
Sesosok wanita berambut hitam dan sedikit warna coklat dengan mata amethyst yang tampak sangat familiar di mata Xavier. Setelah dulu sempat menyatakan perasaannya pada wanita tersebut, keadaannya selalu menjadi canggung bagi mereka berdua.
Xavier memberanikan diri untuk bertemu Eveline ketika rangkaian acaranya selesai.
"Kau bekerja di sini?" Tanya Xavier.
"Hm." Eveline mengangguk, "Aku baru saja mendapat pekerjaan di sini, sebagai seorang kurator pemula." Eveline memang seseorang yang senang akan sastra dan sejarah, jadinya tak aneh jika dia bekerja di bidang ini.
"Wahhhh- ku kira kita tidak akan pernah bertemu lagi, Eveline." Ujar Xavier.
"Benar... Lagipula berapa persen kesempatan rakyat biasa sepertiku bisa berhadapan langsung dengan calon raja seperti sekarang. Bukan begitu, Yang Mulia?" Ucap Eveline.
"Kau masih saja memanggilku 'Yang Mulia', santai saja."
"Aku harus sopan, bukan begitu?" Jawab Eveline.
"Ha-ha-ha benar sih...."
Keduanya terdiam. Sudah cukup lama mereka tak bertemu, atmosfer canggung menyelimuti keduanya. Xavier sendiri tak tahu harus membawa kemana topik pembicaraan ini,
"Dengar-dengar kakakmu Louis sudah kembali dari kuliahnya di luar negeri, kapan-kapan kalian mampirlah ke kastilku. Layaknya dulu saat kita masih sekolah." Tawar Xavier dengan ramah.
Eveline mengagguk, sekelibat memori mereka ketika di bangku sekolah dulu terbayang kembali di kepalanya, "Ya dia baru saja kembali. Ku rasa kita tidak akan seperti dulu, Yang Mulia- Maksudku, kita semua sudah dewasa dan mempunyai pekerjaan masing-masing."
__ADS_1
"Benar juga...." Ada tatapan sendu di mata Xavier, baginya juga sama, tak mudah mengundang orang lain ke istana. "Ah-! Upacara penyambutan Oliver! Semua menteri dan beberapa keluarga bangsawan akan diundang, jika berkenan, hadirlah. Oliver akan senang melihat kalian hadir."
"Akan ku pertimbang-"
"Yang Mulia, Paduka Raja menyuruh anda untuk segera kembali ke istana." Sebab Liam yang tiba-tiba datang, ucapan Eveline terpotong jadinya.
"Aku harus pergi. Senang bisa bertemu denganmu di sini, Eveline." Ucap Xavier.
Eveline menunduk paham.
"Mari, Yang Mulia." Ucap Liam.
"Hati-hati di jalan, Yang Mulia." Ucap Eveline sembari menundukkan kepalanya sebagai tanda hormatnya seraya Xavier berjalan menjauhi tempat dia berdiri.
"Xavier... Kau pergi ke tempat yang lebih jauh dari dugaanku. Sampai-sampai aku tak sadar, kau tak lagi bisa ku gapai." Lirih Eveline, ia menghela napasnya melihat Xavier pergi dengan rombongannya.
"Apakah aku yang berubah? Atau dirimu yang berubah, Yang Mulia?"
.
.
.
.
__ADS_1
.
"Liam, rasanya ada yang aneh ketika aku melihat Eveline." Ujar Xavier.
Kini Xavier tengah berada di dalam mobil yang melaju menuju istana.
"Kenapa Yang Mulia? Apa yang aneh?" Tanya Liam.
"Ada sesuatu yang berbeda dengannya dari saat aku terakhir melihatnya."
"Mungkin karena sekarang nona Eveline sudah menjadi wanita karir, dia jelas tampak sedikit berbeda. " Jelas Liam
"Mungkin saja-... Wahh aku tak menyangka bisa bertemunya di sana, aku bahkan hampir tak mengenalinya." Seru Xavier.
"Nona Eveline juga mengubah sedikit gaya rambutnya, Yang Mulia."
"O-Oh benarkah? Pantas saja." Hal itu hanya dijawab dengan anggukan Liam.
"Aku jadi ingin bertemu Louis. Sudah lama aku tak bertemu dengannya." Sambung Xavier.
"Yang Mulia, berkenaan dengan upacara penyambutan Putri Oliver lusa jadwalmu untuk tiga hari ke depan sudah dikosongkan. Paduka Raja ingin anda fokus dan menemani Tuan Putri untuk saat ini." Jelas Liam.
Xavier menghela napas, acara formal memang tak semudah yang dibayangkan. Xavier sendiri tak pernah terbiasa dengan acara formal seperti ini, pasti akan lebih berat bagi Oliver untuk menyiapkan semuanya sendiri. "Syukurlah... Aku ingin sedikit beristirahat sebelum upacara."
__ADS_1
Xavier menatap langit melalui jendela mobilnya. Langit hari ini tampak bersih tanpa awan,
"Oliver... Dia lagi apa ya sekarang...?"