
"Apa ayah harus melakukan ini?" Tanya Xavier yang sebenarnya sudah ada di sana sedari tadi.
"Ini keadaan genting, nak. Tanggung jawab ayah untuk membuat negeri ini aman."
"Aku ikut." Raja Arthur yang hendak mengenakan topi militernya tersentak mendengar ucapan Nathaniel.
"KAKAK!"
"Aku yakin dapat memimpin pasukan angkatan udara dengan baik yah."
"KAK ASHTON! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Teriak Xavier yang tidak percaya ucapan kakaknya itu.
"Tak ada salahnya untuk mendapat pengalaman langsung dari lapangan, bukan?"
"KAK, INI BUKAN PELATIHAN. INI PERANG SUNGGUHAN."
"Kakak tahu dan kakak tetap akan melakukannya."
"TAPI KAK-"
"Cepat kenakan seragam militermu, kita tidak punya banyak waktu." Potong Raja Arthur.
"Baik ayah." Nathaniel kini keluar dan menuju kamarnya.
"AYAH!"
"Xavier kau tetap di sini dan minta Liam tetap di sisi mu."
Xavier yang benar-benar tidak percaya akan semua situasi ini berlari menuju kamar sang kakak.
"APA YANG SEBENARNYA KAKAK PIKIRKAN?! INI MEDAN PERANG SUNGGUHAN KAK, MENGAPA MENCARI BAHAYA UNTUK DIRI KAKAK SENDIRI?! TIDAK CUKUPKAH HANYA AYAH YANG PERGI?!"
__ADS_1
"Xavier..."
"KAKAK MEMBIARKANKU SENDIRI DI SINI, DAN MEMBUATKU KHAWATIR SETENGAH MATI, APA ITU YANG KAKAK INGINKAN?!"
"XAVIER DENGAR!-" Nathaniel kini berbicara dengan meninggikan suaranya.
"Kakak harus melakukannya-"
"TAPI KENAPA? TAK CUKUP HANYA AYAH? APA KARENA KAKAK CALON RAJA DAN HARUS MEMBAHAYAKAN DIRI SENDIRI?!-"
"AKU TIDAK AKAN MATI-" Bentak Nathaniel.
Ada hening beberapa saat sebelum Nathaniel melanjutkan ucapannya.
"Xavier... Dengar ini tugas kakak, di luar sana mereka membutuhkanku. Apa kau akan berdiam diri ketika negaramu sendiri diserang dari luar?"
"T-tapi..." Xavier sudah tidak tahan, matanya mulai berkaca-kaca. Sungguh, perasaannya sangat tidak enak kali ini.
"Kakak janji akan kembali. Kakak akan membawa kemenangan untuk Zinnia. Maka dari itu, apapun yang terjadi tetaplah di sini."
"Kakak janji." Nathaniel kini mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking adiknya itu dan diakhiri dengan sebuah pelukan singkat.
Dengan gagahnya Nathaniel mengenakan baret militernya. Setelan seragam militer berwarna hitam khas angkatan udara Zinnia itu terlihat sangat pas di tubuhnya, ditambah lagi dengan beberapa medali yang ia dapat saat tugas militernya tersemat rapih di bagian dada sebelah kiri.
Di luar kamarnya, sang ayah sudah menunggu sedari tadi. "Ayo Nathaniel."
Kini mereka menuju ke luar istana. Di sana sudah ada dua buah mobil Jeep dan beberapa mobil pengawal. Mobil Jeep pertama tentunya untuk paduka raja dan akan langsung menuju Pangkalan Laut Utama Zinnia. Sesuai dengan rencananya, Raja Arthur akan menanyakan terlebih dahulu apa maksud mereka datang ke perairan Zinnia dengan harapan masalah dapat diselesaikan secara diplomatik.
Lalu mobil Jeep kedua diperuntukkan untuk Nathaniel yang akan langsung pergi ke pangkalan udara.
Keduanya kini sudah masuk ke dalam mobil dan langsung meluncur pergi ke tempat yang dimaksud. Setibanya di pangkalan laut, Raja Arthur segera bergegas menuju kapal perang. Para prajuritnya sudah menunggu di di sana, dan sebagian sudah menuju lautan dengan kapal perang lainnya.
__ADS_1
"Hormat saya, Yang Mulia. Situasi sudah sangat darurat, mereka tidak kunjung mau mundur." Lapor Kapten Peter selaku komando pasukan angkatan laut.
"Sudah coba menghubungi radio mereka?"
"Sudah, Yang Mulia. Tapi mereka bilang tidak akan berkata apa-apa sebelum paduka datang."
Raja Arthur membuka koper kecil yang sedari tadi dia bawa. Koper hitam berisikan bendera khusus kerajaan dengan pinggiran kainnya yang dijahit menggunakan benang emas.
"Kibarkan ini." Perintah Raja Arthur.
"Tapi Yang Mulia, mereka akan tahu jika Yang Mulia ada di kapal ini." Ucap Peter.
"Itu maksud dari tujuanku, mereka pasti tidak akan diam jika tahu aku ada di sini."
"Baik, Yang Mulia." Ucap Peter sembari mengambil nendera itu dan menyerahkannya ke anak buahnya untuk dikibarkan.
"Sambungkan ke radio mereka."
Di sisi lain, Nathaniel masih terduduk di kursi belakang mobil Jeep yang ia tumpangi. Jarak ke sana memang lebih jauh daripada ke pangkalan laut, sehingga butuh waktu lebih lama. Nathaniel meminta selembar kertas kepada pengawalnya yang duduk di samping kursi supir.
"Apa kau punya selembar kertas dan pulpen?" Tanya Nathaniel.
"Sebentar saya carikan, Yang Mulia." Pengawalnya mencari-cari di dashboard mobil dan tas yang ia bawa.
"Ini, Yang Mulia." Ucap pengawalnya sembari memberikan kertas dan pulpen tersebut.
"Tapi untuk apa Yang Mulia meminta kertas?" Tanya si pengawal.
"Aku hanya ingin menulis surat." Sahut Nathaniel
__ADS_1