
Tiga hari setelah aku dan yang lainnya menjenguk Bintang, Bintang sudah kembali bersekolah, aku menghampirinya sebelum aku duduk di tempat dudukku.
“Gimana rasanya sakit sampe dirawat?” Ucapku kepada Bintang yang sedang duduk di kursinya.
“Lu berharap apa?” Bintang melihat ke arahku. “Wah seru sekali aku mau lagi gitu.”
Aku tertawa. “Kali aja. Lagian lu sakit kagak makan nge, bego lu.”
“Hah...” Bintang menghela nafas. “Mau jujur terlalu awkward.”
“Yaudah ntar istirahat traktir bocah-bocah makan.”
“Anjing... Masih di bahas tuh.”
Aku tertawa dan kembali duduk di tempat dudukku. Setelah selesai jam pelajaran pertama bel istirahat pun berbunyi, aku berjalan menghampiri Dila yang sedang duduk bersama Windi di tempat duduknya.
“Dila...” Ucapku sambil mengambil kursi yang kosong dan kusimpan di samping Dila.
Dila tersenyum manis. “Iya...”
“Mau ke kantin nggak, kebetulan Bintang udah janji kalau dia udah masuk sekolah bakal traktir kita.”
Bintang yang mendengar aku menyebut dirinya akan mentraktir yang lainnya langsung berjalan mendekatiku.
“Sialan lu Den.”
“Ya lah, lu udah janji ke gua, kalau lu udah masuk sekolah lagi, lu bakal traktir bocah-bocah.”
“Kapan gua bilang gitu sat?”
“Alasan mulu lu.”
“Iye... Iye... Gua traktir lu semua air putih aja.” Ucap Bintang sambil berjalan meninggalkan kelas untuk menuju kekantin.
Aku mengajak Dila untuk pergi kekantin bersamaku. “Ayo...”
“Iya ayo.”
Sesampai di kantin aku, Bintang, Windi dan Dila duduk di kursi biasa kami duduk, tetapi Ian dan Desi belum datang kekantin, padahal biasanya mereka berdua yang selalu duluan kekantin.
“Si Desi sama Ian mana?” Ucapku bertanya kepada Windi dan Dila.
“Kagak taulah gua dari tadi sama kalian terus.” Jawab Windi
“Benar biar aku telepon mereka. “Ucap Dila sambil mengeluarkan ponselnya kemudian menelepon Ian dan Desi.
Setelah menelepon mereka berdua Dila berkata kalau mereka akan sedikit telat karena Desi meminta antar Ian untuk pergi ke fotocopy.
“Yaudah kalian berdua mau pesan apa?” Tanya Windi kepadaku dan Bintang.
“Gua pesen mie ayam aja.” Jawab Bintang. “Sama teh manisnya 1.”
“Kalau kamu Den pesan apa?”
“Pesan nasi goreng aja tapi jangan pedes soalnya maag aku lagi kambuh, sama air mineralnya satu.”
“Lemah bet lu anjir nggak pake pedes.” Bintang meledekku.
“Yaudah, aku sama Windi pesan makanan dulu ya.”
“Oh iya jan lupa bilangin ke ibu kantin, hutang-hutang punya si Deni ntar di bayar sama si Bintang gitu.” Ucapku kepada Dila dan Windi.
“Si anying sejak kapan gua jadi rekening lu bangsat.” Ucap Bintang sambil memukul tubuhku.
Aku hanya tertawa kecil tak terlalu lama Dila dan Windi datang sambil membawa makanan yang tadi kita pesan.
“Ini pesanan kamu nasi goreng yang nggak pedes.” Ucap Dila sambil meletakan makananku di depanku.
Aku tersenyum. “Makasih Dila.”
“Nih makanan punya lu, mie ayamnya.” Ucap Windi kepada Bintang.
Bintang tersenyum. “Makasih ayang.”
“Apaan si, Tang jangan freak.” Ucap Windi kepada Bintang dengan nada kesel.
“Kenapa ayang?” Ucap Bintang sambil tersenyum.
“Jangan ayang.”
“Ini seharusnya wajar ya Win.”
“Nggak ya Tang alay.”
“APANYA YANG ALAY?” Ucap Bintang dengan nada yang nyolot.
“Lu nyolot lu ke gua lu?”
Bintang memelankan suaranya. “Apanya yang alay yang?”
“Ya... Ya tuh kan lu bakal gini, lu mau terang-terangan kalau kita jadian?” Ucap Windi dengan nada kesal.
“Gua padahal udah mau nyebarin undangan untuk selamatan karena kita udah jadian.”
“Astaghfirullah...” Windi duduk sambil meletakan sendok yang ia pegang, kemudian langsung memegang kepalanya.
“Win pacaran sama gua bukan aib Win.”
“Ya masalahnya gua nggak pernah pacaran.”
“Gua pacar pertama lu, seneng banget deh gua.” Ucap Bintang dengan nada senang. “Den gua pacar pertama Windi ego.” Ucap Bintang kepadaku yang sedang mengobrol sama Dila.
__ADS_1
“Oke... Win lu mau putusin Bintang kapan?” Tanyaku kepada Windi sambil tersenyum.
“Mulut.” Ucap Bintang dengan nada ngegas.
“Pacar pertama kelinci percobaan ya?”
“Kagak ego, gua yang pertama dan terakhirnya Windi.”
“Emang iya Win?” Ucapku bertanya kepada Windi.
“Au dah gua.” Ucap Windi yang sudah kesal.
Aku dan Dila hanya tertawa melihat tingkah Bintang dan Windi. Tak lama Ian dan Desi datang menghampiri kita yang sedang makan.
“Yo mahkluk berbisa, lama banget lu dateng.” Ucapku kepada Ian dan Desi.
Desi langsung menghampiriku. “Ke siapa lu bilang makhluk berbisa?” Ucap Windi sambil memukul perutku.
“Aduh... Nggak ada lembut-lembutnya lu jadi cewek.” Ucapku sambil memegang tubuhku.
“Kamu si... Itu mulut asap ceplas ceplos aja.” Ucap Dila sambil tertawa.
“Ya gimana yang, udah jadi habit.” Ucapku kepada Dila sambil tersenyum.
“Yang... Yang... Jadian dulu lu baru bilang sayang.” Ucap Bintang dan yang lainnya kepadaku.
Dila hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Setelah beberapa menit berlalu Bintang, Ian, Desi dan Windi sudah masuk ke kelas terlebih dahulu, dan hanya meninggalkan aku dan Dila saja.
“Dila... Kamu pulang sekolah kosong nggak?” Tanyaku.
“Kayaknya kosong si, emangnya kenapa?” Tanya Dila penasaran.
Aku tersenyum. “Yaudah, nanti pulang sekolah kamu ikut aku.”
“Eh emangnya mau kemana?” Ucap Dila dengan nada penasaran.
“Ikut aja nanti.” Ucapku sambil berdiri dan mengajak Dila untuk pergi kekelas. “Ayo bentar lagi masuk.”
Dila tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya sambil berjalan di sampingku. “Iya deh iya.”
Setelah sampai di kelas aku dan Dila pun duduk di tempat duduk kita masing-masing, tetapi sebelum bel masuk berbunyi aku pergi terlebih dahulu kekelas Ian Dila yang melihatku langsung menghampiriku yang sedang berjalan keluar kelas.
“Kamu mau kemana?” Tanya Dila sambil memegang pergelangan tanganku. “Bentar lagi masuk.”
“Ah... Aku mau ke toilet dulu.” Ucapku sambil terkaget karena Dila menghentikan langkahku.
“Kalau boong yang pinter Deni... Toilet itu tempatnya di sebelah kanan kelas kita.” Ucap Dila sambil menunjuk Toilet yang memang berada di sebelah kanan sekolah tepatnya di dekat koprasi.
Aku tersenyum. “Sejak kapan toiletnya pindah, padahal kemarin kayaknya toiletnya masih di sebelah kiri.”
“Aku nanya, kamu mau kemana?” Tanya Dila dengan serius sambil menggenggam tanganku dengan keras. “Kamu mau bolos?”
“Nggak kok, nggak, aku nggak akan bolos.” Ucapku sambil memegang tangan Dila yang menggenggam pergelangan tangan kananku.
“Aku nggak akan kemana-mana Dila, dan ini juga sebentar nanti aku balik lagi kekelas, aku janji sama kamu aku nggak akan bolos kelas.” Jawabku meyakinkan Dila.
“Janji?” Dila melepaskan genggamannya.
“Iya...” Ucapku sambil tersenyum dan berjalan meninggalkan Dila untuk menuju kelas IPA 3.
Setelah sampai dikelas IPA 3 aku memanggil Ian untuk meminta tolong sesuatu.
“Ian sini.” Ucapku memanggil Ian yang sedang duduk di tempat duduknya.
Ian pun keluar dari kelasnya dan menemui ku. “Apaan?”
“Lu bawa motor kan sekarang?”
“Iya gua bawa, emangnya kenapa?”
“Gua pintem tar pulang sekolah.”
“Ya terus ntar gua balik ke gimana ege?”
“Lu ikut aja sama temen kelas lu, atau nebeng sama si Bintang.”
“Emangnya lu mau kemana?” Ucap Ian sambil mengeluarkan kunci motornya.
Aku langsung mengambil kunci motor Ian dan berjalan menuju kelasku. “Yo... Makasih, gua balik dulu ke kelas.”
“Sialan lu.” Ucap Ian sambil masuk kembali ke kelasnya.
Aku berjalan menuju kelas, ku lihat Dila masih menungguku di depan pintu kelas. “Kamu masih nungguin aku?”
Dila tersenyum. “Aku takut kamu nggak balik lagi.”
Aku hanya tertawa kecil. “Hehehe. Yaudah ayo masuk.” Ucapku sambil mengajak Dila masuk ke kelas.
Jam pelajaran pun selesai bel pulang sekolah pun berbunyi aku, Dila, Bintang dan Windi sedang mempersiapkan diri untuk pulang.
“Den gua nggak bisa nganter lu pulang ya, gua mau nganter ayang gua dulu.” Ucap Bintang sambil tersenyum kepadaku.
“Apaan si Tang, gua pukul lu kalau terus bilang ke gitu.” Ucap Windi yang mau memukul Bintang.
“Hehehe. Iya iya.”
“Iya... Gua juga ada acara balik sekolah.” Ucapku kepada Bintang.
“Acara apaan, kok tumben lu nggak ngajak gua?”
“Berisik bet lu, tuh anterin cewek lu ntar dia ngamuk lagi.” Ucapku sambil berjalan menuju tempat duduk Dila.
__ADS_1
“Ape lu den?” Ucap Windi dengan nada ngegas.
Aku tak menghiraukan perkataan Windi. “Udah selesai?” Ucapku kepada Dila. “Ayo.” Ucapku sambil mengajak Dila pergi dari kelas.
“Oi Den lu mau kemana, ampe ajak-ajak Dila segala.” Teriak Bintang yang melihatku berjalan meninggalkan kelas.
Aku tersenyum. “Gua mau ke KUA.”
“Udah tutup ego.”
Aku yang melihat Dila tersenyum dengan candaan ku membuat aku semakin menyukai senyumnya, dan aku selalu berharap untuk bisa terus menikmati senyumnya di setiap hariku.
“Eh Den kita mau kemana?” Ucap Dila sambil berjalan bersamaku menuju gerbang sekolah.
“Udah ayo ikut aja.”
“Eh tapi itu kamu mau kemana, kan kalau kesana ke parkiran motor bukan ke gerbang sekolah?” Ucap Dila yang melihatku berjalan terlebih dahulu.
“Ya kita naik motor ke sananya.”
“Bukannya motor kamu masih di bengkel ya?”
Aku tersenyum. “Ya sekarang kita mau dulu di parkiran.”
Dila tertawa kecil. “Terus kalau ketangkep gimana loh pas kita lagi ngebegal?”
“Ya nggak papa tinggal jadiin kamu sandra aja, ntar aku bisa bebas.”
Dila cemberut terus berlari mendekatiku sambil memukul perutku dengan sangat keras. “Rasain tuh pukulan aku. Hehehe.”
Aku hanya tersenyum sambil memegang perutku yang baru saja Dila pukul, kemudian aku mengambil motor Ian yang memang terparkir di bawah pohon mangga.
“Ayo naik.” Ucapku sambil melajukan motor Ian ke dekat Dila.
“Eh... Bukannya ini motor Ian ya, kenapa ada di kamu?”
Aku tersenyum. “Kata Ian suruh buang aja motornya, nggak butuh.”
Dila hanya tersenyum kemudian menaiki motor, aku dan Dila pun meninggalkan sekolah dengan motor Ian yang tadi istirahat aku pinjam darinya, selama perjalanan aku bercerita banyak hal kepadanya, tentang apakah kucing itu jalan pake kaki atau tangan, tentang apakah orang gagap suara hatinya juga gagap, dan juga tentang hujan apakah hujan itu berasal dari laut tetapi kenapa tidak asin.
Setelah beberapa waktu aku mengendari motor akhirnya aku sampai di sebuah lapangan kecil yang kemarin aku dan Ian datangi kemari, dari kejauhan ku lihat seorang pria paruh baya yang sedang memainkan gitarnya di tengah lapangan, dan ya pria itu pak Kusni.
“Ayo...” Ucapku kepada Dila sambil turun dari motor yang aku kendarai.
“Kita mau ngapain di sini?” Ucap Dila sambil mengikuti ku berjalan dari belakang.
Aku tak membalas perkataan Dila dan hanya terus berjalan ke tempat pak Kusni berada, sesampai di tempat pak Kusni aku langsung menyapanya. “Sore pak.”
Pak Kusni menoleh ke arahku. “Oh Deni... Tumben nggak bareng sama Ian, kamu sama siapa itu.”
Aku tertawa kecil. “Deni sengaja pak datang kesini berdua.” Aku dan Dila duduk di kursi yang ada di dekat pak Kusni. “Oh iya pak, kenalin ini Dila.”
Pak Kusni tersenyum melihat Dila yang datang bersamaku. “Dila ya, bapak sekilas liat kamu itu kayak almarhum istri bapak.”
Dila tersenyum. “Makasih pak.”
“Dan juga melihat kalian berdua itu serasa bapak melihat masa lalu bapak terulang kembali.”
Aku yang mendengar perkataan pak Kusni tersenyum sambil mendengar pak Kusni bercerita. “Eh iya pak, Deni kesini tuh mau nunjukin sama Dila ada seorang seniman yang luar biasa dalam menyanyikan sebuah lagu.”
Pak Kusni tersenyum. “Jangan di lebih-lebihkan, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Yaudah karena kalian ada di sini bapak mau nyanyiin lagu untuk kalian berdua. “
Pak Kusni mulai ambil posisi lalu mulai membunyikan genjreng-genjreng dari gitarnya yang di penuhi banyak stiker itu. “Andai kau izinkan... Walau sekejap memandang... Ku buktikan kepadamu... Aku memiliki rasa...”
Suara pak Kusni sangat merdu, mirip dengan penyanyi aslinya Iwan Fals.
“Cinta yang ku pendam... Tak pernah amu nyatakan... Karena kau telah memilih... Menutup pintu hatimu.”
Dila sangat terkagum dengan suara dan nyanyian dari pak Kusni dia memperhatikan setiap detik saat pak Kusni sedang bernyanyi sambil menikmati dan mengikuti lagu yang pak Kusni nyanyikan. Aku yang melihat Dila menikmati lagu yang pak Kusni nyanyikan hanya menikmati Dila sambil tersenyum ke arahnya.
“Izinkan aku membuktikan... Inilah kesungguhan rada... Izinkan aku menyayangimu...”
Setelah beberapa waktu akhirnya aku dan Dila izin untuk pulang dari lapangan itu kepada pak Kusni, sambil berjalan menuju motor yang aku parkirkan tak jauh dari lapangan, ku lihat awan yang sudah mendung dan tak lama lagi hujan.
“Dila ayo, nanti kehujanan.” Ucapku sambil mengeluarkan motor dan menyuruh Dila naik.
Dila tersenyum. “Emangnya kenapa kalau kehujanan.”
Saat Dila bilang seperti itu hujan pun turun, hujan yang tak besar tapi tak juga kecil, aku tersenyum melihat Dila bisa menikmati hal-hal sederhana yang biasa aku hindari.
“Yaudah ayo kita hujan-hujanan aja.”
Aku dan Dila pun menyusuri jalan yang hujan dengan motor yang aku pinjam dari Ian, ntah kenapa aku sangat senang dengan hal sederhana di mana aku dan Dila kehujanan di motor.
“Dila...” Ucapku dengan nada lembut sambil mem-perhatikan jalan.
“Iya...”
Sambil terus memperhatikan jalan, aku mengalihkan pandangan ke arah Dila yang masih menikmati kehujanan itu. Wajahnya yang basah terlihat begitu indah, dan senyumnya yang cerah membuat hatiku hangat meskipun kami sedang kehujanan.
“Kamu tahu nggak betapa cantiknya dirimu saat kehujanan gini ini?” ucapku dengan suara lembut.
Dila terkejut dengan perkataanku dan berbalik melihat-ku. “Hah... Apa maksudnya?”
“Aku hanya ingin mengatakan bahwa kamu sangat cantik, bahkan dalam keadaan apa pun. Aku senang bisa berada di sampingmu di saat-saat seperti ini.” ucapku sambil melihat wajahnya dari kaca spion motor.
Lampu merah pun menghentikan laju motor yang aku kendarai. Aku melihat wajah Dila yang semakin merah, dan aku tahu bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku. Aku berkata dengan tegas, “kamu tahu, sejak kita pertama kali bertemu, aku merasa seperti ada yang berbeda denganmu. Aku merasa nyaman ketika bersamamu dan aku merasa seperti kamu adalah seseorang yang aku ingin kenal lebih dalam.”
Namun, sebelum aku bisa melanjutkan perkataanku, motor kami bergerak lagi dan kami terjebak dalam keheningan yang menyedihkan dan hujan pun mulai mereda, aku sangat menyesal karena tidak bisa mengungkapkan perasaanku pada Dila sesampai dirumah Dila, Dila masuk kerumahnya sambil berpamitan kepadaku. Aku hanya tersenyum saat Dila memasuki rumahnya.
Mengiramu mencintai isi kepalaku Adalah kesalahpahaman yang terus aku benarkan. Hatimu yang awalnya terikat mati semudah itu mencair. Tapi, alasannya bahkan bukan sebait tentangku.
__ADS_1
...****************...