
"Selamat pagi, Tuan Morgan." Ucap Tuan Alfonso.
"Oh! Pak Perdana Menteri! Selamat pagi, bagaimana kabar anda?"
"Tentu saja baik, anda sendiri?"
"Sangat baik." Keduanya pun kini saling berjabat tangan.
"Ku dengar putri mu baru kembali dari luar negeri?"
"Ah, Eveline? Ya dia baru saja menyelesaikan studinya." Jelas Tuan Morgan.
"Senang sekali bukan, kini kedua anakmu sudah berkumpul kembali."
Tuan Morgan terkekeh, "Sangat senang pastinya."
"Mari masuk, yang lain mungkin sudah menunggu."
Rapat bulanan Zinnia kembali diadakan. Semua menteri dan para pejabat sudah berkumbul di ruang rapat istana bagian deoan seperti biasanya. Mereka kini tengah menunggu kehadiran Raja Arthur dan Pangeran Xavier untuk memulai rapat.
Tak lama kemudian, "Raja Arthur dan Pangeran Xavier telah tiba!" Ucap seorang pengawal dengan lantangnya dari luar ruangan.
"Buka pintunya!" Semua yang hadir kala itu pun berdiri dan membungkuk memberi hormat.
Raja Arthur masuk kemudian duduk di kursinya, "Mari mulai rapatnya." Ucap Raja Arthur.
.
.
.
.
.
Kegiatan rutin ini selalu dilakukan tiap bulan, dan untuk kali ini topik utama mereka adalah tentang pemberontakan yang terjadi di perbatasan beberapa hari lalu.
"Soal pemberontakan itu... Saya sudah mengetahui akarnya." Ucap Raja Arthur membuka pembicaraan.
"Mereka menuntut merdeka karena tak kunjung dapat perhatian dari pemerintah. Keadaan di lapangan juga sangat memprihatinkan, bagaimana bisa seperti itu Perdana Menteri?."
"Begini paduka- Wilayah perbatasan tak memiliki akses yang memadai, terlebih lagi wilayah tersebut adalah wilayah militer yang sulit untuk dijangkau."
"Bagaimana bisa mengatakan wilayah itu sulit diakses jika aku sendiri bisa menginjakkan kaki di sana? Jika sulit maka tugas kalian membuat aksesnya menjadi lebih mudah?"
"Maaf paduka, tapi kami tak mengira masih ada warga yang tinggal di daerah terpencil seperti itu."
"Jangan menyalahkan mereka karena keadaan jika titik kesalahannya ada di rasa ketidak pedulian kita sendiri." Jelas Raja Arthur.
Xavier yang melihat ayahnya tidak dalam kondisi mood yang baik langsung mengambil alih,
"Mereka semua adalah pengungsi korban perang. Mereka memang asli berasal dari wilayah sana, namun ketika ada agresi militer mereka diharuskan mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Namun setelah perang selesai, mereka yang tidak punya tempat yang layak mau tidak mau kembali ke tempat asal mereka. Di mana wilayah tersebut sudah tak lagi layak huni." Jelas Xavier.
"Bagaimana bisa seperti itu, Menteri Pertahanan?" Tanya Raja Arthur tiba-tiba.
Tuan Morgan yang sedari tadi menyimak rapat cukup terkejut ketika ditanya secara tiba-tiba, "Eh? Ah.... Ehmm-"
"Kau tak tahu jawabannya kan? Ketika militer kita tidur nyaman di barak-barak mereka, ada orang-orang yang harus tidur di rumah tak layak huni tanpa atap. Lantas kau bisa mengabaikannya, begitu?"
"Maafkan saya, Yang Mulia. Akan lebih kami perhatikan."
"Saya tak perlu janji kalian, tapi bukti nyata. Masih banyak masalah yang harus saya urus-"
Semuanya menunduk mendengarkan Raja Arthur berbica, "Rakyat membayar pajak, dan sudah seharusnya uang yang mereka berikan kembali lagi ke mereka untuk menjamin kesejahteraan, keselamatan hidup mereka. Kalian ingin makan gaji buta?"
"Tidak, Yang Mulia." Ucap semuanya serentak.
"Menteri keuangan." Panggil Raja Arthur.
__ADS_1
"Ya, Yang Mulia?"
"Alokasikan dana untuk pembangunan kembali desa mereka dan pembangunan fasilitas sekolah serta rumah sakit terdekag di sana. Serta berikan bantuan langsung kepada mereka, saat ini hal itu yang paling mereka butuhkan."
"Baik, Yang Mulia."
"Kutunggu laporannya, berikan pada Elthon maksimal 2 minggu dari sekarangm"
"Baik."
"Menteri kesehatan."
"Ya, paduka?"
"Karena belum ada rumah sakit terdekat di sana, kerahkan dokter-dokter dan tenaga medis lain serta para relawan untuk mengecek kesehatan mereka secepatnya."
"Baik, Yang Mulia."
"Sekarang mulai laporkan pekerjaan kalian satu bulan ke belakang." Sambung Raja Arthur.
.
.
.
.
"Ada apa dengannya hari ini?" Ucap Tuan Morgan setelah rapat selesai.
Kini para pejabat-pejabat itu sudah keluar dari ruangan dan sedang berkumpul di halaman depan untuk saling bercengkrama.
"Mood-nya sedang tidak baik."
"Apa dia darah tinggi?"
"Kau lihat si Xavier itu sepanjang rapat?"
"Lagaknya sudah seperti raja." Timpal Tuan Morgan.
"Benar."
Ketika para pejabat-pejabat ini belum pulang seluruhnya, Oliver bersama Elia tak sengaja lewat di dekat sana dan ia pun tak lupa menyapa yang ada.
"Halo..." Ucapnya pelan sambil membungkuk memberi hormat.
"Oh, Tuan Putri Oliver. Hormat kami." Semuanya pun membungkuk membalas salamnya.
"Rapatnya sudah selesai?" Tanyanya penasaran.
"Sudah, Yang Mulia. Baru saja."
"Anda sangat cantik ketika dilihat langsung Yang Mulia." Puji para pejabat itu.
"Betul, anda cantik sekali."
"Terima kasih pujiannya." Oliver tersenyum sembari mentutup mulutnya malu-malu.
"Ah! Apa ada yang melihat Xavier? M-Maksudku Pangeran Xavier."
"Ia sudah pergi ke dalam, Yang Mulia."
"B-Begitu ya... Kalau begitu aku pamit dulu. Dadah-" Oliver pun bergegas berlari kembali ke dalam.
"Yang Mulia tunggu!" Ujar Elia.
Para pejabat itu hanya membubgkuk seraya Oliver pergi dari hadapan mereka.
"Dasar pengantin baru."
__ADS_1
"Namun untungnya Xavier, istrinya cukup cantik. Bukan begitu?"
"Betul."
Saat Tuan Morgan melihat Oliver, terbesit ide licik di benaknya, "Bukankah akan lebih seru jika kita mengusik air yang tenang?"
"Apa maksudmu?" Ucap rekannya.
"Dia memang cantik, tapi cukup ceroboh. Kau lihat cincin di jarinya?"
"Cincin?"
Yang lain menggeleng, "Ku rasa Tuan Putri tak mengenakan cincin."
Tuan Morgan tersenyum licik, "Astaga, bukankah repot jika ada paparazzi yang melihatnya."
"Sebentar lagi pasti rumornya akan muncul di internet."
.
.
.
.
"Xavier!" panggil Oliver.
"Oliver, ada apa?"
"Tak apa, hanya ingin mencarimu. Rapatnya sudah selesai, ya?"
"Ya, baru saja. Kenapa?"
Oliver menggeleng, "Tadi aku tak sengaja melewati istana depan dan menyapa menteri-menteri yang belum pulang."
"Benarkah? Tumben sekali..."
"Kenapa? Aku hanya ingin lebih mengenal mereka."
"Tak perlu, cukup berbicara dengan mereka seperlunya."
"Memangnya kenapa?"
"Mereka itu ada yang baik dan ada yang tidak. Tapi kebanyakan sih picik."
"Husssh, gak boleh gitu."
"Beneran kok-" Xavier terhenti ketika menyadari satu hal, Oliver tak mengenakan cincinnya, "Cincin mu kemana?"
"Cincin ku? Ohh- di kamar, ku lepas ketika mandi tadi." Jelas Oliver.
Xavier menghela napas, "Dengar- meski cincinnya itu membuatmu tak nyaman usahakan jangan dilepas. Kau tahu, di istana ini tak ada rahasia. Gosip bisa menyebar cepat layaknya asap. Kau tak mau jadi bahan gunjingan para pelayan bukan?"
"Kan hanya cincin."
"Justru karena hanya cincin. Dari cincin pernikahan saja mereka bisa membuag rumor-rumor tak jelas dan berasumsi yang aneh-aneh." Jelas Xavier.
Oliver mengkerucutkan bibirnya, "Baiklah- aku akan mengambilnya ke kamar."
Oliver pun kembali berlari disusul oleh Elia di belakangnya.
"OLIVER!" Seru Xavier.
Oliver pun menoleh ke belakang, "Ya?"
"Mau minum teh di paviliun taman?" Tawar Xavier.
Oliver pun tersenyum dan mengangguk setuju, kemudian ia kembali ke kamarnya.
__ADS_1