Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Menghilang


__ADS_3

Kami pun berangkat untuk pergi menuju pasar malam itu, dan tentu saja ada juga yang tidak ikut untuk pergi ke pasar malam saat itu, yang pergi ke pasar malam saat itu adalah Aku, Dila, Hendrik, Muladi, Yomi, dan yang lainnya.


Perjalanan kami berlangsung selama kurang lebih 30 menit, dengan keadaan yang agak mendebarkan. Teman-temanku berlomba-lomba untuk sampai di pasar malam terlebih dahulu, dan aku pun terbawa suasana, mencoba mengejar mereka. Namun, Dila yang aku bonceng memegang erat jaketku dengan wajah yang penuh ketakutan, merasa aku terlalu cepat dalam mengendarai motor.


Aku segera menyadari kesalahanku dan memperlambat laju motorku, ingin memberikan kenyamanan dan keamanan bagi Dila. "Maaf ya, tadi aku bikin kamu takut."


Dila tersenyum sambil terus memegang jaketku deng-an erat. "Iya, nggak papa. Hanya, jangan diulangi lagi, ya."


Eh iya, kamu mau berangkat ke Tangerang kapan? tanyaku dengan suara pelan, sementara aku tetap mem-perhatikan jalanan yang tidak terlalu ramai.


Dila bergumam, matanya terarah padaku saat aku mengendarai motorku. Hmm, kayaknya besok aku bakal berangkat ke Tangerang.


Aku menghela nafas dalam-dalam mendengar jawabannya. Jadi ini adalah pertemuan terakhir kita ya?


Dila mengangguk dengan senyuman palsu di wajahnya. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenar-nya. 


Aku memilih untuk tidak membahas itu lagi dan hanya fokus pada mengemudikan motorku, berusaha mengejar teman-teman yang mungkin sudah tiba di pasar malam.


Dalam keheningan perjalanan kami, ada kepedihan yang terselip di antara kata-kata yang tak terucapkan. Waktu terus berjalan, dan rasa kehilangan mulai menyelinap perlahan.


Setelah sampai di pasar malam, aku memarkirkan motorku dan kita berdua berjalan mendekati anak-anak yang sedang berkumpul.


Kita mau ngapain di sini? tanya Bintang kepada Zahid yang tengah berada di dekat Rofi.


Terserah lu, mau ke mana juga. Ucap Zahid sambil meninggalkan Bintang dan melangkah bersama Rofi.


Aku mendengar ucapan Zahid dan dengan cepat menarik tangan Dila, meninggalkan anak-anak tersebut dan melanjutkan perjalanan di pasar malam. Ayo, ikut akul.


Dila melihatku menggenggam tangannya dan mengikuti langkahku dari belakang. Kita mau ke mana?


Kita jalan-jalan aja.


Ketika kami berjalan-jalan bersama, Dila terpaku pada satu makanan yang membuat matanya terus terpaku padanya. Aku melihat ekspresi Dila dan mengajaknya men-dekat. Ayo, kita ke sana. Kalau cuma dilihat saja, nanti keburu habis.


Dila terkejut karena aku menyadari pandangannya, tapi dia hanya tersenyum sebagai tanggapannya. Iya ayo.


“Bang permen kapasnya dua ya, yang warna hitam ada nggak bang?”


“Eh, mana ada permen kapas warna hitam.” Dila ber-bisik kepadaku.


Aku yang mendengar Dila berbisik padaku pun me-mutuskan untuk Dila saja yang memilih. “Yaudah kamu aja Dil, pilih yang mana?”


Dila pun mengambil permen kapas yang berwana Kuning dan Biru. “Ini warna biru untuk kamu dan warna kuning buat aku.”


Aku hanya tersenyum sambil memegang permen kapas itu dan berjalan-jalan kembali bersama Dila. “Warna kuning cocok buat kamu, soalnya warnanya menyerupai jingga.”


Dila tersenyum kecil dan memakan permen kapas itu. “Warna Biru juga cocok sama kamu, karena sikaf kamu yang mungkin sedikit seperti Biru.”


“Maaf Biru sepertinya di sini tidak ada Senjani, di sini hanya ada Dila yang memang sangat mirip dengan Senjani, tapi aku tegaskan sekali lagi dia hanya mirip, bukan berarti dia Senjani, jadi kamu bisa kembali ke Banda Neira.” Ucapku sambil berbicara kepada permen kapas yang ber-warna biru ini.


Dila yang melihatku berbicara dengan permen biru juga mengikuti ku, dengan berbicara kepada permen kapasnya yang berwarna jingga. “Maaf Senjani, tadi Biru kesini tetapi aku tak sempat memberitahumu dan mungkin dia sudah kembali ke Banda Neira untuk melanjutkan petualangannya. Kamu mungkin akan berpikir bahwa dunia ini semakin rumit dan lebih rumit dari pada bermain catur bersama Biru. Mungkin kamu akan merasa sedih dan akan merasakan masa-masa yang sulit jika tidak ada Biru di sisimu, tetapi percayalah, Biru pasti akan kembali untuk menemui mu atau bahkan membuat cerita yang baru bersamamu.”


Aku yang mendengar kata-kata itu dari Dila pun hanya tersenyum dan memandang wajahnya yang memang sudah manis meski tanpa pensil alis.


Aku yang sedang berjalan-jalan bersama Dila pun me-lihat Bintang yang sedang mencoba menangkap ikan mas dengan kertas. “Lu lagi ngapain ege?”


“Bentar gua lagi fokus.” Ucapnya sambil mencoba me-nangkap ikan dengan jaring kertas itu.


Bintang pun langsung mencoba menangkap ikan tersebut dengan jaring kertas itu tetapi setelah Bintang mendapatkan satu ikan jaring itu langsung robek.


Aku pun bertanya kepada abang yang menjaga per-mainan ini. “Bang ini permainan apa?”


“Ini namanya Kingyo sukui atau permainan menangkap ikan mas. Kalian harus menangkap ikan sebanyak mungkin sebelum kertas pada jaring robek. Kalau kalian berhasil menangkap ikan, kalian boleh membawa pulang hasil tang-kapan itu dengan kantong plastik.” Ucap Abang itu men-jelaskan permainannya.


“Oh kalau gitu mah mudah, yaudah bang saya beli dua jaring.” Ucapku sambil memberikan uangku kepada abang itu.


“Mudah di mana ege? Gua aja cuma dapet satu setelah tiga kali nyoba.”


“Itu berarti lu bego.”


“Bangke emang.”


Aku hanya tertawa melihat Bintang yang kesal kepadaku. “Liat nih gua bisa dapet dalam sekali coba.”


Abang itu pun memberikan dua jaring kepada kami. Ini, Dila. Kamu mau coba?

__ADS_1


Sambil memberikan jaringku yang satunya lagi kepada Dila, yang mungkin juga tertarik untuk mencobanya, Dila pun mengambil jaring tersebut. Makasih, yaudah aku dulu yang nyoba ya.


Aku memperhatikan Dila yang dengan hati-hati men-coba menangkap ikan menggunakan jaring kertas yang baru saja kuberikan. Dila sangat teliti dalam memilih ikan kecil yang menjadi targetnya, dengan harapan ikan itu lebih mudah tertangkap. Dengan penuh konsentrasi, Dila me-masukkan jaringnya ke dalam air dan berusaha menangkap ikan yang ia incar sebelumnya. Aku mengamatinya dari samping, dan melihat wajah Dila yang penuh kegembiraan ketika jaringnya berhasil menangkap ikan itu. Namun, saat Dila mengangkat jaringnya, kertasnya tiba-tiba sobek, menyebabkan ikan itu terlepas kembali. Wajah kecewa Dila tidak bisa disembunyikan, meski ia tetap berusaha ter-senyum kecil.


Aku pun menenangkan Dila dan mencoba menghiburnya. Jangan kecewa, lihat nanti Deni akan men-dapatkan ikan dan ikan itu buat Dila.


Dila yang mendengar kata-kataku langsung tersenyum, dan berusaha memberiku semangat. “Kamu harus dapat ya.”


“Do'ain, biar aku dapet.”


“Tentunya.”


Sebelum aku memasukkan jaring kertas ke dalam air untuk menangkap ikan, aku dengan cermat mengamati setiap ikan yang berenang di kolam, berusaha memilih ikan yang cocok untuk ditangkap dengan jaring ini. Setelah menemukan ikan incaranku, aku segera memasukkan jaring ke dalam air dan mengarahkannya ke arah ikan yang dituju. Dengan hati-hati, aku menempatkan jaringku tepat di atas ikan tersebut, lalu dengan cepat mengangkat jaring sebelum kertasnya sobek. Namun, saat hendak memasuk-kan ikan itu ke dalam wadah, kertas jaring tiba-tiba sobek, hampir membuat ikan itu terjatuh kembali ke kolam. Tanpa ragu, aku segera menangkap ikan tersebut dengan tangan kiriku sebelum ia menyentuh air kolam.


Dila yang melihatku berhasil menangkap ikan yang mau terjatuh itu pun langsung menyuruhku untuk memasukan-nya. “Den cepet masukin ikannya ke dalam wadah, kalau terus di tangan kamu nanti ikannya mati.”


Aku hanya tersenyum kecil sambil melihat ke arah Dila. “Iya.”


“Bang, ini ikannya tolong di pindahin ya.”


Setelah memindahkan ikan yang aku tangkap abang itu memberikan ikan yang sudah di bungkus plastik kepadaku. “Ini ikannya.”


Aku pun mengambil ikan yang di berikan abang itu “Makasih bang.”


“Liat nih kata gua juga apa? Gua sekali coba langsung dapet.” Ucapku kepada Bintang yang berada di samping kananku.


“Cuma hoki aja barusan.”


Aku pun memberikan ikan yang aku tangkap kepada Dila yang berada di samping kiriku. “Ini Dil ikannya buat kamu.”


Dila pun mengambil ikan yang aku berikan dengan kedua tangannya. “Makasih ya.”


Aku tersenyum. “Iya sama sama.”


“Yaudah mending kita jalan-jalan lagi.” Aku berdiri dan menjulurkan tanganku kembali kepada Dila untuk mem-bantunya berdiri.


Dila pun menggenggam tanganku dan berdiri di sampingku kemudian berjalan bersamaku sambil pergi meninggalkan Bintang dan Windi. “Kita duluan ya.”


“Hati-hati.” Ucap Windi kepada Dila yang pergi bersamaku.


“Ada danau di dekat sini, kita kesana aja, mau nggak?”


"Tapi kan sudah malam, kayaknya nggak keliatan apa-apa?"


“Nggak papa di pinggirnya terang kok, dam insting aku bilang kalau kita bakal ketemu anak-anak di sana.”


“Yaudah deh ayo”


Sesampai di danau, benar seperti dugaanku ternyata anak-anak sedang berkumpul di kursi dekat dengan danau itu. Aku pun berjalan menuju mereka bersama dengan Dila dan duduk di kursi dekat mereka. “Kan kata aku juga apa, anak-anak pasti di sini.”


“Mau di sebut kebetulan tetapi terlalu sering.” Ucap Dila sambil duduk di kursi bersamaku.


“Yaudah gimana kita ubah kebetulan itu menjadi sesuatu yang direncanakan.”


“Maksudnya?” 


"Iya, sesuatu yang pada dasarnya sudah ada sebab akibatnya. Kita ambil contoh anak-anak yang berkumpul di sini. Kenapa tadi aku merasa mereka mungkin ada di sini? Itu karena saat kita masih SMA, mereka selalu berkumpul di danau ini setiap kali ke pasar malam. Jadi, peluangku untuk menebak mereka ada di sini bisa naik dari 50% menjadi 80% atau lebih tinggi.


Dila pun bergumam sambil memikirkan perkataan yang akan dia ucapkan. "Hmm, bagaimana jika setelah ini kita tidak bertemu lagi? Bagaimana peluang kita untuk bertemu kembali?"


Aku yang mendengar perkataan Dila itu pun menghela nafas panjang, mencoba menjawab dengan penuh perasaan yang terpancar dari dalam hatiku. "Mungkin peluang kita untuk bertemu setelah malam ini sangat kecil, hanya 1% saja."


Dila terkejut mendengar angka yang begitu kecil itu dan mencoba memastikannya. "Kenapa hanya 1%?"


"Aku tahu angka itu terlihat sangat kecil saat ini, namun setiap kali aku merindukanmu, peluang kita bertemu akan bertambah 1%. Jadi, setiap rindu yang aku simpan akan memperbesar peluang kita bertemu lagi."


"Dengan begitu, berarti kamu membutuhkan 99 kali rindu untuk mencapai 100%? Dan setelah mencapai 100%, apakah kita pasti bisa bertemu kembali?"


"Tentu saja. Ketika celengan rindu itu penuh dan mencapai 100%, kita pasti akan bertemu lagi. Mungkin sebelum mencapai 100%, kita akan menghilang bersama-sama."


"Pada akhirnya, ini malam terakhir kita ya, sebelum berpisah?" tanya Dila, dengan suara lembut.


“Menghilang, Dila, bukan berpisah. Kamu tahu kenapa senja selalu menghilang setiap berganti malam? Karena dia berjanji akan kembali hadir dan bertemu di esok hari. Jadi tak ada yang harus di cemaskan.”


Dila yang tadi memasang wajah yang masam, perlahan-lahan memandang wajahku dengan tatapan yang penuh arti. Dia menggenggam tanganku erat dan memberikan senyuman yang bercahaya di tengah kegelapan malam.

__ADS_1


"Makasih ya," bisik Dila dengan suara lembut.


“Untuk apa?”


“Sudah membawaku ke sini.”


Aku tersenyum. Aku yang harusnya bilang terima kasih, karena telah membuat malam terakhir ini semakin istimewa.”


Anak-anak pun berjalan meninggalkan danau dan pergi ke parkiran untuk mengambil motornya dan pulang. Ketika kami tiba di parkiran, aku merasakan detak jantungku semakin kencang. Hatiku berdebar tak terkendali ketika aku melihat Dila yang sudah menungguku di depan parkiran. Cahaya rembulan memancar, menyoroti keindahan wajah-nya yang begitu mempesona. Dia berdiri di bawah pohon rindang, angin malam menyibak jaketnya yang tergerai, menciptakan gambar yang tak bisa ku lupakan.


Sambil melajukan motor, aku berdiri di depan Dila. "Dila, ayo." ucapku dengan suara lembut, tetapi terdengar jelas di antara keheningan malam.


“Kemana?” Tanyanya.


“Mencari mesin waktu.”


“Untuk apa?”


"Ya, aku ingin kita terjebak di dalamnya, berpetualang tanpa batas waktu, jauh dari realitas yang kadang mem-bebani kita di bumi ini,"


Namun, senyum di bibir Dila seketika redup. "Tapi, kalau aku nggak pulang ke bumi, kasian si Ciko nggak ada yang ngurus,"


“Nggak papa, si ciko kita suruh mandiri aja.”


Dila hanya tersenyum mendengar perkataanku dan menaiki motor untuk bersiap pergi dari pasar malam ini. Sambil membawa motorku dan berjalan mengikuti yang lainnya, ku lihat wajah Dila dari kaca spion dengan aura yang sedikit redup.


“Dila.” 


“Iya Den?”


“Nggak jadi.” 


“Kenapa gitu? Barusan kamu mau bicara apa?”


Aku tertawa kecil. “Nggak papa.”


Sementara aku memandangi wajah Dila yang tercermin di kaca spion motorku, hatiku berdebar-debar dalam keheningan malam yang semakin menggelayutkan kerinduan dan keinginan. Keinginan untuk berkata kepada Dila agar dia tidak pergi, ingin dia selalu di dekatku seperti ini, jika aku di beri pilihan aku lebih baik memilih jatuh cinta tanpa kehilangan, daripada kehilangan tanpa mengungkapkan. 


Kau selalu mampu membuatku jujur dalam segala hal, kecuali satu, perasaanku. Andai saja aku mampu memberitahumu tapi aku terlalu takut akan reaksimu yang tidak sesuai dengan imajinasi ku selama ini. Bukan kah fiksi lebih menina bobokan daripada kenyataan, bukan kah kita adalah dua orang yang terlanjur menikmati berkubang di dalam zona pertemanan.


Sesampai di depan gerbang rumah Dila yang terlihat sunyi, aku merasakan beratnya langkahku saat Dila turun dari motorku. Dia berdiri di depan gerbang, sepertinya tak ingin memperpanjang momen perpisahan ini. Namun, aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.


“Dila!”


Panggilku dengan suara yang terdengar rapuh dan penuh harap di antara keheningan malam.


Dila berbalik menghadapku, matanya memancarkan kilatan sedih yang sulit aku tolak. Dia memperhatikanku dengan senyuman tipis di bibirnya, tetapi pandangannya terlihat jauh.


“Iya Den?”Jawabnya dengan suara yang hampir terputus.


Aku menghampirinya, langkah demi langkah, dan memegang tangannya dengan erat, mencoba menahan waktu agar berhenti sejenak, agar kita bisa berada dalam momen ini selamanya. Tetapi dunia terus berputar, dan waktu terus berlalu.


“Selamat tinggal, Dila.” Bisikku dengan suara penuh kelembutan, meski hatiku hancur di balik senyum palsu yang ku buat.


Dila melepaskan genggamanku, pandangannya kembali terarah ke gerbang rumahnya yang seakan menjadi perbatasan antara kami. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia memasuki gerbang rumahnya, meninggalkanku sendiri di tengah kegelapan malam.


Jejak langkah yang mulai pudar, pandangan yang mulai buram, cahaya-cahaya yang mulai redup. Kisah kita usang di makan waktu, menyisakan serpihan-serpihan harap yang dengan lantang masih meneriaki namamu. Di malam-malam muram kau kembali sebagai renung yang menemani sepi dan sunyi. Kau tumbuh di padang ingatan itu, kau ialah keindahan dalam kisah itu. Tentang mu ku simpan Ku rawat dalam sepi dan rindu.


Aku berdiri di sana, terdiam dan terpaku. Hati ku terasa berat, seperti kehilangan sebagian diriku yang tak akan kembali lagi. Tatapanku mengikuti langkah Dila yang semakin menjauh, dan aku menyaksikan bayangan yang memudar di kegelapan malam kemudian menghilang.


Aku jatuh cinta dengan seseorang yang cuma bisa ku lihat. Tapi tak bisa kumiliki.


Aku jatuh cinta dengan seseorang yang cuma bisa ku buatkan cerita. Namun tak bisa ku ajak buat cerita sama-sama.


Aku jatuh cinta dengan seseorang yang cuma kudengar suara tawanya. Namun tak bisa menjadi alasan dia tertawa.


Aku jatuh cinta pada seseorang yang cuma bisa kusimpan Namanya. Tapi tak bisa ku ajak pulang sama-sama.


Tapi malam itu aku mendengar dia tertawa, tepat di depanku, tepat di hadapanku, berdua saja.


Diantara kesunyian malam dan sayup-sayup perasaan yang bilang kepadaku bahwa, mungkin saja malam itu adalah malam pertama dan terakhir. Dan di mana aku bisa berdua dengannya.


Dan ketika ia pulang, aku menyadari suatu hal.


Yaitu aku telah jatuh cinta dengan seseorang yang telah mengajakku bicara. Dan itu sudah cukup sempurna.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2