
"Bukankah itu Eveline?" Bisik-bisik seorang wanita pada wanita lain di sebelahnya.
"Benar, dia Eveline. Anak tiri Tuan Morgan." Timpal wanita tersebut.
"Ku dengar Pangeran Xavier pernah menjalin hubungan dengannya dulu."
"BENARKAH?" Tanya wanita yang satunya tak percaya.
"Benar, rumornya sih begitu– walau hanya sebentar."
"Wahh tak ku sangka..."
"Dan kabarnya mereka berempat adalah sahabat di bangku sekolah dulu."
Wanita yang satunya mendekat, dan berbisik, "Jadi apakah Putri Oliver merebut Pangeran Xavier dari Eveline?"
"Hussh! Jaga ucapanmu– Kepala mu bisa dipenggal jika berkata seperti itu."
"Aku hanya bertanya."
Keempat sahabat itu berkumpul di satu titik dan mereka langsung menjadi pusat perhatian. Ada tatapan keanehan dan ketidaktahuan di raut wajah yang lain, karena mereka tak menyangka ketiga keluarga bangsawan bisa menjalin relasi dalam waktu lama seperti ini.
Xavier tidak menghiraukan obrolan mereka, toh ia sudah biasa menjadi bahan gunjingan banyak orang. Ia hanya sedikit khawatir dengan sahabat-sahabatnya dan Oliver yang akan merasa sedikit tak nyaman.
"Bagaimana jika kita pindah ke paviliun depan?" Ajak Xavier.
Yang lainnya mengangguk dan mulai berjalan mengikuti Xavier ke paviliun yang berada di luar dan tak jauh dari aula utama.
.......
.......
.......
.......
"Apa tak apa kalian pergi meninggalkan para tamu lain seperti ini? Kalian kan bintang utama malam ini." Ujar Louis.
"Tak masalah, toh acara utamanya sudah terlewati." Balas Xavier.
"Benar, lagipula sudah lama kita tak berkumpul seperti ini bukan?" Timpal Oliver.
Semakin larut, keempat sahabat ini juga terlarut dalam obrolan mereka. Mereka membicarakan banyak hal, ini dan itu.
"Ah ya, ku dengar Louis sudah menjadi dokter muda. Benarkah Louis?" Tanya Xavier.
"Begitulah... Aku baru saja menyelesaikan studiku, dan akhir bulan ini aku akan menjadi relawan tenaga medis di perbatasan selama enam bulan." Jelas Louis.
"Hebat sekali–" Ucap Oliver.
Louis terkekeh, "Bukan apa-apa, Yang Mulia. Aku hanya melaksanakan tugasku."
Oliver menghela napas, "Hah.... Aku juga ingin sekali membantu mereka yang membutuhkan dengan terjun langsung ke lapangan."
"Tanpa perlu seperti itu, kau sudah menjadi inspirasi bagi banyak orang." Ucap Louis menenangkan.
Tak berselang lama setelah itu, sebuah kembang api dinyalakan. Membentuk ledakan indah dan menerangi langit malam Zinnia. Para tamu yang ada di aula pun sebagian ada yang keluar dari dalam ruangan untuk melihat kembang api dengan lebih jelas. Terdengar suara sorakan-sorakan riang mereka dari balkon lantai dua aula.
Keempat sahabat yang masih ada di paviliun itu pun mengadah ke langit, menikmati indahnya permainan kembang api.
"Kembang apinya sudah dinyalakan toh." Ucap Xavier.
"Indahnya..." lirih Eveline.
Sepuluh, dua puluh, tiga puluh kali kembang api itu membuat bentuk-bentuk yang indah di langit malam.
Xavier yang tengah melihat ke arah langit menyadari ada seseorang yang berjalan ke arah mereka berempat. Itu Liam.
"Hormat saya, Yang Mulia." Ucap Liam.
"Liam ada apa?" Xavier bertanya-tanya ada apa gerangan hingga pengawalnya ini menyusulnya kemari.
Liam mendekat dan berbisik di telinga tuannya, "Tuan Nathan dan keluarganya datang ke pesta malam ini, Yang Mulia."
"Apa??!! Siapa yang mengundangnya?" Mata Xavier melotot tak percaya.
Louis, Eveline, dan Oliver hanya mendengarkan dari samping. Mereka mengira-ngira bahwa ada hal genting yang tengah terjadi.
"Apa ayah tahu?" Timpalnya lagi.
"Mereka sedang menemui Paduka Raja." Jawab Liam.
__ADS_1
Xavier tak percaya dengan semua ini. Ia tak menyangka pamannya akan datang di acara penting milik istrinya. 'Sialan... pasti akan berakhir ribut.' batinnya.
"Oliver ikut aku." Ucap Xavier mengajak sang istri pergi.
"E-Eh? B-Baik."
"Louis, Eveline, aku harus pergi. Kalian berdua nikmatilah acara ini. Jangan lupa cicipi hidangannya." Sambung Xavier.
Keduanya mengangguk berbarengan, "Baik, Yang Mulia."
Dengan Liam yang mengekor di belakang keduanya, Xavier dan Oliver berjalan terpogoh-pogoh menuju aula utama. Oliver sendiri tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ini Xavier?" Tanya Oliver.
"Pamanku datang ke istana." Jawab Xavier.
"Pamanmu yang mana? Pangeran Dominick atau Tuan Nathan??" Tanya Oliver penasaran.
"Menurutmu? Paman yang mana lagi yang membuatku panik gelagapan seperti ini akibat kedatangannya?"
Di benak Oliver hanya ada satu nama yang terlintas, 'Tak mungkin Tuan Nathan kan?'
Xavier dan Oliver sampai di sebuah ruangan tertutup di lantai tiga aula. Xavier melihat bahwa ayahnya dan pamannya itu memang betul sedang berbicara. Namun, ia dapat merasakan suasana tegang bahkan dari kejauhan. Tak hanya pamannya, ia dapat melihat istri dari pamannya serta sepupunya, Lucas.
...(Lucas Van Meyer)...
Oliver paham cara membaca situasi, ia yakin kedatangan Tuan Nathan dan keluarganya tanpa pemberitahuan bukanlah suatu hal baik. Oliver yakin bahwa pihak istana pun tak mempertimbangkan hal ini dapat terjadi di upacaranya.
Merek berdua kini menghampiri tempat Raja Arthur dan adiknya berdiri.
"Xavier! Keponakanku! Apa kabar mu?" Tuan Nathan menyapa Xavier dengan nada ceria sampai-sampai ia melupakan tata krama kerajaan.
Xavier dan Oliver membalas salamnya dengan hanya membungkukkan badan.
"Aku baik-baik saja, paman. Paman sendiri apa kabar?" Ucap Xavier basa-basi.
"Paman merasa sangat baik karena ternyata kau masih menganggapku pamanmu." Timpal Tuan Nathan.
Ada keheningan singkat setelahnya, Xavier sendiri sudah lama sekali semenjak terakhir kali melihat pamannya. Mungkin sekitar 10 atau malah 15 tahun lalu? Entahlah, siapa juga yang ingat.
Xavier melirik sang ayah, seolah menanyakan "Untuk apa paman ke sini, yah?"
"Salam ku Tuan Nathan, nyonya, dan.... Hmm– tuan muda." Sejujurnya ia tak tahu harus memanggil sepupu iparnya dengan sebutan seperti apa, ia tidak boleh memanggilnya dengan sebutan 'pangeran' namun akan canggung jika hanya menyebut langsung namanya.
"Lantas– apa yang mau kau lakukan di sini, Nathan?" Ucap Raja Arthur dengan tegas.
"Ayolah kakak, tak perlu kaku seperti itu. Aku dan keluarga tak hadir di pernikahan Xavier dengan istrinya, bukankah seharusnya aku datang ke upacara penyambutan ini untuk memberi berkatku juga?" Jelas Tuan Nathan.
"Aku tak ingat bahwa aku mengundangmu ke acara ini. Dan lagipula putra dan menantuku tak memerlukan berkatmu." Intonasi Raja Arthur terdengar semakin tegas.
Xavier dan Oliver hanya melirik satu sama lain, mereka terjebak di situasi serius nan tegang sepeti ini.
"HA-HA-HA maafkan aku. Lagian, aku, Lucas dan istriku hanya ingin melihat dengan langsung menantu mu yang cantik itu, Kak William."
"Paman, perhatikan sikapmu." Tegas Xavier.
Xavier sedikit geram dengan tingkah pamannya yang benar-benar melupakan tata krama istana. Memanggilnya tanpa sebutan 'Pangeran' ataupun 'Yang Mulia' di acara formal yang dihadiri banyak orang dan sekarang ia memanggil nama lahir ayahnya seenaknya seperti itu. 'Di mana sopan santunnya?' batin Xavier.
"Rupanya keponakanku ini sudah besar, sampai-sampai bocah kecil yang kukenal pembangkang dulu mulai memperhatikan peraturan istana." Ejeknya.
"Xavier tak pernah menjadi pembangkang seperti dirimu, Nathan." Timpal Raja Arthur.
"Benarkah? Apa itu berarti hanya ingatanku saja?" Ucap Tuan Nathan dengan nada meremehkan.
"Sudahlah sayang, lagian kita ke sini untuk melihat pengantin baru bukan?" Istri Tuan Nathan kini mulai berbicara.
"Benar juga, sampai-sampai kita menganggurkannya–" Tuan Nathan dan istrinya kini melihat ke arah Oliver. Oliver bisa merasakan bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri.
...(Nathan Hendery Rayton)...
"Bukan kah dia mirip seperti mu, Emily? Terlihat cantik, anggun, dan memiliki aura gadis sederhana." Ucap Tuan Nathan.
"Benar sayang... Kau lupa, gadis ini juga sama-sama datang dari keluarga rendahan sepertiku. Namun ia diterima dengan lapang dada oleh istana dan masyarakat, tapi tidak dengan ku."
"JAGA MULUT KALIAN!" Ujar Raja Arthur.
Oliver terperanjat, ia mundur satu langkah untuk bersembunyi di belakang punggung Xavier.
Raja Arthur mendekat dan mengangkag jarinya ke arah Tuan Nathan, "Kau dan istrimu tak berhak menghina menantuku. Jika kalian ingin mengacau lebih baik kalian semua pulang sebelum aku mengusir kalian!"
__ADS_1
"Tenang, tenang.... Apa ini caramu menjamu tamu, Raja Arthur yang terhormat?" Ucap Tuan Nathan.
"Kalian. Bukan. Tamu. Yang. Diundang. Untuk apa aku menjamu kalian?" Tegas Raja Arthur di setiap katanya.
Tuan Nathan menaikkan satu alisnya dan mendengus kesal, "Ayah sudah lama tak ada, sampai kapan kakak akan bersikap kaku seperti ini dan menganggap kami bukan bagian dari kalian?"
"Sampai kau sepenuhnya sadar bahwa KAU dan KELUARGAMU bukan lagi bagian dari keluarga kerajaan dan KALIAN tak lagi diterima di sini. Bukankah itu keputusan mu sendiri 25 tahun yang lalu?" Raja Arthur mengingatkan kembali akan keputusan yang dibuat adiknya dulu.
"Dibanding dengan melakukan tugas kerajaan, kau malah terpincut oleh seorang janda dari pedesaan yang datang dari keluarga petani. Kau memilih menikahinya dan 'mencoreng' muka ayah dan nama Keluarga Rayton. Kini kau meminta dirimu dan keluargamu untuk kembali diterima di sini? Lelucon apa yang kini kau mainkan, Nathan?" Tegas Raja Arthur.
Di samping kanan, Oliver hanya berdiri dan menyimak ke arah mana perseteruan keluarga ini akan berakhir. Sedangkan Xavier, ia tak memiliki keberanian untuk berkomentar. Ini pertama kalinya dia melihat sang ayah berdebat hebat dengan pamannya.
"APA MAKSUD KAKAK?! MENCORENG NAMA KELUARGA?! Setelah apa yang ku lakukan di medan perang dulu, menjadi relawan di perbatasan, melindungi perairan Zinnia di bagian selatan, mengerahkan semua pasukan di bawah komando ku dan membawa pulang kemenangan untuk Zinnia. Kalian sendiri yang acuh dan tak pernah menghargai ku hanya karena aku memilih untuk menikahi wanita yang ku cintai."
"Kau seseorang yang tak bermoral yang tak menghargai tradisi, bahkan dengan ayah mu sendiri."
"PERSETAN DENGAN TRADISI!–"
"Lantas apa bedanya aku dengan anakmu Xavier?! Ia tak beda denganku yang sama-sama menikahi wanita dari kelas bawah. Apa karena aku bukan seorang putra mahkota sepertinya makanya aku diperlakukan seperti ini?!"
Oliver tertegun, pada akhirnya pembicaraan ini mengarah kepadanya.
"Karena kau menyeret menantuku ke dalam perbincangan ini, perlu ku jabarkan nedanya dirimu dengan putraku?" Ucap Raja Arthur yang menahan-nahan emosinya sedari tadi.
"Ia tak pernah sekalipun melanggar tradisi dan aturan istana. Ia berbeda dengan mu. Ia juga menghargai ayahnya, tak seperti mu. Setelah ayah tak merestui hubungan mu, dengan angkuh kau memilih melepas gelar mu sebagai pangeran dan kawin lari dengan janda itu. Tapi kau tak sadar bahwa kau adalah sumber utama mengapa ayah menjadi sakit sakitan dulu. Kau bahkan tak berbakti padanya di saat-saat terakhirnya. Di tengah kekacauan seperti itu, seolah benar-benar tak peduli kau bahkan tak menampakkan batang hidung mu sama sekali. Kau lupa siapa yang menangani semua kekacauan yang kau buat? AKU. Di tengah-tengah hal penting lainnya yang harus ku urus, aku malah mengurus kekacauan yang ditinggalkan oleh adikku yang tak tahu diri. Kau bahkan tak tahu seberapa tersakitinya ayah dan ibu dulu?" Jelas Raja Arthur.
Tuan Nathan dan yang lainnya terdiam.
"Jangan sekali-kali samakan wanita desa itu dengan menantuku. Jangan pernah. Oliver lebih bermoral daripadanya. Dan kau Nathan– Jangan pernah samakan dirimu dengan putraku Xavier. Kalian tak sama."
Tuan Nathan menatap Raja Arthur dengan tatapan tajam. Sebuah keajaiban bahwa Raha Arthur masih bisa berbicara dengan tenang dan bahkan tidak menampar adiknya sendiri.
"Pulanglah jika kalian tak mau ku penggal. Jangan ganggu acara milik menantuku ini. Pintu istana tak lagi dapat terbuka bebas untuk mu, Nathan."
Kini Raja Arthur mengubah nadanya berbicara sehingga terkesan lebih dingin dan memberika tatapan tajamnya, "Xavier dan Oliver tak memerlukan berkat mu–"
"Dan angan lagi muncul di hadapanku, bahkan di pemakaman ku nanti sekalipun. Karena kau– bukan lagi adikku, Nathan Hendery Rayton."
'Kurang ajar!' batin Tuan Nathan.
'Masa kejayaanmu akan usai, Wiliiam. Akan usai! Kupastikan itu.'
Semua yang ada bergeming mendengar ucapan Raja Arthur. Oliver sendiri tak percaya ia dapat melihat semua ini dengan matanya sendiri, melihat ayah mertuanya memutus hubungan keluarga dengan adiknya sendiri. Luar biasa!
'Pertemuan keluarga memang tak lengkap jika tak diakhiri dengan bumbu-bumbu drama dan sedikit cekcok, bukan begitu?" batinnya.
Kini Raja Arthur berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia memilih pergi daripada harus tersulut emosi kembali karena kehadiran adiknya.
"Beraninya dia datang kembali di hari penting seperti ini." Ucap Raja Arthur sembari berjalan menuju ruang pribadinya yang cukup jauh dari aula utama.
"Yang kuharapkan hadir malam ini adalah Dominick, bukannya Nathan. Kemana sih dia?" Sambung Raja Arthur.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sangat teledor, seharusnya saya lebih mengkoordinir penjagaan." Ucap Elthon yang sedari tadi mengekor mengawal Raja Arthur pergi.
"Bukan salah mu. Dia sendiri yang memang tak tau diri."
Langkah Raja Arthur semakin cepat akibat emosinya yang membara.
"Elthon, bawakan air dingin ke ruanganku." Titah Raja Arthur.
"B-Baik, Yang Mulia."
Elthon pun kemudian berbalik, namun langkahnya terhenti, "TUNGGU–" ucap Raja Arthur.
"Aku yakin media akan mencium apa yang terjadi malam ini, dan mereka akan heboh menuliskan judul-judul berita di tajuk utama berita besok pagi akibat persoalan ini. Kau urus semua itu, Elthon. Jangan sampai yang lain tahu bahwa Nathan datang ke upacara penyambutan Oliver." Sambung Raja Arthur.
"Laksanakan, Yang Mulia."
...(William Vamor Rayton a.k.a King Arthur II)...
Mari sambut paduka raja tampan nan rupawan kita semua, Raja Arthur~~~🎉😆
...-...
...-...
...-...
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan cara vote, like, komen dan jadikan cerita ini favorit❣️...
...Satu like akan sangat membantu author untuk terus semangat menulis dan melanjutkan cerita ini. Terima kasih sudah membaca😊💗...
__ADS_1
🌹To be continued....