
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Suasana di dalam Istana Cassania terbilang sangat ramai. Sedari pagi para pelayan sudah mundar mandir, belum lagi orang-orang yang sudah berdatangan. Rupanya hari ini adalah rapat bulanan kabinet kerajaan.
Sudah kegiatan rutin bagi para pejabat dan meneteri Zinnia untuk melaksanakan rapat bulanan dengan menghadap langsung kepada Yang Mulia Raja.
Ruang rapat yang sudah terisi penuh oleh para pria berdasi. Terdengar suara cakap cakap mereka sambil menunggu kedatangan Sang Paduka.
"YANG MULIA DAN PANGERAN NATHANIEL DATANG!" Ucap salah satu penjaga di luar pintu ruang rapat.
"Nathaniel, ini rapat kabinet perdana mu setelah kembali dari pelatihan militer. Tunjukkan bahwa memang kaulah sang putra mahkota."
"Baik ayah."
"Buka pintunya!" Ucap Raja Arthur
Pintu pun dibuka. Semua orang yang hadir di situ berdiri dan memberi hormat. Kemudian Raja Arthur menuju tempat duduknya, begitu pula Nathaniel yang duduk di samping sang ayah. Barulah ketika mereka berdua duduk, para hadirin lainnya duduk kembali.
"Baiklah, mari kita mulai rapatnya." Ucap Raja Arthur.
Rapat berlangsung dengan khidmat. Setiap menteri melapotkan kegiatan mereka bulan lalu dan rencana mereka selama satu bulan ke depan. Setelah itu beberapa masalah yang dialami pun disebut satu persatu dengan harapan menemukan jalan keluar.
Kegiatan yang baru dan cukup melelahkan bagi Nathaniel, tapi apa boleh buat. Ke depannya ia harus terbiasa bertemu para pejabat di negerinya ini. Ia juga sesekali ikut memberkan pendapatnya dan berdiskusi dengan yang lain.
Rapat pun berakhir.
Seperti biasanya, rapat selalu diakhiri dengan jamuan. Beberapa hidangan yang khusus disiapkan oleh pihak istana pun disajikan. Pada sesi ini biasanya obrolan yang dilontarkan hanyalah obrolan-obrolan ringan saja.
"Yang Mulia, saya merasa terhormat untuk pertama kalinya melihat putra mahkota di sini." Ucap Tuan John, si menteri kesehatan.
"Dia baru saja kembali dari pelatihan militer, bukan sudah seharusnya seorang putra mahkota nantinya bisa memimpin rapat? Kuajak agar dia terbiasa."
"Tentu saja, Yang Mulia. Ia sangat tampan seperti anda."
"HAHAHA benarkah?" Raja Arthur tertawa renyah. Nathaniel di sampingnya hanya bisa tersenyum canggung sambil terus menyantap hidangan di piringnya itu.
'Suasana canggung macam apa ini' Ucap Nathaniel di dalam benaknya.
Berbeda dengan adiknya yang menyukai suasana pesta, Nathaniel tidak begitu menyukai pertemuan dengan banyak orang, ia tidak suka dengan hawa canggung dan tatapan orang-orang kepadanya. Tapi ya apa boleh buat, ia calon raja yang akan bertemu lebih banyak orang di masa depan, ia harus terbiasa.
"Ah benar Yang Mulia..." Kini giliran Tuan Issac si menteri perdagangan yang membuka pembicaraan.
"Apa Yang Mulia Pangeran Nathaniel tidak berencana mencari istri? Ehm... Bukankah sudah waktu yang tepat untuk mencari putri mahkota, bukan begitu Yang Mulia?"
Ruangan itu seketika hening. Nathaniel tertegun mendengarnya, hampir saja ia tersedak makanan yang tengah ia makan. Kini semua mata tertuju kepadanya, "AHAHAHAHA aku tidak terburu-buru tuan." Nathaniel tertawa sangat canggung, ia tak menduga pertanyaan seperti itu akan dilontarkan padanya.
Oh yang benar saja, ia baru saja berumur 21 tahun. Menikah? Bahkan Nathaniel belum pernah memikirkannya sama sekali.
"Benar, lagipula dia baru berumur 21 tahun. Bukankah terlalu cepat untuk melakukan pernikahan kerajaan?" Ucap Raja Arthur sembari melirik ke arah Nathaniel.
Jika bukan karena Tuan Issac, suasananya mungkin tidak akan jadi secanggung ini. Rasanya Nathaniel ingin sekali kabur saja dari perjamuan ini.
__ADS_1
"Bukankah lebih baik jika seorang putra mahkota sudah memiliki keturunan sebelum ia naik takhta?" Ucap Tuan Issac membalas.
"Benar itu."
"Ya benar."
'Kenapa mereka jadi membahas ini sih' batin Nathaniel.
"Aku tahu, aku pun sama menikah di usia muda bahkan sebelum menjadi raja. Tapi kali ini aku ingin Nathaniel yang memutuskan, untuk apa menikah cepat jika aku sendiri tidak bisa melindungi keluargaku." Raja Arthur menjelaskan.
Suasananya hening kembali. Apa yang dikatakan sang raja ada benarnya. Semua orang tahu betapa terlukanya Raja Arthur setelah kehilangan istri tercintanya, Ratu Issabela 8 tahun silam. Ia bahkan sempat tak mau keluar dari kamarnya berhari-hari.
"Sudah-sudah, lanjutkan makan kalian." Ucap Nathaniel agar suasana tidak lagi canggung.
Matanya tertuju pada sang ayah yang masih lahap menyantap hidangan dengan perlahan.
Bagaimanapun, hanya Nathaniel lah yang paling tahu seberapa sedih dan terluka ayahnya dulu.
Rapat berakhir. Semua orang kini sudah kembali ke kediaman mereka. Begitu pula Raja Arthur yang memutuskan kembali ke ruang kerjanya. Nathaniel masih terus memikirkan perbincangan di ruang rapat tadi. Ia tahu pernikahannya bukanlah sekadar pernikahan bangsawan biasa, pernikahannya adalah peristiwa penting yang akan tertulis dalam sejarah dan dilihat oleh banyak sekali orang. Maka dari itu, keputusannya harus dipikirkan matang-matang.
Nathaniel kini berjalan di beranda lantai 2 istana dengan pikirannya yang masih melayang-layang.
"Yang Mulia apa anda ingin camilan?" Ucap salah seorang asisten pribadinya.
"Tak perlu, tapi tolong bawakan aku teh hitam."
"Baik, Yang Mulia."
Nathaniel kini melihat ke arah gerbang istana dan tampak sebuah mobil limusin hitam masuk melewati gerbang. Tampaknya Xavier baru saja pulang dari latihan berkudanya. Benar, Xavier tidak bersekolah hari ini dan waktu luangnya ia isi dengan kegiatan berkuda.
"Hah hah... Kak Ashton..." Xavier terengah-engah sehabis berlari.
"Suruh siapa berlari, capek sendiri kan jadinya." Nathaniel tertawa kecil.
"Bagaimana rapatnya tadi, kak?" Tanya Xavier penasaran.
"Hmm... Sangat canggung. Ternyata lebih banyak orang yang hadir dari perkiraan kakak." Jelas Nathaniel.
"Wahhh kakak bertemu para menteri, bukankah itu keren?"
"Tidak juga. Kau sendiri... Apa berkudamu seru?"
"Sangat seru!"
"Lain kali kau harus berkuda denganku."
"Tentu saja, kakak juga harus berlatih memanah denganku."
"Baiklah..."
Mereka berdua kini tengah duduk santai sambil meminum teh yang diminta Nathaniel tadi. Tak ada gelak tawa ataupun pembicaraan, hanya sore hari yang tenang seperti biasa.
"Yang Mulia Pangeran Nathaniel, paduka raja memanggilmu."
__ADS_1
"Oh ayah? Di mana ia sekarang?"
"Di ruang kerjanya, Yang Mulia."
"Baiklah. Xavier aku pergi dulu." Nathaniel berpamitan kepada Xavier yang masih sibuk menyeruput teh dari cangkirnya.
Pintu besar berwarna putih yang menghubungkan lorong dan ruang kerja sang raja pun diketuk.
"Masuk."
"Ada apa ayah?"
"Duduklah."
Nathaniel pun duduk di sebuah sofa besar berwarna coklat tua di depan meja kerja ayahnya.
"Perbincangan di rapat tadi.... Tak usah kau masukkan hati. Mereka memang terkadang seperti itu."
"Tentu saja tidak ayah, lagipula aku paham mengapa mereka bertanya seperti itu."
"Nathaniel kau tahu... Ayahmu ini menikah di usia yang terbilang muda, ayah tak pernah menyesal dengan keputusan itu, tapi satu hal yang ayah sesali adalah ketika ayah tak bisa menjaga keluarga ayah sendiri. Ketika ibumu sakit, betapa bodohnya ayah yang bahkan telat untuk mengetahuinya dan malah mementingkan pekerjaan."
"Ayah... Semua bukan salah ayah."
"Tetap saja, andai ayah berada di sampingnya sedikit lebih lama saja, memegang tangannya sedikit lebih lama..." Raja Arthur menghela napasnya sebelum lanjut berbicara, "Bahkan hingga saat ini ayah merasa masih belum menjadi ayah yang baik untukmu dan Xavier."
"Jangan berkata seperti itu ayah..."
"Maaf jika ayah selalu keras kepadamu, ayah hanya ingin kau menjadi seseorang yang memiliki pundak yang kuat."
"Ayah tak perlu khawatir, aku ini kan putra ayah pundakku jelas kuat seperti baja." Ucap Nathaniel sambil menepuk-nepuk memamerkan pundaknya.
Pembicaraan antara anak dan ayah itu berakhir dengan candaan ringan dari keduanya. Meski Raja Arthur terkenal bijak dan tegas, ia tetaplah seorang ayah yang hangat kepada anak-anaknya. Tetapi jika urusan disipilin, tidak ada tawar-menawar dalam kamusnya.
.
.
.
.
Hari mulai gelap, seluruh lampu di lorong-lorong istana sudah dinyalakan. Xavier kini tengah sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Fokusnya terpecah ketika pintu kamarnya diketuk,
"Yang Mulia, apa saya boleh masuk?" Terdengar suara yang tak asing milik pengawal pribadinya, Liam.
"Masuklah Liam."
"Yang Mulia, saya sudah menemukan identitas orang Yang Mulia cari. Orang itu bernama Mautrice Van Persie, anak sulung dari keluarga Van Persie. Ia sudah beberapa kali mendapat teguran dari bidang kesiswaan karena membuat geng di sekolah, dan menurut informasi ia sempat tidak naik kelas, Yang Mulia."
"Van Persie... Jadi benar dia anak dari menteri keuangan?"
"Benar Yang Mulia. Tuan Chris Van Persie sudah menjabat sebagai menteri keuangan sejak 4 tahun silam."
__ADS_1
"Lantas apa yang akan Yang Mulia lakukan?"
"Untuk saat ini awasi saja dia. Jika sampai dia berulah lagi, akan ku beri dia pelajaran! Bisa-bisanya menjadi preman di sekolah, memangnya siapa dia?"