
Setelah selesai acara makan-makan BBQ ak mencuci tanganku di kolam renang yang ada di sana tetapi Dila memarahiku karena melihatku akan cuci tangan di kolam renang.
“Kamu ngapain cuci tangan di kolam renang?” Ucap Dila yang ingin cuci tangan juga tapi tidak di kolam renang melainkan di dapur atau di kran air yang ada di sana.
“Terus di cuci tangannya di mana?”
“Ayo ikut.” Dila menarik tangan kiriku dengan tangan kirinya dan cuci tangan bersama di kran air yang ada di depan Villa.
Setelah selesai cuci tangan aku kembali ke tempat yang lainnya sambil memfoto-foto orang-orang yang ada di sana untuk dijadikan kenang-kenangan dan barangkali mereka ingin melihat foto-foto itu.
Aku menyuruh Dila untuk duduk di kursi dekat kolam berenang. “Dila coba kamu duduk dulu di sana.”
“Mau ngapain Den?” Dila menuruti perkataanku.
“Udah nurut aja.”
“Di sini?”
“Iya di situ.” Aku mengeluarkan ponselku untuk mem-fotonya.
“1... 2... 3...” Aku memberikan aba-aba untuk memfoto Dila.
“Ganti gaya.” Ucapku menyuruh Dila ganti gaya karena gayanya itu-itu saja.
“Ih nggak bisa.”
“Gaya gimana aja.”
“Ya udah gini aja.” Ucap Dila sambil mengangkat kedua jari tangannya ke dekat dagunya.
“Iya gitu bagus.”
Dila menghampiriku untuk melihat hasil fotonya. “Mana? Coba liat.”
Dila tersenyum. “Ih bagus.”
Setelah selesai semua acara di luar kita semua memasuki Villa untuk beristirahat di sana. Tetapi ada juga yang langsung tidur dan ada juga yang melanjutkan untuk karaoke dan main kartu.
“Oi, Den main kartu sini.” Ucap Zahid yang melihatku memasuki Villa dan langsung mengajakku bermain kartu.
Aku yang melihat Dila yang berada di sana langsung menghampiri mereka dan duduk di bawah sofa. “Ya udah gas.”
“Siapa aja yang main nih?” Ucapku bertanya pada Zahid yang tadi mengajakku dan duduk di sana.
“Lu, gua, Hendrik sama Ravhy.” Ucap Zahid sambil mengocok kartunya sebelum dibagikan.
Aku bersama mereka bermain kartu tetapi ada juga yang sedang karaokean di atas sofa seperti Robi, Rahayu, Felia, Bintang, Yaksa, Yomi, Elis, Winda, Wanda, Windy, Bintang, Zaman, Alpin, Rofi, Windi dan Dila yang berada di atasku yang sedang duduk di sofa.
“Lu bakal menang nggak nih lawan gua?” Hendrik bertanya kepadaku.
Aku mengambil kartu yang telah Zahid bagikan. “Harusnya gua yang ngomong gitu ke elu.”
Aku bermain kartu bersama Hendrik dan yang lainnya karena saking serunya saat itu, Dila yang selalu tertawa saat itu sangat suka sekali menjambak rambutku sampai acak-acakan.
“Nahkan kata gua juga apa? Lu nggak punya bakat untuk menang lawan gua.” Ejek Hendrik dengan sombong, sementara dia berhasil memenangkan lima putaran berturut-turut dalam permainan kartu tersebut.
Aku kesal dengan Hendrik. “Bangsat emang.”
“Mainnya tukeran, jangan kalian yang main terus dong.” Ucap Windi dengan nada agak kesal kepada kami yang masih asyik bermain.
Hendrik, yang tak pernah ketinggalan untuk menimpali setiap komentar, menjawab dengan sombong, “Kek yang bisa aja lu?”
Windi, tanpa ragu, merebut kartu dari tangan Hendrik sambil mendorongnya pergi dengan sedikit kekuatan. “Minggir lu.” Desisnya tegas.
Julita meminta Ravhy untuk bermain dengan gaya yang menggoda. “Gua juga ikut, Vhy.”
Ravhy, dengan tatapan penasaran, bertanya kepada Julita yang duduk di sebelahnya, “Emangnya lu bisa main kartu?”
Julita dengan senyum manis mengambil kartu-kartu milik Ravhy. “Ya makannya itu, ajarin aku dong.”
Rofi mendekati Zahid dengan antusias. “Aku juga ikut, Zaid.”
Zahid memberikan kartu-kartunya kepada Rofi dengan senyuman. “Nah, coba main aja.”
Aku menatap para pemain baru dengan rasa penasaran. “Oi, yang serius aja ege? Masa gua harus lawan para betina?”
Hendrik tertawa dengan jenaka. “Skill pas-pasan lu memang pantes nya lawan mereka.”
Aku menghela nafas frustasi. “Taik emang.”
__ADS_1
Tiba-tiba, Dila turun dari sofa dan duduk di sampingku, meminta kartuku untuk menggantikan ku bermain dengan para betina yang baru bergabung. Aku memandangnya dengan sedikit keraguan.
“Emangnya kamu bisa main?” Tanyaku skeptis.
Dila dengan percaya diri mengambil kartu yang berada di tanganku. “Sama seperti kata si Julita, ajarin aku main.”
Mendengar perkataannya, terbersit senyuman di bibirku. Aku merasa senang bahwa Dila mau terlibat dalam permainan ini.
Dan orang-orang yang tadi main kartu digantikan oleh para wanita yang ingin main juga, Windi yang menggantikan Hendrik, Julita yang menggantikan Ravhy, Rofi yang menggantikan Zahid dan Dila yang mengingatkanku. Karena para wanita ini tidak mengerti cara mainnya akhirnya setiap orang bermain berpasang-pasangan, dengan aku dan Dila, Zahid dan Rofi, Ravhy dan Julita, kecuali Windi yang memiliki dua orang sekaligus yang membantunya yaitu Hendrik dan Bintang.
Di permainan pertama Windi yang menang karena dibantu oleh Hendrik yang notabenenya Hendrik yang paling jago main kartu, di permainan kedua juga Windi kembali menang Sampai dia memenangkan tiga kali berturut-turut, setelah permainan keempat sampai terakhir yang jadi pemenangnya bergiliran tetapi tidak dengan aku dan Dila yang tak pernah memenangkan permainan itu sekalipun. Dari tujuh kali permainan, Windi memenangkan empat kali, Julita satu kali dan Rofi dua kali.
“Dila, lu salah milih pasangan kayaknya, soalnya si Deni bawaannya sebul (kalah) terus.” Ucap Hendrik mengejekku saat itu.
“Sabar ya Dila, si Deni emang nggak bisa diandalkan.” Ucap Windi sambil menepuk pundak Dila, Dila hanya ter-senyum saat itu tanpa mempedulikan menang atau kalah yang penting dia bisa tersenyum, tertawa dan bahagia saat itu.
Waktu berlalu tepatnya jam setengah satu malem semua orang masih saja energik, aku yang melihat Dila yang sudah terlihat mengantuk langsung mengajaknya untuk tidur dilantai atas dan Bintang juga mengajak Windi untuk tidur juga. Semua kamar dilantai bawah sudah penuh diisi oleh anak-anak yang tidur duluan ada juga yang tidur di sofa tempat tadi karaoke yaitu Elis, Robi, Felia, Windy, Alpin, Zaman, Yomi.
Aku, Dila, Bintang, dan Windi berjalan naik tangga menuju lantai atas. Namun, begitu kami sampai di sana, kami menyadari bahwa kedua kamar di lantai atas sudah penuh dengan teman-teman yang lain. Tidak ada tempat yang kosong, dan kami harus mencari solusi untuk tidur. Akhirnya, kami berempat memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di lantai atas. Windi dan Dila merebahkan diri di sofa, sementara aku dan Bintang mencari tempat di dekatnya dan tidur di tikar yang ada di lantai.
Saat melihatku duduk di atas tikar, Dila menanyakan posisi tidurku. “Kamu tidur di bawah, Den?” Dia bertanya dengan penuh perhatian.
Aku mengangguk, menunjukkan tempatku di tikar di sebelah Bintang. “Iya, aku tidur di sini bersama Bintang. Kamu dan Windi tidur saja di sofa.”
Dila tersenyum sambil memainkan rambutku yang sudah panjang. Sementara itu, Windi dan Bintang sudah terlelap tidur di sofa. Suasana di lantai atas menjadi tenang, hanya ada suara perlahan dari hembusan angin yang masuk melalui jendela terbuka.
Tetapi, meskipun suasana tenang, pikiranku masih di penuhi dengan pertanyaan Dila. “Kamu setelah lulus sekolah mau kemana?” Tanyanya dengan lembut, menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus.
Aku tersenyum lembut, bersandar di sofa tempat Dila tidur. “Rencanaku setelah lulus tidak langsung melanjutkan kuliah. Aku berencana untuk mengambil waktu sendiri, mungkin sekitar satu atau dua tahun setelah lulus baru akan kuliah.”
“Emangnya kamu mau ngapain dulu?” Tanya Dila dengan lembut, sambil membalikkan badannya dan melihat ke belakang punggungku.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. “Aku ingin melihat tempat-tempat yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan melihat senja yang lebih indah lagi walau mungkin tak akan seindah dulu.”
Dila tersenyum hangat, sambil terus memainkan rambutku dengan jemarinya. “Kamu masih tetap ya sangat menyukai senja, Den.”
Aku menundukkan kepala sedikit, tatapanku terfokus pada lantai. Suara langkah waktu terdengar pelan, menambah suasana haru di antara kami. Lalu, aku me-mutuskan untuk mengucapkan apa yang selama ini mengganggu pikiranku.
“Dila?” Panggilanku terdengar lembut dan ragu.
“Iya.” Jawabnya dengan suara serak, menunjukkan ketertarikan pada apa yang akan aku sampaikan.
Aku menggigit bibirku sejenak, mencoba meng-ekspresikan perasaanku dengan kata-kata yang tepat. “Apa kita masih bisa bertemu setelah hari ini berakhir, setelah kita lulus sekolah, dan bahkan setelah bertahun-tahun berlalu?”
Aku tersenyum getir, mengingat janji itu yang pernah aku buat. Yang entah akan dapat ku tepati atau tertikam mati oleh rindu yang tak terbayangkan.
Dila melanjutkan, masih dengan jemarinya yang lembut memainkan rambutku. “Terima kasih, Den, untuk tiga tahun yang tak terlupakan ini.” Lalu, dengan mata yang semakin berat, dia akhirnya terlelap. Tangannya yang tadi memainkan rambutku meluncur dan tanpa sadar menyentuh wajahku.
Hatiku berdesir, saat ini di dalam keheningan malam yang damai, remang cahaya bulan memancar lembut membelai wajah Dila yang sudah terlelap. Aku, yang duduk di sampingnya, merasa haru melihat ketenangan yang terpancar dari wajahnya yang tidak terganggu oleh dunia luar. Tanpa ragu, aku meraih jaketku yang tergantung di dekatku dan dengan lembut menyelimutinya, memberikan perlindungan dalam suasana malam yang sejuk.
Perlahan, aku merasakan kantuk yang menyergap tubuhku setelah hari yang panjang. Aku berbaring di bawah sofa yang menjadi tempat kami berdua tidur. Cahaya bulan yang temaram menyinari ruangan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding. Aku merasakan kehangatan dari jaket yang melingkupi Dila, mengingatkanku pada momen-momen indah yang telah kami lewati bersama.
Bintang, yang telah tidur duluan di sampingku, terlihat tenang dalam tidurnya. Sesaat, aku merenungkan segala perjalanan yang kami lalui bersama, dari tawa hingga tangis, dari perjuangan hingga kebahagiaan. Sekarang, di malam yang hening ini, kami beristirahat, berbagi ruang yang sempit namun penuh dengan kenangan yang tak terlupakan.
Mataku perlahan terpejam, dan dalam tidurku yang lelap, aku merasakan kehangatan dan kedamaian yang melingkupi kami berdua. Semoga saat ini dan masa depan kami akan selalu menjadi satu cerita yang indah, terjalin dalam takdir yang mempertemukan kami kembali, meski berjalan di jalur yang berbeda.
Dalam kegelapan yang pelan-pelan menghampiri, aku terlelap dengan senyuman di bibir, membawa harapan akan hari-hari yang akan datang.
Udara yang dingin menusuk tulang di pagi hari membuatku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Dengan mata yang masih terpejam, aku meraba-raba sekelilingku, mencoba mencari tahu waktu saat ini. Tiba-tiba, jariku menyentuh permukaan dingin jam dinding yang tergantung di Villa, dan dengan hati yang terkejut, aku melihat jarum menunjukkan pukul 5 pagi.
Meskipun tubuhku masih terasa lemas dan kantuk menghampiri, aku memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Langkahku yang ringan menuruni anak tangga memecah keheningan pagi. Kedamaian yang melingkupi Villa terasa begitu nyata di setiap sudutnya.
Saat mencapai lantai bawah, aku melihat pemandangan yang menarik. Sebagian besar dari anak-anak masih tertidur, tubuh mereka terbungkus kenyamanan tidur. Namun, beberapa di antara mereka telah bangun, terjaga oleh panggilan agama. Zahid, Rofi, dan Felia, dengan langkah hati-hati, tengah bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh.
Tenggorokanku terasa kering dan membutuhkan minuman segar. Aku melanjutkan langkahku ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa menghilangkan dahaga. Mengisi gelas dengan air dingin, aku menghirupnya dengan nikmat. Tetesan air sejuk yang meluncur melewati tenggorokanku memberikan kelegaan, mengembalikan energi yang terkuras dalam tidurku.
“Oi Den, sini sholat subuh berjamaah dulu mumpung lu satu-satunya orang yang udah bangun.” Ajak Zahid kepadaku yang sedang meminum air yang berada di atas meja makan.
“Bentar.” Aku meneguk air itu dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah aku selesai dikamar mandi aku ikut sholat berjamaah dengan Zahid, setelah selesai sholat aku pergi ke dapur untuk menyeduh Energen untuk mengganjal perut ku yang sepertinya sudah lapar. Aku yang sudah menyeduh Energen pun kembali kelantai atas kulihat dari kejauhan saat aku menaiki anak tangga untuk kelantai atas seperti-nya Dila dan yang lainnya masih tertidur dengan lelapnya, sambil melewatinya aku berjalan menuju teras lantai atas untuk menikmati pagi yang dingin saat itu, di temani minuman hangat yang baru saja aku buat dan lagu dari Kunto aji yang berjudul Rehat yang aku nyalakan dari ponselku.
Sambil berdiam diri di sana tak terasa setengah jam berlalu, minuman hangat yang tadi masih utuh di cangkir pun sudah dingin dan habis. Aku melihat Dila yang berdiri di samping pintu sambil mengenakan jaketku untuk menghangatkan tubuhnya, dia menatap ke arah langit yang sedikit demi sedikit mulai cerah.
“Kamu nggak dingin apa di luar sini nggak pake jaket?” Tanya Dila kepadaku yang sedang duduk di kursi teras lantai atas itu
Aku tersenyum ke arah Dila. “Sedikit kok.”
“Ini pakai jaket kamu, aku soalnya udah pake jaket.” Dila melepas jaketku dan memberikan jaketnya padaku.
__ADS_1
Aku mengenakan jaketku yang Dila berikan. “Makasih.”
“Ayo ke bawah kita sarapan.” Ajak Dila kepadaku untuk sarapan dilantai bawah.
“Iya ayo.” Aku berjalan mengikuti Dila dari belakang sambil membawa cangkir yang barusan aku bawa dari dapur.
Aku yang melihat Bintang yang masih tertidur dengan lelapnya mencoba membangunkannya. “Oi bangun lu, jangan tidur mulu.”
“Bentar 5 menit lagi.” Bintang malah berbalik badan.
“Serah lu deh.” Aku kembali berjalan mengikuti Dila dan menuruni anak tangga itu.
Sesampai di bawah aku menuju tempat makan untuk sarapan pagi bersama Dila, namun tak hanya kita saja yang saat itu sedang sarapan tetapi ada Zahid, Rofi, Felia, Robi dan Julita yang kebetulan sarapan bersama. Setelah selesai sarapan aku pergi keluar Villa untuk berjalan-jalan di pagi yang cukup cerah saat itu, tetapi dari kejauhan aku men-dengar seseorang yang memanggil namaku dan orang itu adalah Julita.
“DENI...” Teriak Julia kepadaku yang sedang berada di kursi taman.
“APA...” Aku menghampiri Julita.
“Lu udah mengungkapkan perasaan lu sama Dila?”
Aku tertawa kecil. “Belum.”
“Bentar lagi anak-anak mau pulang juga jam 9.”
“Emang sekarang jam berapa?” Tanyaku kepada julita yang berdiri di hadapanku.
“Jam 8.” Katanya sambil melihat jam di ponselnya.
“Gua ragu mau bilangnya.” Ucapku sambil berjalan menuju Villa.
“Gila aja lu nggak mengungkapkan perasaan lu, kalau lu sekarang nggak mengungkapkan perasaan lu, lu belum tentu setelah ini berakhir bakal ketemu dia lagi atau nggak?” Julita kepadaku sambil berusaha memotivasi ku.
Aku memasuki Villa. “Iya iya gua bakal berusaha.”
“Lu belum siap-siap nge?” Hendrik bertanya kepadaku yang baru saja kembali.
“Baru juga jam berapa.”
“Lu mau kita tinggalin?” Tanya Zahid kepadaku dan menyuruhku untuk siap-siap.
“Iya iya gua siap-siap.” Aku langsung pergi kelantai atas untuk mengambil tasku dan bersiap-siap.
Saat aku menaiki anak tangga untuk pergi ke lantai atas aku melihat Dila yang sedang menelepon seseorang di teras lantai atas, tanpa bersuara aku langsung memasuki kamar dan mengambil tasku sambil membereskan barang ku, setelah selesai aku membereskan semuanya aku berjalan keluar dari kamar. Dila yang melihatku keluar dari kamar memutuskan teleponnya dan menyapaku.
“Kamu udah selesai siap-siapnya?” Tanya Dila yang berjalan menghampiriku sambil membawa tasnya yang tadi berada di atas sofa.
Aku tersenyum ke arahnya tetapi dengan senyuman yang tak biasa. “Iya udah nih.”
“Ya udah ayo ke bawah.” Ajak Dila kepadaku sambil berjalan bersamanya menuju lantai bawah.
“Udah selesai semua? Ada yang ketinggalan nggak?” Zahid memastikan agar tidak ada barang yang tertinggal di Villa.
“Enggak kok.”Felia menimpali perkataan Zahid.
“Kalau memang nggak ada yang ketinggalan, ayo kita pulang.” Sambil berjalan keluar dari Villa.
Julita menepuk pundakku dan berjalan di hadapanku. “Jangan lupa, lu ungkapin perasaan lu.”
Aku yang melihat Dila yang sedang berjalan menuju pintu untuk menuju yang lainnya, langsung aku menghampirinya dan menarik tangannya.
“Dila, ikut dulu sebentar.” Ucapku sambil menarik Dila dan berjalan ke dekat kolam renang.
“Eh, mau kemana Den?”
Aku melepaskan tangan Dila dan berdiri di hadapannya. “Ada hal yang ingin Deni omongin sama Dila.”
Dila tersenyum. “Iya Den, mau ngomong apa?”
Jantungku tiba-tiba berdetak dengan cepat saat aku menatap mata Dila, aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya tetapi aku terlalu takut untuk mendengar jawaban darinya, tetapi aku juga takut kalau aku tidak meng-ungkapkannya aku tidak bisa bertemu lagi dengannya.
“Ini ada hadiah buat kamu dari aku, tolong jaga baik-baik ya.” Aku memberikan sebuah kotak yang berada di saku jaketku.
Dila menerima kotak itu. “Ini apa Den?”
“Nanti kalau udah sampai di rumah, kamu bisa buka aja ya.”
Dila tersenyum dan meninggalkanku. “Makasih.”
Kau tau Dila, saat itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, aku tak berani mengungkapkan perasaanku dan tak mau cukup jujur kepadamu, karena aku terlalu takut, Dila. Aku takut dengan perasaanku yang akan bertepuk sebelah tangan. Aku takut dengan jawabanmu yang tidak sesuai dengan ekspektasi ku. Aku juga takut saat kamu bilang 'aku udah mempunyai pria pilihanku sendiri'. tapi yang paling aku takuti adalah mengambil risiko untuk kehilanganmu, Dila. Entah kenapa semua kemungkinan-kemungkinan itu menjadi sebuah keputusan dalam hidupku yang membuatku tak bisa mencintai wanita lain kecuali dirimu, semua perasaanku sudah habis saat itu juga, dan kamu telah membawanya entah kamu menyadarinya atau tidak yang pasti kamu tetap tidak akan pernah tergantikan.
__ADS_1
Kamu memang bukan pacar aku, kita memang tidak ada ikatan, tapi aku menyayangimu. Aku takut kehilanganmu. Dan aku berharap berjodoh denganmu. Kamu adalah orang yang sangat spesial dalam hidup aku. Aku mencintaimu, meski saat ini kamu bukan milikku.
...****************...