Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 31 : Susahnya Menjadi Seorang Putri


__ADS_3


3 Hari Kemudian


"Xavier... Sayang, bangun... Ayo bangun–"


"Hmm– lima menit lagi.... Aku masih mengantuk."


Mentari pagi sudah mengintip kedua pasangan ini melalui jendela kamar mereka. Cuaca Zinnia di pagi hari ini cukup berawan, walau tak ada tanda-tanda akan datang hujan, cuaca terbilang cukup sejuk untuk pertengahan musim semi.


"Xavier ayo bangun...."


"Sebentar lagi, Oliver."


Oliver pun menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya itu sembari tertawa-tawa kecil. Rupanya kini mereka sudah lebih nyaman untuk bercanda semacam ini. Dasar pasangan muda.


"Oliver kembalikan..." Lirih Xavier.


"Sudah jam berapa ini, ayo bangun."


"Ayolah sekarang ini baru jam enam."


Xavier pun mau tak mau bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi kasurnya.


Oliver pun kembali duduk di sampingnya sambil masih memegang selimut Xavier yang ia tarik tadi, "Nah gitu dong–"


Tanpa aba-aba Xavier mendorong tubuh mungil Oliver hingga ia terbaring pada kasir tepat di belakangnya. Xavier mengukung sebelah tangan Oliver dan menatap kedua irisnya.


"Sudah kubilang lima menit lagi bukan? Kenapa masih mengganggu ku?" Tanya Xavier yang mendominasi tubuh Oliver di bawahnya.


"A-Ah i-itu... Kau ada jadwal bukan, YA jadwal a-ha-ha-ha."


Pipi Oliver mulai merona merah, ia salting bukan main. Jantungnya mulai berdegup kencang seolah-olah akan meledak. Ia tak berani menatap mata Xavier yang ada di atasnya.


"Kalau sudah begini, kau harus tanggung jawab. Bermainlah denganku, masih ada waktu bukan?" Ucap Xavier dengan suara serak bangun tidurnya.


"T-Tapi kau harus bersiap, Xavier."


"Liam akan membangunkan ku pukul 7.30 seperti biasanya. Kita.... Masih punya waktu kurang lebih 90 menit, tuan putri." Godanya.


Oliver hanya membuang muka sedari tadi, tangannya secara reflek memegang lengan Xavier di atasnya.


Xavier mulai mengecup dahi Oliver secara perlahan. Xavier tahu istrinya ini sangat menyukai kecupan di dahinya. Ia mulai turun ke arah kuping Oliver, ia dapat menghirup aroma khas dari sampo yang sering Oliver gunakan pada rambut pirangnya. Sangat wangi.


Ia sengaja berhenti di telinga Oliver untuk sekadar menghembuskan napasnya secara sensual atau malah berbisik dengan pelan.


Sekadar informasi, hingga detik ini mereka belum melakukan hubungan badan bahkan setelah kurang lebih lima bulan menikah. Oliver tak mau buru-buru, dan Xavier mengiyakan hal tersebut. Ia malah menyukai sensasi menjahili Oliver seperti ini.


"Apa kali ini kau mau benar-benar melakukannya?" Ucap Xavier tepat di telinga Oliver.


Oliver hanya diam.


"Boleh aku mencium mu?"


Oliver mengangguk memberi izin.


Satu kecupan mendarat di bibir manis Oliver. Disusul dengan kecupan-kecupan lain yang lama kelamaan berubah menjadi ciuman panas.


Xavier mengulum bibir Oliver dengan tempo yang tak terlalu cepat namun juga tak terlalu lambat. Oliver memejamkan matanya, terbuai dengan suasana.


Tangan Xavier yang sedari tadi mengukung tangan kanan Oliver kini beralih ke arah tengkuknya. Oliver mengambil kesempatan ini untuk mengalungkan tangannya pada leher Xavier yang berada di atasnya.


Setelah puas, Xavier menatap Oliver dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Jika kau mau, kau boleh yang jadi pertama memulainya." Ucap Xavier.


"Maksudmu?" Oliver tak mengerti.

__ADS_1


"Maksudku seperti ini."


Xavier membuat mereka berdua berguling dan kini Oliver lah yang berada di atasnya. Ia tepat mendudukinya. Tangan Xavier tak tahan untuk tidak merangkul pinggang mungil Oliver, membuat pipi Oliver tambah memerah layaknya kepiting rebus.


"I-Ini terlalu...– tiba-tiba untukku." Ucap Oliver malu-malu.


"Kau bisa memimpin permainan ini." Bisik Xavier pelan di telinga Oliver.


Oliver meneguk ludahnya. Mereka tak pernah ada di posisi seperti ini sebelumnya. Xavier masih dengan lengkap mengenakan piyama dsn jubah tidurnya, namun Oliver memberanikan diri mengarahkan tangannya membuka kancing piyama milik suaminya itu satu demi satu.


Ia dapat melihat dada bidang milik Xavier dan perut kotak-kotak miliknya, layaknya roti sobek.


"Tak sia-sia bukan hasil ku berlatih selama empat tahun di barak militer." Bisik Xavier.


Oliver mulai menyapu pelan dada Xavier menuju perut menggunakan jari-jari lentiknya. Xavier seperti merasakan sengatan-sengatan listrik yang membuatnya sedikit geli.


Oliver kemudian menarik rahang Xavier dan mulai menekan bibir bagian bawah Xavier dengan ibu jarinya. Dengan setengah ragu ia mulai menyiumi bibir lelakinya itu. Xavier menerima dan memberi akses lebih dengan sedikit membuka bibirnya. Ciuman pelan nan lembut itu berubah menjadi sedikit brutal ketika Oliver memasukkan lidahnya, dan mengabsen seluruh yang ada di dalam.


Xavier tak mau ketinggalan, ia pun melakukan hal yang sama. Lidah mereka beradu dan saling terikat. Oliver yang sudah termakan nafsu, terbangun dari duduknya dan kini kepalanya berada di posisi lebih tinggi daripada Xavier.


Ciuman panas itu berakhir menyisakan benang saliva di antara keduanya. Memperlihatkan Oliver dan Xavier yang terengah-engah kehabisan napas. Tak berselang lama, Oliver mulai mengecupi leher Xavier dengan maksud berusaha untuk lebih merangsangnya.


Bau tubuh maskulin alami dicampur dengan wangi parfum yang biasa Xavier pakai menusuk jelas hidung Oliver. Kini Oliver turun dengan perlahan ke arah dada dan perut, kemudian naik kembali, turun lagi, dan berulang-ulang hingga beberapa kali, hingga akhirnya Oliver menanggalkan piyama dan jubah tidur yang masih tersangkut di tubuh Xavier karena kesal hal tersebut terus mengganggu aktivitasnya.


"Bukankah tak adil jika hanya aku yang bertelanjang dada begini?" Bisik Xavier.


"A-Aku masih malu..." Timpal Oliver.


"Kau tak malu untuk melepas bajuku tapi malu untuk melepas baju mu sendiri. Mau ku bantu?" Goda Xavier.


Oliver menggeleng, "Tak perlu, aku bisa sendiri."


Benar saja, Oliver mulai membuka kancing piyama satinnya itu satu persatu. Dengan sengaja ia membukanya dengan sangat pelan. Namun rupanya hal itu tampak sangatlah seksi di mata Xavier.


Piyama bagian atasnya sukses terbuka, menyisakan kedua buah dadanya hanya mengenakan bra berwarna ungu muda. Memperlihatkan tubuh bersih nan mulus bak dewi milik Oliver.


Oliver yang masih sedikit malu dengan aktivitas ini kini menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


Xavier kini beralih menjadi yang memimpin permainan. Xavier menarik tangan Oliver dan kini ia sudah berganti berada di atasnya. Kedua bibir mereka kembali bertemu dan bergulat. Sesekali Oliver membuka matanya, melihat lelaki tampan bertubuh semapan berada di atasnya, menggagahinya. Tubuhnya yang gagah dan kokoh sama sekali tak membuatnya merasa takut, alih-alih membuatnya merasa nyaman dan hangat. Perlakuan yang diberikan lelakinya ini pun sangat lembut, ia mengulum bibirnya dengan tak buru-buru dan dengan tempo yang berirama. Perlahan, namun berhasil membuatnya ketagihan.


Bibir lelaki itu berkelana ke tempat lain, pipi, telinga dan kemudian turun ke lehernya. Memberikan helaan napas yang terasa hangat dan menggelitik leher Oliver. Wangi bunga krisantemum dari parfum yang Oliver kenakan menyeruak di indra penciuman Xavier, membuatnya semakin mabuk dan tak henti-henti mencium leher wanitanya. Sesekali Xavier meninggalkan gigitan-gigitan kecil yang membuat bekas kemerahan pada leher Oliver.


Oliver dengan sekuat tenaga menahan agar suara desahannya tak keluar. Ia baru pertama kali merasakan sensasi luar biasa hanya dari sentuhan lelaki.


Sembari melakukan aksinya, tangan nakal Xavier mencoba berusaha meraih gundukan buah dada milik Oliver. Ia meremasnya, memainkannya dengan lembut dan membuat sang pemiliknya mengerang pelan.


"eunghhh...–" Oliver mendesah. Ia cepat-cepat menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tak perlu ditahan, Oliver. Keluarkan saja."


Oliver menggeleng, mengingat hari masih pagi dan ada kemungkinan beberapa pelayan mundar-mandir di depan kamar mereka membuat dirinya sedikit gelisah. Meski gelisah, namun ia tetap menginginkan lebih.


Xavier turun menuju perut datar milik Oliver. Ia menciuminya lembut. Memikirkan bahwa dari sini lah keturunannya akan terlahir.


Ia kembali melihat wajah Oliver yang sudah memerah tersipu malu.


"Apa boleh ku lepas?" Tanya Xavier meminta izin untuk melepas pakaian dalam Oliver.


Sambil menutupi wajahnya dengan punggung tangannya, Oliver mengangguk pelan memberi izin. Xavier kembali memberikan pijitan-pijitan pada gundulan sintal milik Oliver yang sontak membuat pemiliknya mengerang panjang.


Kemudian tangan Xavier menyelusup ke belakang punggung Oliver, mencari-cari pengait dari penutup dadanya itu. Tak sempat melepas semua pengaitnya,


*Tok.


* Tok..


* Tok...

__ADS_1


Pintu kamar mereka diketuk.


Xavier dan Oliver menoleh berbarengan ke arah pintu.


Xavier menatap wajah Oliver di bawahnya, "Sepertinya nafsuku harus kalah dengan panggilan 'tuk bertugas." Kekeh Xavier.


Oliver pun dibuatnya tertawa kecil, ia mendapati situasi ini sangat lucu, bisa-bisanya mereka berpikiran tuk bercinta di pagi hari. Suatu hal yang tak mungkin mengingat suaminya yang super sibuk bahkan dari pagi hari.


"Yang Mulia?? Anda sudah bangun?" Ucap seseorang di depan kamar mereka.


"Itu Liam." Ucap Xavier pada Oliver.


Mereka pun beranjak dari posisi sebelumnya dan segera merapihkan diri masing-masing. Xavier meraih jubah tidurnya yang dilepas oleh Oliver tadi.


Liam kembali mengetuk kamar mereka, "Yang Mulia, ini aku Liam."


Xavier dan Oliver pun saling bertatapan dan tertawa kecil mendapati momen ini. Xavier pun bergegas berdiri, namun sebelum itu, dia tak lupa mengecup kening istrinya,


"Aku siap-siap dulu ya." Ucap Xavier lembut dan dibalas dengan anggukan pelan Oliver.


Xavier berjalan menghampiri pintu kamarnya, "Iya, aku sudah bangun." Jawabnya.


Dibukanya pintu tersebut, dan benar saja ia mendapati Liam yang sudah rapih mengenakan seragam biasa dia saat bekerja.


"Selamat pagi, Yang Mulia. Ku harap anda tidur nyenyak semalam." Ujar Liam.


"Sangat nyenyak sampai kau membangunkanku." Timpal Xavier.


Liam hanya tersenyum canggung, "Biar ku bantu anda bersiap, Yang Mulia."


"EH, di kamar sebelah saja. Oliver masih beristirahat." Cekal Xavier.


"Baik, Yang Mulia. Akan ku siapkan pakaian mu."


Xavier dan Liam pun berjalan ke kamar sebelah yang biasa menjadi ruang berganti pakaiannya.


"Kau ini ada-ada saja." Ucap Xavier sambil berjalan.


"Ada masalah Yang Mulia?" Liam heran tak mengerti.


"Tidak ada, tapi untung saja tadi masih di awal jika tidak hampir saja aku memenggal kepala mu." Canda Xavier.


Liam hanya meneguk ludah. Candaan yang cukup menakutkan.


Di sisi lain Oliver masih terbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit dengan tatapan tak percaya. Dengan wajah yang masih bersemu merah.


"Yang benar saja Oliver, YANG BENAR SAJA." Ucap Oliver pada dirinya sendiri.


"Dapat keberanian dari mana aku melakukan hal seperti tadi ARRRGHHH!!!." Ucapnya setengah berteriak.


"Yang Mulia? Ini aku, Elia. Boleh aku masuk?" Elia mengetuk pintu dari luar.


"Masuklah..." Balas Oliver.


"Yang Mulia– Anda kenapa? Apa anda demam? Mengapa wajahmu merah sekali?" Ujar Elia, panik. Ia mencoba mengecek suhu tubuh Oliver mengenakan telapak tangannya sendiri.


"Ha-ha, tidak kenapa-kenapa. Cuacanya hanya sedikit panas, bukan begitu?" Ujar Oliver.


"O-ohh." Elia mengangguk setuju, namun seingatnya di acara berita pagi yang ia lihat suhu pagi ini tak lebih dari sepuluh dua belas derajat celcius.


"Apa jadwalku hari ini, Elia?"


"Anda ada kelas bersama Tuan Charlotte hari ini. Hari ini dimulai dengan pelajaran etika, ilmu politik dan terakhir geografi." Jelas Elia sembari menyisirkan rambut panjang Oliver.


"Membosankan..." Lirih Oliver.


"Memang membosankan, tapi anda harus sudah menyelesaikannya sebelum akhir tahun Yang Mulia." Timpal Elia.

__ADS_1


Oliver hanya menghela napas, mengingat seharian ini ia hanya akan berkutat dengan buku-buku di perpustakaan membuatnya benar-benar tak semangat.


__ADS_2