Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Bintang sakit


__ADS_3

Dua bulan setelah aku duduk di kelas 11, aku yang sedang duduk di kantin sendirian sambil melihat dua ekor semut yang sedang berantem, aku memperhatikan dua semut itu siapakah dari mereka berdua yang akan memenangkan pertempuran tersebut tetapi tak lama Ian datang kemejaku dan langsung meminum minuman milikku yang berada diatas meja dan kemudian meletakan gelas minuman tersebut diatas semut yang sedang aku perhatikan.


“Oi lu ngapain nyimpen gelas itu di sana?”


“Sebentar gua lagi haus tadi gua di kejar-kejar sama anak-anak kelas gua, gara-gara nggak bayar uang kas.” Ucap Ian sambil duduk di depanku.


“Gua nggak peduli lu mau habis ngapain, yang gua tanyain kenapa lu nyimpen gelasnya di sini?” Sambil menunjuk ke arah gelas yang baru saja Ian simpan.


“Apaan si lu, masalah gelas aja di ributin?”


“Lu ege yang apaan, gua ini lagi liat semut berantem malah lu matiin semutnya dengan lu naruh gelas di sana, mana gua belum tau semut mana yang menang.”


“Jadi lu dari tadi ngomel terus cuma karena masalah lu nggak tau siapa yang menang dari semut yang berantem barusan?”


“Iyalah.”


“Nggak jelas bet lu jadi orang.” Ucap Ian sambil menyendar ke kursi yang ia duduki.


Tak lama Windi, Desi dan Dila datang menghampiriku dan Ian sambil duduk di tempatku berada.


“Bintang udah 3 hari nggak masuk.” Ucap Desi kepada kita semua yang sedang duduk di kantin.


“Persetan dengan Bintang lah.” Ucapku menimpali perkataan Desi.


“Temen kita ege.” Desi langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon Bintang.


“Hallo Tang... Kemana lu tiga hari nggak masuk?” Ucap Desi yang menelepon Bintang melalui ponselnya.


“Gua sakit gua.” Ucap Bintang dengan nada lemas.


“Sakit doang, mati kagak lu.”


“Gila lu.”


“Gua sama bocah-bocah mau ngejengukin ntar.”


Aku langsung menimpali perkataan Desi. “Kagak-kagak kayak penting aja Bintang.”


Bintang yang mendengar suaraku langsung bicara. “Den gua denger.”


Setelah pulang sekolah kita pun berangkat ke klinik di mana Bintang dirawat. “Yo wasap beban keluarga.” Ucapku kepada Bintang yang sedang berbaring.


“Apaan tuh?” Ucap Bintang yang melihatku dan Ian membawa sesuatu.


“Gitar.” Ian menjawab pertanyaan Bintang.


“Umumnya orang menjenguk bawa buah.”

__ADS_1


Aku tertawa. “Sok iye lu.”


Desi menghampiri Bintang sambil membawa makanan yang sudah di siapin di rumahnya. “Jengkol sama tumis kangkung Tang.”


“Beneran nggak ada buah?” Bintang masih mempertanyakan tentang buah.


Desi langsung menimpali perkataan Bintang. “Bocah belagu bet dah.”


Aku pun duduk di kursi yang kosong di samping tempat duduk Bintang. “Den nyanyi Den.” Ucap Ian yang mem-berikan Gitar yang dia bawa kepadaku.


“Oi ini klinik jangan berisik.” Ucap Bintang kepadaku.


“Bacot bet lu, udah diem aja biar gua hibur sama lagu yang gua ciptain sendiri.”


Aku menggenjreng gitar yang aku pegang dan langsung bernyanyi. “Lihat temanku yang sakit badannya... Hanya rebahan dan tidak berdaya... Setiap hari ku do'akan dia... Semoga mati ke seruduk domba... Domba... Domba... Tabrak teman saya... Pergi ke klinik dua untuk menjenguk dia, yang sedang tak berdaya dan rebahan saja... Aku ambil ambulan, dia mati duluan. Teman... Teman... Ku ingin tahlilan... Yey...”


Dila yang melihat aku meledek Bintang dengan lagu yang aku nyanyikan langsung menjambak rambutku. “Jangan berisik nanti di marahin.”


Aku hanya tersenyum sambil memegang tangan Dila yang masih menjambakku. “Kan kalau bawain buah udah mainstream, nah kalau menjenguk bawain lagu itu anti mainstream.”


“Guys ini beneran kalian lagi ngejengukin gua?”


Desi menimpali perkataan Bintang. “Iyalah.”


“Kalau cara jenguknya kayak gini anteng-anteng ae lu semua di rumah lu.”


Desi melanjutkan perkataanku. “Mak gua udah buat kangkung jengkol buat lu ge.”


“Gua udah bawa Gitar.” Ucap Ian kepada Bintang.


Bintang hanya tertawa kecil, tak lama Windi datang ke klinik ini. “Bintang...”


Bintang tersenyum karena Windi datang menjenguknya. “Windi... Akhirnya datang lu Win.”


“Ini tanggal lahir lu bener kan?” Sambil menunjukan ponselnya yang sedang mendesain batu nisan untuk Bintang.


“Windi aku udah CO bunga tujuh rupanya di toko online.” Ucap Dila sambil melihatkan ponselnya.


“Tuh Dila sama Windi aja dah repot tuh.” Ucap Ian kepada Bintang yang sudah mulai kesel.


“Den di atas meja ada pisau, udah bunuh ae gua.” Ucap Bintang kepadaku yang berdiri di samping meja.


“Sekarang banget nih?” Ucapku sambil melihat ke arah pisau itu. “Oke.”


“B... Bangsat.” Ucap Bintang kepadaku yang menanggapi bercandanya dengan serius.


Setelah menghabiskan waktu di klinik, kami semua pulang ke rumah masing-masing. Aku pulang dengan Ian menggunakan sepeda motor yang Ian bawa, sementara yang lain menggunakan transportasi umum.

__ADS_1


“Seriusan lu bikin lagu kayak gitu buat Bintang?” Tanya Ian sambil tertawa.


Aku mengangkat bahu. “Lagi bosen aja, nggak ada yang bisa dijadiin bahan ledek.”


Ian hanya menggelengkan kepala sambil memperhati-kan jalan.


“Lu mau ke mana sekarang?” tanyaku.


“Ikutin aja gua.”


“Oke.”


Kami berhenti sebentar di sebuah toko kaset. Ian membeli beberapa kaset musik, lalu kami melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa menit berkendara, kami akhirnya sampai di sebuah lapangan kecil yang tak jauh dari rumahku.


“Mau ngapain kita di sini?” Tanyaku.


“Ikutin aja gua.” Jawab Ian sambil menunjuk seorang pria yang sedang bermain gitar di tengah lapangan.


“Siapa tuh?” tanyaku lagi.


“Dia Pak Kusni. Dia sering main gitar di sini setiap sore. Kita sering bermain musik bersama-sama.”


Kami mendekati Pak Kusni dan memberinya salam. Dia tersenyum ramah sambil meminta kami duduk di sebelahnya.


“Ian suka datang kesini kalau setiap libur sekolah untuk mendengar saya bernyanyi atau buat belajar bermain gita.” jelas Pak Kusni.


“Kamu punya band?” tanya Pak Kusni kepadaku yang duduk di sebelah Ian


Aku menggelengkan kepala. “Nggak, cuma suka main-main aja.”


Pak Kusni mengangguk. “Bagus, seni adalah sesuatu yang harus dijaga dan dihargai. Mainkan sesuka hatimu, jangan pernah takut untuk mengekspresikan diri.”


Kami bertiga kemudian bermain musik bersama di lapangan kecil itu. Pak Kusni memainkan gitar, sementara aku dan Ian bernyanyi. Kami memainkan beberapa lagu yang kami ketahui, dan Pak Kusni juga memperkenalkan kami pada beberapa lagu yang belum kami dengar sebelumnya. Setelah beberapa jam, kami memutuskan untuk pulang. Aku dan Ian mengucapkan terima kasih kepada Pak Kusni, dan berjanji untuk datang lagi ke lapangan kecil itu.


Ketika aku tiba di rumah, aku memainkan gitar yang ada kamarku, ku petik senar gitar itu kemudian bernyanyi beberapa lagu yang aku suka. Tetapi setelah beberapa menit aku mulai bosan untuk bermain gitar dan memilih untuk membaca buku saja tetapi rasa bosanku benar-benar membuatku malas berbuat sesuatu.


Ku lemparkan buku yang baru saja aku baca dan aku langsung pergi ke tempat tidurku, dan langsung memainkan ponselku untuk mencari sesuatu hal yang menarik. Tak lama Bintang menelepon ku.


“Oi...” Jawabku sambil mengangkat telepon Bintang.


“Thanks ya lu sama yang lain udah jenguk gua.” Ucap Bintang dengan nada sedikit gembira.


“Santai aja, tapi nggak gratis lo. Setelah lu balik ke sekolah lu harus traktir bocah-bocah makan di kantin.”


“Anjing bet lu.” Ucap Bintang dengan nada kesal.


Aku menutup teleponnya dan langsung berbaring di tempat tidurku, rasa kantuk tiba-tiba menyelimuti diriku dan aku langsung tertidur.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2