
Kulihat dari kejauhan ada rumah makan dekat dengan pantai, dan aku pun berjalan kesana untuk mengisi perutku yang memang dari tadi pagi belum aku isi.
Ketika aku mendekati rumah makan yang terletak dekat dengan pantai, aroma harum rempah-rempah segera menyambut hidungku. Langkahku semakin mantap menuju pintu masuk yang dijaga oleh seorang ibu berusia paruh baya. Wajahnya penuh keramahan dan senyum hangat.
"Bu, di sini jualan makanan, ya?" tanyaku sambil menyapa dengan lembut.
Ibu itu tersenyum dan memberikan tanggapannya dengan penuh ramah. "Iya, tentu saja. Silakan masuk dan duduklah di salah satu meja."
Aku memilih meja yang berada di dekat jendela, memberikan pemandangan indah pantai Malimbu sebagai latar belakang. Tidak lama kemudian, ibu itu pergi ke dalam dapur untuk mempersiapkan pesanan.
Sementara itu, ibu memanggil anak perempuannya untuk melayani kebutuhanku, mengingat bahwa aku bukan orang lokal dan lebih nyaman berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Aku melihat anak perempuan itu menghampiriku dengan wajah ramah dan penuh keramahan.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan suara lembut.
"Apa ada menu makanan di sini?" tanyaku dengan rasa lapar yang semakin menggelisahkan.
"Ya, tentu saja. Silakan lihat dulu menu yang ada." jawabnya dengan senyuman hangat.
Aku memeriksa menu makanan dengan seksama, menggoda lidahku dengan beragam pilihan lezat. Akhirnya, pilihanku jatuh pada ayam bakar Taliwang yang terkenal, disertai dengan seporsi nasi putih.
"Ayam bakar Taliwang satu, dan satu porsi nasi putih juga, ya," pesanku dengan suara yang terdengar lapar.
"Baik, di tunggu ya." ucapnya sambil menuliskan pesananku dan menuju dapur untuk memberitahukan pesananku kepada ibunya.
Sambil menunggu makananku, aku mengambil ponselku dan mencoba mencari sinyal dengan harapan bisa terhubung dengan dunia luar. Namun, seperti yang kuduga, daerah ini sulit mendapatkan sinyal yang kuat. Setelah beberapa kali mencoba tanpa hasil, aku menyerah dan memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celana.
Tidak lama kemudian, pandangan mataku tertuju pada pemandangan yang membuat perutku keroncongan. Wanita yang tadi melayani ku membawa pesanan makananku dengan hati-hati dan menempatkannya di atas meja makan.
"Ini makanannya ya," ucapnya dengan senyum hangat, menurunkan piring berisi ayam bakar Taliwang yang menggoda dan sepiring nasi putih di sampingnya.
"Terima kasih," kataku dengan rasa lapar yang semakin tak tertahankan.
Setelah menikmati hidangan yang lezat, aku menghabiskan setiap suap ayam bakar dengan nafsu yang tak terbendung. Tidak ada sisa sedikit pun, dan aku merasa kenyang dan puas. Tanpa ragu, aku berjalan menuju anak perempuan yang melayani ku untuk membayar makananku dengan tulus dan berterima kasih sebelum bergegas kembali ke mobil Jeep yang menunggu di sisi jalan.
Perjalanan berlanjut menuju bukit Malimbu, yang memakan waktu sekitar setengah jam dari tempatku makan tadi. Ketika aku sampai, aku melirik jam tanganku, dan waktu menunjukkan setengah enam sore. Langit masih cerah, belum menunjukkan tanda-tanda gelapnya malam. Aku turun dari mobil Jeep dan memulai perjalanan menuju bukit, menempuh jarak sekitar sepuluh menit.
Sesampai di puncak bukit, pandanganku tertuju pada beberapa orang lain yang juga datang untuk menikmati pemandangan indah ini. Bukit Malimbu memang menjadi tempat yang paling tepat untuk menikmati matahari terbenam, dan saat ini, langit terlihat begitu menakjubkan. Senja yang memancar keindahan, melebihi segala ekspektasiku bahkan dari foto-foto yang pernah kulihat di Instagram.
Kalau boleh aku memotong senja itu, aku ingin memotong senja yang saat ini aku saksikan dengan apa pun itu, kemudian kumasukkan ke dalam amplop yang berwarna coklat dan aku kirimkan lewat tukang pos kepadamu Dilaku. Seperti dalam cerpen sepotong senja untuk pacarku yang di buat oleh seorang sastrawan terkenal yaitu Seno Gumira Ajidarma.
Kukirimkan sepotong senja untukmu, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Saat ini, di puncak bukit Malimbu, aku terdiam dalam kehampaan yang melanda. Senja yang tampak begitu indah dan sempurna di hadapanku, namun dalam relung hatiku, tetap ada kekosongan yang tak terisi. Aku datang ke sini dengan harapan bahwa senja akan menyembuhkan luka yang teramat dalam akibat kehilanganmu. Namun, kenyataannya, kehadiran senja ini hanya semakin memperbesar rasa sakit di hatiku, karena tanpamu, senja ini tidak berarti apa-apa.
__ADS_1
Dalam kehampaan ini, kesadaranku semakin dalam bahwa tidak ada yang dapat menggantikanmu, Dila ku. Senja yang berwarna-warni dan menakjubkan ini terlihat begitu kecil dan tak berarti jika dibandingkan dengan kehadiranmu yang selalu mengisi setiap sudut kehidupanku. Tanpamu, senja ini hanyalah bayangan kosong, tak mampu memberikan arti atau kesembuhan yang aku harapkan.
Aku teringat betapa indahnya senja yang pernah kita saksikan bersama, saat kita berbagi cerita dan canda tawa di tepi pantai. Senja itu memiliki makna yang begitu dalam bagi kita, karena kita mengisi waktu itu dengan kebahagiaan dan kehangatan bersama. Kini, ketika senja datang lagi, ia hanya mengingatkan aku pada kehilanganmu yang tak tergantikan.
Aku berlutut di tanah. Rasanya seperti terjebak dalam labirin kegelapan yang semakin dalam, dan senja ini tak mampu menuntunku keluar dari situasi yang menyiksaku. Bagaimana mungkin aku bisa menemukan kedamaian dalam senja ini jika dirimu tidak lagi bersamaku?
Tak ada kata-kata yang mampu mengungkapkan betapa aku merindukanmu, betapa rindu ini meluluhkan hatiku. Senja ini hanyalah cerminan kehilangan yang kurasakan dalam-dalam, dan aku harus belajar menerima bahwa tidak ada senja yang akan pernah seindah dan sebermakna seperti senja saat bersamamu, Dilaku.
Setelah matahari terbenam di balik cakrawala, langit berubah menjadi perpaduan warna merah tua dan jingga yang memancarkan keindahan yang tak tergantikan. Aku melangkah dengan langkah perlahan menuju mobil Jeep, membiarkan angin senja yang sejuk mengusap wajahku. Sinar senja yang memudar perlahan menggambarkan kehampaan dalam hatiku yang semakin nyata.
Setelah sampai di penginapan aku pun masuk ke dalam kamarku. Di dalam kamar, suasana hening menyambut kedatanganku. Aku melangkahkan kaki ke dalam kamar yang sederhana namun nyaman. Aroma harum dari minyak wangi menyebar di udara, menciptakan atmosfer yang sedikit lebih tenang. Dalam kegelapan yang menyelimuti ruangan, aku merasakan kelelahan fisik dan emosional yang begitu mendalam.
Aku meletakkan barang-barangku dengan hati-hati, membiarkan beratnya tubuhku terhempas di atas kasur yang empuk. Pikiran-pikiran tentangmu masih menghantui pikiranku, namun aku berusaha mengusirnya untuk sementara waktu. Aku memutuskan untuk mandi, menghapus setiap sisa-sisa kepenatan di tubuhku yang membelenggu.
Dalam keadaan yang sepi dan sunyi, aku melangkah keluar dari penginapan dan kembali ke rumah makan yang tadi siang telah aku kunjungi. Cahaya remang-remang lampu menyoroti jalanan yang sepi, menciptakan bayangan yang terdistorsi di setiap sudut. Aroma masakan yang menggoda menyambutku saat pintu rumah makan terbuka.
Aku melihat wanita yang tadi melayaniku, matanya terpancar kehangatan dan senyuman yang menghiasi wajahnya. "Permisi?" ucapku perlahan, mencoba menarik perhatiannya.
Wanita itu membalikkan tubuhnya dengan lembut, seolah mengikuti alunan kehadiranku. "Oh, kamu yang tadi siang ya. Ada yang bisa dibantu?" gumamnya dengan lembut.
"Aku mau pesan makan malam, tapi belum tahu menu yang tepat," jawabku dengan ragu.
Wanita itu menyunggingkan senyuman penuh kebaikan, mengisyaratkan bahwa ia mengerti kebingunganku. Suaranya lembut terdengar di telingaku, "Emangnya kamu bukan orang Lombok?"
Wanita itu tertawa. "Yaudah, biar aku yang memilihkan menunya untukmu. Kamu bisa tunggu di meja makan,"
Aku mengikuti langkahnya, berjalan menuju meja makan yang menanti kehadiranku. Sementara aku menunggu, tanganku menggenggam ponselku meski tak ada sinyal yang tersedia. Namun, aku tetap memainkannya, berharap ada satu batang sinyal yang menyangkut di ponselku.
Setelah menunggu sekitar 15 menit yang terasa seperti seabad, langkah ringan wanita itu mendekatiku membawa sajian makanan yang menarik perhatianku. Suaranya bergetar lembut, "Maaf ya, lama. Ini makanannya."
Aku tersenyum hangat, menolak untuk merasa terganggu oleh waktu yang berlalu. "Iya, nggak apa-apa."
Waktu meletakkan piring makanan di hadapanku dengan penuh keahlian. "Ini namanya Sate Bulayak, disajikan dengan lontong. Aku yakin kamu akan menyukainya. Rempah-rempah yang menyatu dalam potongan daging sapi pada sate ini akan membangkitkan nafsu makanmu. Ditambah lagi, bumbu Sate Bulayak terbuat dari kacang tanah sangrai yang dimasak bersama santan, memberikan citarasa mirip bumbu kari. Dan lontongnya dibungkus dengan daun aren, memberikan sentuhan khas."
Mendengar deskripsi makanan yang begitu menggoda, aku tak bisa menahan senyum puas. "Kayaknya rasanya estetik!"
Wanita itu tertawa kecil, dan dengan setulus hati kami mengobrol tanpa rasa asing lagi. "Eh iya, kita sudah begitu akrab tapi belum tau nama satu sama lain. Namaku Rinjani, kamu bisa memanggilku Jani," ucapnya dengan ramah.
Aku hanya tersenyum mendengar nama wanita itu, seketika saat dia bilang Jani, aku malah teringat dengan Dila. “Namanya mirip sama gunung ya.”
“Aku juga gatau kenapa dinamainya Rinjani sama si ibu, pas aku tanya kenapa namaku sama kayak nama gunung. Si ibu bilang gini 'Ibu gatau nama yang tepat buat anak ibu, jadi ibu kasih nama aja apa yang ibu ingat, dan kebetulan yang saat itu ibu ingat adalah gunung Rinjani' jadi gitu deh asal-usul nama Rinjani.” Ucap Rinjani sambil menceritakan asal-usul namanya kepadaku yang sedang duduk di hadapannya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya bercerita untuk menemani waktu makan malamku. “Yaudah aku panggil kamu Rin aja ya.”
__ADS_1
“Kenapa Rin?”
Aku hanya nggak mau nama Jani keluar dari mulutku untuk memanggil orang lain selain Dila itu sendiri, dan walau pun orang itu memang bernama Jani, tetapi aku akan berusaha memanggilnya dengan nama lain. Aku tahu namanya Dila bukan Senjani atau bahkan Jani, dia juga bukan Binta, bukan juga tokoh dalam novel KATA.
Dia hanya wanita biasa yang memasuki hatiku yang memang tidak terkunci, tetapi setelah dia pergi, dirinya masih terjebak dalam hatiku.
“Nggak papa si.” Aku hanya tertawa kecil untuk mencairkan suasana saat itu.
“Yaudah, kamu mau panggil aku Rin atau Jani nggak papa. Eh dari tadi ngebahas aku terus nama kamu siapa?”
“Aku Deni, nggak terlalu spesial si, tapi aku menyukainya.”
“Kamu asli mana?”
“Aku berasal dari Bogor, aku datang kesini buat liburan aja, tapi karena nggak ada sinyal jadi susah menggunakan GPSnya.”
“Aku udah mengiranya si, kamu pasti asli luar pulau ini, soalnya dari gaya bicara kamu memang terdengar berbeda, emangnya kamu mau kemana?”
“Aku juga nggak tau mau kemana setelah ini.”
“Emangnya kamu berapa hari di sini?”
“Paling satu mingguan.”
Rinjani langsung menawarkan dirinya agar dia menjadi pemanduku. "Mumpung kamu masih punya enam hari lagi di sini, gimana kalau aku menjadi pemandumu untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sini?"
Aku yang baru saja selesai makan merenung sejenak, mencoba memahami tawaran yang ditawarkan Rinjani. "Emangnya nggak merepotkan? Kan kita baru kenal..."
Rinjani tersenyum ramah. “Justru itu, aku liat kamu sendirian di sini, jadi biar aku temenin kamu selama satu minggu di sini, kan belum tentu kamu tau semua tempat wisata di sini?”
Aku pun bergumam memikirkan kata-kata dari Rinjani barusan. “Yaudah, kalau kamu nggak ngerasa di repotin sama aku, aku terima tawaran kamu.”
Setelah selesai makan dan membayar makananku, aku pergi dari rumah makan Rinjani untuk kembali ke penginapan. “Yaudah Rin aku balik dulu ke penginapan ya.”
Rinjani pun mengantarku menuju pintu masuk rumah makan. “Hati-hati.”
Setelah berpisah dengan Rinjani, aku melangkah masuk ke penginapan dengan langkah berat. Ruangan penginapan terasa hening, dan aku merasakan kesepian yang melanda diriku. Dalam keheningan itu, aku memutuskan untuk meminta password WiFi kepada penjaga penginapan, berharap bisa terhubung dengan dunia di luar sana.
Aku berjalan menuju penjaga penginapan yang sedang duduk di meja resepsionis. "Permisi, bisa minta password WiFi-nya?" pintaku dengan suara serak.
Penjaga penginapan itu menatapku sekilas dan memberikan sebuah secarik kertas berisi password WiFi. Aku kembali ke dalam kamar, membaringkan tubuhku di atas tempat tidur yang terasa dingin. Dengan tangan gemetar, aku menggenggam ponselku dan membuka aplikasi WhatsApp. Harapanku untuk menemukan pesan dari Dila masih terasa kuat, tetapi hampa. Tidak ada pesan baru darinya.
Seakan ditarik ke masa lalu, aku melihat-lihat foto-foto kami saat SMA dulu. Wajah Dila yang begitu akrab masih menghiasi setiap gambar, mengingatkan aku pada kenangan-kenangan indah yang pernah kita bagikan. Aku tidak bisa menahan senyuman pahit yang melintas di bibirku. Kami pernah dekat, begitulah kenyataannya, namun jalannya hidup membawa kami sejauh ini.
__ADS_1
Malam ini, pikiranku terus-menerus melayang pada Dila. Rindu yang tak terucap terasa semakin dalam, dan akhirnya, kelelahan itu merangkul diriku. Dalam tidur yang lelap, aku terhanyut dalam kenangan, memandangi foto kami di Event 17 agustusan.