Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Karena semuanya ada di kamu


__ADS_3

Aku dan Dila pun memutuskan untuk kembali ke Villa karena hari yang sudah berganti malam. Acara malam pun dimulai, dengan acara pembuka dansa balon berpasangan, mendengar kata berpasangan semua anak-anak yang lainnya mencari pasangannya masing-masing dan tiba-tiba Dila menggenggam tanganku, aku yang merasakan Dila menggenggam tanganku langsung menoleh ke arahnya dan tersenyum kecil dibirku.


Dengan suara yang malu-malu, Dila berbisik di telingaku, “Den, aku berpasangan denganmu, ya.”


Aku yang mendengar kata-kata Dila segera meng-genggam tangannya dengan erat. Kini, kami berdua menjadi pasangan. Acara pun dimulai. Zahid, sebagai panitia, menjelaskan aturan dansa balon ini. Kami diminta untuk berdansa sambil menggunakan balon, dan diiringi musik yang indah. Tugas kami adalah menjaga agar balon tidak jatuh atau pecah. Jika hal itu terjadi, maka kami akan dianggap gugur.


Aku yang mendengar peraturan acara itu langsung memelas untuk tidak mengikuti acara tersebut. “Dila, Deni belum pernah dansa sebelumnya jadi Deni pasti kaku, kayaknya mending kita nyerah aja daripada malu-maluin.”


Dila yang mendengar perkataanku barusan langsung menoleh ke arahku dan menginjak kakiku dengan keras. “Nggak ada nyerah-nyerah nanti aku ajarin kamu, kamu cukup Dengarin aja kata-kata aku.”


Aku langsung memegangi kakiku yang barusan Dila injak. “Sakit Dila...”


“Emangnya kamu pernah dansa?”


“Belum pernah si hehe, tetapi aku sering liat di film-film yang ada dansanya gitu, jadi kayaknya aku sedikit paham tentang dansa gitu.”


“Kirain pernah.” Ucapku sambil berdiri kembali.


Dila pun langsung menarik tanganku untuk memulai acara dansa itu, dan dansa pun dimulai kurang lebih ada 17 pasangan yang melakukan dansa balon saat itu termasuk aku dan Dila.


Aku hanya mengikuti perkataan Dila untuk terus ber-dansa dengannya. “Iya gitu Den pelan-pelan aja kamu hanya perlu ikuti aja gerakan aku dan terus seperti itu sambil melemaskan gerakan kamu.”


Setelah aku sudah terbiasa dengan gerakan Dila, akhirnya aku dan Dila bisa bertahan selama dua menit dan aku memerhatikan sekitarku ternyata hanya ada tiga pasangan yang masih bertahan saat itu, yaitu aku dan Dila, Bintang dan Windi, Hendrik dan Yomi.


Mereka berdua merupakan panitia acara tersebut dan juga ketua kelas dan wakilnya jadi mereka ikut ber-partisipasi untuk meramaikan acara tersebut. Dan aku pun berpikir bahwa aku dan Dila akan memenangkan lomba ini, asalkan kami berdua bisa bertahan sedikit lebih lama.


Aku yang sudah optimis berpikir kalau aku dan Dila bisa memenangkan acara tersebut. “Dila kita pasti-”


Tiba-tibi Hendrik dan Yomi menabrak aku dan Bintang yang membuat Balonku dan Bintang pecah, hingga mem-buat aku terdorong kedepan dan langsung memeluk tubuh Dila dan mengecup keningnya.


Robi yang melihat aku langsung tertawa dan mengata-ngatai ku. “Wah anjing si Deni mencari kesempatan dalam kesempitan.”


“Ciee...” Ucap semua orang yang melihatku saat itu.


“Eh, maaf Dila aku nggak bermaksud kaya gitu.” kataku kepadanya sambil melepaskan pelukan itu.


“Iya nggak papa kok.” Jawab Dila sambil berbicara malu-malu kepadaku dengan muka yang mulai memerah.


Dan ya karena aku dan Bintang kalah pemenang acara tersebut adalah Hendrik dan Yomi, sungguh hasil yang di luar nalar. Dan setelah acara tadi selesai, acara selanjutnya pun di mulai yaitu bakar-bakar ikan. Saat yang lain sedang bakar-bakar ikan aku memutuskan untuk pergi menuju pantai sambil berjalan-jalan dipinggir pantai, merasakan angin malam yang berhembus kencang, suara debur ombak dan tubuhku yang di sinari oleh bulan purnama yang sangat bersinar terang. Tak lama tiba-tiba Bintang datang bersama Windi dan Dila untuk menghampiriku yang sedang duduk sendirian di kursi dekat pantai.


“Lu ngapain nge di sini? sendirian lagi? Kalau lu diculik gua juga nanti yang repot.” Ucap Bintang sambil berjalan menghampiriku yang sedang duduk di kursi dekat pantai.


“Kalau kemana-mana kasih tau dulu orang napa? Lu pikir ini sekolah kita? Main keluyuran aja?” Ucap Windi menimpali perkataan Bintang.


“Kalian tahu dari siapa kalau gua ada di sini?”


“Tadi Dila nyariin lu kemana-mana, tapi nggak ada terus dia minta tolong ke kita buat bantuin dia nyari lu, dan gua nanya ke si Hendrik katanya si Hendrik liat lu lagi jalan ke arah pantai ya terus kita menyusul lu kesini.”


Aku yang mendengar perkataan Bintang pun ter-senyum dan langsung menghampiri Dila dan berdiri di hadapannya. “Makasih ya Dila udah khawatirkan Deni.” sambil tersenyum dan menatap matanya kemudian mengusap kepalanya.


Dila tersenyum dengan manisnya sambil di terangi bulan purnama. “Iya hehehe.”


“Oi lu berdua kalau mau mojok jangan di depan kita juga napa?” kata Bintang dengan muka kesel melihat aku yang sedang berduaan bersama Dila.


Windi langsung memukul kepala Bintang. “Lu liat situasi napa kalau mau ngomong, ganggu suasana aja.”


“Aduh... tapikan-”


“Apa? Lu berani sama gua?” Kata Windi dengan muka yang mengintimidasi Bintang.


Dengan muka ketakutan dan berusaha tidak melawan Windi. “Enggak ko.”


“Oh iya, ini kita bawa ikan nih buat di bakar.”


Windi pun meletakan kantung keresek yang berisi ikan yang dia bawa itu di kursi yang tadi aku duduki.


Aku berbisik kepada Bintang. “Lu pernah bakar ikan?”


“Kagak gua nge, lu sendiri pernah?”


“Sama gua juga enggak, lah lu ngapain bawa ikan kesini kalau kita nggak bisa bakar ikannya?”


“Ya buat formalitas aja.”


“Formalitas-formalitas, sekalian lu makan aja pormalin biar awet.”


Windi yang melihat kami yang sedang berbisik-bisik pun langsung menegur kami. “Kalian lagi ngapain pada bisik-bisik?”


“Enggak ehehehe, kita nggak bisik-bisik kok.”


“Kalian dari pada diem aja mending bantuin kita bakar ikan ini.” Kata Windi meminta aku dan Bintang membantu mereka membakar ikannya.


Aku dan Bintang pun menghampiri Windi dan Dila yang sedang menyiapkan ikannya untuk di bakar, ya karena ini pengalaman aku dan Bintang membakar ikan jadi kami gatau gimana caranya membakar ikan. Jadi kami hanya membiarkan ikan yang kami bakar ini diatas api itu terbakar tanpa mengkipasi ikannya.


Dila yang melihat ikan yang kami bakar tidak di kipasi pun langsung menghampiri kami. “Eh kalian lagi ngapain?”

__ADS_1


“Iya ini kita lagi bakar ikan” Kataku menjawab per-kataan Dila sambil menoleh ke arahnya


“Itu kenapa nggak di kipasin ikannya?”


“Emangnya harus di kipasin?” Tanya Bintang bertanya dengan polosnya kepada Dila.


“Ya iyalah harus, kalau nggak di kipasin nanti gosong kayak gini.” kata Dila sambil mengambil ikan yang sedang aku dan Bintang bakar.


“Elu si, bukannya di kipasin.”


“Elu juga sama.”


“Elu...”


“Elu...”


“Elu...”


“Kalian bisa nggak si, nggak bertengkar?” kata Windi sambil memukul kepalaku dan juga Bintang.


Setelah ikan yang tadi kami bakar matang meski sedikit gosong, kami pun memakan ikan tersebut bersama-sama sambil bercanda dan tertawa bersama-sama.


Dila aku harap saat ini aku bisa mengungkapan perasaanku yang sebenarnya kepadamu, aku tak ingin terus-menerus hanya jadi penikmat senyummu aku ingin semua senyuman itu hanya padaku. Aku tau aku egois dan aku juga tau aku tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan semua isi hatiku padamu tetapi dengan hanya melihat senyummu saja aku tau kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu.


“Eh lu ngelamun mulu, kesambet napa ni orang.” kata Bintang yang melihatku melamun sambil memandangi Dila.


Aku tersenyum sambil memakan ikan yang ada di tanganku. “Hehehe lu kaya yang nggak tau aja gua lagi mikirin apa.”


Tak lama datang Dicky, Hendrik dan Yomi sambil membawa gitar untuk bernyanyi bersama, Dicky ini adalah temen kelasku dan temenku juga pas di SMP dia yang pasti cowok, dengan badan yang sedikit besar dan rambut yang ikal dia juga jago bermain alat musik dan suaranya juga enak di dengar.


Sambil membuat api unggun menjadi lebih besar dengan menaburkan ranting-ranting yang ada di sekitarnya, Hendrik juga menyuruh Dicky untuk bernyayi. “Dick nyanyi ****.”


“Gas.” Ucap Dicky yang langsung duduk sambil menghisap sebatang Rokok dan mulai bernyanyi.


Dicky mulai memainkan gitarnya dengan memainkan melodi petikan dan langsung mulai bernyanyi. “Tak terasa gelap pun jatuh... Di ujung malam, menuju pagi yang dingin... Hanya ada sedikit Bintang malam ini... Mungkin karena kau, sedang cantik-cantiknya... Lalu mataku merasa malu... Semakin dalam ia malu kali ini... Kadang juga ia takut... Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya... Di malam hari... Menuju pagi... Sedikit cemas... Banyak rindunya...”


Dicky pun menyanyikan lagu Payung teduh yang berjudul Untuk Perempuan yang sedang dalam pelukan, dan tanpa aku sadari ternyata semua anak–anak kelas pun berkumpul di tempatkuku berada dan bernyanyi bersama, tak terasa ujung dari acara pun akan dimulai yaitu pelepasan Lampion. Semua anak-anak kelas pun disuruh berkumpul dipinggir pantai untuk menerbangkan Lampion dan aku pun menghampiri Dila untuk menerbangkang Lampion bersama dengannya.


“Dila, aku boleh nerbangin Lampion bersama kamu nggak?”


Dila hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum ke arahku seperti biasa. Hari ini merupakan hari yang indah buat aku karena aku bisa memiliki kamu sepenuhnya walau hanya satu hari saja, aku tau mungkin bisa saja aku tak akan merasakan hari ini lagi tetapi yang pasti aku sangat bersyukur karena telah mengenal dirimu Dila.


Sebelum melepaskan Lampionnya kami disuruh untuk menuliskan sebuah keinginan kami untuk masa depan disebuah kertas, kemudian di tempelkan di Lampion itu.


“Kamu menulis apa Dil?”


Aku tersenyum sambil memegang lampion tersebut bersama dengan Dila. “Suatu saat kamu juga akan tahu apa yang aku tulis di surat itu.”


Bunda yang merupakan wali kelasku sekaligus yang memimpin acara terakhir ini memberikan aba-aba untuk pelepasan lampion. “Jika kalian sudah selesai menuliskan keinginan kalian, setelah hitungan satu kalian bisa me-lepaskan Lampion itu. Baiklah kita hitung sama-sama.”


“3... 2... 1...” Akhirnya Lampion itu di terbangkan semua anak-anak berteriak gembira dan tanpa sadar kalau Dila sedang memelukku karena terbawa suasana saat itu.


Dila langsung melepaskan pelukannya dari tubuhku. “Eh maaf Den aku nggak sengaja.”


“Iya nggak papa, yaudah kita balik ke Villa yuk udah malem juga?” kataku mengajak Dila menuju Villa untuk ber-istirahat.


Aku dan Dila pun kembali ke Villa, sesampai di Villa Dila masuk kekamar sedangkan aku bermain kartu di meja makan bersama Hendrik, Yomi, dan Bintang, tak terasa sudah jam dua malam aku main kartu bersama mereka. Karena aku tidak memiliki tempat untuk tidur, aku pun tidur di meja makan bersama mereka bertiga.


Udara pagi yang sangat dingin membuat aku terbangun dari tidurku, setelah aku membuka mata ternyata suasana sudah pagi dan aku pun melihat sekelilingku Hendrik, Yomi, dan Bintang yang masih tertidur dengan pulasnya dan belum ada yang bangun, aku juga melihat kalau aku menggunakan Jaket Dila sebagai selimut. Entah bagaimana aku bisa menggunakan jaket Dila padahal sebelum aku tertidur aku tidak menggunakan jaketnya. Aku pun berjalan keluar sambil mencari udara segar dan dari kejauhan aku melihat Dila sedang berdiam diri dipinggir pantai tanpa menggunakan jaketnya padahal Udara di luar saat itu sangat dingin.


Aku menghampiri Dila yang sedang berdiri di tepi pantai sambil melihat ombak yang ada di hadapannya. “Makasih ya atas jaketnya semalam, sekarang kamu bisa gunakan untuk kamu sendiri soalnya udara di luar sangat dingin.”


Dila tersenyum sambil mengambil jaketnya dari tanganku kemudian mengenakan jaketnya. “Iya sama-sama.”


“Mau jalan-jalan nggak?” kataku mengajak Dila berjalan-jalan di pinggir pantai sambil merasakan udara yang sejuk dan matahari yang mulai terbit.


Dila hanya menganggukan kepalanya yang artinya dia menerima tawaranku untuk mengajaknya jalan-jalan di pagi hari itu sambil menikmati udara yang sejuk dan langit yang mulai menerang.


Sambil terus berjalan bersama dengannya, tiba-tiba Dila menghentikan langkahnya. “Deni...”


“Iya kenapa Dil?” kataku sambil membalikan badan dan menghadap ke arahnya.


“Eng... nggak deh.” katanya seolah ingin berbicara sesuatu.


Tak lama Matahari pun muncul dan semua teman-temanku pun langsung pergi ke pantai untuk bermain air di sana, semuanya nampak gembira ada yang lagi buat istana pasir, ada yang di kubur dipasir ada yang berenang dan ada juga yang hanya melihat saja, dan kita masuk keopsi yang terakhir, ya aku dan Dila hanya melihat mereka bersenang-senang.


Tiba-tiba ada yang melempar kami menggunakan pasir dan membuat bajuku dan Dila menjadi sedikit kotor, padahal aku ingin menikmati suasana matahari terbit dengan nyaman eh ternyata masih ada aja yang meng-ganggu suasana. Dan tentu saja yang melempar pasir itu adalah Hendrik dan Yomi yang ingin membuat aku basah-basahan bersama mereka.


“Aduh...” Ucap Dila yang terkena percikan pasir yang di lemparkan oleh Hendrik dan Yomi.


“Hayu atuh berenang kos duyung wae sien ku cai” kata Hendrik menggunakan bahasa Sunda sambil melempariku lagi.


Aku pun langsung menggenggam tangan Dila dan mengajaknya berlari agar tidak di lempari pasir oleh Hendrik dan Yomi tetap Hendrik masih saja mengejar kami, namun karena jarak kami yang terlalu jauh akhirnya Hendrik pun menyerah untuk tidak mengejar kami lagi.


Aku mencoba mengetur nafasku sambil duduk di kursi dekat pantai. “huff... huff... Akhirnya kita bisa lolos juga, sialan tuh si Hendrik.”

__ADS_1


Dila tertawa sambil mengejekku yang kesal dengan Hendrik dan Yomi. “Ehehehe... kamu lucu yah kalau lagi kesel.”


“Eh... Ehahaha bisa aja kamu.” kataku sambil memegang kepala dan tertawa


“Dila mau main nggak ayo sama yang lain?” kataku sambil berdiri dari kursi itu dan mengulurkan tanganku kepada Dila sambil mengajaknya pergi untuk bermain bersama mereka.


Dila menganggukan kepalanya dan langsung meng-genggam tanganku, aku dan Dila pun pergi ketempat yang tadi untuk bermain bersama mereka, kemudian pas aku liat si Hendrik dan Yomi lagi mau ngelempari si Bintang dan Windi aku dan Dila pun berusaha terlebih dahulu melempari mereka berdua menggunakan pasir.


Sebelum aku dan Dila melempari mereka tiba-tiba datang dari belakang Robi dan Zahid yang menangkapku untuk di bawa ke air laut karena pakaianku yang belum basah dan Dila juga di tangkap oleh Jey, Aida dan Anita kami berdua pun dibawa ke pinggir pantai yang dangkal agar pakaianku dan Dila basah juga.


“Anjing, gua belum juga ganti baju, udah disuruh mandi aja.” kataku kepada mereka, dan mereka hanya tertawa termasuk Dila juga.


“Itu mulut masih aja ngomong kasar.” kata Dila sambil membasuhku dengan air laut.


Aku hanya tersenyum melihat sikaf Dila yang mem-perhatikan setiap perkataanku, karena bajuku dan Dila terlanjur sudah basah aku pun mengajak Dila untuk bermain air laut sambil berusaha melewati ombak yang sedang menuju ke arahku dan Dila.


Aku menyodorkan tangan kananku kepada Dila yang berada di sebelah kananku. “Dila, pegang tangan aku.”


“Mau ngapain emang?” Ucap Dila bertanya kepadaku sambil memegang tangan kananku dengan tangan kirinya.


Aku tertawa kecil. “Takutnya kamu kebawa ombak, kan kamu kecil.”


“Ih... ngeselin” Dila yang mendengar kata-kataku kemudian melepaskan genggamannya dan melempariku dengan air laut yang berada disisinya dan kebetulan air laut itu sedikit memasuki bola mataku yang membuat mataku kelilipan.


Dila yang kaget karena aku kelilipan langsung men-dekat ke arahku dan mengajakku ketepi pantai. “Eh kamu nggak papa?”


“Ini mah kayanya nggak bakal sembuh, kalau nggak kamu tiup.” Kataku kepada Dila sambil menggosok mataku dan berjalan menuju pinggir pantai.


“Udah jangan di gosok terus yang ada malah makin perih, sini biar aku tiup.” Ucap Dila menyingkirkan tanganku sambil memegang wajahku kemudian meniup bola mataku.


“Gimana? Udah mendingan”


Aku mencoba memelekkan kedua bola mataku. “Udah nih kayanya.”


“Maaf ya barusan airnya kena mata kamu.”


Aku tersenyum. “Iya nggak papa, kan kamu juga udah tanggung jawab dengan meniup mata aku. Ehehehe.”


Kami pun bermain di pantai sampai jam sepuluh, setelah selesai bermain kami pun pergi ke Villa untuk mem-bersihkan badan sekaligus untuk siap-siap pergi pulang.


Setelah selesai membereskan barang-barangku, aku memutuskan untuk mendekati Dila yang duduk sendiri di teras Villa. Matanya terlihat sayu, mengisyaratkan kelelah-an yang melandanya. “Kamu terlihat mengantuk, Dil?”


Dila menoleh ke arahku dengan wajah yang mengantuk. “Sedikit si.”


“Yaudah biar aku bawa aja barang-barang kamu.” Ucapku sambil mengambil tasnya yang berada di samping-nya.


Aku tersenyum. “Udah nggak papa, rezeki nggak boleh di tolak.”


“Emang ini namanya Rezeki?”


“Udah nggak boleh banyak ngelawan, ayo naik mobil.” Ucapku sambil menarik tangan Dila dan membawanya menaiki mobil.


“Ayo naik kamu juga.” Ucap Dila yang sudah naik mobil terlebih dahulu.


Sambil menyimpan tasku dan tasnya di sampingnya. “Bentar aku ke si Bintang dulu.”


Sambil menggegam tanganku.”Jangan lama.”


Aku tersenyum dan langsung menghampiri Bintang yang sedang berdiri bersama Windi. “Oi ege, lu di belakang dulu ya kenya gua bakal ngantuk nih.”


“Ya tidur-tidur aja lu, ngapain ngasih tau gua.”


“Lu pikir gua bisa tidur tanpa nyender?” kataku dengan nada ngegas.


Bintang mencoba memerasku. “Yaudah kita tukeran tempat tapi lu bayar kegua ceban?”


“Bangsat lu.” kataku sambil memberikan uangku kepadanya.


Aku yang bertukar posisi dengan Bintang duduk di sebelah Dila di bagian depan. Setelah selesai berbicara dengan Bintang aku langsung berjalan kembali menuju tempat Dila berada dan langsung menaiki mobil itu.


“Udah selesai kamu?” Ucap Dila yang melihatku menaiki mobil itu dan duduk disampingnya.


Aku mengangguk sambil tersenyum padanya, me-nunjukkan bahwa semuanya telah beres. Tanpa kata-kata, mobil mulai bergerak, membawa kami pulang. Di dalam perjalanan, kelelahan akhirnya menguasai Dila yang memang sudah sejak awal terlihat sangat mengantuk. Ia tertidur dengan tenang, kepala yang lelah menyandar di bahuku. Sementara itu, aku pun terlelap, kepala ber-istirahat di kepala Dila yang nyaman.


Terimakasih Dila untuk satu hari ini aku merasa bahwa saat itu kamu adalah milikku dan aku selalu mengingat senyum indahmu di Senja itu.


Begitu banyak hal menyenangkan ketika aku dan kamu bersama. Yang tadinya biasa saja begitu istimewa. Segala yang berat seperti tidak jadi beban.


Kamu seperti pelantara pemilik semesta atas do’a yang selalu ku langitkan. Bertemu denganmu membuatku percaya, bahwa banyak manusia tulus didunia ini. Beberapa hanya tidak saling saja.


Diseluruh bagian cerita yang tidak pernah didengar semesta, aku ingin bagian ini di baca dengan penuh rasa percaya. Tidak ada sesal dalam apa pun yang sudah aku putuskan. Karena… Bagiku jatuh cinta dan kehilangan adalah keputusan tanpa pilihan.


Jika bisa memilih, mungkin aku akan terus jatuh cinta denganmu tanpa ada kehilangan. Atau memilih untuk tidak jatuh cinta sejak awal. Namun tetap saja, jatuh di kamu memang begitu menyenangkan.


Terimakasih ya…

__ADS_1


....~~~....


__ADS_2