Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Waktu berdua


__ADS_3

Setelah berfoto bersama Dila, aku berjalan di depan Dila untuk pergi berkumpul di lapangan, di mana pembukaan Event akan segera dimulai. Namun, tiba-tiba Dila menarik tanganku. “Deni, tunggu!”


Aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadap Dila. “Ada apa, Dila?” tanyaku dengan rasa penasaran.


Dila memperhatikan bajuku dan menyadari bahwa baju tersebut kotor. Tanpa ragu, dia membersihkannya dengan tangannya sendiri. Saat itulah Bintang, yang melihat adegan tersebut, mendekatiku dan Dila.


“Kalian berdua ngebucin terus, ayo jalan, ege!” ejek Bintang dengan senyum menggoda.


Windi, yang melihat Bintang mencoba menggoda aku dan Dila, segera menghampiri dan memukul kepala Bintang. “Kamu diam saja, cepat ke lapangan!”


“Yaudah, aku duluan ya.” kata Bintang seraya berjalan bersama Windi menjauh dari aku dan Dila. Akhirnya, aku dan Dila melanjutkan langkah kami menuju lapangan. Tepat saat kami memasuki lapangan, upacara pembukaan pun dimulai.


Momen itu dipenuhi dengan antusiasme dan haru. Suasana di sekitar kami terasa semakin dramatis, dengan sorak-sorak dan riuh rendah para siswa yang berkumpul. Kami berdua melihat satu sama lain, saling tersenyum dan tertawa bersama.


Setelah upacara di lapangan selesai, aku bersama teman-temanku kembali ke kelas. Sesampai di kelas, suasana begitu sibuk dengan persiapan Event yang akan segera dimulai. Anak-anak sibuk mempersiapkan diri untuk lomba panjat pinang, balap karung, dan lomba lari dari kenyataan. Melihat keadaan tersebut, aku spontan ingin mengajak Dila kabur dari kelas dan pergi ke kantin.


“Sst, Dila, ayo.” bisikku kepada Dila sambil menarik tangannya agar kita bisa keluar dari kelas.


“Eh, mau ke mana, Den?” tanya Dila kaget ketika aku tiba-tiba mengajaknya pergi.


Aku dan Dila berjalan menuju kantin. “Jangan berisik, ikut saja.” pintaku.


Saat kami hampir sampai di kantin, aku melihat Jey sedang berjalan di lorong sekolah dan kemungkinan akan berpapasan dengan kami. Tanpa pikir panjang, aku memutar tubuhku dan membantu Dila bersandar di tembok, lalu menutupinya dengan tubuhku agar Jey tidak menyadari kalau kami berdua sedang mencoba kabur dari kelas.


“Eh, kenapa, Den?” tanya Dila kaget karena aku men-dorongnya ke arah tembok dan menutupi tubuhnya dengan tubuhku.


“Tunggu sebentar, Dil.” ucapku pelan.


Setelah Jey lewat, aku langsung menarik tangan Dila dan kita melanjutkan perjalanan menuju kantin.


“Maaf ya, Dil, tadi aku mendorongmu. Aku melihat Jey.” kataku sambil tersenyum.

__ADS_1


Dila hanya tersenyum balas sambil terus berjalan di sisi ku. “Oh, nggak apa-apa. Kirain ada apa tadi. Eh, mau ke mana nih? Nanti anak-anak mencari kita, lho.”


Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Dila dan terus berjalan di sisinya. Sesampainya di kantin, aku dan Dila mendekati ibu kantin. Suasana yang semakin dramatis dan detail menciptakan ketegangan dan keberanian kami untuk melarikan diri dari keramaian dan menemu-kan momen ketenangan kami di kantin yang tenang.


“Pagi, bu.” sapa aku kepada ibu kantin.


“Eh, kamu tumben datang berdua sama si 'neng geulis' aja, yang lain pada kemana?” tanya ibu kantin, penasaran keberadaan Windi dan Bintang.


Aku tersenyum. “Mereka lagi pisah ranjang, bu, jadi mereka nggak ikut ke sini.”


“Mana ada mereka udah pisah ranjang, mereka aja belum nikah.” kata ibu kantin dengan nada tidak percaya.


“Eh, si ibu gatau aja, aku sama Dila aja udah tunangan.” ucapku sambil memperlihatkan cincin yang Dila pakai kepada ibu kantin.


Ibu kantin terkejut melihat cincin di jari manis Dila. “Eh, serius, Eneng udah tunangan sama Deni?” ucap ibu kantin sambil memegang bahu Dila.


Dila, yang mendengar perkataanku, langsung memukul kepalaku dan menyangkal. “Enggak, bu. Cincin ini punya Dila, bukan tanda pertunangan.”


Ibu kantin menarik nafas lega. “Ibu kira beneran. Yaudah, karena ada anggota keluarga ibu yang ulang tahun, ibu bakal buatin minuman buat kalian, gratis.”


“Atuh, itu mah beda lagi, hutang ya hutang, ya harus dibayar atuh, bener nggak, 'neng geulis'?” kata ibu kantin sambil menatap Dila.


Dila hanya tersenyum menanggapi pertanyaan ibu kantin.


“Lagian juga, bukan ibu atuh yang ulang tahun. Ulang tahun ibu mah 2 bulan yang lalu, yang ulang tahun sekarang mah si Selly.” ucap ibu kantin, menyangkal tentang ulang tahunnya.


Aku merespons perkataan ibu kantin. “Oh, anak ibu yang ulang tahun.”


“Bukan, atuh. Anak ibu mah cuma si Asep. Si Selly itu kucing peliharaan si Asep.”


“Ini minumannya, 2 teh tarik buat kamu sama 'neng geulis'.” kata ibu kantin sambil memberikan kedua minuman itu kepadaku dan Dila.

__ADS_1


Dila tersenyum dan berjalan menuju tempat duduk yang biasanya kami suka duduk bersama. “Makasih ya, bu.”


“Eh Den, emang nggak papa apa kita pergi ke kantin sekarang, nanti anak-anak kelas nyariin?”


“Aku tersenyum ke arah Dila yang sedang khawatir. “Udah, Dila, santai aja. Selama ada aku, semuanya bakal aman sentosa baik raga, jiwa, maupun pahala.”


“Den, ada hal yang ingin Dila omongin sama Deni, tapi gimana ya Dila ngomongnya takutnya Deni salah paham sama omongan Dila.” ujar Dila dengan keraguan.


Aku mendengar kata “salah paham” dari kalimat Dila, dan pikiranku langsung berputar, “Oh, mungkin Dila sudah tahu perasaanku dan berusaha menolaknya, bahkan sebelum aku mengungkapkannya.” dalam hatiku.


Aku tetap tersenyum, meskipun sebenarnya hatiku tidak ingin tersenyum sama sekali. “Iya, Dila, nggak apa-apa. Jujur saja apa yang mau Dila omongin.”


“Dila mau ngomong, gimana kalau setelah lulus SMA kita nggak ketemu lagi, dan bahkan kejadian terburuknya, Dila dan Deni nggak ketemu selama empat tahun setelah kita lulus? Mungkin pertanyaan ini agak aneh terdengarnya, tapi Dila pengen tahu apa yang bakal Deni lakuin jikalau kejadian itu terjadi?” tanya Dila kepadaku.


Aku terkejut, kira-kira Dila akan berbicara tentang perasaannya padaku, ternyata dia menanyakan hal lain.


Aku tersenyum dengan tulus kepada Dila. “Mungkin jikalau itu terjadi, Deni bakal membuat sebuah cerita epik tentang perjalanan panjang untuk bertemu kembali denganmu, Dila. Dan pada ending cerita yang penuh harap itu, akan ada sebuah momen yang mencengangkan. Ketika empat tahun yang terasa seperti abad berlalu, aku melihatmu berdiri di tengah keramaian. Mata kita saling bertemu, dan aku bisa melihat kebahagiaan yang terpancar darimu. Lalu, dengan suara yang penuh emosi, aku berkata, 'Akhirnya kita bertemu kembali.' Suasana pun menjadi hening, seolah waktu berhenti sejenak untuk memberi ruang pada momen istimewa kita.”


Perbincangan kami di kantin semakin dalam dan penuh dengan antusiasme. Hatiku berdebar kencang, terpikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang menanti di masa depan kami.


Setelah tiga puluh menit berlalu, aku dan Dila tiba di kelas dengan hati yang cemas. Aku takut melihat reaksi anak-anak di kelas yang mungkin sudah histeris karena kepergian kami. Sesampai di kelas, dugaanku menjadi kenyataan saat Jey langsung meluapkan kemarahannya kepadaku. Suaranya penuh dengan kekesalan karena aku pergi tanpa memberitahunya atau anggota kelas yang lain, sehingga membuat penampilan kami tidak lengkap tanpa kehadiranku yang memiliki peran penting pada saat itu.


“Lu kemana aja? Anak-anak nyariin lu, jadi kita tampil tanpa lu.” ucap Jey dengan nada ngegas begitu aku dan Dila memasuki pintu kelas.


Aku hanya bisa tersenyum sambil meminta maaf kepada Jey, berusaha menenangkan keadaan. “Maaf, maaf, kayaknya gua telat ya.”


“Dahlah.” Jey menjawab singkat dengan rasa kecewa yang masih terlihat jelas.


Setelah Event selesai, semua kelas akhirnya dibubarkan karena tidak ada kegiatan belajar mengajar. Namun, pikiranku masih terus melayang pada perkataan Dila tadi. Aku terus memikirkan apa yang akan terjadi jika aku dan dia benar-benar tidak bertemu selama empat tahun. Namun, yang pasti, aku akan tetap mencintaimu selama apapun itu dan, tak tergoyahkan oleh jarak dan waktu.


Kamu tidak bisa maksa seseorang mencintaimu,

__ADS_1


hanya karena kamu mencintainya.


...****************...


__ADS_2