
"Selamat hari kelulusan!"
“Selamat hari kelulusan!” Ucap para siswa yang saling sapa di sepanjang lorong kelas.
Ditemani dengan hangatnya angin musim semi, Sekolah Helling Rosé mengadakan upacara kelulusan bagi para murid tingkat tiga. Kini para murid sudah berkumpul di lapangan untuk berfoto bersama. Mengenakan baju toga hitam mereka dan memegang ijazah mereka dengan bangganya. Begitu pula dengan kelas 3-A, yaitu kelas Xavier. Para teman sekelasnya tengah sibuk merapihkan diri dan bersiap tuk' berfoto.
"Ya geser ke kanan sedikit, itu yang pendek di belakang coba pindah ke depan." Ujar sang fotografer.
"Ok ok, 1... 2... 3...." Cekrek, shutter kamera pun dipencet. Satu foto dengan gaya kasual berhasil diabadikan.
"Sekali lagi! Gaya bebas ya! 1... 2... 3... Katakan blewah!" Ujar sang fotografer dengan semangat
"BLEWAH!!!" Ucap para siswa berbarengan.
Kini mereka semua secara resmi lulus dari Sekolah Kerajaan Helling Rosé. Seperti upacara kelulusan lainnya, tak lengkap jika tak melempar topi toga mereka ke udara. Akhirnya kegiatan ditutup dengan melempar topi toga bersama-sama.
"Selamat bro!” Ujar Louis sembari merangkul Xavier.
"Akhirnya. Kehidupan sekolahku selesai!!!" Ucap Xavier setengah teriak.
"Jadi kau akan tetap ikut pelatihan militer sesuai rencana mu?" Tanya Louis.
"Ya, toh memangnya apalagi yang akan ku lakukan.” Jelas Xavier.
"Kau bisa berkuliah ke luar negeri, bukan begitu?”
"Tak mungkin ayah mengizinkan, ia terobsesi mengawasi ku dari dekat.” Sahut Xavier.
Di tengah obrolan mereka, Eveline dan Oliver datang membawa karangan bunga dan ucapan selamat. Ada angin canggung di antara Xavier dan Eveline karena kejadian di pesta ulang tahun kemarin. Syukurnya hanya mereka berdua yang mengetahui hal tersebut.
"Selamat atas kelulusan kalian berdua!" Ucap Oliver.
“Terima kasih Oliver." Jawab Louis.
“Terima kasih." Ucap Xavier sembari menerima karangan bunga tersebut.
Berbeda dengan Eveline yang hanya memberikan karangan bunga tanpa sepatah kata apapun.
"Giliran kalian yang lulus tahun depan, belajarlah yang rajin." Ujar Xavier.
"Hah itu benar.... Akhirnya kalian lulus juga, bukankah harusnya kalian mentraktir kami?" Ucap Oliver.
"Hahaha, haruskah?" Tanya Xavier.
"Tentu saja!" Ucap Oliver.
"Dibanding dengan mentraktir, akan kubuatkan kalian jamuan, bagaimana?" Tawar Xavier.
“Wah hampir saja aku lupa teman kita satu ini di level yang berbeda, bukan begitu Oliver? Ucap Louis iseng.
Mereka berempat pun tertawa dibuatnya.
Seperti janji Xavier akhirnya ia mengundang keempat temannya untuk jamuan kecil-kecilan di istana. Walau ya tak sesederhana yang dipikirkan tentunya.
Saat jamuan itu pula Raja Arthur sempat menyapa dan mengucapkan selamat atas kelulusan Xavier dan Louis.
.
.
.
.
4 Tahun berlalu. Keempatnya kini sudah sepenuhnya lulus dari bangku sekolah dan sedang menggapai impian mereka masing-masing. Xavier yang sudah kembali dari pelatihan militernya, Louis yang sedang di semester akhir kuliah kedokterannya, Eveline yang memutuskan untuk mengambil pendidikan sastra di luar negeri dan Oliver yang sibuk mengelilingi negeri untuk menulis jurnal sebagai bagian tugas akhirnya selaku mahasiswi ilmu komunikasi.
__ADS_1
Dalam 4 tahun terakhir keempatnya jarang sekali bertemu, karena disibukkan dengan urusan masing-masing dan tak ada waktu yang tepat untuk bercengkrama. Namun untungnya mereka masih sempat sesekali untuk bertukar e-mail dan memberi tahu kabar mereka masing-masing.
Di liburan musim panas ini, setelah berkeliling negeri Oliver akhirnya berhasil menyelesaikan jurnal penelitiannya. Ia termasuk mahasiswi yang berprestasi dan akibat jerih payah keringat dan air matanya ia dapat lulus satu tahun lebih awal dari waktu yang seharusnya. Kini ia tinggal menunggu hari kelulusannya.
"Akhirnya selesai! Aku akan menjadi sarjana komunikasi!” Seru Oliver dari dalam kamarnya.
"Oliver! Makan malamnya sudah siap." Ucap sang ayah dari lantai bawah.
"Baik ayah!" Teriak Oliver.
Setelah ibunya meninggal saat ia masih kecil, sang ayah lah yang berperan dalam urusan rumah. Sedikit info, Keluarga de Mauren bukanlah dari keluarga bangsawan tingkat atas. Sehingga Keluarga de Mauren tak bisa membayar banyak pelayan, lagi pula Tuan Eden lebih dari sanggup untuk mengurus semuanya sendiri, tentunya juga dibantu oleh Oliver dan beberapa pelayan kepercayaan.
"Makanlah, makanannya sudah siap.” Ucap Tuan Eden.
“Terima kasih ayah!
Oliver memakan dengan lahap makanan buatan sang ayah seperti biasanya.
Menurutnya tak ada makanan seenak makanan rumah. Menu makan malam habis disantap kedua orang tersebut. Setelah makan malam, sudah seperti kebiasaan bagi mereka berdua untuk mengobrol. Entah membicarakan hari-hari mereka atau tentang acara TV yang tayang kemarin malam.
“Oliver.”
"Ya ayah?"
"Bagaimana dengan penelitian mu?"
"Semuanya berjalan dengan lancar yah. Dalam setahun ini aku berkesempatan untuk pergi ke pelosok Zinnia, yang bisa dibilang sangat terpelosok, tidak seperti kehidupan kota, mereka masih sangat tradisional yah."
"Benarkah? Ternyata masih ada tempat seperti itu di Zinnia? Ayah tak pernah tahu."
"Masih ada yah, mereka para warga yang harus mengungsi dari desa asli mereka akibat perang. Pada akhirnya pengungsi ini membuat desa mereka tersendiri, tapi sayangnya pihak kerajaan kurang memperhatikan mereka." Ujar Oliver panjang lebar.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ayah katakan padamu, Oliver.”
"Katakan saja ayah." Ucap Oliver walaupun perasaannya saat itu sudah tidak enak memikirkan hal apa yang ingin ayahnya bicarakan.
"Ayah ingin kau menikah.”
.
.
.
.
Xavier menggebrak kedua tangannya pada meja makan,
"APA?!! PERJODOHAN? APA TELINGA KU TAK SALAH DENGAR??!” Ujar Xavier yang begitu terkejut mendengar perkataan ayahnya di tengah kegiatan makan malam mereka.
"Tidak, kau tidak salah dengar." Ucap Raja Arthur sembari meletakkan cangkir tehnya.
"Apa ayah sudah gila?!”
"Jaga ucapanmu Xavier.”
"Apa lagi jika bukan gila namanya? Ayah kira ini zaman seperti apa hingga aku harus sekali dijodohkan?”
"Ini perjanjian lama yang kita buat dengan keluarga mereka. Menikahlah dengannya, ini perintah.” Tegas Raja Arthur
"Persetan dengan perjanjian! Aku tak pernah membuat perjanjian konyol itu! Aku tak pernah berjanji melakukannya ayah!!!”
"Kau tahu keluarga kita tak pernah mengingkari janji pada orang lain bukan? Ini perjanjian kakekmu dulu sebagai hutang balas budi, lagipula kau sudah cukup umur untuk menikah Xavier. Apalagi yang kau tunggu? Menunggu ayahmu yang sudah tua ini meninggal?”
"Lagi-lagi berkata akan meninggal, bisakah ayah tidak berbicara hal seperti itu?”
“Kau satu-satunya pewaris takhta yang tersisa dari keluarga kita, apa kau dapat menerima jika kerajaan ini jatuh ke tangan Aiden, sepupu mu itu?"
__ADS_1
"Berikan saja padanya, toh aku tak mau jadi raja."
"XAVIER HELLEN RAYTON JAGA UCAPAN MU!" Raja Arthur yang sudah naik pitam tak sengaja membentak anaknya itu. Xavier tahu ayahnya sudah marah jika sang ayah sudah sampai menyebut nama lengkapnya seperti itu.
"Tak ada yang lebih memalukan daripada diusir dari tempat yang harusnya menjadi tempat milikmu, kau bisa diusir secara tak hormat untuk keluar dari istana akibat ucapan mu itu tadi nak."
Xavier hanya diam mendengar hal tersebut.
"Xavier... menurutlah padaku kali ini saja, sekali saja. Jalani saja dulu, dan lagi pula ia dari keluarga baik-baik. Kau pasti mengenalnya.” Jelas Raja Arthur.
"Apa maksudnya aku mengenalnya?" Tanya Xavier sambil
“Dia teman lama mu. Namanya Oliver dari Keluarga de Mauren."
.
.
.
.
"Apa maksud ayah keluarga kerajaan melamar ku? Aku bukan Cinderella ayah, ayah bercanda kan?” Ucap Oliver.
“Ayah serius. Saat kau berumur 18 tahun, pihak istana pernah datang ke mari dan menjelaskan semuanya pada ayah. Mereka bermaksud menjemputmu, tetapi karena Pangeran Xavier sendiri belum tahu dan masih dalam pelatihan mereka memilih menundanya. Ayah pun memberikan syarat yang sama, mereka tidak boleh menjemputmu sebelum kau menyelesaikan pendidikanmu itu." Jelas sang ayah.
“Ini tak masuk akal." Ucap Oilver sambil menggelengkan kepalanya tak percaya, ia berdiri dari kursi meja makan.
"Tapi mengapa harus aku ayah?" Tanya Oliver tak percaya.
"Karena mereka membuat perjanjian dengan kakekmu terdahulu. Untuk menikahkan kedua cucu pertama mereka. Tapi kau tahu kan bahwa Pangeran Nathaniel telah meninggal, sehingga ya tak lain kau akan menikah dengan adiknya, Pangeran Xavier.”
"XAVIER?! SAHABATKU SENDIRI? DIA SAHABATKU, AYOLAH YANG BENAR SAJA! Ayahhhh... ku mohon apa tak ada cara untuk menolak atau membatalkan perjanjian ini?” Rengek Oliver.
"Kita bukan di pihak yang berkuasa Oliver. Apa kau berani menentang perintah raja?"
"Apa Xavier tak memiliki kekasih? Ia kan bisa menolak perjodohan ini dan menikah dengan kekasihnya."
"Apa kau pernah dengar berita tentang percintaan putra mahkota? Tidak ada bukan?" Tanya sang ayah.
"ARRGGHHH mengapa pula seorang pangeran sepertinya tak punya kekasih sih!" Ujar Oliver frustasi.
"Ayahhhh.... aku tak mau"~
"Oliver, umurku sudah tak muda lagi, entah sampai kapan ayah dapat melindungimu. Kau putri ayah, dan ayah hanya mengharapkan lelaki terbaik yang bisa menjagamu. Sudah datang pinangan dari istana, mengapa harus ditolak?"
"Bukan berarti harus Xavier kan ayah?"
"Kalau begitu, apa kau sendiri sudah punya kekasih?"
"Belum yah... tapi kan-"
"Apa ada lelaki baik yang bersedia meminangmu langsung?"
"B-Belum-"
"Apa ada lelaki mapan yang menyukaimu? Dengan latar belakang keluarga dan pendidikan yang baik?"
"Belum yah."
"Sudah ada calon di depan mata lantas mengapa menolak?"
"T-Tapi aku tak siap jadi ratu yah..." Oliver mengkerucutkan bibirnya.
"Kau cantik, baik, dan cerdas. Ayah sangat yakin putri ayah akan jadi ratu yang baik. Masa depan Zinnia cerah bersamamu, nak."
"L-Lantas bagaimana dengan cita-citaku? Ayah tahu bahwa aku ingin menjadi jurnalis terkemuka di negeri ini."
"Terkadang kau harus mengorbankan hal yang kau inginkan demi menjalankan kewajiban mu nak."
__ADS_1
"Menjadi ratu bukan kewajibanku yah, dan tidak akan pernah!" Oliver pergi dari meja makan meninggalkan ayahnya yang terpaku diam.
"Oliver! Oliver tunggu!"