
Di pagi hari ini setelah aku mandi aku bersiap untuk pergi kembali menuju rumah makan Rinjani, sambil menggunakan kaos berwarna putih di bungkus dengan kemeja yang berwarna biru dan juga celana jeans.
Ketika aku tiba di rumah makan Rinjani, aku melihat Rinjani yang tengah sibuk menjaga meja dan melayani pelanggan. Aku mendekatinya dengan langkah pasti. "Pagi, Rin."
Rinjani membalas sapaanku dengan senyum ramah. "Pagi juga. Kamu sudah siap? Mau makan apa hari ini?"
Aku hanya menjawab dengan senyum kecil, menunjukkan keinginanku. "Ayam bakar seperti kemarin, Rin."
Rinjani pun menulis pesananku dan pergi memberikan kertas itu kepada orang yang bertugas di dapur. “Sebentar ya, kamu bisa duduk dulu aja.”
Aku berjalan menuju tempat duduk seperti kemarin, kulihat kerupuk yang ada di meja makan itu dan aku pun memakannya, untuk mengganjal perutku sebelum nanti makanan yang aku pesan datang.
Aku mengikuti saran Rinjani dan mencari tempat duduk yang nyaman. Suasana rumah makan Rinjani kali ini terasa lebih hidup dengan kehadiran beberapa pelanggan yang sedang menikmati sarapan pagi. Aromanya yang menggoda tercium di udara, mengundang selera makan yang menggelora.
Aku menatap sekeliling, melihat interaksi antara Rinjani dan pelanggan lainnya. Rinjani dengan sabar melayani setiap permintaan dan dengan senyumnya yang hangat, menciptakan suasana yang ramah dan menyenangkan.
Ini makanannya," ucap Rinjani sambil meletakkan dengan hati-hati piring ayam bakar yang masih mengeluarkan asap segar di depanku.
“Makasih ya, Rin.” Sambil memperhatikan dengan penuh kekaguman hidangan yang terhidang di hadapanku. Aroma rempah yang menggoda menyelusup ke dalam hidungku, menggugah selera yang sejak tadi sudah menganga.
Rinjani, yang duduk di hadapanku, juga bersiap untuk menikmati hidangannya sendiri. Tatapannya penuh harap menatapku. "Eh, jadi sekarang kita mau kemana, Deni?"
Aku memikirkan sejenak pilihan yang ditawarkan Rinjani. "Terserah, Rin, aku akan ikut aja."
Rinjani tampak memutar otaknya, berusaha mencari tempat yang cocok untuk kami kunjungi. "Hmm, bagaimana dengan bukit Selong? Tempatnya agak jauh dari sini, tapi tepat di belakang gunung Rinjani."
Aku mengangguk setuju, tertarik dengan pilihan Rinjani. "Kita bisa pergi ke sana, Rin. Aku suka suasana yang tenang dan sunyi."
“Yaudah kita kesana aja.”
Setelah aku selesai makan, Rinjani dan aku bergegas menuju parkiran tempat mobil Jeep sewaanku terparkir. Sinar matahari pagi menerobos melalui pepohonan, menciptakan bayangan yang menari-nari di sekitar kami. Rinjani dengan penuh semangat naik ke sisi penumpang, sedangkan aku memasuki posisi pengemudi, siap untuk melibas perjalanan menuju bukit Selong yang berada di belakang gunung Rinjani.
Aku menghidupkan mesin mobil, merasakan getaran dan kekuatan mesin yang siap membawa kami ke tempat tujuan. Rinjani memberikan petunjuk jalur yang harus aku ikuti, mengingatkan bahwa perjalanan menuju bukit Selong dengan mobil bisa memakan waktu yang agak lama. Dia menyebut perkiraan waktu sekitar dua jam hingga kami mencapai tujuan akhir.
Aku mengangguk, memperhatikan jalur yang harus dilewati dengan seksama. Rute perjalanan kali ini akan membawa kami melewati jalan-jalan yang berkelok-kelok, melintasi bukit-bukit yang hijau, dan menghadapi tantangan medan yang mungkin menantang. Namun, semangat petualangan dan keingintahuan yang membakar dalam diriku membuatku tak sabar untuk menjelajahi keindahan bukit Selong.
Dengan hati penuh antusiasme, aku menginjak pedal gas perlahan, menggerakkan mobil Jeep itu maju. Kami berdua merasakan getaran dari setiap ketukan roda yang menghadapi jalanan yang tak selalu mulus. Meskipun perjalanan yang cukup panjang menanti, aku sudah siap menghadapi apa pun yang akan kami temui di sepanjang perjalanan menuju bukit Selong yang menjanjikan.
Setelah melalui perjalanan yang tak mudah selama dua jam, aku dan Rinjani akhirnya tiba di puncak bukit Selong. Mobil Jeep berhenti di area parkir yang terletak di pinggir bukit, memberikan kami pemandangan yang menakjubkan di sekitar.
Aku keluar dari mobil, merasakan angin sejuk yang menyapu wajahku, serta keindahan panorama yang terbentang di hadapanku. Bukit Selong, dengan pepohonan hijau dan hamparan padang rumput yang luas, menjadikan pemandangan ini begitu memukau. Di kejauhan, gunung Rinjani menjulang gagah dengan puncaknya yang terbungkus awan putih.
Kami berdua berjalan mendekati tepi bukit, menyaksikan panorama alam yang memukau. Di bawah sana, lembah yang hijau terhampar dengan aliran sungai yang menambah keindahan lanskap. Langit biru cerah menghiasi pemandangan ini, dengan sinar matahari yang menyinari segala sudut dengan kehangatan.
Rinjani berdiri di sampingku, senyumnya terpancar dalam kesenangan. “Lihatlah keindahan ini, Deni. Bukit Selong memang tempat yang luar biasa, kan?”
Aku hanya bisa terpesona, mengamati keindahan alam yang begitu memukau. Dalam hatiku, aku merasa beruntung bisa menikmati momen indah di atas bukit Selong yang telah aku raih setelah perjalanan yang panjang tadi.
"Sejuk juga di sini, dan lagi pemandangannya sangat bagus." Ucapku sambil duduk di depan mobil, merasakan semilir angin pegunungan yang menyentuh wajahku dengan lembut. Sambil menatap keindahan bukit Selong, aku merasa seperti terbawa oleh pesona alam yang begitu menenangkan.
Rinjani duduk di sampingku, memandangi pemandangan yang sama. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa sampai ke Lombok? Padahal kamu dari Bogor?" tanyanya sambil menatapku penuh rasa ingin tahu.
Aku memikirkan jawaban yang tepat, mencoba merangkai kata-kata untuk menjelaskan kebetulan dan takdir yang membawaku ke pulau ini. "Aku hanya mengikuti arah angin aja, Rin. Kadang-kadang, kehidupan mempertemukan kita dengan hal-hal tak terduga, dan aku tiba-tiba terdampar di sini."
__ADS_1
Rinjani memperhatikan wajahku dengan seksama, seperti mencari jawaban yang lebih dalam. "Mana bisa gitu, kan semua itu pasti ada sebab akibatnya, dan kamu bisa sampai di sini juga pasti ada sebabnya?" ujarnya dengan penuh keyakinan.
Aku tersenyum mendengar kata-kata Rinjani, merasakan kehangatan dari pandangan matanya yang penuh pemahaman. "Aku juga nggak tau gimana menjelaskannya, Rin. Kadang-kadang, takdir memainkan peran yang sulit dipahami, dan mungkin ada alasan tertentu mengapa aku berada di sini."
Rinjani mengangguk mengerti, lalu melanjutkan, "Aku baru kali ini lihat orang yang liburan kesini hanya sendiri, biasanya kalau nggak sama pasangannya ya sama keluarganya."
Aku pun bergumam dan memikirkan kata-kata dari Rinjani yang mengingatkan aku tentang pasangan. Setiap kata tersebut seperti menusuk hatiku yang masih terluka. "Pasangan ya."
"Iya," ucap Rinjani sambil menganggukkan kepala.
Saat Rinjani menyebut kata "Pasangan" seketika itu juga aku teringat sosok Dila. Bayangan pertemuan kami yang penuh kehangatan, senyuman yang kami berikan satu sama lain. Teringat saat kami berdua berada di puncak, menghabiskan malam yang tak terlupakan. Namun, semuanya berakhir dengan perpisahan yang tidak bisa kuhalangi.
Dalam sekejap, air mataku mulai menetes tanpa aku sadari. "Ah, maaf-maaf," ujarku sambil mencoba menyembunyikan kesedihanku. "Aku malah ngelamun."
Rinjani, yang melihatku meneteskan air mata, segera meminta maaf kepadaku. "Maaf ya, aku nggak bermaksud membuatmu sedih. Kamu pasti punya alasan sendiri mengapa bisa sampai di sini."
Aku mencoba tersenyum, menghapus air mata yang menetes di mataku. "Nggak papa kok, barusan aku kelilipan." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. "Eh, setelah ini kita mau kemana?"
Rinjani bergumam sambil memikirkan tujuan selanjutnya. "Hmmm, sekarang baru jam berapa?"
Aku melihat jam tangan yang terpasang di pergelangan tanganku. "Baru jam dua."
Rinjani menarik napas, tampak memikirkan destinasi yang tepat. "Yaudah gimana kalau kita pergi ke bukit Malimbu aja?"
Aku tersenyum dan mengangguk setuju. "Kemarin aku sudah pergi ke sana sih, tapi yaudah nggak apa-apa. Suasana di sana memang indah."
Kami berdua naik ke mobil kembali dan melanjutkan perjalanan menuju bukit Malimbu, tempat di mana aku sempat menyaksikan keindahan senja kemarin sore. Sinar matahari terik masih menyinari perjalanan kami, dan pikiranku terus melayang pada Dila.
"Aku boleh nyalain tape-nya?" tanya Rinjani sambil menunjuk ke stereo mobil.
Rinjani pun menyalakan tape dan memutar sebuah lagu yang berjudul "Resah jadi Luka" dari Daun Jatuh. Aku melihat Rinjani yang asik mendengarkan lagu tersebut, dan hanya tersenyum kecil.
"Kamu suka lagu kayak gini?"
"Ehehehe, sedikit si. Kalau kamu suka lagu kayak gimana?" balas Rinjani dengan senyuman.
"Paling suka lagu-lagu dari Fourtwnty, yang saat ini sering aku dengarkan adalah 'Fana Merah Jambu'." aku menjawab sambil mengingat melodi dan lirik dari lagu tersebut.
Rinjani terkejut mendengar jawabanku. "Kamu suka lagu-lagu indie?"
"Aku suka lagu-lagu indie, tapi hanya sedikit."
Musik dari tape memenuhi ruangan mobil, menciptakan suasana yang lebih akrab di antara kami. Perjalanan kami dilanjutkan dengan irama musik yang mengiringi, kami menuju bukit Malimbu
Sesampai di bukit Malimbu, aku dan Rinjani turun dari mobil dan mulai berjalan menuju puncak bukit. Perjalanan menuju bukit Malimbu memakan waktu sekitar sepuluh menit dari lokasi kami saat ini. Udara di sekitar kami terasa segar dengan semilir angin yang lembut.
Aku melihat Rinjani yang terlihat antusias saat naik ke bukit ini. "Kamu suka kesini?" tanyaku, sambil merogoh saku celana untuk mengambil rokok.
Rinjani tersenyum. "Jarang sih, tapi setiap kali aku lagi kesal atau patah hati, aku selalu datang ke sini."
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Rinjani. Sementara waktu semakin mendekati pukul lima sore, sinar matahari mulai meluncur perlahan menuju cakrawala.
"Sebentar lagi akan ada sunset. Eh, kamu bilang kamu pernah kesini kan? Kapan itu?" Tanua Rinjani.
__ADS_1
"Kemarin." Jawabku sambil merapatkan kedua jari tangan untuk menyalakan rokok yang baru saja aku keluarkan.
"Jadi kamu menghabiskan sore yang sama di tempat yang sama?"
"Ya, bisa dibilang begitu." Jawabku sambil mengeluarkan asap rokok perlahan-lahan, menciptakan jejak berwarna abu di udara senja yang semakin mempesona.
Setelah sampai di bukit Malimbu, aku dan Rinjani duduk di kursi yang tersedia di sana, menikmati pemandangan laut yang berwarna biru yang mempesona dan langit yang mulai memancarkan warna jingga senja.
“Kamu suka senja?” tanya Rinjani sambil melihatku yang terdiam memandangi keindahan laut dan langit.
Seketika, ingatan tentang momen-momen indah bersama Dila saat menikmati senja di pantai dan di atas bianglala menyergap pikiranku. “Aku sangat menyukainya, bahkan ingin memilikinya sendiri,” jawabku sambil tersenyum.
“Memilikinya sendiri? Tapi bukankah senja itu milik semua orang?” tanya Rinjani, menunjukkan rasa keheranan.
Aku hanya tertawa kecil sambil menanggapi perkataan Rinjani. “Ahahaha, maaf-maaf, aku jadi ngelantur ngomongnya. Maksudku, aku ingin merasakan kedamaian dan keindahan senja itu secara pribadi, dalam momen-momen yang spesial bagiku.”
Rinjani mengangguk mengerti sambil tersenyum. Kami berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan di atas bukit Malimbu sambil menatap senja yang semakin memikat hati.
“Rin?” ucapku memanggil Rinjani yang berada di sampingku. Kami duduk di bukit Malimbu, dengan pemandangan senja yang semakin mempesona di hadapan kami.
“Jika kamu bisa menggunakan mesin waktu, kamu ingin gunain untuk apa?” tanyaku, menarik Rinjani ke dalam sebuah khayalan.
“Mesin waktu? Emangnya ada? Hmmm, aku nggak tau mau gunain buat apa. Kalau kamu misalkan bisa gunain mesin waktu, kamu mau ngapain?” balas Rinjani, dengan rasa penasaran.
Aku menatap senja yang semakin merah jingga, merenung sejenak sebelum menjawab. “Aku ingin bertemu seseorang yang sudah pergi dari hidupku. Aku ingin kembali ke saat-saat indah bersamanya, mengajaknya naik kapal, merasakan deburan ombak laut, dan tenggelam bersama-sama sambil bertemu dengan ikan paus.”
Rinjani hanya tertawa mendengar perkataanku yang mulai melantur. “Ahahaha, kamu itu beneran orang aneh ya, tapi terdengar romantis sih kalau bisa seperti itu.”
Aku hanya tersenyum kecil, menanggapi komentar Rinjani. Namun, dalam hati, aku tahu bahwa saat ini seharusnya aku sedang menikmati senja denganmu, Dila. Setelah kehilanganmu, aku kehilangan arah dalam hidup. Sejak kau pergi, tidak ada lagi wanita yang menarik minatku. Hanya kamu yang masih ada di hatiku.
Satu minggu berlalu, aku menghabiskan hari-hariku dengan Rinjani yang menjadi pemandu perjalananku di Lombok. Sebelum bersiap untuk melanjutkan perjalanan, aku memutuskan untuk berpamitan dengan Rinjani terlebih dahulu.
“Kamu serius mau pergi sekarang?” tanya Rinjani dengan raut wajah sedih.
Aku hanya tersenyum sambil melihat ke arah Rinjani. “Petualanganku masih panjang, Rin. Aku tidak bisa berhenti di sini. Terima kasih atas bantuanmu selama seminggu ini.”
Rinjani mengerutkan wajahnya setelah aku mengungkapkan niatku untuk pergi. “Hmm, gitu ya.”
“Tapi jangan khawatir, Rin. Suatu saat aku akan kembali ke sini, dan jika aku kembali, kamu mau menjadi pemanduku lagi?”
Rinjani tersenyum kecil. “Bukannya dalam seminggu ini kamu sudah hafal semua tempat wisata di sini?”
Aku tertawa kecil mendengar komentarnya. “Ahahaha, mungkin iya, tapi siapa tahu nanti akan ada banyak perubahan dan tempat baru yang akan aku jelajahi.”
Rinjani tersenyum penuh keramahan. "Iya, nanti kalau kamu kesini lagi, aku dengan senang hati akan menjadi pemandu petualanganmu lagi." Sambil berkata demikian, Rinjani memberikan sebuah kantong plastik yang berisi makanan kepadaku. "Ini makanan untukmu, siapa tahu nanti di perjalanan kamu akan lapar."
Aku mengamati kantong plastik itu dengan antusias. "Apa ini?"
Rinjani tersenyum lebar. "Makanan favoritmu, tentunya."
"Ayam bakar Taliwang, bukan?" tebakku sambil tersenyum.
"Tepat sekali! Selama kamu di sini, itulah menu makanan favoritmu," jawab Rinjani sambil mengangguk.
__ADS_1
Aku hanya bisa tertawa gembira sambil mengambil kantong plastik makanan dari tangan Rinjani. "Makasih banyak, Rin. Aku berangkat dulu ya."
Rinjani memberikan ucapan perpisahan dengan hati-hati. "Hati-hati di perjalanan."