
Aku Deni, Deni Ardiansyah Arafah, Jenis kelamin laki-laki, berzodiak Pisces yang lahir di Bogor pada tanggal 5 Maret, 22 tahun yang lalu. Baru-baru ini, aku berhasil menyelesaikan volume pertama buku pertamaku yang berjudul "Sebuah Puisi untuk Dila". Buku itu merupakan karya tulis pertamaku yang menceritakan tentang kehidupanku di masa SMA di salah satu sekolah di Bogor. Saat itu, aku jatuh cinta pada seorang wanita yang begitu mudah membuat hatiku terpikat, dan sampai sekarang, aku masih mencintainya walau pun waktu sudah bergerak lebih cepat daripada perasaanku padanya.
Sekarang, aku tengah menulis volume kedua dari buku ku, masih dalam keadaan dan tempat yang sama seperti sebelumnya. Dengan sebatang rokok di antara jari telunjuk dan jari tengahku, aku menatap layar monitor dengan sebuah foto yang selalu menemani ku. Foto itu adalah potretku bersama wanita itu, diambil lima tahun yang lalu.
Ketika pertama kali masuk SMA di salah satu sekolah di Bogor, aku bertemu dengan seorang perempuan bernama Dila. Kami berpapasan di lorong sekolah pada hari pertama, dan pada hari kedua aku akhirnya mengetahui namanya.
“Gimana boleh kenalan nggak?”
“Iya, boleh,” Dila menjabat tanganku dan tersenyum. “Dila... Fadila Ningsih. Kamu boleh panggil aku Dila aja.”
Saat itu Dila dan aku memiliki kesamaan, kami berdua remaja yang menikmati keindahan langit senja saat matahari terbenam di balik cakrawala.
Di sekolah Dila adalah sosok yang membuat orang-orang merasa nyaman dengan kehadirannya. Ia sederhana, tetapi keistimewaannya terletak pada kesederhanaan itu sendiri.
Di balik kesederhanaannya, ada perasaan rumit yang sulit diurai dengan cara yang sederhana. Meski begitu, aku sangat menikmati setiap saat yang kami habiskan bersama, seakan waktu berhenti ketika kami berdua bersama.
“Kenapa Jarjit kalau pantun selalu diawali dua tiga dua tiga?” tanyaku.
“Karena pantunnya cuma dua atau tiga baris mungkin, tapi aku juga nggak tau si. Ehehehe.”
“Salah.”
“Terus yang bener apa dong?” Dila bertanya.
“Karena yang pertama itu kamu.”
Kami berdua adalah remaja yang di pertemukan oleh skenario yang dibuat oleh semesta, dan jatuh cinta padanya adalah sebuah pilihan yang aku buat. Aku mencintainya bukan hanya karena obsesi atau keinginan untuk memiliki, melainkan lebih dari itu. Perasaan itu begitu kompleks dan tak terdefinisi kan, sebuah euforia yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
Aku menyukai Dila bukan karena ia menjadi primadona sekolah atau karena parasnya yang cantik. Aku tidak memiliki alasan khusus mengapa aku bisa menyukai Dila. Mungkin perasaan itu datang begitu saja dan tidak pernah berhenti hingga sekarang.
Kantin sekolah adalah tempat di mana aku dan Dila sering menghabiskan waktu bersama, saling terhubung satu sama lain.
“Pagi, bu.” sapa aku kepada ibu kantin.
“Eh, kamu tumben datang berdua sama si 'neng geulis' aja, yang lain pada kemana?” Tanya ibu kantin.
Aku tersenyum. “Mereka lagi pisah ranjang, bu, jadi mereka nggak ikut ke sini.”
“Mana ada mereka udah pisah ranjang, mereka aja belum nikah.”
“Eh, si ibu nggak tau aja, aku sama Dila aja udah tunangan.” ucapku sambil memperlihatkan cincin yang Dila pakai kepada ibu kantin.
Ibu kantin terkejut melihat cincin di jari manis Dila. “Eh, serius, Eneng udah tunangan sama Deni?” ucap ibu kantin sambil memegang bahu Dila.
Dila, yang mendengar perkataanku, langsung memukul kepalaku dan menyangkal. “Enggak, bu. Cincin ini punya Dila, bukan tanda pertunangan.”
“Kalau kamu sendiri setelah lulus mau kemana?” Tanyaku.
“Mungkin Aku akan kembali ke Tangerang dan kuliah di sana, bisa di bilang aku nggak akan kembali ke Bogor lagi.”
Tapi perpisahan itu yang selalu membuat hatiku begitu sakit saat mengingat ingat tentang momen perpisahan yang bahkan aku tak bisa menghentikan untuk Dila tidak pergi dari hidupku. Menghilang adalah kata yang aku gunakan untuk meyakinkan hatiku ketika bersama Dila tentang membahas dirinya yang tidak akan kembali ke kota ini.
“Kamu setelah lulus sekolah mau kemana?”
“Rencanaku setelah lulus tidak langsung melanjutkan kuliah. Aku berencana untuk mengambil waktu sendiri, mungkin sekitar satu atau dua tahun setelah lulus baru akan kuliah.”
“Emangnya kamu mau ngapain dulu?” Tanya Dila kembali.
__ADS_1
“Aku ingin melihat tempat-tempat yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan melihat senja yang lebih indah lagi walau mungkin tak akan seindah dulu.”
Dila tersenyum hangat, sambil terus memainkan rambutku dengan jemarinya. “Kamu masih tetap ya sangat menyukai senja, Den.”
“Dila?”
“Iya.”
“Apa kita masih bisa bertemu setelah hari ini berakhir, setelah kita lulus sekolah, dan bahkan setelah bertahun-tahun berlalu?”
Dila diam sejenak, matanya berkelana ke sudut ruangan. Lalu, dengan tangan yang masih membelai rambutku, dia menjawab dengan suara lembut. “Kamu ingat dulu kamu pernah bilang, bahwa jika suatu saat setelah kita lulus SMA kita tidak bisa bertemu, kamu akan membuat sebuah cerita tentang masa SMA yang kita lewati bersama. Kamu akan menceritakan saat-saat ketika aku tidak bersamamu. Dan di akhir cerita itu, akan ada kata-kata, 'akhirnya kita bertemu juga'.”
Dila melanjutkan, masih dengan jemarinya yang lembut memainkan rambutku. “Terima kasih, Den, untuk tiga tahun yang tak terlupakan ini.”
Tetapi tepat pada tanggal 23 juni, hari terakhirku bertemu dengan Dila di mana aku masih mengingat kejadian itu sampai saat ini. Momen di mana aku benar-benar kehilangan Dila dari hidupku. Momen di mana depresiku dimulai setelah kejadian itu.
"Dila." Panggilku dengan suara yang terdengar rapuh dan penuh harap di antara keheningan malam.
Dila berbalik menghadap ku, matanya memancarkan kilatan sedih yang sulit aku tolak. Dia memperhatikanku dengan senyuman tipis di bibirnya, tetapi pandangannya terlihat jauh.
"Iya Den?" Jawabnya dengan suara yang hampir terputus.
Aku menghampirinya, langkah demi langkah, dan memegang tangannya dengan erat, mencoba menahan waktu agar berhenti sejenak, agar kita bisa berada dalam momen ini selamanya. Tetapi dunia terus berputar, dan waktu terus berlalu.
"Selamat tinggal, Dila." Bisikku dengan suara penuh kelembutan, meski hatiku hancur di balik senyum palsu yang ku buat.
Dila melepaskan genggamanku, pandangannya kembali terarah ke gerbang rumahnya yang seakan menjadi perbatasan antara kami. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia memasuki gerbang rumahnya, meninggalkanku sendiri di tengah kegelapan malam kemudian menghilang.
Sebelum malam menikam mati perasaanku, sebelum aku ketiduran di hadapan komputer ku, atas nama rindu mari aku lanjutkan ceritanya.
__ADS_1
...****************...