Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 40: Tenang Sebelum Badai


__ADS_3

"Xavier? Masuklah nak."


Xavier masuk memberanikan dirinya dan baru ia sadari ketika melihat sosok ayahnya kini bahwa sang ayah sudah tampak menua. Keriput dan uban putih di kepalanya yang bermunculan, postur tubuhnya masih gagah namun tak segagah dulu.


"Ayah..." Ucap Xavier pelan.


"Hm? Ada apa nak?" Raja Arthur menaikkan kedua alisnya.


Xavier mengambil napas sebelum mengeluarkan kata-katanya, "A-Apa benar... Ayah memiliki kanker?"


"Aishhh, dasar si Dominick itu–"


"Jawab yah." Tegas Xavier.


Raja Arthur menatap Xavier dengan tatapan sayu dan lembut, sembari tersenyum Raja Arthur menjawab "Benar nak."


"MENGAPA AYAH TIDAK BILANG PADAKU?? Aku tak percaya ini–" Hati Xavier terasa seperti teriris, ia marah dengan dirinya, ia tak percaya selama ini ayahnya sendiri mengidap penyakit kronis tanpa ia sadari.


"Apa jika ayah memberitahu mu akan membawa perubahan? Ayah hanya tak ingin kau khawatir."


"Ayah... Jika ayah memberitahu ku setidaknya aku akan mengusahakan pengobatan terbaik untuk mu."


Raja Arthur menggeleng, "Tak perlu, ayah tak punya waktu untuk semua itu."


"AYAH, menurut lah pada perkataan ku kali ini. Apa Dokter Albert sudah tahu tentang ini?"


Dokter Albert merupakan dokter pribadi keluarga kerajaan yang sudah mengabdi berpuluh-puluh tahun lamanya. Beliau juga yang menyatakan kematian Ratu Isabella 18 tahun silam.


"Dia... Sudah lama tahu." Jawab Raja Arthur.


"Apakah di sini hanya aku saja yang belum tahu tentang penyakit ayah? Wah... Aku seperti orang bodoh di sini." Xavier memijat keningnya yang semakin pening.


"Maafkan ayah–"


"Batalkan semua jadwal kenegaraan ayah dan minta Paman Elthon mengaturnya ulang untukku. Sekarang fokuslah pada pengobatan ayah, dan sekarang juga aku akan meminta Dokter Albert kemari."


"Nak... Sudahlah..."


"Apanya yang sudah? Diam saja ketika melihat ayah menderita?! Jika Paman Dominick tidak memberitahu ku, mungkin aku akan– selamanya.... selamanya menyesal karena ketidaktahuan ku." Jelas Xavier yang masih menahan amarah sembari mengontrol agar air matanya tak tumpah.


Xavier kemudian pergi meninggalkan ruang kerja sang ayah. Dengan langkah yang terburu-buru derap kakinya terdengar di sepanjang koridor, sembari memanggil-manggil nama asisten kepercayaannya agar segera menghadapnya.


"Liam! LIAM!"


"Ya, Yang Mulia?" Liam setengah berlari menghadap Xavier.


"Panggil Dokter Albert ke istana sekarang juga!" Pinta Xavier.

__ADS_1


"Eh? Ada apa Yang Mulia?"


"Tak usah banyak tanya, cepat laksanakan!"


"B-Baik, Yang Mulia." Kemudian Liam berlari menuju ruangan biro komunikasi dan segera menelepon Dokter Albert.


Xavier yang masih dalam keadaan syok membuat tubuhnya tak berhenti mondar-mandir menanti kehadiran sang dokter. Ia bingung, kaget sekaligus takut.


Setelah lima belas menit yang panjang, Dokter Albert akhirnya sampai di istana. Ia langsung menghadap Xavier sesuai dengan perintah.


"Hormat saya, Yang Mulia. Ada apa gerangan Yang Mulia memanggil saya malam-malam begini?" Ucap Dokter Albert.


"Berapa lama lagi kau akan menyembunyikan masalah besar ini dari ku?" Ujar Xavier.


"Masalah besar?"


"Penyakit ayah ku, kenapa kau menyembunyikannya dari ku?"


Mata Dokter Albert membesar, rahasia yang selama ini tersimpan rapat karena permintaan sang raja sendiri akhirnya terbongkar.


"A-Anu... Y-Yang Mulia sudah mengetahuinya?"


"Ironisnya aku mengetahui hal ini dari orang lain. Seberapa parah keadaan ayah sekarang, dok?"


Dokter Albert meneguk ludahnya, tenggorokannya serat, dan kata-kata terasa tak mudah terucap dari mulutnya. Ia kemudian menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Xavier, "Raja Arthur sudah berada di stadium akhir."


"Selama lima tahun ini, beliau mencuri-curi waktu untuk melakukan pengobatan secara diam-diam. Tapi tak ada perubahan yang signifikan pada tubuh paduka. Pengobatan hanya menekan gejala-gejala agar timbul lebih jarang. Namun belakangan ini, paduka lebih sering sakit kepala, mual dan muntah. Berat badannya juga menurun, dan ia kehilangan nafsu makan." Jelas Dokter Albert.


Dokter Albert menatap mata Xavier serius, "....Kondisi paduka semakin memburuk sejak tahun lalu, Yang Mulia." Sambung Dokter Albert.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya Xavier dengan nada pelan yang terdengar pasrah.


"Saya juga tidak mengerti, Yang Mulia. Umumnya kanker hati disebabkan oleh beberapa faktor, seperti obesitas, diabetes, konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan, umur, genetik, dan satu lagi adalah paparan racun. Tapi untuk paduka sendiri, saya belum menemukan penyebab pastinya." Jelas Dokter Albert.


Xavier memutar otaknya, kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa terjadi pada ayahnya, "Ayah tak tergolong obesitas, ia juga tak punya diabetes maupun faktor keturunan. Ayah juga bukan penyuka minuman beralkohol–..... Apa ada kemungkinan ia diracun?"


"Untuk hal itu– saya belum berani memberi kepastian. Saya sudah pernah melakukan tes toksikologi pada paduka, tapi hasilnya tidak ditemukan racun di dalam tubuh beliau."


"Lalu– Apa aku harus menerima kenyataan bahwa hal ini disebabkan karena faktor umur? Ini sangat tidak adil."


Dokter Albert hanya diam tak memberi komentar.


"Yang Mulia harus sudah menyiapkan diri."


"Apa maksud mu dok? Jangan bilang bahwa ayah sudah tidak bisa diselamatkan." Xavier mulai meninggikan suaranya.


"Tubuh paduka sudah menolak berbagai pengobatan. Paduka sendiri tak benar-benar serius ingin sembuh, mungkin paduka... sudah berdamai dengan keadannya sendiri."

__ADS_1


"Lakukan saja pengobatan dengan benar untuk kali ini. Aku yang akan mengambil alih semua tugasnya– Setidaknya, aku ingin berjuang untuk kesembuhan ayah."


"Baik, Yang Mulia."


"Tes ulang kemungkinan ada racun di tubuhnya, dan pastikan hal ini tidak tercium media sebelum aku perintahkan."


"Tenang saja Yang Mulia, untuk keadannya paduka juga meminta untuk dirahasiakan. Hanya aku, Pangeran Dominick, Anda dan Tuan Elthon yang mengetahuinya."


"Bagus kalau begitu."


Diskusi padat mereka berakhir di sini. Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Xavier. Pikirannya melayang-layang memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kali ini. Ia... Sangat teramat takut.


Bagi seseorang yang telah kehilangan banyak orang yang ia sayangi dalam hidupnya, kepergian mereka tak pernah menjadi mudah bagi orang yang ditinggal. Selalu ada rasa trauma dan rasa takut akan kesendirian. Tak terkecuali juga bagi Xavier yang tak pernah terbiasa akan kepergian keluarga tercintanya. Karena pada dasarnya, tak ada yang siap menerima kematian orang tersayang.


Ada sebuah kata-kata kuno yang berbunyi, "Yang mati tidak bisa kembali, tetapi yang ditinggalkan harus tetap melanjutkan hidupnya."


Dan itulah yang selama ini Xavier lakukan, meneruskan kehidupannya.


.......


.......


.......


.......


.......


"Hari yang cukup panjang bagimu, Xavier." Ucap Xavier pada dirinya sendiri sembari masuk ke dalam kamarnya.


Ia mendapati istrinya, Oliver sudah tertidur pulas di sisi kanan ranjangnya. Wajahnya yang ayu dan terlihat sangat tenang membuat Xavier tanpa sadar tersenyum ketika melihatnya. Tubuh mungilnya yang meringkuk dan terbungkus oleh selimut terlihat menggemaskan. Xavier merasa beban dan permasalahan yang ia lalui hari ini terangkat seketika setelah melihat Oliver.


Xavier menyadari, kini ia tak lagi sendiri. Ia memiliki Oliver di sampingnya. Ia memiliki seseorang yang akan menyambutnya ketika pulang, seseorang yang akan tersenyum ke arahnya, seseorang yang dapat ia dekap dalam pelukannya seperti saat ini.


Xavier berbaring disamping Oliver, dan mendekapnya di dalam pelukannya.


'Oliver– apa kau juga akan meninggalkan ku seperti yang lain?'



...––––––...


...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan cara vote, like, komen dan jadikan cerita ini favorit❣️...


...Satu like akan sangat membantu author untuk terus semangat menulis dan melanjutkan cerita ini. Terima kasih sudah membaca😊💗...


🌹To be continued....

__ADS_1


__ADS_2