
Hari demi hari di sekolah aku jalani dengan melihat Dila dan Ridwan yang semakin lebih dekat dan juga sekarang aku tak berani dengan terang-terangan mendekati Dila seperti waktu itu. Sekarang aku hanya bisa menyukai-mu dalam diam, mengagumimu dalam kejauhan dan memikirkan dalam setiap kesempatan. Jika kita di takdirkan bertemu harusnya kita punya kesempatan untuk bersama walau pun kemungkinannya 1/10 tapi aku yakin, satu kemungkinan bisa jadi kenyataan. Aku takut kalau sebenar-nya kamu sudah tau, sudah peka sejak lama tapi yang kamu inginkan bukan aku.
Bel sekolah berbunyi mata pelajaran pertama dimula dan kebetulan jam pelajaran pertama ini adalah Bahasa Jerman dan juga guru pengajar Bahasa Jerman ku saat itu memang sangat tegas dan tidak suka kalau di kelas itu ada sampah yang terlihat, dan akhirnya guru itu menyuruh kelompok yang piket pagi tadi untuk membersihkan belakang tembok yang lumayan banyak sampah yang ber-keliaran di bangku bagian belakang.
“Siapa yang piket hari ini.” Ucap guru itu, aku dan kelompok piket ku mengangkat tangan.
“Ardiansyah, tolong bersihkan sampah yang ada di belakang.” Dari tujuh orang kelompok piket yang ada kenapa harus aku yang membersihkannya dan juga guru ini lebih suka memanggil aku dengan nama tengahku.
Dengan mudah aku langsung menuruti permintaan guru itu. “Baik bu.”
Aku pun berjalan ke belakang sambil membawa sapu dan serokan untuk membersihkan sampah yang lumayan banyak yang ada di belakang tempat duduk siswa, aku pun memulai membersihkan sampah tersebut dengan me-ngambil sampah yang mudah aku pegang dan setelah aku membereskan sampah yang mudah dipegang, aku be-rencana membersihkan sampah-sampah yang kecil menggunakan sapu tetapi saat aku mencoba mengambil sapu yang aku letakan di dekat bangku tempat duduk Hendrik aku malah memegang tangan seseorang yang sedang memegang sapu itu, dengan refleks aku langsung melihat seseorang yang sedang aku pegang tangannya, dan ter-nyata itu tangan yang aku pegang adalah tangan Dila.
Jantungku berdetak cepat dan mataku hanya fokus dengan kedua bola matanya yang berwarna coklat yang ada di pandanganku, aku terus menatap matanya hingga aku terjebak dalam lamunanku.
“Deni... Kenapa?” Ucap Dila membangunkan ku dari lamunan ku tadi.
Aku melepaskan tangan Dila dan mencoba mengambil sapu yang Dila pegang. “Nggak papa biar aku sendiri aja.”
Dila mencoba menahan sapu itu. “Udah nggak papa biar aku bantu, biar kamu cepet selesai.”
“Udah Ardiansyah, kenapa kamu tolak permintaan Dila, bukannya dengan kalian berdua yang membersihkan sampah tersebut selesainya bisa lebih cepet.” Ucap guru itu yang melihat Dila ingin membantuku.
Aku pun menerima bantuan dari Dila dan dengan bantuan Dila akhirnya aku dapat menyelesaikan tugas itu dengan cepat dan aku pun meminta izin kepada guru itu untuk membuang sampah yang sudah aku dan Dila kumpulkan untuk di buang keluar.
Guru itu yang melihat aku dan Dila ingin membuang sampah bersama tersenyum kepadaku. “Wie romantisch. Ibu do'ain semoga kalian menjadi pasangan yang langgeng.”
“Aamiin.” Kata teman-temanku sekelas dengan kompak kecuali dengan Ridwan yang nampaknya kesal karena Dila membantuku menyelesaikan tugas itu.
Aku dan Dila yang malu karena di sorak-soraki teman sekelas pun kemudian cepat-cepat pergi keluar untuk membuang sampahnya, dari satu sisi aku seneng dan dari sisi lain aku juga kecewa karena Dila sekarang dekat dengan Ridwan.
Aku yang telah selesai membuang sampah dan melihat Dila yang berjalan di depanku langsung memanggilnya sebelum dia memasuki kelas. “Dila tunggu...”
Dila yang mendengar suaraku langsung membalikan badan ke arahku. “Iya Den, kenapa?”
Aku tersenyum ke arahnya. “Terima kasih ya, udah bantuin Deni.”
Dila hanya tersenyum dengan indah.
Aku dan Dila memasuki kelas dan kembali duduk di tempat masing-masing. Perasaan bimbang yang menghantui pikiranku membuatku sulit untuk fokus pada pelajaran. Waktu berlalu dengan cepat, hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.
Dari kejauhan, aku melihat Dila mendekatiku. Dalam hati, aku berpikir bahwa mungkin bukan aku yang ingin dia temui, tetapi orang di sebelahku. Mungkin dia ingin menghampiri Ridwan, teman sebangkuku. Sebelum Dila tiba di tempat dudukku, aku memilih untuk meninggalkan tempat itu dan keluar dari kelas.
Dengan hati yang berat, aku berjalan meninggalkan kelas tanpa menoleh ke belakang. Semua pikiranku me-layang ke arah Dila dan Ridwan yang semakin dekat. Aku merasakan kekecewaan yang mendalam, tetapi aku tidak ingin memperlihatkannya kepada siapapun. Langkahku terasa berat dan langit di luar terlihat muram, seakan mencerminkan perasaanku saat ini.
Sesaat setelah aku berjalan meninggalkan kelas, sebuah tangan menarik pergelangan tanganku dengan kuat, membuatku seketika berbalik. Hatiku berdebar kencang saat aku melihat siapa yang menarik tanganku.
“Kamu mau kemana?” Tanya orang itu kepadaku, sambil tetap menggenggam erat pergelangan tanganku.
“Dila...” Terkejut ku mengetahui bahwa orang yang menarik tanganku adalah Dila.
Tiba-tiba, Bintang dan Windi menyusul Dila, sambil memperlihatkan pesan di ponselnya. “Lu emang nggak baca pesan dari Desi?” Ucap Bintang.
Aku membaca pesan yang ditunjukkan Bintang di ponselnya. Tulisannya berbunyi, “Udah lama kita nggak makan siang bareng, gua tunggu di kantin sekalian ajak Deni kalau dia nggak mau suruh Dila yang ajaknya.”
Sebuah senyuman terukir di wajahku saat membaca pesan tersebut. Namun, aku berusaha melepaskan tangan Dila yang masih menggenggam erat pergelangan tanganku. “Ya udah, kalian duluan aja. Nanti gua nyusul.”
Tanpa menghiraukan kata-kataku, Dila tetap menarik tanganku dengan tegas, tidak memberiku kesempatan untuk berargumen. “Kamu ikut aja, jangan banyak protes.” Kata Dila sambil terus menerus menarik tanganku.
Aku merasa keterkejutan dan kebingungan dalam hati. Sementara Dila terus menarik tanganku dengan mantap, Bintang tersenyum seakan-akan dia sudah merencanakan situasi ini. Aku merasa semakin terjebak dalam keadaan yang tak terduga ini, tanpa memiliki kendali atas diriku sendiri.
Sesampai di kantin, pandanganku langsung tertuju pada Desi dan Ian yang duduk di tempat yang biasanya kami berenam berkumpul.
“Lu pada lama banget si?” Ucap Desi kepada kami ber-empat yang baru datang.
__ADS_1
“Biasa ini bocah sulit buat diajaknya.” Ujar Bintang sambil menunjuk padaku dengan sedikit candaan.
Aku langsung duduk di samping Desi dan tanpa ragu mengambil minuman yang sedang dia pegang. “Ada apaan, tumben lu nyuruh kumpul kayak gini?”
Desi spontan merebut kembali minuman yang baru saja aku teguk. “Kampret lu, masih aja nyelonong nyedot minuman orang.”
“Namanya juga haus, Des.” Balasku dengan senyum.
“Bentar ya, gua mau pesan makanan dulu.” Ucap Windi seraya berjalan ke arah ibu kantin, diikuti oleh Dila.
Aku menatap Desi dengan rasa penasaran. “Ada apa? Tumben lu ngajak kita kumpul seperti ini?”
Desi tersenyum sambil menjawab, “Ya udah lama aja kan kita jarang kumpul, jadi nggak ada salahnya kalau sekali-kali makan siang bareng.”
Tak lama kemudian, Windi dan Dila kembali dengan membawa makanan untuk kita semua. Mereka meletakkan mangkuk baso dan gelas teh tawar di atas meja.
“Nih, makanan sama minumannya.” Ucap Windi sambil menata makanan di depan kami.
“Lah, punya gua mana?” Tanyaku kepada Windi, sedikit kebingungan.
Windi tersenyum sambil menjawab, “Lah... Emang tadi lu bilang mau nitip, mau makan apa?”
“Kampret emang.” Ucapku dengan nada kesal, me-nyadari bahwa aku lupa untuk memberitahunya pesanan makananku.
Dila mendekati meja dengan membawa dua porsi makanan dan gelas teh tarik. Dia menempatkan mangkuk mie ayam dan gelas teh tarik di depanku.
“Ini punya kamu, mie ayam dan teh tariknya.” Ucap Dila dengan senyuman lembut.
Bintang yang melihat makanan dan minuman yang kudapat, sama persis dengan apa yang diberikan kepada Dila, tidak bisa menahan diri untuk mengomentari. “Lu ber-dua udah jarang makan bareng aja, tapi masih aja menunya samaan.”
Aku merasa seperti sedang berada dalam keadaan yang rumit. Sementara perasaanku terhadap Dila semakin tidak terbendung, tapi aku takut akan kenyataan bahwa hubungan dekat antara Dila dan Ridwan terus berkembang. Meskipun kami duduk bersama dalam keheningan, kehadiran Dila di sampingku memberikan rasa nyaman dan kehangatan yang sulit aku jelaskan.
Saat yang lain sedang sibuk makan, suara Ian tiba-tiba memecah keheningan. “Senang rasanya kita bisa ber-kumpul seperti ini.”
Ian menghela nafas sejenak sebelum menjawab. “Hari ini adalah hari terakhir gua di sekolah ini. Mulai besok, gua akan pindah sekolah dan ikut orang tua gua yang bekerja di luar kota. Meskipun sebenarnya gua masih ingin tetap di sini sampai lulus, tapi mau tidak mau, gua harus mengikuti orang tua gua.”
“Tapi sesekali lu balik ke Bogor, kan, Ian?” Tanya Bintang kepada Ian.
Ian tersenyum. “Ya pastinya, gua pasti balik ke Bogor. Nanti kalau gua balik, gua akan mengabari kalian semua untuk makan-makan, dengan suasana yang berbeda, mungkin suatu saat nanti Deni dan Dila sudah menikah. Hahaha.”
Kami semua tertawa mendengar celaan Ian. “Hahaha. Taik lu, gua belum mikir sampe kesana.”
Bel masuk pun berbunyi, Ian dan Desi sudah masuk ke dalam kelas mereka terlebih dahulu. “Aku duluan ya ke kelas.” Ucap Bintang sambil berjalan bersama Windi, meninggalkanku dan Dila berdua.
Aku melihat Dila yang tampak sedih mendengar kabar bahwa Ian akan pindah sekolah. Aku berusaha menghibur-nya agar dia tidak terlalu memikirkan perkataan Ian.
Aku tersenyum kecil. “Nggak papa Dila. Dia hanya pindah sekolah. Setidaknya dia tidak pindah ke negara lain. Lagipula, tanpa Ian, udara di sekolah ini akan menjadi lebih segar. Hehehe.”
Dila hanya tersenyum mendengar perkataanku tadi. Aku yang mendapat kesempatan berdua bersamanya ingin memastikan bagaimana sebenarnya hubungan Dila dengan Ridwan.
“Dila, aku—”
Tiba-tiba, Ridwan memotong perkataanku dan men-dekati Dila yang sedang duduk berdua denganku. “Dila...”
Dila yang mendengar suara Ridwan yang memanggil-nya langsung menoleh ke arahnya.
Ridwan berjalan menuju tempat dudukku dan Dila sambil mengambil kursi untuk duduk bersebelahan dengan Dila. “Aku mau ngasih tau tentang tugas seni budaya, katanya tugasnya itu di suruh memfoto lukisan-lukisan sejarah yang ada di pameran dan setiap kelompoknya itu terdiri dari tiga orang.”
“Emangnya deadlinenya kapan?”
“Minggu depan, pas mata pelajaran Seni Budaya.”
“Oh iya, kamu mau nggak satu kelompok sama aku?” Ajak Ridwan kepada Dila yang memang belum memiliki kelompok sama sekali.
__ADS_1
“Iya boleh, itukan satu kelompoknya tiga orang, satu orang lagi udah ada?” Tanya Dila kepada Ridwan yang berada di sampingnya.
“Belum si.”
Aku yang melihat mereka mengobrol bersama tanpa mempedulikan aku, kemudian memutuskan untuk pergi ke-kelas saja. “Aku duluan ya.”
“Den tunggu...” Ucap Dila menghentikan ku yang ingin pergi ke kelas.
Aku yang mau berjalan meninggalkan kantin pun menoleh dan membalikan tubuhku ke arah Dila yang barusan menghentikan ku.
“Kamu belum ada kelompokan, kalau pun kamu nanti nyari kelompok juga pasti yang lain udah buat duluan, gimana kalau kamu jadi kelompok kita aja, yakan Wan nggak papa?” Ajak Dila kepadaku untuk satu kelompok dengannya dan meminta persetujuan Ridwan.
Ridwan hanya mengangguk kepalanya menyetujui permintaan Dila, aku yang bingung antara menerima tawaran Dila atau nggak pada akhirnya mengiyakan perkataan Dila, karena mungkin benar seperti perkataan Dila kalau aku ke kelas juga pasti yang lain sudah membuat kelompoknya juga.
Aku menghela nafas. ”Ya udah iya, aku gabung kelompok kamu.” Aku pun pergi meninggalkan kantin untuk pergi ke kelas. “Ya udah, aku ke kelas dulu ya.”
“Tunggu, aku juga mau ke kelas.” Dila mengikuti langkahku yang sudah berjalan lebih dulu. Ridwan yang sendiri pun akhirnya mengikuti ku ke kelas, aku, Dila dan Ridwan pun berjalan menuju kelas.
Bel masuk pelajaran kedua pun berbunyi dan sekarang adalah pelajaran Seni Budaya dan setiap kelompok harus duduk bersama. Bintang yang melihat aku duduk satu kelompok dengan Ridwan hanya mencoba menahan tawanya untuk tidak menertawai aku.
“Eh iya kita mau ke pameran mana ni?” Tanya Dila ke-padaku dan Ridwan
Ridwan langsung menanggapi pertanyaan Dila. “Paling menurut aku kita ke pameran mingguan aja yang ada di kota tua, gimana?”
“Kalau kamu Den, ada ide nggak?” Dila juga meminta pendapatku.
“Aku ngikut aja, soalnya aku juga belum pernah ke pameran.”
“Ya udah kita fixs ni ke pameran kota tua?” Tanya Dila memastikan keputusannya.
Ridwan dan aku hanya mengangguk menyetujui perkataan Dila. “Ya udah hari sabtu besok kita janjian di stasiun jam sembilan.”
Hari berganti dengan cepat, dan saat ini adalah hari di mana kelompok kami akan pergi ke pameran mingguan di kota tua Jakarta untuk mengerjakan tugas Seni Budaya. Aku tiba lebih awal di stasiun kereta daripada yang lain, duduk sendirian di kursi stasiun sambil membawa dua minuman yang baru saja ku beli. Tepat pada pukul 08.45, Ridwan tiba di stasiun dan mendekatiku yang sudah menunggunya di kursi stasiun.
Ridwan berjalan menghampiriku. “Eh... Dila di mana?”
“Belum datang.” Jawabku sambil memainkan ponselku.
“Ya udah gua beli tiket keretanya dulu.” Ucapnya yang ingin berjalan menuju loket kereta.
Aku langsung mengeluarkan tiga tiket kereta yang bertujuan kota tua dari sakuku. “Gua udah beli.”
“Oke, makasih.” Sambil mengambil tiket kereta di tanganku.
Tepat jam sembilan kereta akan berangkat, tetapi Dila belum juga tiba di stasiun. Aku menyuruh Ridwan untuk naik kereta terlebih dahulu dan membiarkanku mencari Dila. “Lu naik kereta duluan aja, biarkan gua yang cari Dila.”
“Guu juga mau cari Dila.” Jawab Ridwan dengan keras kepala menolak permintaanku.
Aku tidak memaksa Ridwan untuk mengubah ke-putusannya, jadi aku membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan. Akhirnya, kami berdua berpisah dan berusaha mencari Dila. Ridwan pergi ke gerbang barat, sementara aku pergi ke gerbang timur sambil terus mencari Dila. Kereta pun mulai berangkat perlahan-lahan. Aku yang me-lihat Dila dari kejauhan dan segera berlari ke arahnya, menarik tangannya.
“Dila, ayo!” Ucapku sambil berada di depan Dila, menarik tangannya yang basah keringat, mengajaknya ber-lari kembali untuk mengejar gerbong kereta terakhir yang pintunya masih terbuka.
“Eh, Deni... maaf, aku terlambat.” Ucapnya sambil berlari bersamaku mengejar kereta api yang masih berjalan dengan pelan.
Saat kami berdua berusaha mengejar kereta, tindakan kami menarik perhatian petugas yang berada di sekitar. Mereka segera menyadari bahwa kami mencoba naik ke kereta yang bergerak, dan tanpa ragu mereka mulai mengejar kami. Langkah-langkah mereka terdengar cepat dan keras di atas papan peron, menambah ketegangan dalam situasi yang sudah dramatis ini. Perasaan ini mem-buatku merasakan sensasi déjà vu yang menggigit, seperti kembali ke momen yang sama dengan kejadian yang pernah ku lalui sebelumnya.
Dalam keadaan yang semakin mencekam, seruan keras terlontar dari bibirku, bergetar seiring napas terengah-engah yang mencoba aku kendalikan. “Dila, ayo naik!” suaraku bergema di seantero peron, mencoba menembus kerumunan suara dan kekacauan di sekitar.
Dila yang telah melompat ke dalam gerbong kereta, mencoba membantuku naik. Tangannya meraih tanganku yang hanya terpaut beberapa sentimeter. “Deni, ayo... Pegang tanganku!” Suaranya bergema di antara riuhnya kereta yang bergerak menuju kepergian.
Dalam keadaan yang seolah melambat, aku berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tangan Dila yang begitu dekat namun terasa begitu jauh. Setiap serat ototku ber-getar, semangatku terpancar dari dalam diri yang terkuras. Akhirnya, dengan jerihan terakhir, aku berhasil menggenggam tangan Dila. Terasa seperti kemenangan yang manis, seperti meraih sebuah keajaiban di antara ketidak-pastian.
Tawa kelegaan kami pun pecah, meruntuhkan ke-tegangan yang memenuhi udara. Kami menatap satu sama lain dengan mata berbinar, memahami betapa dekat kami dengan kehilangan dan betapa besar peluang ini untuk bersama. Melalui raut wajah kami yang lelah, terpancar kebahagiaan yang memenuhi hati.
__ADS_1
...****************...