
Aku naik ke dalam mobil Jeep yang telah ku sewa dan memulai perjalanan meninggalkan pantai Malimbu yang masih memancarkan cahaya teriknya.
Tujuan petualangan ku berikutnya adalah Banda Neira, sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Banda, Maluku. Setelah tiba di Bandar Udara Internasional Lombok, aku segera menuju tempat pak Toni, agen sewa mobil, yang berada dekat bandara. Dengan penuh rasa terima kasih, aku mengembalikan mobil Jeep yang telah menemani petualangan ku selama seminggu.
Sambil menunggu pesawat yang akan membawaku pergi menuju pulau Ambon, tempat transit sebelum menuju Banda Neira, aku duduk di area tunggu bandara. Aroma sedap dari kantong plastik yang berisi ayam bakar Taliwang, menu favorit yang Rinjani berikan padaku, menggoda selera makananku. Aku tidak bisa menahan diri dan dengan lahap, aku menikmati hidangan itu, mengingat kenangan-kenangan indah yang tercipta selama petualangan ku di Lombok.
Setelah selesai makan dan waktu keberangkatan pesawat semakin dekat, aku membuang sisa-sisa makanan dengan bijak dan bergegas menuju gerbang keberangkatan. Aku menunjukkan tiket pesawatku dan berjalan menuju pesawat yang akan membawaku ke pulau Ambon. Dengan hati penuh semangat dan rasa ingin tahu, aku menemukan kursi sesuai dengan nomor tiketku dan bersiap-siap untuk terbang menuju destinasi petualangan ku berikutnya.
Setelah menempati kursi yang sama dengan nomor tiketku, pesawat pun mulai berguncang-guncang sedikit saat mesinnya dinyalakan. Aku merasakan sedikit kegugupan dan kegembiraan yang bercampur aduk di dalam hati. Ini adalah awal dari petualangan ku yang baru, menjelajahi keindahan pulau-pulau di Kepulauan Banda.
Pesawat pun lepas landas, dan aku merenung dalam keheningan. Aku teringat momen-momen luar biasa yang telah aku alami selama di Lombok. Senyum-senyum sendiri terlintas di bibirku saat kembali mengingat keceriaan bersama Rinjani, petualang tangguh yang telah menjadi pemandu perjalananku selama seminggu terakhir. Kami telah menjelajahi berbagai tempat wisata yang memukau, menikmati pemandangan alam yang memesona, dan berbagi cerita serta tawa di sepanjang perjalanan.
Namun, saat ini adalah waktunya untuk melangkah lebih jauh. Banda Neira menanti dengan pesona sejarahnya yang kaya dan keindahan alamnya yang tiada tara. Aku berharap dapat menemukan petualangan baru, menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya, dan mengenal orang-orang yang memperkaya pengalaman hidupku.
Pesawat melaju dengan mantap di atas awan-awan putih yang lembut. Aku melihat langit yang cerah dan terik di luar jendela, menandakan bahwa perjalanan ini akan berjalan dengan lancar. Sambil menatap pemandangan yang terhampar di bawah, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan memanfaatkan setiap momen di Banda Neira dengan sepenuh hati. Aku akan terus menggali keindahan alam, mengeksplorasi kekayaan budaya, dan bertemu dengan orang-orang yang menarik di sepanjang perjalanan ini.
Malam pun mulai turun perlahan, dan pesawat semakin mendekati tujuan akhirnya. Hatiku berdegup kencang karena kegembiraan yang sulit aku tahan. Aku siap melangkah keluar dari pesawat ini dan memulai babak baru dalam petualangan ku. Akan ada banyak cerita baru yang menanti, dan aku siap untuk menuliskannya dalam lembaran hidupku.
Pesawat akhirnya mendarat dengan lembut di landasan pacu Bandar Udara Pattimura di Ambon. Aku menghela nafas lega sambil menyimpan semua kenangan dan cerita indah di dalam hati. Perjalanan ini belum berakhir, tapi aku sudah merasa beruntung memiliki kesempatan untuk menjalani petualangan yang tak terlupakan.
Dengan ranselku di punggung dan semangat yang membara, aku keluar dari pesawat dan memasuki pintu kedatangan. Banda Neira, aku datang untukmu. Siapkanlah dirimu untuk disinggahi oleh petualang penuh rasa penasaran seperti diriku. Perjalanan ini akan menjadi lembaran baru yang tak akan ku lupakan sepanjang hidupku.
Aku melangkah keluar dari bandara dengan semangat yang membara. Udara di Ambon terasa segar dan hangat, menyambut kedatanganku dengan lembut. Aku mencari taksi yang akan membawaku menuju pelabuhan, tempat dimana feri menuju Banda Neira bersandar.
Perjalanan menuju pelabuhan berjalan lancar. Aku melihat pemandangan sekitar dengan rasa kagum. Kota Ambon memiliki pesona tersendiri, dengan deretan rumah-rumah berwarna-warni dan jalan-jalan yang sibuk. Aku merasa antusias untuk menjelajahi lebih dalam ke dalam budaya lokal yang kaya dan unik di pulau ini.
Sesampainya di pelabuhan, aku melihat feri yang besar sedang bersiap-siap untuk berangkat. Kapal itu menjulang tinggi dengan warna-warni cerah, siap membawaku menuju Banda Neira. Aku membeli tiket dan naik ke atas kapal, mencari tempat duduk yang nyaman.
Kapal melaju perlahan meninggalkan pelabuhan, dan aku berdiri di dek atas, melihat pulau Ambon yang semakin menjauh. Angin sepoi-sepoi mengusap wajahku, memberikan rasa kebebasan dan kegembiraan yang tiada tara. Aku merasakan semangat petualangan mengalir dalam diriku, siap untuk menjelajahi keajaiban alam Banda Neira.
Perjalanan laut menuju Banda Neira memakan waktu beberapa jam. Aku menggunakan waktu itu untuk merencanakan petualangan ku selama di sana. Aku ingin mengunjungi benteng-benteng peninggalan masa lalu yang menjadikan Banda Neira sebagai salah satu tujuan wisata sejarah yang terkenal. Aku juga ingin menikmati keindahan pantai-pantai yang memukau, dengan pasir putih dan air laut yang jernih.
Kapal akhirnya tiba di pelabuhan Banda Neira. Aku melihat pulau-pulau yang cantik terhampar di depan mataku. Bukit-bukit hijau menjulang tinggi, sementara rumah-rumah kuno bergaya kolonial memberi kesan sejarah yang kuat. Aku merasa terpesona oleh pesona alam dan budaya yang menyelimuti pulau ini.
Aku turun dari kapal dengan hati penuh sukacita. Perjalanan petualangan ku di Banda Neira dimulai. Aku memasuki jalanan yang ramai dengan pedagang dan pengunjung lokal. Aroma rempah-rempah dan makanan lezat mengisi udara, mengundang selera dan rasa ingin tahuku.
Saat aku turun dari kapal di pelabuhan Banda Neira, mataku mencari-cari tempat penginapan yang dapat menjadi tempatku beristirahat setelah perjalanan panjang dari Lombok. Dalam pandangan pertama, aku melihat sebuah Homestay yang terletak di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Aku memutuskan untuk mendekat dan mengeksplorasi lebih lanjut.
Homestay itu terlihat sederhana namun menarik, dengan bangunan kayu tradisional dan taman kecil di depannya. Aku melangkah masuk ke dalam homestay dan disambut oleh pemiliknya yang ramah. Aku merasa nyaman sejak awal.
Di dalam, aku melihat ruangan-ruangan yang bersih dan rapi. Ada beberapa kamar tidur yang tersedia, serta ruang tamu yang nyaman dan perabotan lengkap. Aku mengamati setiap detail interior homestay ini, dari hiasan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, hingga furnitur kayu yang memberikan sentuhan tradisional.
Pemilik homestay menjelaskan fasilitas yang mereka sediakan, termasuk kamar mandi bersama dengan air panas, WiFi gratis, dan sarapan pagi yang disajikan di ruang makan yang terbuka. Aku merasa senang mengetahui bahwa homestay ini memberikan fasilitas yang memadai untuk kebutuhanku selama menginap di sini.
Setelah memilih kamar yang nyaman, aku meletakkan barang-barang ku di tempat tidur dan mandi untuk menyegarkan diri. Aku merasa lega bisa menenangkan diri setelah perjalanan yang melelahkan.
__ADS_1
Setelah beristirahat sejenak, aku keluar dari kamar dan melangkah ke halaman depan homestay. Matahari sore mulai meredup, menciptakan suasana yang romantis dan mempesona. Aku melihat taman kecil yang terhampar di depanku, dipenuhi dengan bunga-bunga yang berwarna-warni dan dedaunan yang hijau segar. Langit memancarkan warna oranye keemasan, menciptakan latar belakang yang sempurna untuk momen yang mendalam ini.
Aku duduk di bangku kayu yang tersedia, melihat sinar matahari yang perlahan turun di cakrawala. Hatiku berdebar-debar, mencoba menenangkan diri sambil meraih rokok dari saku celanaku. Api rokok menyala, menambahkan kehangatan pada suasana yang mulai memudar. Aroma tembakau mengisi udara, menciptakan sensasi yang hampir magis.
Kemudian, aku mengeluarkan sebuah buku dari dalam ranselku. Buku yang telah menjadi temanku setia dalam setiap perjalanan, menyimpan ratusan halaman yang penuh dengan kata-kata yang belum terucapkan. Dengan hati yang gemetar, aku meraih pena dari saku dan memegangnya dengan erat. Ini adalah saatnya untuk mengungkapkan perasaanku yang terpendam, melalui bait-bait puisi yang akan tercipta di dalam halaman-halaman putih.
Namun, dalam kesunyian malam yang semakin menghampiri, aku tak bisa mengabaikan kerinduanku yang mendalam. Pikiranku tertuju padamu, Dila. Setiap detik berlalu terasa menyakitkan karena perpisahan yang tak terelakkan. Dalam keheningan yang ada, aku mulai menggoreskan pena di atas kertas, mencoba menggambar-kan betapa besar rinduku padamu.
Kata-kata mulai terbentuk menjadi puisi, mengalir seperti air yang mengalir dengan lembut. Setiap kalimat penuh dengan keindahan dan kebahagiaan yang pernah kita rasakan bersama. Aku menggambarkan kenangan-kenangan indah yang selalu menghiasi pikiranku, dan betapa aku merindukan kehadiranmu di sampingku. Hatiku terbuka, mengungkapkan segala perasaan yang terpendam, seolah-olah engkau ada di sana, mendengarkan setiap bait puisi yang tercipta.
Di bawah langit senja yang semakin gelap, aku terus menulis dengan penuh semangat dan kecintaan. Setiap kata menjadi cermin dari kerinduan yang tak terucapkan, memenuhi halaman-halaman buku dengan sentuhan kejujuran dan kehangatan. Aku berharap, melalui puisi ini, engkau dapat merasakan betapa besar cintaku padamu, seiring dengan tiap hembusan angin yang menerpa wajahku di sini.
Setelah menulis dengan penuh perasaan, aku menghentikan pena dan menutup buku dengan lembut. Aku melihat langit yang kini berkelap-kelip
dengan bintang-bintang yang indah, mengingatkanku pada cahaya yang engkau bawa dalam hidupku. Dalam kesunyian malam yang semakin dalam, aku berharap bahwa pesan cintaku dalam puisi ini dapat sampai ke hatimu, membawa hangat dan kebahagiaan di setiap langkahmu.
Dila, aku merindukanmu dengan segenap hatiku. Semoga suatu hari nanti, kata-kata ini dapat mempertemukan kita.
Kemanapun aku pergi, kemanapun kamu pergi.
Sejauh apapun kita menghilang, selama apapun tanpa kabar. Kamu masih satu-satunya orang yang ingin aku dengar suaranya, yang ingin aku tunggu pulangnya, dan orang yang selalu ingin aku temui lagi dan lagi.
Pagi hari yang memang begitu cerah di Banda Neira, saat sinar mentari menyembul di ufuk timur, memancarkan cahaya yang menari-nari di balik awan-awan putih nan lembut. Udara pagi menusuk kulitku dengan kesejukan yang membangunkan segala indra dalam tubuhku, membangkitkan perasaan yang dalam. Di perjalanan aku melihat betapa indahnya Banda Neira dengan mataku sendiri. Sebuah tempat dimana Biru dan Senjani bertemu kembali setelah sekian lama menghilang.
Dengan tatapan penuh kepastian yang dipenuhi rasa ingin tahu, aku melangkah kembali memasuki labirin jalan-jalan Banda Neira yang memikat. Setiap langkahku disambut oleh aroma bunga-bunga yang harum, seolah mereka ingin mengawali petualangan ini dengan nuansa yang memukau. Perlahan-lahan, cakrawala kota ini terbentang di hadapanku, menampilkan keelokan arsitektur kolonial yang berdiri tegak kokoh seiring berjalannya waktu.
Aku merasakan sentuhan sejarah yang kuat, seakan berjalan bersama para pahlawan yang berjuang di bumi ini. Suara langkahku terdengar menggema di antara bangunan-bangunan, menciptakan musik kuno yang berpadu dengan hentakan detak jantungku yang semakin berdebar. Pada setiap sudut, aku menemukan senyum hangat dan sapaan ramah dari penduduk setempat, memperlihatkan keindahan jiwa mereka yang tulus dan rendah hati.
Banda Neira adalah panggung kehidupan yang menampilkan drama-drama yang tak terhitung jumlahnya. Di balik setiap jendela terbuka, aku melihat potret-potret kehidupan, dengan anak-anak riang yang bermain di jalanan sempit, para nelayan yang pulang dengan tangkapan berlimpah, dan pasangan yang berjalan berdampingan sambil tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Saat aku melangkah melintasi dermaga yang sibuk, aku melihat perahu-perahu berayun-ayun di pelabuhan, menanti petualangan baru di lautan biru yang membelah jiwaku. Aku membayangkan kehidupan yang tak terbatas di balik pulau-pulau terpencil yang berserakan di sekitar Banda Neira, dan jiwaku terbang bersama angin, terbawa oleh mimpi yang tak terhingga.
Matahari terus meninggi di langit, memancarkan cahaya yang semakin terang, menyinari setiap jengkal tanah Banda Neira. Aku melihat keindahan yang memukau, melukis gambaran abadi dalam hatiku. Inilah tempat yang mempesona ku, tempat di mana alam semesta terbuka dan berdansa dengan kehidupan, tempat di mana cinta dan petualangan bertemu dalam satu seruan.
Perjalananku berikutnya adalah menuju Pulau Hatta, sebuah surga tersembunyi yang menyimpan keindahan yang menakjubkan. Aku melangkahkan kaki dengan hati yang berdebar-debar, merasakan adrenalin yang mengalir dalam tubuhku seiring dengan setiap detik yang berlalu.
Perahu kayu tua mengayuh perlahan di permukaan laut yang tenang, membelah air biru yang begitu jernih. Angin laut menyapu wajahku dengan lembut, memberikan kehangatan alami yang menyatu dengan rasa harapanku. Aku terpesona oleh panorama sekitar, di mana pulau-pulau kecil berserak di sepanjang cakrawala, seperti permata- permata yang terhampar dengan megah.
Pulau Hatta tampak seperti surga yang nyata di hadapanku. Pantai berpasir putih memanggilku untuk meletakkan jejak langkahku, sementara air laut yang bening memanggilku untuk berenang di dalamnya. Aku membiarkan diriku tergoda oleh keindahan alam yang memikat, mengelilingi pulau dengan mata terbuka lebar, tak ingin melewatkan sedikit pun keajaiban yang ditawarkan.
Ketika matahari menjelang senja, aku menemukan tempat yang sempurna untuk menyaksikan spektakulernya pemandangan senja di Pulau Hatta. Aku memilih sebuah bukit kecil yang memberikan pandangan luas ke samudra yang tak berujung. Awan-awan lembut terhampar di langit, berpadu dengan warna-warni perubahan langit yang memikat hati.
Dalam keheningan yang menghiasi momen itu, aku merasa seolah dunia berhenti sejenak. Sinar senja yang perlahan memudar, mewarnai langit dengan warna-warni yang menyejukkan hati. Keajaiban alam ini menghadirkan harmoni di dalam jiwaku, memberikan kedamaian dan keindahan yang tak tergambarkan.
Aku berdiam diri, sambil menatap kejauhan, menyaksikan langit bertransformasi menjadi cahaya oranye, kemudian merah jambu, hingga akhirnya berpadu dengan warna ungu yang magis. Aku merasa seperti berada di antara dunia nyata dan dunia mimpi, di mana waktu dan ruang menyatu menjadi satu.
__ADS_1
Tetapi tetap saja, Dila. Meskipun keindahan senja di Pulau Hatta ini begitu menakjubkan, tak satupun dapat mengalahkan senja yang aku lihat saat bersamamu dulu, saat kita berdua terbang di atas bianglala. Ingatanku masih jelas tentang saat-saat itu, ketika kita saling berpegangan erat dan tertawa riang, terpesona oleh warna-warni gemerlap yang menari di langit jingga.
Setelah tiga hari yang penuh dengan keajaiban di Banda Neira, tibalah saatnya bagiku untuk meninggalkan pulau itu. Namun, hatiku masih terisi dengan kenangan indah dan pesona tempat ini. Dengan sedikit berat hati, aku meninggalkan jejak langkahku di tanah ini, berharap suatu saat nanti bisa kembali lagi.
Aku melangkah ke kapal yang akan membawaku menuju destinasi selanjutnya: Pulau Dewata, Bali. Dalam perjalanan ini, aku merasakan campuran perasaan antara kegembiraan dan kegelisahan. Bali, tempat yang dikagumi oleh banyak orang, terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau, budayanya yang kaya, dan suasana yang penuh kedamaian.
Kapal yang ku tumpangi meluncur dengan tenang di permukaan lautan yang biru. Aku berdiri tegak di atas dek, menatap kejauhan dengan perasaan campur aduk. Angin sepoi-sepoi menyapu rambutku, dan deburan ombak yang lembut mengiringi perjalanan kami. Pemandangan di sekitar begitu memukau, seakan memancarkan keindahan yang menerangi hatiku.
Langit biru terhampar di atas kepala, dipenuhi oleh awan putih yang berarak dengan gemulai. Mereka seperti pelukis yang abstrak, menambahkan sentuhan dramatis pada perjalanan ini. Cahaya mentari yang terang memancar dengan semangat, melambangkan awal dari petualangan baru yang menanti di Pulau Dewata, Bali.
Saat aku tiba di Bandar Udara Pattimura Ambon, langkahku tergesa-gesa menuju terminal keberangkatan. Suasana di sekitar begitu hidup dengan keramaian penumpang yang sibuk dan bagasi yang diangkut. Aku mencari dengan teliti nomor gerbang penerbangan yang tertera di tiketku, memastikan aku menuju ke tempat yang tepat.
Dengan hati yang berdebar, aku menemukan gerbang penerbangan yang sesuai dengan tujuanku, yaitu menuju Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Aku melewati area pengecekan keamanan dengan cekatan, menyerahkan tiket dan dokumen identitasku kepada petugas yang ramah. Setelah melalui proses pemeriksaan yang ketat, aku melangkah ke ruang tunggu yang nyaman.
Di ruang tunggu, suasana menjadi lebih tenang. Penumpang duduk dengan sabar di kursi-kursi yang tersusun rapi, menunggu giliran mereka untuk naik pesawat. Aku mencari kursi yang sesuai dengan nomor tiketku dan dengan penuh harap, aku duduk dengan nyaman. Menyelipkan tas kecilku di bawah kursi, aku merasa semakin dekat dengan perjalanan selanjutnya.
Suara pengumuman terdengar di ruang tunggu, memberitahu kami bahwa pesawat yang akan aku naiki akan segera tiba. Pilot dan awak kabin yang profesional menyambut ku dengan senyuman hangat saat aku naik ke pesawat.
Aku mencari kursi yang tertera di tiketku. Ruang kabin yang terang dengan lampu lembut memancarkan kesan kenyamanan. Aku mengatur posisi dudukku, menaruh tas di bawah kursi di depanku, dan mengamati tata letak tempat duduk yang bersih dan teratur.
Aku merasa semakin dekat dengan perjalananku saat ini. Dalam hitungan menit, pesawat akan lepas landas dan membawaku menuju Pulau Dewata, Bali.
Setelah tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, aku melangkah keluar dari pesawat dengan perasaan segar. Udara tropis yang hangat menyapa kulitku saat aku berjalan menuju taksi yang telah menanti di depan pintu masuk bandara. Aku memilih taksi dengan warna biru muda yang terlihat cukup nyaman dan bersahabat.
Saat taksi melaju di jalan raya yang ramai, aku melihat pemandangan Bali yang memesona. Sawah hijau yang luas membentang di sepanjang perjalanan, dihiasi dengan suara riang para petani yang bekerja dengan semangat. Aku merasa sangat beruntung bisa mengunjungi pulau ini dan menyaksikan keindahannya dengan mata kepala sendiri.
Setelah beberapa saat, taksi akhirnya tiba di penginapan terdekat. Aku membayar sopir taksi dengan ramah dan berterima kasih sebelum turun dan berjalan menuju pintu masuk penginapan yang berada tepat di depanku. Penginapan ini terletak di tengah-tengah lingkungan yang tenang dan asri, dengan taman yang indah yang memperindah pemandangan.
Setelah proses check-in selesai, aku menuju kamar yang nyaman dan menyegarkan. Aku melemparkan diriku ke tempat tidur yang empuk dan melonggarkan sepatu kusut yang melekat di kakiku. Sesaat, aku menikmati ketenangan ruangan itu sambil merasakan kenyamanan yang luar biasa setelah perjalanan panjang.
Sambil merebahkan diri di atas ranjang, aku mengeluarkan ponsel yang telah lama tidak aku sentuh sejak berada di Banda Neira. Pesan WhatsApp dari kakak perempuanku menarik perhatianku. Dengan rasa penasaran, aku membuka pesan tersebut. Dia hanya menanyakan apa aku baik-baik saja atau memang sudah terbawa ke segitiga bermuda, dan aku hanya menjawabnya dengan satu kalimat yaitu. “Baik-baik aja, gausah khawatir”.
Sambil bersantai dan melihat pemandangan pantai kuta yang aku lihat dari balik jendela, aku pun mengambil kertas dan pena yang akan ku gunakan untuk membuat sebuah sajak yang saat itu kata-katanya berada dalam kepalaku.
Bagaimana mungkin
Untuk mu Dila ku
Bagaimana mungkin aku bisa berhenti mencintaimu jika di dalam hatiku masih ada kamu.
Bagaimana mungkin aku melupakanmu jika kulihat senja saja yang teringat hanya dirimu.
Dan bagaimana mungkin aku melepaskan mu, yang bahkan aku sendiri tak bisa menggenggam mu.
Bagaimana mungkin?
__ADS_1
...****************...