal ini disambut baik oleh anggota keluarga yang lain, hal ini membuat Raja James tambah memiliki kekuatan di kursi kekuasannya. Anak pertamanya adalah Yang Mulia Raja William Vamor Rayton, atau yang kini disebut Raja Arthur. Yang Mulia tahu kan seorang raja tidak boleh dipanggil dengan nama lahirnya selama ia menjadi raja?"


"Tentu aku tahu, hanya nama resminya yang boleh disebut selama ia menjadi raja. Kecuali jika mereka sudah meninggal atau masih menjadi pangeran."



...Dominick Miller Rayton...


"Betul. Raja Arthur menikah dengan mendiang Ratu Issabela dan memiliki 2 orang putra. Lalu kita lanjut ke Pangeran Dominick Miller Rayton, beliau lahir 2 tahun setelah Raja Arthur lahir. Pangeran Dominick menikah dengan seorang wanita dari kalangan bangsawan kelas I dan memiliki satu orang putra, yaitu Pangeran Aiden Abigail Rayton. 1 tahun lebih tua dari Pangeran Xavier. Satu-satunya sepupu Pangeran Xavier. Kini ia bekerja di Badan Intelejen negara, ia terkenal akan keahlian pedang dan menembaknya. Kabarnya ia sama sekali tak ambisius dan tertarik dengan kekuasaan, namun hingga kini ia tetap menjalankan tugas kerajaannya dengan baik. Ku rasa Yang Mulia pasti sudah pernah melihatnya, ia mendampingi Pangeran Xavier berjalan di altar pernikahan."


Oliver menangguk, "Kau bilang sepupu satu-satunya? Apa adik paduka raja yang satunya tak memiki keturunan?"


"Sebenarnya sih ada satu lagi... Tapi sebelumnya mari lanjut ke adiknya paduka yang satunya. Tapi topik ini agak sensitif dibahas di istana, Yang Mulia."


"Eh??? Kenapa?"


"Begini..." Ucap Elia sembari mendekat.


"Yang terakhir adalah, Tuan Nathan Hendery Rayton. Ia tak memiliki gelar pangeran."


"EHH??"


"Orang-orang menyebutnya, pangeran yang terlupakan. Semuanya baik-baik saja hingga Tuan Nathan memutuskan menikah dengan rakyat biasa.


Oliver mengernyitkan dahinya, "Apa bedanya denganku?"

__ADS_1


"Tentu berbeda, Yang Mulia datang dari kalangan bangsawan kelas bawah, namun bukan kalangan rakyat jelata dan paduka raja merestui pernikahan kalian. Berbeda dengan Tuan Nathan, pernikahannya tak direstui kedua orang tua sebab sang istri datang dari keluarga petani dari pedesaan. Tentu keluarga besar marah besar. Dan Yang Mulia tahu apa yang lebih gila?"


"Apa???"



...Nathan Hendery Rayton...


"Tuan Nathan tak segan melepas statusnya sebagai seorang pangeran dan seluruh gelar-gelar kehormatannya. Hanya demi menikahi wanita itu. Rumornya mereka menikah secara tertutup dan hanya pihak keluarga yang tahu. Tak ada yang pernah tahu tempat pastinya mereka menikah."


"Dan Yang Mulia tahu? Rumor terparah mereka kala itu?"


Oliver menggeleng. Elia melirik kiri dan kanan sebelum melanjutkan ceritanya. Kemudian ia mendekat pada Oliver, melanjutkan ceritanya sedikit berbisik dengan suara yang teramat pelan, "Kabarnya sang istri sudah hamil duluan sebelum mereka menikah."


"EEEHHHH???!" Oliver membelalakkan matanya tak percaya dan cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Apa itu alasan sebenarnya mereka menikah?"


Elia pun jelas sangat kaget ketika ia mengetahui kabar ini.


"Otomatis Raja James pun mengusirnya dari istana dan tidak menghadiri pernikahan anak bungsunya itu. Berita tersebut tersebar cepat ke seluruh negeri, dan kala itu Raja James akan sangat marah jika masih ada yang tetap memanggilnya dengan sebutan pangeran. Akibatnya, setelah peristiwa itu Raja James lebih sering sakit-sakitan. Tak lama kemudian beliau wafat dan selang 3 tahun, Ratu Elicia menyusulnya. Tuan Nathan pun muncul di pemakaman mereka setelah bertahun-tahun tak ada kabar."


"Separah itu?"


"Hm, separah itu."


"Lalu kau bilang Xavier punya sepupu lain?"


"Ah itu, benar memang ada namun ia tak diakui sebagai anggota keluarga kerajaan. Ia anak dari Tuan Nathan dan istrinya, namanya Lucas van Meyer. Umurnya 2 tahun lebih muda dari Pangeran Xavier. Ia satu-satunya keturunan Keluarga Rayton yang tidak memakai nama Rayton pada nama belakangnya. Ku dengar itu karena Tuan Nathan tidak ingin putranya terus dihubung-hubungkan dengan keluarga kerajaan dan juga karena ia menikah dengan rakyat biasa, ia ingin anaknya hidup seperti orang biasa."


"Lalu, apa Xavier tahu tentang sepupunya yang ini?"


"Tentu saja. Ketika Ratu Issabela meninggal, Tuan Nathan berani menampakkan wajahnya di hadapan publik setelah sekian lama dengan hadir ke pemakaman bersama putranya dan itu kali pertama Tuan Nathan memperkenalkan putranya yang masih berumur 2 tahun. Raja Arthur menyebutnya tak tahu diri. Mungkin itu kenapa Tuan Nathan tidak ingin sang anak memakai nama keluarganya, daripada nanti ia terluka."


"Bagaimana Xavier bisa mengenalnya?"


"Namanya anak-anak, mereka tak punya dosa. Bukan begitu? Mereka berdua masih sangat kecil, Pangeran Nathaniel mengajak Pangeran Xavier berkenalan dengan Lucas dan bermain bersama sekaligus menjaganya kala itu. Ku dengar mereka pergi ke institusi yang sama dengan Pangeran Xavier dan Lucas selalu juara kelas. Ia terkenal karena rajin dan cerdas. Kalau tak salah sekarang ia menjadi Kepala Institusi Riset dan Pengembangan Zinnia."


"....takdir yang unik. Kurasa ucapan bahwa tak ada yang bisa mengalahkan ikatan keluarga itu benar."


Elia mengangguk, "Pada akhirnya kedua pangeran ini bertemu lagi, dan Lucas pun berhasil menduduki posisi tinggi di badan pemerintahan di usia muda karena kepintarannya."


"Itu kah alasan mengapa tidak ada satupun foto Tuan Nathan di istana?"


"Ya begitulah..."


"EHH TUNGGU, YANG MULIA TAHU DARI MANA?"


"Dari pelayan yang bergosip tadi, hehe."


"WAHH... Jadi Yang Mulia tadi diam saja karena sedang menyimak mereka?"


"Memang."


"WAHHHH... HEBAT SEKALI."


"Ah iya, kudengar juga katanya Tuan Nathan akan datang ke upacara nanti."


"APA?! YANG BENAR SAJA??!"


Oliver mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu, "Kudengar begitu..."


Elia menghela napas, "Paduka Raja memang tidak membencinya, begitu juga dengan Pangeran Dominick. Tapi kedatangannya bisa menjadi perbincangan semua orang yang hadir dan tentu saja awak media pasti akan menuliskan berita di mana-mana tentang kepulangannya. Habislah sudah...."


Oliver pun jadi ikut menghela napas. Tak ia sangka keluarga kerajaan mempunyai hubungan dan masalah serumit ini. Ia kira menjadi anggota keluarga kerajaan itu berarti seseorang bisa hidup dengan nyaman dan bahagia.


Elia mengangkat kedua tangan Oliver dan menyatukannya di depan dada, "Yang Mulia, jika Tuan Nathan benar-benar datang, kau harus menyiapkan mental menyambut perseteruan anggota keluarga besar di upacara nanti."


Oliver mengangguk ragu, "Ha-ha-ha mari kita lihat saja nanti..."


.......


.......


.......


.......


...Characters Upgrade...



...Aiden Abigail Rayton...


...Nama Panggilan : Aiden...


...Umur : 23 tahun...



...Lucas van Meyer...


...Nama Panggilan : Lucas...


...Umur : 20 tahun...


TBC~


Jangan lupa tinggalin jejak dengan cara like, komen dan vote yaa^^

__ADS_1


XOXO


__ADS_2