
Putihnya butiran salju yang turun menghiasi atap rumah-rumah dan pepohonan. Layaknya hamparan karpet putih bersih yang terlihat lembut dari kejauhan. Cuaca yang sudah mulai mendingin di Zinnia membuat semua orang mengenakan mantel tebal mereka untuk bepergian. Sama halnya dengan para siswa yang sudah mengenakan seragam musim dingin mereka untuk bersekolah.
Lampu-lampu jalan dan pertokoan menyala dengan cantik di malam hari yang dingin. Meskipun begitu, tak ada tempat yang tak ramai di Zinnia, ditambah lagi nuansa tahun baru yang membuat orang-orang bepergian dengan keluarga mereka untuk saling berbagi kehangatan.
Pada malam itu salju kembali turun, Xavier yang melihat hal itu tentu tak ingin melewatkan nuansa tahun baru. Ia berlari kencang menuju kamar sang kakak,
"Kak Ashton! Kak Ashton!" Teriak Xavier sembari mengetuk pintu kamar Nathaniel berkali-kali.
Pintu pun dibuka, "Ada apa?" Tanya Nathaniel.
"Temani aku menyamar."
"Menyamar?!" Tanya Nathaniel kebingungan.
"Iya, ayo kita cari kue jahe di luar! Ada karnaval di dekat sini dan tentunya akan ada parade sebentar lagi. Ayo kak! Aku tak mau kelewatan!"
"Hmm..." Nathaniel terdiam sejenak, sudah lama juga dia tidak menyamar keluar tembok istana. Kegiatan yang sebenarnya tidak diizinkan bagi mereka, namun memberikan sensasi yang menegangkan.
"Ayolah kak...." Rengek Xavier.
Nathaniel tersenyum lebar, "Ayo!" Ucapnya sembari mengambil mantel, syal, topi apolo dan sarung tangannya dari lemari.
"Kau sudah bilang pada Liam?"
"Tentu saja, aku juga menyuruhnya tutup mulut hehe." Xavier menyengir.
"Jika ketahuan ayah, aku tak menanggungnya. Ingat itu." Ucap Nathaniel mewanti-wanti.
"Iya... tenang saja, pokoknya kita kembali sebelum jam 10 deh." Sahut Xavier sambil mengacungkan jempolnya.
Bazar semi karnaval seperti ini memang acara tahunan. Banyak sekali pedagang dan orang-orang yang datang. Puncaknya adalah parade karnival.
Meski diselimuti dinginnya salju musim dingin, tak mengurangi semangat warga Zinnia untuk mengadakan pertunjukan pawai. Mereka mengenakan berbagai kostum. Ada yang menjadi sinterklas, penari, pemain es skater, dan lainnya.
Kini Nathaniel dan Xavier berdiri di sebuah tenda pedagang kaki lima. Ada berbagai kue yang dijual dan baru saja keluar dari oven dan tentu ada kue jahe yang sedari tadi dicari Xavier.
__ADS_1
"Paman, pesan kue jahenya dua." Pesan Nathaniel kepada si penjual.
Dilihatnya sang adik yang terus-menerus meniup kedua tangannya yang kedinginan. Tubuhnya yang dibalut dengan mantel berwarna putih dan syal hitam di lehernya membuatnya tampak seperti beruang kutub. Xavier tampak sangat menggemaskan.
"Hahaha Xavier, kau kedinginan?"
"Jangan meledekku kak, huuh cuacanya ternyata sangat dingin." Ucap Xavier sembari terus menerus meniup dan menggosokkan kedua tangannya.
"Kau tidak memakai sarung tanganmu. Pakai ini." Nathaniel menyodorkan sarung tangannya.
"Ini pesanannya." Ucap si penjual.
"Terima kasih." Kedua kue jahe yang masih hangat tadi memang terlihat sangat enak.
"Makan ini dan hangatkan badanmu." Nathaniel menyodorkan kue tersebut kepada Xavier.
Mereka kini masuk ke sebuah kafe untuk menghangatkan diri sembari meminum secangkir coklat hangat. Dengan orang-orang yang berlalu-lalang menjadi pemandangan mereka dari jendela kafe.
"Jam berapa paradenya dimulai?" Tanya Nathaniel.
"Jam 8, sekitar 10 menit lagi."
"Kurasa tidak ada."
"Bagaimana kalau kita menunggu di luar sambil berjalan-jalan?"
"Ide bagus!"
Kini mereka meninggalkan kafe tersebut. Berjalan di tengah kerumunan orang-orang. Cuacanya dingin, namun suasananya dipenuhi senyuman hangat orang-orang.
Langkah Xavier terhenti di sebuah tenda pengrajin kayu. Banyak kerajinan pahatan kayu yang dijual di sana, namun matanya tertuju pada sebuah patung berbentuk dua ekor kuda. Satu kuda yang tampak berdiri tegak dan kuda lain berdiri dengan kedua kaki yang diangkat di depan kuda satunya seperti tampak akan menyerang.
"Kau mau? Beli saja, aku traktir." Ucap Nathaniel.
Xavier masih ragu untuk mengambilnya. Nathaniel tahu adiknya bukan orang yang bisa langsung mengatakan apa yang hatinya inginkan dengan mudah.
__ADS_1
"Ambil saja. Anggap hadiah tahun baru dariku." Tambah Nathaniel.
"Hehe terima kasih kak!"
"Kau ini..." Ucap Nathaniel sambil mengacak-acak rambut adiknya itu.
Tak lama riuh suara terdengar. Pawai yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Orang-orang kini berdiri di pinggir jalan, memberi jalan untuk pawai yang lewat. Mulai dari marching band, disusul dengan berbagai tarian dan bermacam akrobat. Musik yang meriah ditambah pakaian yang berwarna-warni, benar-benar suasana karnival.
"Ini pertama kalinya aku melihat karnaval seperti ini kak." Ujar Xavier.
Dilihatnya mata sang adik yang berbinar-binar melihat rombongan pawai yang kini melintas di depan mereka.
"Ahaha benarkah? Ibu dulu senang sekali dengan festival musim dingin seperti ini." Sahur Nathaniel.
"Ibu?"
"Iya, bahkan ibu membuat kontes untuk memeriahkan acara. Hanya saja kegiatan itu tak dilanjut lagi, tapi syukurnya warga masih tetap mengadakan karnaval seperti ini."
"Apa ibu pernah menyamar seperti kita juga kak?" Tanya Xavier.
"Hahaha tidak, ibu tidak perlu menyamar. Ibu senang dengan kegiatan sosial, ia lebih senang jika warga mengetahui bahwa ratu ada di sekitar mereka, dan tentunya hal itu dilakukan secara resmi disertai pengawalan dan izin ayah pastinya, tidak seperti kita saat ini." Ujar Nathaniel sembari terkekeh.
"Akan menyenangkan bisa melihat karnaval seperti ini dengan ibu, habisnya ayah tak pernah ada waktu hufftt!" Ucap Xavier sembari menggerutu.
"Maklumi saja jika ayah tidak punya waktu untuk semua ini, lagipula kan ada aku. Apa kau tak senang hanya denganku?" Tanya Nathaniel.
"Bukan begitu kak-.... hanya saja... aku juga ingin menghabiskan waktu bertiga bersama di luar istana." Jelas Xavier dengan mulutnya yang sedikit mengkerucut.
"Pasti senang sekali jika ibu masih ada di antara kita kak."
"Xavier..." Nathaniel termenung, adiknya ini hanya sempat bermanja-manja dengan sang ibu dalam waktu yang singkat sekali. Bahkan mungkin, tak banyak kenangan indah yang ia punya.
"Selama ada kakak, kakak janji untuk membuatmu menikmati banyak hal bersama di dunia ini."
"Kakak janji?"
"Janji!" Nathaniel tersenyum ke arah adiknya.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 9 waktu setempat. Sudah saatnya untuk menyalakan kembang api ke langit. Ledakan demi ledakan kembang api yang berwarna-warni menghiasi langit malam. Siapapun tahu warga Zinnia sedang berbahagia kala itu. Ditemani banyaknya bintang-bintang yang bertaburan, langit Zinnia benar-benar indah.