Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Semester baru


__ADS_3

Semester baru di sekolahku dimulai, rasanya senang bertemu kembali dengan bangku kelas yang berwarna coklat tua, bau kelas yang pengap dan papan tulis yang bersih dari noda spidol membuat suasana hari ini terasa seperti terlahir kembali. Oh ya tentu saja semuanya tidak lengkap tanpa kehadiranmu Dila untuk memulai semester baru dan juga cerita yang baru.


Upacara senin pagi dilaksanakan, aku berdiri di barisan paling belakang sambil mencari sosok Dila yang harusnya berada di barisan perempuan disampingku, tetapi setelah aku melihat barisan tersebut aku tak melihat Dila sama sekali. Selama upacara aku tidak bisa focus karena terus menengok kekanan dan kekiri mencari kehadiran Dila di barisan yang lain tetapi hasilnya sama saja.


Setelah upacara selesai aku mencoba mencari Dila kedepan gerbang sekolah takutnya dia terlambat pergi ke-sekolah, sambil berjalan menuju gerbang sekolah aku melihat Windi yang baru saja keluar dari kantor guru dan aku mencoba bertanya kepadanya.


“Win lu liat si Dila nggak?” Ucapku sambil meng-hentikan langkahku.


“Lu nggak tau den? Dila kan sakit!”


Aku yang mendengar perkataan Windi kalau Dila sakit langsung mencoba memastikan perkataan dari Windi. “Serius? Sejak kapan Dila sakit, emang dia sakit apa?”


“Lu mau nanya atau ngintrogasi gua? satu-satu napa nanyanya gua jadi bingung mau jawab yang mana dulu!” Ucap Windi dengan muka kesal karena aku langsung memberikan banyak pertanyaan padanya.


Aku pun menghela nafas. “Sorry-sorry gua kebawa suasana barusan.”


“Dila sakit dari tiga hari yang lalu, gua semalem ngechat dia katanya dia kecapean aja, karena pulang pergi dari Bogor Tangerang, tapi katanya dia baik-baik aja paling beberapa hari juga sudah kembali fit lagi.”


Dalam keadaan panik, aku bergerak menjauh dari Windi yang mencoba menahanku. Niatku untuk menjenguk Dila begitu kuat sehingga aku merasa tidak peduli dengan tanggung jawabku sebagai siswa. Namun, Windi tetap berusaha meyakinkanku.


“Lu mau kemana? Jangan bilang lu mau bolos kelas di awal semester baru cuma buat menjenguk Dila.” serunya sambil memegang erat pergelangan tanganku.


Aku melepaskan tangan Windi dengan sedikit kasar, tidak sabar untuk menemui Dila. “Memangnya kenapa?” tanyaku tanpa pikir panjang.


“Lu pikir dengan lu yang datang menjenguknya sambil mengorbankan tanggung jawabmu sebagai siswa dan bolos mata pelajaran, lu bakal dianggap keren sama dia? Nggak, Den... Dila malah akan ilfil dengan lu. Ingat, ini bukanlah cerita ftv atau novel roman yang sering lu baca. Ini adalah dunia nyata, Den. Cinta itu buta, bukan bodoh.”


Kata-kata Windi menyentuh jiwaku. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku, karena aku sadar bahwa ia mengucapkan kebenaran yang sulit untuk di terima. Aku merasa tertampar oleh kenyataan yang ia ungkapkan. “Makasih ya Win, atas nasihat lu.”


“Gua ngomong gitu bukan berarti gua nggak ngerti perasaan lu, justru karena gua ngerti perasaan lu dan gua juga salah satu temen lu.” Kata Windi sambil memukul pundakku


“Oh ya, kalau lu mau ngejenguk Dila lu bisa bareng sama anak-anak kelas soalnya mereka juga mau ngejenguk Dila.” kata Windi sambil berjalan meninggalkanku dan berjalan menuju kelas.


Bel masuk berbunyi dengan getaran yang menusuk hati, menandakan bahwa mata pelajaran pertama akan segera dimulai. Namun, begitu guru yang mengajar pelajaran pertama memasuki kelas, suasana yang ada tampaknya mengisyaratkan bahwa kegiatan belajar mengajar tidak akan segera dimulai. Mungkin karena ini awal semester baru dan hari pertama masuk, para guru memilih untuk memberi kita sedikit kelonggaran. Pikiranku benar-benar tepat. Hampir semua guru yang datang ke kelas kami tidak langsung melanjutkan dengan kegiatan pembelajaran. Mereka lebih cenderung memulai dengan berbincang-bincang dan mengenal siswa-siswi yang baru.


Waktu berjalan pelan di tengah suasana yang terasa berat. Setiap menit terasa seperti jam. Aku tidak bisa berhenti memikirkan Dila dan bagaimana keadaannya. Pikiranku dipenuhi kekhawatiran dan rasa penasaran yang sulit untuk ditahan. Namun, aku bersabar, mengingat bahwa ada waktu yang telah ditentukan untuk menjenguknya.


Saat akhirnya bel pulang berbunyi, tepat pukul 14:45, anak-anak kelas berkumpul di depan pintu dengan hati yang penuh harap. Tak hanya teman-teman sekelasku yang bersiap menjenguk Dila, tetapi Desi dan Ian juga turut bergabung.


Aku melangkah dengan hati yang berdebar-debar menuju parkiran motor siswa. Dari kejauhan, aku melihat Hendrik sedang mengeluarkan motornya. Tanpa ragu, aku langsung menghampirinya, berharap bisa menebeng di motornya.


“Drik, gua ikut ke rumah Dila sama lu ya?”


Hendrik menoleh ke arahku dengan ekspresi tidak terlalu antusias. “Anjing, gua kira siapa yang datang? Motor lu mana?” serunya dengan nada bercanda.


Aku tersenyum. “Biasa, si merah lagi turun mesin.”


“Sudah tidak bisa tertolong, yaudah naik aja. Tapi nanti kalau ada ulangan, gua nyontek sama lu, ya.”


“Lu nyontek ulangan gua, malah tersesat ege.” balasku sambil naik ke motor Hendrik.


“Setidaknya lu tersesatnya nggak sendirian.” timpal Hendrik dengan senyum khasnya.


Setelah perjalanan yang lumayan jauh, kami tiba di rumah Dila. Aku melihat anak-anak sedang berkumpul dengan penuh keakraban di halaman, seolah-olah mereka tidak memperdulikan kedatanganku dan Hendrik yang baru saja sampai. Hanya Desi yang langsung menyadari ke-hadiranku, dan matanya langsung bertemu dengan pandanganku.


Desi berdiri di depan pintu dengan sikap yang agak kesal. “Umumnya orang yang menjenguk membawa buah atau makanan, lah elu datang cuma bawa badan doang. Lu mau ngejenguk atau minta makan?” ucapnya dengan nada sedikit menyinggung.


Aku tersenyum kecut. “Setidaknya badan gua masih berharga, Des, kalau dijual.”


Hendrik, yang datang bersamaku, masuk ke dalam ruangan tanpa permisi dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Dila. Ia langsung menuju tempat makanan yang telah di siapkan oleh Dila dan mulai melahap makanannya yang ada di sana.


“Lu ya, kalau soal makan, selalu nomor satu.” Desak Elis sambil memukul lembut bahu Hendrik, lalu duduk di depannya.


“Inget, Lis, kata pepatah nggak ada yang lebih penting kecuali makan.” sela Hendrik dengan mulut masih penuh makanan, tanpa menghiraukan tatapan kaget Elis.


Aku melihat Bintang dan Ian tengah asyik bermain PlayStation yang menjadi milik Dila. “Oi, lu mau jenguk Dila atau main PS?” tegurku sambil menatap mereka.


“Bacot lu.” Balas Bintang tanpa memalingkan pandangannya dari layar.


Windi, yang melihatku berdiri di depan pintu, mencoba mengusirku. “Lu mau sampai kapan diem di depan pintu, ngalang-ngalangin orang jalan aja?”


Setelah diusir oleh Windi, aku memasuki ruangan dan duduk di dekat tembok. Kulihat bahwa Dila tidak ada di sana, mungkin ia sedang sibuk menyiapkan makanan dan minuman untuk para pengunjung. Tidak lama kemudian, Dila muncul kembali dengan wajah yang sedikit pucat, membawa buah-buahan yang sudah dikupas. Aku langsung mendekatinya dan mengambil beberapa potongan buah dari tangan Dila.


“Yang sakit seharusnya istirahat, bukannya bolak-balik ke dapur. Sini, biar aku bantu.” ucapku sambil tersenyum, mataku terfokus pada wajah Dila yang memancarkan kelelahan.


“Eh, eh, udah nggak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja dan sudah kuat kok.” coba Dila mengambil kembali buah-buahan yang kubawa, sambil menunjukan ototnya dan tersenyum dengan wajah sedikit pucat.


“Udah Dila kamu harus istirahat biar aku aja yang bawa.” Sambil berjalan membawa buah yang tadi Dila bawa untuk anak-anak.


Setengah jam berlalu setelah aku bersama anak-anak kelas menjenguk Dila, dan kami pun bersiap untuk pulang sebelum aku pulang aku pun menghampiri Dila untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


Sambil berjalan bersamanya kedepan teras rumahnya. “Dila, aku pulang ya. Kamu jaga kesehatan jangan kecapean dan jangan maksain buat mikirin aku tiap hari.” Ucapku sambil mengusap kepala Dila dan tersenyum kepadanya.


Hendrik, yang dari tadi melihat aku berbicara dengan Dila, menggerutu dengan wajah yang penuh kekesalan. “Den, lu ngebucin mulu, mau balik kagak? Kalau kagak, gua tinggalin ni?”


“Iya gua kesana.” Ucapku menimpali perkataan Hendrik.


Dila, dengan senyum yang lembut dan wajahnya yang masih pucat pasi, berdiri tegak di belakangku, sepertinya ia berusaha menahan sakit. Suaranya terdengar lemah namun penuh dengan rasa terima kasih yang tulus. “Den, makasih ya kamu, sama yang lainnya, repot-repot ngejenguk aku.”


Saat Dila tersenyum, aku menyadari bahwa senyum Dila adalah sumber kebahagiaanku. Namun, aku tidak bisa melepaskan momen ini tanpa membuatnya mengerti betapa pentingnya peran yang telah ia mainkan dalam hidupku. “Itu nggak gratis, loh. Kalau kamu sudah sembuh, kamu harus traktir aku makan mie ayam di ibu kantin ya?” ucapku, suara lembutku mencoba menggambarkan harapanku yang tulus.


Dila hanya bisa tersenyum dengan penuh kehangatan. “Ehehehe, hati-hati ya.” katanya, matanya masih terpaku melihatku pergi bersama Hendrik, meninggalkan rumahnya.


Tiga hari telah berlalu sejak aku menjenguk Dila. Akhirnya, Dila kembali hadir di sekolah. Hatiku berdebar saat melihatnya duduk di bangkunya, wajahnya kembali bersinar seperti dulu. Aku tanpa ragu segera meng-hampirinya.


“Dila, kamu udah mendingan?” tanyaku dengan cemas, mataku tak bisa berpaling darinya. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya.


Dila tersenyum melihatku yang penuh perhatian. “Iya, aku lumayan udah mendingan, kok. Dan sekarang aku sudah diizinkan untuk kembali ke sekolah.” jawabnya dengan suara yang penuh harap dan kelegaan.


Aku mengelus lembut kepala Dila. “Ingat, Dila, apa kata dokter. Jaga pola makanmu. Kamu nggak boleh makan belalang, tutut, apalagi kodok.” ucapku dengan nada khawatir, mencoba melindunginya dari bahaya yang mungkin saja mengintainya.


Dila langsung memukul perutku dengan ringan. “Deni, ngeselin!” serunya sambil mencoba menunjukkan ke-kesalannya.


“Aduh, ini mah aku udah yakin kalau kamu udah sehat. Soalnya pukulanmu lebih sakit daripada sebelumnya.” kataku sambil memegang perutku yang baru saja dipukul oleh Dila.


“Ya habisnya...” Dila memalingkan tubuhnya dariku, ekspresinya penuh cemburu. “Kamu ngeselin mulu.”


Aku tertawa melihat wajah Dila yang memerah dan terlihat cemberut. “Syukurlah, kalau kamu sudah bisa kembali ke sekolah. Bagiku, tanpamu, sekolah begitu membosankan dan tak lagi memiliki daya tarik yang sama.”


Tak lama Bel masuk pun berbunyi semua anak kelas duduk di tempat duduknya masing-masing, Bunda yang merupakan wali kelasku datang ke kelasku untuk menyampaikan sebuah pengumuman yaitu untuk seluruh kelas 11 ini semua siswa wajib memiliki minimal satu ekstrakurikuler/ekskul untuk syarat kenaikan kelas sambil memberikan sebuah kertas yang bertuliskan beberapa ekskul yang ada di sekolahku.


Hampir semua anak laki-laki yang ada di kelasku masuk ke ekskul Pancak Silat karena ketua silatnya saat itu adalah Zahid. Zahid adalah orang yang cukup dewasa diantara kita semua dan dia juga orang yang sangat bisa diandalkan tapi sayang dia selalu sulit untuk di ajak membuat sesuatu hal yang bersifatnya buruk ya memang pada dasarnya dia orang yang baik dan jujur si. Setelah Bunda menyampaikan informasi tentang ekskul tersebut Bunda pun pamit meninggalkan kelasku.


Dila yang menghampiriku dan mengambil kertas yang belum aku isi untuk mengikuti ekskul yang ada disekolah. “Kamu nggak ikut ekskul Den?”


Aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan bersama Dila untuk pergi kekantin. “Ekskulnya pada ngebosenin.”


“Emang ekskul yang kamu mau itu kayak gimana?”


Aku pun bergumam sambil memegang dagu dengan tangan kananku. “Mungkin memenangkan hati kamu.” Aku pun tersenyum ke arahnya. Dan Dila pun hanya membalas perkataanku dengan senyumannya yang manis.


Setelah berjalan beberapa menit aku dan Dila pun sampai dikantin, dan langsung menemui ibu kantin untuk memesan makanan yang biasa aku makan.


Dila pun memukul bahuku. “Deni si ibu ada di depan juga.”


“Oh ini ibu kantin, kirain siapa maaf bu lupa.” Kataku dengan cengengesan.


“Eleh-eleh kamu ya baru juga 2 minggu nggak ketemu sama Ibu udah lupa aja.”


“Bu seperti biasa Mie ayamnya dua sama teh tariknya dua.” Kataku kepada Ibu kantin yang berada di hadapanku.


“Dan seperti biasa, pasti ngutang ya?” tegur ibu kantin dengan nada bercanda.


“Eh, Bu, tau aja. Tapi sekarang tebakannya salah, karena sekarang Deni ditraktir oleh Dila, Bu.” ucapku sambil menunjuk ke arah Dila dengan kedua tanganku.


Ibu kantin tertawa sambil membuat mie ayamnya. “Kamu ya malu-maluin ibu. Harusnya si neng geulis ini yang ditraktir sama kamu, ini malah kebalikannya. Hadeh.” kata ibu kantin sambil menggelengkan kepalanya.


Aku hanya tertawa mendengar perkataan ibu kantin. “Udah, diem.” kata Dila sambil menyumpal mulutku dengan sepotong gorengan yang ada di hadapannya.


Ibu kantin bergabung dalam tawa kami. “Ahahaha... Bagus tuh, neng. Harus di gituin si Deni biar diem.” kata ibu kantin sambil menyodorkan mie ayam yang baru selesai dibuat.


“Makasih ya, Dil, atas gorengannya.” ucapku sambil memakan gorengan yang tadi menyumpal mulutku.


“Ini makanan sama minumannya.”


Aku dan Dila pun pergi ketempat biasa kami makan yaitu di bangku di bawah pohon tak lama datang Desi, Ian, Windi dan Bintang


“Kalian ya nggak ngajak-ngajak selalu nyuri start duluan.” Kata Bintang sambil meminum Teh tarik milikku yang baru saja Dila bawa kemeja makan.


“Eh kampret, itu minuman punya gua.”


“Bentar gua cuma minjem doang soalnya gua haus banget.”


“Tang bagi Tang, gua juga haus.” Kata Ian mengambil teh tarikku dari tangan Bintang dan langsung meminumnya.


Dila menghentikanku yang berusaha merebut kembali gelas teh tarik dari tangan Bintang dan Ian. “Udah, Den, nggak apa-apa.” kata Dila dengan penuh pengertian.


“Eh Win teh tariknya satu ya buat Deni” kata Dila meminta Windi untuk membelikan teh tarik untukku.


“Tuh Den lu dipesanin lagi teh Tarik sama Dila jadi ini milik kita ya nggak ian?” kata Bintang sambil menghabiskan Teh tarik yang tadinya milikku.

__ADS_1


“Ah kampret lu.”


“Eh ngomong-ngomong kalian pada ikut ekskul apa ni?” kata Windi yang kembali sambil membawakan makanan ke mejaku dan juga minuman yang tadi Dila minta.


“Kalau gua sama Ian ikut ekskul Rohis.” Ucap Desi sambil menunjuk Ian.


“Kalau gua si ikut ekskul Taekondow, Bintang sama Dila ikut ekskul Pancak Silat.” Kata Windi kepada Desi sambil meminum teh Manis pesanannya


“Kanapa lu Den?” Ucap Desi sambil meminum teh manis yang tadi dia bawa.


“Dia nggak tau mau ikut ekskul apa, katanya semua ekskul membosankan.” Ucap Dila mewakili jawabanku.


“Kan lu bisa main gitar kenapa nggak ikut ekskul band aja? Atau ikut futsal aja yang kira-kira sering lu lakuin?”


“Nah betul tuh lu bisa ikut ekskul band meski bakat sama suara lu di bawah rata-rata. Ahahaha.” Ucap Bintang sambil meminum habis teh tarik yang harusnya milikku dan mentertawaiku.


“Kampret lu.” kataku sambil mengambil teh tarik yang Windi bawa untukku.


“Paling untuk sementara gua nggak akan ikut ekskul apa pun dulu” kataku sambil meneguk teh tarik itu.


Bel masuk berbunyi, menggema di lorong-lorong sekolah, memanggil kami untuk meninggalkan kantin dan kembali ke kelas masing-masing. Desi dan Ian berpisah dulu karena mereka memiliki kelas yang berbeda dengan kami. Sementara itu, aku berjalan menuju kelas bersama Windi, Bintang, dan Dila.


“Habis ini mata pelajaran apa?” tanyaku, mencoba mencari tahu jadwal pelajaran selanjutnya.


“Matematika. Gua denger-denger ada guru baru yang bakal ngajar, katanya dia ngebosenin banget.” jawab Bintang sambil berjalan di sampingku.


“Bolos aja yuk. Gua males kalau diajarin sama guru yang bikin ngantuk.” ajakku, menggoda Bintang untuk membolos pelajaran Matematika.


“Gaslah.” jawab Bintang dengan ekspresi setengah tertarik.


Namun, Dila dan Windi yang mendengar percakapan kami tiba-tiba menatapku dengan wajah yang menyeram-kan. “Ehem...” gumam Dila dengan suara yang tajam.


Aku dan Bintang seketika melihat ke arah Dila dan Windi, merasakan ketegangan yang muncul karena senyum mereka yang tetap ada, namun terasa menyeramkan. Seperti mereka ingin mengatakan, “Jika kalian berani membolos, kalian akan kami bunuh.”


“Kalian mau bolos ya?” kata Windi dengan senyuman yang tampak misterius.


Aku berbisik kepada Bintang, mencoba mencari dukungan dalam keadaan yang semakin terpojok. “Eh, Tang. Gua merasa ada sesuatu yang nggak beres nih.”


“Beneran, gua juga merasa gitu. Gimana nih ege?” ucap Bintang, jelas merasa terancam.


“Jangan tanya ke gua, gua juga kagak tahu.” jawabku dengan ragu.


Tiba-tiba, Dila dan Windi menyerbu kami dengan meremas telinga kami dan menarik kami masuk ke dalam kelas, mencegah kami untuk membolos mata pelajaran tersebut.


Aku berusaha membela diri dan menyalahkan semua ini kepada Bintang. “Eh, Dil, bukan aku yang ngajak bolos, tapi Bintang.” ucapku sambil memegang tangan Dila yang masih meremas telingaku.


“Eh, lu ngapain nyalahin gua? Lu yang ngajak, koplak.” protes Bintang sambil menderita akibat ulah Windi yang meremas telinganya.


“Kalian berdua jangan banyak alasan ya.” kata Dila dan Windi sambil menatap kami dengan tatapan dan senyuman yang semakin menyeramkan.


Aku dan Bintang terpaksa harus mengikuti pelajaran Matematika meski sebenarnya tak ingin. Dila dan Windi tampak bahagia melihat kami harus menghadapi konsekuensi dari tindakan kami.


Setelah memasuki kelas, tak lama kemudian guru yang mengajar pelajaran Matematika datang. Tampangnya saja sudah terlihat membosankan, dan dia melanjutkan mengajar dengan gaya yang sama. Kami terpaksa men-dengarkan dengan tidak bersemangat, menghadapi dua jam yang terasa sangat panjang. Akhirnya, bel istirahat kedua pun berbunyi, memberikan kami sedikit kelegaan dari kebosanan yang tak terhingga.


Bintang melihatku kesulitan dan dengan cepat me-lemparkan kertas yang dikepalnya ke arahku. “Oi, masih sadar, lu?” serunya.


“Nyawa gua belum sempurna terkumpul ege.” ucapku sambil merundukkan kepala di atas tumpukan buku yang menumpuk di mejaku.


Dari kejauhan, kulihat Windi mendekati tempat dudukku bersama Dila. “Kalian masih sadar?” tanyanya.


Aku melambaikan tangan ke arah Dila. “Dila, tolong, Deni udah nggak kuat.”


“Ini untuk kamu.” kata Dila sambil memberikan botol minum yang selalu dia bawa ke sekolah.


“Dila... makasih.” ucapku dengan wajah penuh kegembiraan, lalu mengambil botol minum dari tangan Dila dan meneguknya.


Dila tersenyum padaku. “Gimana tadi pelajarannya?”


“Dahlah.” jawabku singkat.


Kemudian, aku berdiri dari tempat dudukku dan keluar kelas bersama Dila yang berjalan di samping kiriku.


Dila tertawa kecil sambil berjalan di depanku dan terus menatap wajahku. “Ehehehe... Senang aja melihat kalian kesulitan saat pelajaran matematika.”


“Kamu psikopat ya?” kataku sambil mencoba menjauhkan diri darinya.


Dila hanya tersenyum setelah mendengar perkataanku. Tapi entah mengapa, aku merasa sangat takut. Takut bahwa mungkin aku hanya menjadi tokoh pendukung, bukan tokoh utama dalam kehidupannya. Melihatnya berbaik hati dengan semua orang membuatku khawatir dan selalu terbersit dalam pikiranku bahwa dia mungkin mem-perlakukan orang lain dengan cara yang sama sepertiku.


Aku hanyalah seorang pengecut yang enggan berkata kalau aku mendambakanmu. Apa aku sang munafik? Yang berlagak acuh namun dalam hati berteriak butuh. Atau jangan-jangan kamu yang memilih buta? Hingga enggan berkata kalau di sini aku memiliki rasa.

__ADS_1


.~~~.


__ADS_2