
Satu tahun tak terasa sudah berlalu aku dan anak-anak sekelas ku memanfaatkan libur sekolah ini dengan berlibur bersama dengan bunda dan keluarganya ke pantai, rencananya kami ingin bermalam di pantai dan ingin membuat libur akhir tahun ini menjadi istimewa. Semua teman-temanku setuju dengan rencana itu walau pun ada beberapa orang yang tak setuju juga.
Aku, Bintang, Windi, Dila, dan Ian sedang berkumpul di aula bersama yang lainnya karena saat ini jam pelajaran sedang kosong, tak hanya kita saja yang berada di aula tetapi ada juga anak kelasku dan anak kelas tetangga juga.
“Itu jalur mobil nge.” kataku mengejek Bintang yang tadi pagi membonceng aku dan memasuki jalur mobil.
“Mana gua tau.”
“Makannya SIM jangan nembak lu!”
“Gua nembak bareng lu ya.” kata Bintang sambil menunjukku dan aku hanya membalasnya dengan tertawa kecil.
“Pagi Desi!” Sapa Ian kepada Desi yang sedang duduk bersama Windi dan Dila.
“Iya.” Jawab Desi dengan muka ketus.
“Udah makan?”
“Basa basi bangsat lu Ian, diem.” katanya dengan nada ngegas sambil membentak Ian.
“Gua udah siap sarungan Des, lu udah siap dasteran?” Ucap Ian kepada Desi sambil berusaha menggoda Desi yang dari tadi bersikap cuek padanya.
“Gua tiap hari pake daster ege.”
“Alhamdulilah.” Ian mengeluarkan sebuah foto dari saku kemejanya. “Ini gua udah Des.”
“Apaan?” tanya Desi.
“Foto latar biru buat buku nikah kita, tinggal lunya aja.”
“Gila lu. Setidaknya punya KTP.” Ucap Desi dengan nada ngegas.
“My future wife.” Ucap Ian sambal tersenyum.
“Mulut sampah lu di jaga ya Ian.”
Tak lama setelah bel sekolah berbunyi, menggema di seluruh koridor dan menggiring semua siswa ke ruangan kelas masing-masing, aku berjalan menuju kelasku bersama Dila, Bintang, dan Windi. Sesampai di kelas aku dan teman-teman kelasku membuat rencana bagaimana agar bisa membuat libur akhir tahun ini menjadi istimewa. Tetapi aku tak terlalu ikut campur dengan urusan bagaimana kita harus mewujudkannya, jadi masalah itu di tanggung oleh Hendrik dan juga dia adalah ketua kelasku pada saat itu. Akhirnya, setelah berdiskusi panjang, hari yang ditentukan pun telah tiba, tepatnya dua minggu lagi, ketika aku dan teman-temanku akan berangkat liburan.
Namun, satu hari sebelum keberangkatan, sebuah masalah besar melanda kelasku. Mobil bus yang kami sewa sebelumnya tiba-tiba tak bisa digunakan untuk mengantar kami pergi liburan. Kabar tersebut langsung disampaikan oleh temanku, meminta bantuan untuk mencari solusi bersama. Segera, aku mengusulkan ide untuk menyewa kendaraan darurat, yaitu sebuah truk. Bagiku, opsi ini lebih realistis daripada mencoba mencari bus sewaan lagi, karena waktu yang tersisa sangatlah terbatas. Tak lama kemudian, usulanku disetujui oleh teman-teman sekelas, setidaknya kami masih memiliki kesempatan untuk pergi menuju pantai yang sudah lama dinanti-nantikan.
Dan hari pemberangkatan pun dimulai semuanya tak menyangka kalau kita bakal berangkat ke pantai dengan mobil truk, dan aku pun meminta kepada anak-anak cowok untuk duduk di belakang sebagai orang yang mengawasi yang lain dan orang yang berpartisipasi adalah Hendrik, Dicky, Robi, Zahid, Yomi dan aku, kami berenam berperan sebagai orang yang menjaga keamanan di sana. Sebelum kami berangkat aku terlebih dahulu menemui Dila dan me-mintanya untuk duduk di depan saja, karena kalau di samping atau di dekatku malah jadi bahaya karena aku nggak bisa mengawasinya.
“Dila kamu duduknya di depan aja ya, soalnya kalau Dila duduk di depan, Deni bisa melihat dan menikmati senyuman Dila yang indah selama perjalanan.”
Dila tersenyum sambil menarik rambutku. “Masih sempet-sempetnya ngegombal.”
Dengan Dila duduk di depan, aku bisa mengawasinya dengan lebih baik dan juga dapat melihat senyumannya. Tak lama kemudian, mobil truk itu pun mulai bergerak tepat jam sembilan pagi. Cuacanya tampaknya kurang baik, langit mendung dan kelabu. Rasa cemas pun meng-hampiriku, khawatir bahwa kita akan terjebak hujan sepanjang perjalanan dan semuanya akan basah kuyup.
__ADS_1
Namun, selama perjalanan, semua orang yang berada di dalam truk bernyanyi, tertawa, dan bahkan bercanda bersama. Aku yang berada di belakang mencoba men-dokumentasikan momen-momen itu melalui ponselku, agar menjadi kenangan indah setelah kami lulus dari SMA nanti.
Ketika kami akhirnya tiba di pantai, ternyata dugaanku tentang cuaca salah. Langit cerah dengan biru yang memukau dan awan yang tak terlalu banyak menumpuk. Semua terlihat sempurna, seperti suasana yang diciptakan oleh keajaiban alam semata.
Setelah turun dari mobil, kami semua bergegas masuk ke Villa untuk meletakkan barang-barang bawaan kami. Aku dengan cepat mendekati Dila untuk membantunya membawa barang-barangnya yang tidak terlalu banyak, mengingat kamar kami berada di lantai dua. Setelah selesai mengatur barang-barang, kami semua dipanggil untuk berkumpul di lapangan guna pembagian tugas dan mempermudah pelaksanaan kegiatan di sana.
Kami membentuk tiga regu yaitu regu Pembeli makanan, regu pencari kayu bakar, dan regu pembuat makanan.
Ketika saat pengundian grup tiba, aku merasa senang dan bersemangat karena aku berada dalam satu regu dengan Dila ya walaupun Bintang, dan Windi juga satu regu, yaitu Regu Pencari Kayu Bakar.
Tanpa ragu, aku menggenggam tangan Dila tanpa meminta izin terlebih dahulu, mengajaknya mencari kayu bakar di sepanjang pinggir pantai. Dila terkejut dengan tiba-tiba dan bertanya kebingungan, “Eh eh eh, kita mau kemana?”
Sambil tersenyum, aku berjalan dengan tangan Dila di dalam genggaman. “Kita mau mencari kayu bakar di pinggir pantai, sepertinya banyak di sana.”
“Dari mana kamu tahu?” tanya Dila, penuh rasa penasaran.
“Aku belum pernah ke sana, tapi ada firasat bahwa di dekat pantai banyak kayu bakar.” jawabku sambil tetap berjalan.
Sepanjang perjalanan kami menuju pantai, suara angin berdesir dengan lembut memeluk telinga kami. Cahaya matahari menyinari jalanan yang dilalui, menciptakan bayangan yang menari-nari di antara pepohonan. Kami ber-jalan dengan hati-hati, melewati hutan yang penuh dengan pepohonan.
Tiba-tiba ada orang yang memanggilku dan Dila. “Oi... kalian mau ninggalin kita?” Ucap Bintang memanggil aku dan Dila dari belakang
“Kalian juga satu regu ya sama kita?” Tanya Dila bertanya kepada Bintang dan Windi
Windi pun langsung menghampiri Dila yang sedang bersamaku. “Iya, kamu mau nyari kemana?”
“Aku mau nyari di pinggir pantai, kata Deni di sana kayaknya banyak kayu bakar.”
“Lu emang nggak ada tempat lain apa buat nyari kayu bakarnya, kenapa mesti ngikutin gua?”
“Lu jangan macem-macem sama anak orang.” Ucap Bintang yang masih saja mengata-ngatai ku.
“Anjing lu ya.”
Dila yang mendengar aku berbicara kasar langsung menjambak rambutku. “Itu mulut.”
Aku berusaha melepaskan tangan Dila yang mungil itu dari rambutku. “Hehehehe... Iya-iya maaf Dila, habisnya kesel liat muka si Bintang.”
“Kalian mau ikutan gabung nggak sama kita buat cari kayu bakarnya?” Ucap Dila mengajak Bintang dan Windi bergabung untuk lebih mudah mencari kayu bakarnya.
“Nah kan Dila aja ngajak ke kita, jadi nggak ada hak lu buat larang gua ngikutin lu.” kata Bintang dengan tertawa songongnya.
“Kampret lu.”
“Udah nggak papa, kan lebih banyak orang lebih cepat selesai ke kumpul kayu bakarnya.” kata Dila sambil ter-senyum kepadaku.
Aku, Dila, Bintang, dan Windi akhirnya tiba di pinggir pantai. Suasana cerah dengan sinar matahari yang menyinari dan hembusan angin sejuk membuat pantai terlihat begitu indah. Bintang dan Windi pergi mencari kayu bakar di tempat yang berbeda dengan kami, sementara itu, aku dan Dila memutuskan untuk mencari kelomang di sekitar batu karang. Tanpa disangka, di dekat salah satu batu karang, aku menemukan kelomang yang cantik. Namun, saat aku berusaha mengambilnya, aku tergelincir dan jatuh ke dalam air laut yang tenang.
__ADS_1
Aku segera keluar dari air dan membawa kelomang itu kepada Dila. Ketika aku melihat ekspresi wajah Dila saat aku mendekatinya dengan kelomang itu, terlihat jelas raut ketakutan di matanya.
“Kamu takut kelomang, Dil?” tanyaku sambil mencoba mengenali ekspresi wajahnya.
“Enggak kok, siapa bilang aku takut?” jawabnya dengan nada rendah, sambil perlahan-lahan berjalan mundur menjauh dariku.
Aku tidak bisa menahan senyum kecil. Aku menarik tangan Dila dan berusaha meletakkan kelomang itu di telapak tangannya. Namun, sebelum kelomang tersebut sampai di telapak tangannya, Dila dengan cepat menarik tangannya kembali, berusaha menghindari kelomang itu.
“Kamu takut?” godaku sambil mencoba menahan tawa.
Aku tertawa kecil sambil kembali menarik tangan Dila dan kembali meletakan kelomang itu di telapak tangan Dila. “Jangan takut nggak akan gigit ini kok, paling cuma menjepit doang. Hehehehe.”
Dengan sedikit ragu, Dila menutup matanya saat aku kembali menaruh kelomang itu di telapak tangannya. “Tuh, lihat, nggak apa-apa kan?” kataku sambil menyuruh Dila untuk melihat kelomang yang ada di telapak tangannya.
Dila, yang dari tadi menutup matanya, perlahan-lahan membuka matanya dan melihat ke arah kelomang tersebut.
“Kok nggak keluar kelomangnya?” Ucap Dila bertanya kepadaku sambil menggerak-gerakan kelomang tersebut menggunakan jari telunjuk tangannya.
“Bentar lagi juga keluar, liatin aja.” kataku sambil melihat kelomang yang ada di telapak tangan Dila.
Tidak lama setelah Dila menggerak-gerakkan kelomang itu, akhirnya kelomang tersebut keluar dari cangkangnya dan mulai merayap di telapak tangan Dila. Dila terkejut, dan dengan refleks langsung melemparkan kelomang itu dan memegang tubuhku. Aku mencoba menahan tawa ketika melihat reaksi Dila yang kaget.
“Maaf-maaf aku nggak sengaja.” kata Dila sambil melepaskan pegangannya kepada tubuhku.
Aku hanya tersenyum kepada Dila. “Kamu kenapa takut barusan, tadi nanyain kenapa nggak keluar-keluar kelomangnya, eh pas udah keluar malah di buang?”
Dila tersenyum kecil karena telah melemparkan kelomang yang tadi aku tangkap. “Habisnya aku kaget, ditambah pas merayap di telapak tangan aku rasanya geli, jadi aku refleks buang kelomangnya. Hehehehe.”
“Yaudah kita kembali ke villa yuk, udah mau malem.” Ajak ku kepada Dila untuk kembali menuju villa.
“Namun, Dila memanggilku dengan suara tergetar. “Deni... lihat itu.”
Aku yang mendengar suara Dila membalikan badan dan betapa indahnya senja di ujung pantai yang sangat sulit aku jelaskan dengan kata-kata, tetapi aku mungkin bisa merangkumnya.
Ya dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di kejauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu.
Aku melangkah ke arah Dila, meninggalkan kayu bakar yang tadi aku kumpulkan, dan menggenggam tangannya yang kecil dan lembut. “Dila...”
“Aku ingin selalu terlibat dengan hidupmu, aku ingin menemanimu kemana pun kamu pergi, aku ingin kamu menjadi milikku dan menjalani kisah yang indah ini, aku tak ingin ada orang yang lebih spesial daripada aku di dalam kehidupanmu, dan aku ingin terus bersamamu, menikmati setiap senja yang ada di setiap sore kita. Aku jatuh cinta sama kamu, Dila.” Gumamku dalam hati, mungkin itu kata-kata yang harusnya aku ungkapkan saat itu dengan mulutku sendiri.
Namun, dengan keberanian yang kurang, aku hanya bisa mengucapkannya dalam hati.
“Deni... ada apa?” Ucap Dila, memanggilku dari lamunanku yang dalam.
Aku terhenti sejenak, merasakan denyut jantung yang berdebar kencang di dadaku, lalu menjawab dengan lembut, namun suara itu terdengar seperti kebohongan. “Aku... aku ingin melihat kamu terus tersenyum.”
Dila tersenyum padaku. “Tanpa kamu minta, aku akan selalu tersenyum saat bersamamu.”
__ADS_1
Hari itu harusnya menjadi awal kamu dan aku menjadi kita, tetapi karena aku tak punya keberanian semuanya sirna, seperti senja di depan kita yang telah berganti dengan malam.
....~~~....