
Dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan Dila. Telat hari ini tanggal 23 Juni aku bersiap-siap untuk pergi mengikuti acara buka bersama dengan teman-teman kelasku. Aku dengan hati penuh harap berjalan menuju motorku yang setia menunggu di depan rumah. Dalam sekejap, mesin motor menyala, dan aku meluncur menuju Villa si Hilma, tempat kami berkumpul.
Ketika aku tiba di Villa, pandanganku langsung tertuju pada kumpulan anak-anak lain yang sudah berkumpul di sana. Aku turun dari motorku dan melangkah menuju mereka, diikuti oleh Bintang yang duduk santai di atas motornya.
“Baru dateng lu? Gua kira lu nggak akan dateng.” Ucap Bintang dengan senyumnya yang melebar.
“Berisik lu.” Jawabku sambil menggelengkan kepala. Kami berjalan bersama menuju Villa untuk bergabung dengan yang lainnya. Saat tiba di Villa, mataku langsung terpaku pada sosok kecil yang duduk di teras, memancarkan pesona yang tak tertahankan.
Itu adalah Dila, dengan wajahnya yang manis dan sorot mata yang indah seperti senja yang memikat. Pandanganku terkunci padanya saat kami saling bertatapan, dan aku merasakan getaran hatiku yang berdentum-dentum. Aku tidak bisa menahan diri untuk mendekatinya.
Aku mendekatinya dan menyapanya dengan senyum. “Kamu udah dari tadi di sini?”
“Iya, aku dari siang di sini bareng si Hilma.” Jawab Dila dengan lembut, sambil duduk di teras Villa. “Novel yang aku kasih, udah sampai mana kamu baca?” Tanyanya sambil melirik ke arahku.
Aku yang mendengar pertanyaan Dila langsung tersenyum. “Aku udah selesai baca novelnya minggu lalu.”
Dila terkejut mendengar kabar itu dan mencari kepastian dari perkataanku. “Serius? Dila aja butuh waktu 3 bulan untuk menyelesaikan novel itu.”
“Gimana menurut kamu novel itu?”
“Aku menikmati setiap kata yang aku baca dari novel itu, tetapi yang nggak bisa aku terima adalah kenapa Biru tidak bisa bersama dengan Binta, walau pun Nugraha orang yang di butuhkan Binta tetapi kenapa kehadiran Biru hanya sebatas singgah kemudian pergi?”
Dila merenung sejenak, ekspresi wajahnya penuh pemikiran. “Aku juga berpikir seperti itu, tetapi jika aku yang berada di posisi Binta, sepertinya aku juga akan memilih Nugraha sebagai pilihanku.”
“Seperti kata Biru, bahwa nggak setiap orang masuk ke dunia kita untuk menetap. Ada yang lama singgah lalu pergi. Ada yang baru sebentar singgah lalu pergi. Karna memang, dia dikirim semesta untuk menitipkan pelajaran atau beberapa kenangan indah yang menyebalkan karena nggak bisa di lupakan.” Ucapku dan Dila secara bersamaan, suara kami bergabung dalam keselarasan yang menggetarkan hati, mengucapkan kutipan dari novel tersebut.
__ADS_1
Sementara anak-anak sibuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, aku tak bisa melepaskan pandangan dari Dila. Dalam keriuhan itu, kami tetap fokus satu sama lain, tahu bahwa mungkin ini adalah hari terakhir kami berdua sebelum akhirnya terpisah.
Sinar senja perlahan memancar di langit, menciptakan atmosfer magis di sekeliling kami. Suara riuh anak-anak, aroma masakan yang menggoda, dan kerinduan di mata Dila, semuanya menyatu dalam satu momen yang tak terlupakan.
“Ayo kumpul kalian mau pada buka nggak?” Teriak Felia kepada kami semua yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Aku berdiri dari tempat dudukku dan menyodorkan tanganku ke arah Dila untuk mengajaknya berbuka. “Ayo, sebentar lagi buka.”
Dila menggenggam tanganku sambil tersenyum. “Iya, ayo.”
Aku dan Dila berjalan menuju tempat berbuka di sana sudah ada banyak anak-anak yang sudah bersiap berbuka, aku dan Dila duduk di dekat Hendrik dan Muladi yang sedang bersiap menunggu adzan magrib.
“Lu emang puasa Drik?” Tanyaku kepada Hendrik yang berada di sampingku.
Aku hanya tertawa mendengar perkataan Hendrik. “Kira gua lu nggak puasa.”
Adzan magrib berkumandang, kami semua berbuka bersama untuk membatalkan puasa hari ini. Setelah selesai makan aku duduk di kejauhan bersama dengan Bintang dan Hendrik yang sedang merokok, kulihat dan perhatikan kamu yang sedang mengobrol di sana, bagaimana caranya berbicara dengan lembut, bagaimana suaranya yang pelan dan menyejukkan telinga dan bagaimana kamu menutup mulut saat tertawa. Aku memperhatikan semuanya hingga akhirnya kamu melihatku dari kejauhan yang sedang memperhatikanmu, kamu memberikan senyum padaku dengan indah dan aku pun tak lupa untuk membalas senyuman itu.
Setelah selesai acara malam itu, kami tak lupa untuk berfoto bersama sebelum bubar, Dila yang memang agak pendek dan berdiri di belakangku berusaha untuk bisa ikut berfoto tetapi terhalang olehku, dan aku yang melihat Dila langsung memberikan tempat untuk Dila agar dia bisa mengikuti foto tersebut dengan berdiri di depanku.
Aku mundur ke belakang dan memberikan tempatku kepada Dila. “Di depan aja berdirinya, biar keliatan.”
Dila pun berjalan ke depan dan berdiri di depanku. “Makasih, Biru.”
Aku yang mendengar Dila memanggilku dengan nama Biru pun hanya tersenyum kecil kepadanya.
__ADS_1
Setelah selesai foto bersama Zahid mengusulkan untuk anak-anak yang lain untuk ikut ke pasar malam yang tidak terlalu jauh dari Villa, tetapi ada juga yang tidak ikut ke pasar malam itu.
Aku mendekati Dila dan mengajaknya untuk ikut ke pasar malam bersamaku. “Mau ikut nggak? Jarang-jarang loh kamu ke pasar malam.” Ucapku dengan harapan yang tak terucapkan.
Dila terlihat ragu sejenak, namun akhirnya dia tersenyum dan bertanya, “Boleh ikut emang?”
Aku tersenyum. “Tentu saja, untuk Senjani semua bakal aku lakukan dan apa pun yang ku punya kamu boleh memiliki semuanya. Ice cream gigitan pertama, BBQ yang masih ada tulangnya, teh tarik favoritku, mie ayam suapan terakhir, bahu untuk bersandar dan telinga yang selalu siap dan senang mendengar mu bercerita. Kamu boleh meminta itu, tanpa harus meminta padaku. Asalkan itu kamu, semuanya boleh kamu miliki.”
Dila mendengar kata-kataku dengan penuh kehangatan. Tanpa ragu, dia naik ke belakang motorku dan bersiap untuk pergi bersamaku dan teman-temanku.
Muladi yang melihatku yang sedang membonceng Dila pun menghampiriku dengan muka sedikit kesal. “Oi Den, lu kesini bareng gua dan sekarang lu pulang bareng Dila?”
Aku hanya tertawa kecil melihat muladi yang kesel kepadaku. “Hehehe, tuh si Hendrik kosong, lu naik aja sama dia.”
Muladi melangkah dengan langkah menuju motor Hendrik, wajahnya masih terlihat agak kesal. Dia menaiki motornya dengan tegas dan bersiap untuk berangkat.
Aku bisa merasakan ketegangan di udara saat Dila bertanya padaku dengan keprihatinan dalam suaranya, “Nggak papa nih? Aku nggak enak sama Muladi?”
Aku menenangkan Dila dengan senyum hangat. “Udah, tenang aja. Ini bukan masalah besar. Lagipula, masih banyak motor yang kosong.”
Windi dan Bintang melihat Dila yang naik di belakangku dan mereka mendekat dengan cemas. Windi bertanya dengan nada khawatir. “Lu ikut, Dil?”
Dila hanya tersenyum, mencoba menenangkan semua kekhawatiran mereka. Dia menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Iya, aku ikut.”
...****************...
__ADS_1