
5 tahun kemudian.
Setelah kejadian 5 tahun silam, kini situasi di Kerajaan Zinnia sudah kembali seperti biasa. Dengan sekiranya sedikit banyak beberapa hal ada yang berubah dan ada yang tidak.
Keadaan masyarakat yang sudah menjadi tenang, Raja Arthur yang masih sibuk dengan pekerjaannya mengurus rakyat, dan Xavier yang kini mulai terbiasa dengan tugas-tugasnya. Xavier akan berusia genap delapan belas tahun 4 bulan lagi. Ia kini duduk di tingkat 3 sekolah menengah atas. Xavier memutuskan untuk masuk angkatan laut dan mencari pengalaman selama 4 tahun di sana setelah ia lulus sekolah nanti. Ia tidak ingin mengganggu waktunya dalam mengenyam pendidikan dan untungnya sang ayah menghargai keputusannya itu.
Kehidupan sekolahnya pun tak banyak berubah. Xavier kini aktif dalam klub berkuda di sekolahnya bersama dengan sobatnya, Louis. Ia juga kini akrab dengan adiknya, Eveline, dan teman Eveline, Oliver. Ada rumor yang bilang Xavier sebenarnya menyimpan rasa pada Eveline, adik sahabatnya sendiri. Meski begitu, orang-orang memanggil mereka dengan sebutan "Empat Sekawan".
"Kau akan lanjut kemana setelah lulus?" Tanya Xavier kepada Louis.
"Aku? Entahlah.... Aku ingin sekali menjadi dokter." Jawab Louis.
"Ku kira kakak ingin menjadi jaksa." Ujar Eveline.
"Jaksa? Eyy- pekerjaan itu tidak cocok denganku." Sahut Louis
"Dokter? Apa kau serius Louis?" Tanya Xavier.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Tak ku sangka seseorang yang kerjaannya bermain bola setiap hari kini berkeinginan menjadi dokter." Kekeh Xavier.
"Asal kau tahu aku ini sangat suka pelajaran biologi. Sepakbola itu hanya sampingan saja."
Mereka bertiga kini tengah berada di rooftop sekolah, tempat favorit untuk bersantai. Nyatanya musim ujian sudah semakin dekat, ujian kelulusan dan masuk universitas akan diadakan di minggu kedua musim semi. Kini Xavier dan Louis yang telah duduk di tingkat tiga hanya memiliki sisa sedikit waktu untuk menikmati bangku sekolah.
"Dan kau sendiri Eveline?" Tanya Xavier.
"Oh aku? Aku ingin mengambil kuliah jurusan sastra dan sejarah."
"Wah... Hebat sekali." Ucap Xavier dengan suara yang sedikit pelan.
Terkadang Xavier dibuat iri dengan teman-temannya. Mereka bisa dengan leluasa memilih akan menjadi apa mereka ke depannya dan menentukan jalan hidup yang mereka inginkan, sedangkan dirinya? Bahkan ia tak diberikan pilihan lain.
"Oh iya, di mana Oliver? Dia kok gak kelihatan dari tadi?" Tanya Xavier penasaran.
"Dia sedang ada di ruang penyiaran sekolah. Biasalah jam-jam segini biasanya klub radio akan membacakan cerita sejarah atau sekilas tentang sains." Jelas Louis.
"Oalah orang sibuk ternyata." Celetuk Xavier.
"Sibukkan anda kemana-mana, Yang Mulia." Ejek Louis.
__ADS_1
"Hahaha bisa saja kau ini." Mereka bertiga pun tertawa dibuatnya.
"Ah iya kalau begitu aku ingin mengunjungi Oliver di ruang penyiaran dulu. Kalian bersantai saja dulu di sini, lagipula masih ada waktu sebelum belum bel masuk." Ucap Louis yang dibalas anggukan dari Xavier dan Eveline. Ia beranjak dari bangkunya dan mengambil baju hangat yang ia lepaskan tadi. Ia pun pergi menuruni tangga lantai atas menuju ke ruang penyiaran.
Kini hanya Xavier dan Eveline yang tersisa di rooftop. Xavier melanjutkan membaca bukunya yang sempat terhenti tadi, sedangkan Eveline mengeluarkan kotak bekal berisi anggur shine muscat yang ia bawa dari rumah. Ia pun tak ragu menawarkan makanan miliknya kepada Xavier.
"Kau mau?" Tawar Eveline.
"Bukan maksud menolak, tapi aku punya alergi jadi tidak bisa memakannya, maaf." Jelas Xavier.
"Ah maafkan aku, aku tidak tahu."
"Haha tidak apa, itu bisa terjadi."
Xavier melirik Eveline yang sedang memakan anggur shine muscat-nya itu dengan lahap. Ia tampak sangat lucu di matanya. Mata berwarna amethyst yang Eveline miliki dan rambut hitam legam yang panjang tampak sangat cantik menurutnya.
Jadi jika kalian mencari jawaban dari rumor yang beredar, jawabannya adalah benar, Xavier memang menyukai Eveline. Tapi sayang ia tak punya keberanian buat mendekatinya duluan, atau mungkin belum?
"Eveline..." Panggil Xavier.
"Ya?"
"Apa... Kau bersedia jadi ratu ku?"
Di ruang penyiaran, siaran harian sudah sukses dilakukan. Para anggota klub pun tampaknya sudah selesai dengan kegiatan mereka di sana. Begitu pula dengan Oliver yang sedang merapihkah barang-barangnya.
"Oliver, untuk file materi minggu ini nanti aku kirim lewat e-mail ya."
"Terima kasih banyak senior." Ucap Oliver kepada senior di klubnya itu.
Gadis berambut pirang itu pun mengambil beberapa tumpukan kertas yang berserakan di meja dan meletakkan mereka ke tempatnya. Membetulkan kembali mic dan peralatan siaran yang tadi sudah ia pakai.
"Sudah beres siarannya?" Ucap suara yang mengejutkan Oliver.
"OH! Kak Louis bikin jantungan aja."
"Hahaha kaget ya? Maaf."
"Siarannya baru saja beres, aku sedang siap-siap mau istirahat." Jelas Eveline.
__ADS_1
"Ini. Tadi sekalian lewat kantin makanya aku beli." Ucap Louis sambil memberikan Oliver sekantong plastik berisi kotak bento, satu mangkok puding, dan sekotak susu.
Padahal ya dirinya memang sengaja mampir terlebih dahulu sebelum pergi ke ruang siaran.
"Mengapa repot-repot sekali sih kak."
"Udah makan aja daripada kamu ngantri lagi di kantin."
"Terima kasih." Ucap Oliver sambil tersenyum.
Disantapnya kotak bento yang berisi beragam jenis lauk pauk tersebut. Sebenarnya porsi bento tersebut sangatlah banyak melebihi dari apa yang biasa Oliver makan, tapi entah kenapa Oliver merasa sangat lapar saat itu.
Louis yang disitu hanya duduk dan melihat Oliver makan. Sesekali ia berkeliling di ruangan penyiaran yang cukup asing baginya. Dilihatnya banyak peralatan untuk keperluan penyiaran.
"Banyak sekali kertas di sini." Ucap Louis.
"Iya itu materi untuk rapat besok." Jelas Eveline. Louis hanya mengangguk-angguk mendengarnya.
"Oiya kak, hari ini anak-anak dari klub band memberikan demo lagu jingle sekolah yang mereka buat. Mau dengar?" Tawar Oliver.
"Bolehkah?"
"Boleh, sini-sini." Ucap Oliver sambil mengisyarakatkan Louis untuk duduk di kursi sebelahnya. Oliver pun mengeluarkan earphone miliknya dan memutar lagu yang ia maksud tadi dari ponselnya.
Dipasangkan lah sebelah earphone itu di telinga Louis dan sebelahnya lagi di telinganya, lagu pun dimainkan. Kini bukan lagi lagu yang menjadi fokus seorang Louis Anthoni, melainkan jarak mereka yang sangatlah dekat. Matanya pun tertuju kepada Oliver yang masih sibuk menyantap makan siangnya itu. Irisnya itu bahkan tak berpaling dari menatap Oliver barang sedetik pun.
"Untuk sebuah lagu jingle mereka membuat liriknya dengan sangat indah, bukankah begitu kak?"
Louis mengangguk pelam, "Hm, sangat indah."
"Apa... Kau bersedia jadi ratu ku?"
Eveline terperanjat. Ia tak percaya dengan apa yang kedua telinganya dengar.
"Ratu?" Tanya Eveline kebingungan.
'Mulutmu itu loh Xavier, gak ada remnya. Bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu.' Batin Xavier.
"HAH???! TIDAK AKU BERCANDA. BUKAN- maksudku anggap saja angin lewat. Ya, angin lewat, haha." Ucap Xavier gelagapan sembari memegang tengkuknya.
Eveline yang melihatnya hanya tersenyum sembari memalingkan wajah. Entah mungkin dewa sedang berada di sisi Xavier untuk menyelamatkannya dari rasa malu, kala itu bel pelajaran berikutnya mendering memaksa mereka tuk' kembali ke kelas.
"Sudah bel."
__ADS_1
"Kalau begitu ayo ke bawah." Ucap Eveline yang sudah merapihkan barang-barang bawaannya dan memberikan gestur mengajak kepada Xavier.
"Duluan saja." Percaya atau tidak, pikiran Xavier masih tidak karuan, pipinya merona seperti udang rebus. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu dengan santai? Sudah gila, mau ditaruh di mana mukanya? Setelah beberapa saat Xavier pun kembali ke kelasnya.