
Ku sobek kertas yang ku tulis barusan dan melipatnya hingga terbentuk menjadi pesawat kertas, dan aku terbangkan pesawat ini dari balik jendela lantai dua penginapan, berharap pesawat kertas itu sampai ke Tangerang dan berhenti di kamarmu, Dila.
Tiga hari berlalu setelah aku berada di Bali, aku bersiap untuk melanjutkan perjalananku ketempat berikutnya, dan mulai dari sini perjalananku akan melalui darat untuk lebih mudah menjangkau tempat-tempat terdekat.
Selama perjalananku, aku menjelajahi berbagai tempat di berbagai penjuru, mengejar senja yang indah dan mencoba membuktikan bahwa tak ada senja yang lebih indah di semesta ini kecuali dirimu. Dari Pantai Seling Ombo yang menawarkan cahaya senja yang memukau, Pantai Balekambang yang dikelilingi tebing dan memancarkan pesona magis, hingga Pantai Ngliyep, dengan ombaknya yang mengepul indah dan langit yang berwarna jingga, hanyalah senandung lemah yang terpatri dalam ingatan ku dibandingkan dengan cahaya senja yang memancar dari senyummu. Aku berkelana jauh dan lelah, aku berharap menemukan keajaiban yang sebanding dengan dirimu. Setiap kali matahari turun di cakrawala, aku mengamati dengan penuh harap, berharap menemukan sentuhan keajaiban yang sama seperti saat aku berada di dekatmu.
Namun, meski perjalanan ini telah memakan waktu lebih dari empat minggu, aku tidak menemukan sedikit pun senja yang bisa menyaingi mu. Tak ada satupun yang mampu mendekati keindahanmu, Dila. Kehangatan dan keceriaan senja yang ku rindu, yang selalu ku temukan saat berada di sisimu, tak tertandingi oleh apapun di dunia ini.
Maka, dalam kerinduan yang semakin dalam dan kesedihan yang melanda, aku menyadari bahwa tak ada senja yang bisa menyaingi mu, Dila. Engkau telah merajai hatiku dengan keindahanmu yang tak terkalahkan. Dalam perjalanan ini, aku telah menemukan banyak keajaiban alam, tetapi keajaiban yang sejati adalah kehadiranmu yang telah meninggalkan bekas tak terhapuskan di hatiku.
Sekarang, saat aku menutup mataku dan membayangkan senja, yang terlintas dalam benakku hanyalah wajahmu yang memancarkan cahaya keemasan. Aku menyadari bahwa senja yang paling indah dan berkesan adalah senja yang kita saksikan bersama, saat kita saling berbagi cerita dan canda tawa, saat kita merangkai impian dan memahami arti kesendirian bersama-sama.
Maka, dengan hati penuh rindu dan pengharapan, aku melanjutkan perjalanan ini dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti, aku akan kembali melihat senja bersamamu, di tempat di mana keajaiban tak terbantahkan itu berada.
Dan sebelum kembali pulang menuju Bogor, aku memutuskan untuk singgah sejenak di Banjarnegara selama dua hari. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah adanya Dieng Culture Festival, sebuah acara yang diselenggarakan sekali dalam setahun. Kedatangan Dieng Culture festival tentu tak dapat dilewatkan begitu saja.
Aku bersiap-siap untuk berangkat ke penginapan yang terletak di Dieng Kulon. Festival ini akan diadakan di candi Arjuna, yang terletak di kawasan Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Untuk memastikan partisipasiku dalam festival, aku telah membeli tiket masuk sebelumnya.
Sesampainya di tempat penginapan, aku langsung bergegas untuk menuju candi Arjuna, tempat di mana festival akan berlangsung. Saat aku tiba di lokasi, pemandangan yang menyambut ku adalah kerumunan orang yang sudah memadati area tersebut. Langkahku terus melangkah menuju keramaian, sambil berusaha mencari tempat duduk yang nyaman di antara kerumunan yang semakin padat.
Sensasi kegembiraan dan semangat yang terasa di udara begitu menggetarkan. Terselip rasa harap di hatiku bahwa festival ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Aku merasakan kekompakan dan semangat persatuan di antara para pengunjung yang bersemangat.
Berjalan melewati barisan penjual makanan dan berbagai stan yang menampilkan kekayaan budaya lokal, aku merasakan betapa besar arti festival ini bagi masyarakat setempat. Sorak-sorai kegembiraan, riuh tawa, dan suara alunan musik tradisional mengisi telingaku, menciptakan suasana yang begitu hidup dan meriah.
Aku berusaha menemukan tempat duduk yang nyaman di area panggung utama, agar dapat menyaksikan pertunjukan dengan lebih jelas. Pandanganku terhenti pada sebuah kursi kosong yang terletak di sudut dekat panggung. Aku berterima kasih atas keberuntungan ini dan segera menempati kursi tersebut.
Duduk di sana, aku melihat sekeliling dengan penuh antusiasme. Pemandangan yang membentang di hadapanku begitu memukau. Panggung yang megah dipenuhi penari dan musisi yang memainkan alat musik tradisional. Cahaya panggung yang memainkan peran penting dalam menciptakan suasana magis festival ini.
Dalam keheningan sejenak, sorak-sorai penonton memenuhi udara saat pertunjukan dimulai. Aku merasakan getaran dari ponselku yang ku taruh di saku celana, dan saat aku periksa ternyata panggilan masuk dari Bintang.
“Hallo?”
“Oi, lu di mana ege? Gua udah 3 kali kerumah lu dan lu nggak ada di rumah, ini udah hampir sebulan?”
“Gua masih di Indonesia nggak usah khawatir.”
“Gua nggak khawatirkan lu, gua cuma mau ngasih tau kalau Dila udah putus sama pacarnya sekarang.”
Aku yang mendengar suara Bintang yang mengatakan kalau Dila sudah putus langsung mencoba memastikannya. “Serius? Lu kalau mau bercanda nggak lucu ege?”
“Nggak ada kerjaan banget gua bohong sama lu.”
“Lu tau kabar Dila putus darimana?”
“Gua denger dari cewek gua, kan dia suka curhat sama cewek gua, dan kali aja ini kesempatan lu buat dapetin dia, tapi ada sedikit problem.”
“Problem apaan?”
“Dia kayaknya sulit buat balik ke Bogor.”
“Maksudnya gimana, gua nggak ngerti?”
“Lu coba cek aja ke grup angkatan sama grup kelas kita.”
Aku mengikuti saran Bintang dan membuka grup angkatan dan grup kelas. Di situ, aku melihat pesan terakhir dari aplikasi yang menyatakan bahwa Dila telah keluar dari grup.
“Gua lihat di grup, kenapa Dila keluar dari grup?”
“Gimana ya, gua ngejelasinnya, takut salah gua ngomongnya.”
“Ya ngomong aja mumpung nggak ada orangnya.”
__ADS_1
“Dila putus dari pacarnya karena ada orang yang rebut pacarnya.”
“Terus hubungan Dila keluar grup atau sulit balik ke Bogor, dan ada yang menikung pacarnya itu apa hubungannya.”
Dengan nada sedikit canggung, Bintang memberitahuku siapa yang telah menikung Dila. “Yang menikung si Dila itu si Felia.”
“Serius lu? Lu nggak lagi main-mainkan?”
“Serius gua, lu mau tau nggak kenapa Dila kayaknya sulit buat balik lagi ke Bogor?”
“Kenapa?”
"Orang yang mencomblangi si Dila buat jadian sama mantannya sekarang, kemudian orang itu yang menikung si Dila, gua nggak tau detailnya kayak gimana sampai orang itu menikung si Dila, tapi menurut hipotesa gua si Dila kenapa bisa keluar dari grup itu pasti ada kaitannya dengan orang itu."
Sambil duduk dan mendengarkan Bintang yang sedang menelepon di ponselku, aku melihat Fiersa Besari memasuki panggung dengan penuh karisma, memegang erat gitarnya. Suara sorakan penonton memenuhi udara begitu dia mulai berbicara.
"Di sini ada yang cintanya bertepuk sebelah tangan?" tanya Fiersa Besari, menciptakan gelombang teriakan dari penonton.
"Banyak!" seru para penonton, menjawab pertanyaannya dengan semangat.
Fiersa Besari tersenyum dan melanjutkan, "Ini ada kata-kata bagus buat kalian yang cintanya bertepuk sebelah tangan, dan orang itu putus dengan pilihannya."
Mendengar kata-kata itu, aku tak bisa menahan perasaan getir di hatiku. Namun, saat Fiersa Besari melanjutkan dengan bait-bait selanjutnya, kata-katanya menghujam langsung ke relung hatiku yang sedang rapuh.
“Ku dengar seseorang berhasil menghancurkan hatimu? Hampir saja aku yang terbiasa bertepuk sebelah tangan ini, bertepuk tangan sambil memuji-muji karma. Tapi mana mungkin aku tega melihatmu berduka, orang bodoh macam apa yang membiarkanmu terluka? Kau yang ku yakinkan tercipta saat Tuhan sedang gembira, sebenar-benarnya pantas mendapat yang terbaik, atau jika tidak, izinkan lah aku mencoba memberikan yang terbaik.”
Aku yang mendengar perkataan Fiersa Besari saat itu langsung menghela nafas dan menjawab perkataan Bintang. “Untuk saat ini biarin dulu dia sendiri, butuh waktu buat dia dapat membuka hatinya kembali.”
“Lu yakin nggak akan ngambil tindakan apapun, dan nggak ada jaminan lu bisa ada kesempatan kayak gini lagi?” Bintang menanyakan dengan sedikit kekhawatiran dalam suaranya.
Aku memikirkan kata-kata Bintang sejenak sebelum menjawab dengan mantap, “Karena ada hal yang belum selesai dan gua belum bisa bertemu dengannya kalau hal itu belum selesai. Masih banyak yang perlu diselesaikan sebelum gua bisa mempertimbangkan langkah berikutnya.”
“Oke-oke.”
Setelah menutup telepon dari Bintang, aku kembali memfokuskan perhatian pada Fiersa Besari yang sudah siap untuk membawakan lagu berikutnya. Suara penonton berdentum riuh saat dia mengatakan, “Ini buat kalian yang cintanya bertepuk sebelah tangan.”
“Bilur makin terhampar, dalam rangkuman asa... Kalimat hilang makna logika tak berdaya... Di tepian nestapa, hasrat terbungkam sunyi... Entah aku pengecut, entah kau tidak peka... Kumendambakanmu mendambakan ku... Bila kau butuh telinga tuk mendengar... Bahu tuk bersandar raga tuk berlindung... Pasti kau temukan ku di garis terdepan... Bertepuk dengan sebelah tangan... Kau membuatku yakin, malaikat tak selalu bersayap... Biar saja menanti tanpa batas tanpa balas... Tetap menjelma cahaya di angkasa... Yang sulit tertampik dan sukar tergapai... Kumendambakanmu mendambakanku... Bila kau butuh telinga tuk mendengar... Bahu tuk bersandar raga tuk berlindung... Akulah orang yang selalu ada untukmu... Meski hanya sebatas teman... Yakin kau temukanku di garis terdepan... Bertepuk dengan sebelah tangan...”
Sambil melihat Fiersa Besari menyanyi aku memikirkan tentang setiap lirik yang dibawakan, apakah benar kalau perasaanku pada Dila itu hanya bertepuk sebelah tangan, sedangkan aku sendiri belum menyatakan perasaanku padanya, dan saat ini Dila sedang di posisi tidak baik-baik saja pastinya. Jika aku menemuinya sekarang, aku hanya akan membuat suasana menjadi buruk, dan juga hal penting yang aku dulu katakan kepada Dila belum aku buat. Ah aku sangat lelah dengan perasaanku, aku ingin menjadi burung yang bisa terbang terus bisa mengintip Dila yang sedang tidur.
Orang yang berada di sampingku yang melihat aku sedang banyak tekanan pun langsung menegurku. “Oi, lu nggak papa, gua liat dari tadi lu kaya banyak tekanan?”
“Oh sorry sorry, gua mengganggu lu ya?”
“Kagak kok, gua cuma penasaran aja, orang-orang pada sorak-sorakan mendengarkan musik, lu malah diem sambil bengong seperti banyak pikiran aja.”
Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataan orang itu kepadaku. “Hahaha. Gua lagi bingung kalau di sini hujan nanti gimana?”
“Tenang aja di sini nggak bakal hujan, karena udah sewa pawang hujan.”
“Syukurlah kalau nggak hujan, soalnya gua nggak bawa baju ganti.”
“Eh lu kayaknya bukan orang sini ya?”
“Iya, gua bukan orang sini.”
Orang itu pun menjulurkan tangannya kepadaku untuk mengajakku kenalan. “Reyhan.”
“Deni.” Ucapku sambil menjabat tangannya.
“Lu asli mana?”
__ADS_1
“Gua dari Bogor.”
“Pantes aja dari gaya bicaranya bukan kayak orang jawa”
Aku hanya tertawa kecil menanggapi perkataannya.
Setelah Fiersa Besari selesai muncul musisi lainnya yaitu payung teduh dia pun menyanyikan sebuah lagu yang dulu pernah Dicky nyanyikan saat aku dan kelasku berlibur di pantai. Sambil memainkan melodi gitarnya untuk mengawali intro lagu yang berjudul untuk perempuan yang sedang dalam pelukan, dengan melodi yang sangat indah tentu saja aku berpikir.
Jika ada yang lebih candu
Dari melody payung teduh.
Mungkin itu senyummu.
Tiga jam berlalu aku berada di festival itu dan sekarang adalah acara puncak dari festival itu, yaitu pelepasan seribu lampion yang akan dipimpin oleh gubernur Banjarnegara. Aku pun diajak oleh reyhan untuk mengikuti acara tersebut.
“Ayo, lu mau ikut nggak menerbangkan lampion.”
“Memangnya nggak papa, orang asing ikutan menerbangkan lampion.”
“Lu kira ini di mana? Di sini semua orang bebas untuk menerbangkan lampion.”
Aku pun mengikuti Reyhan untuk membeli lampion yang memang sudah di sediakan di sana. Setelah aku dan Reyhan mendapatkan lampion, aku pun bersiap-siap untuk menerbangkan lampion tersebut, tetapi Reyhan memberikan pesan padaku yang sedang menyiapkan lampion.
“Lu jangan lupa tulis surat atau harapan lu dan tempelkan di lampion yang akan lu terbangkan.”
“Oke oke.”
Aku pun mengambil sebuah kertas dan pena yang aku simpan di tas kecilku untuk menulis apa pun tentang Dila.
Untuk Dila yang jauh di Tangerang
Banyak yang terjadi setelah perpisahan.
Entah tetap menyapa, atau pura-pura lupa ingatan.
Tak pernah banyak yang di utarakan.
Hanya sebatas ungkapan.
“Apa kabar?”
Setelah selesai menulis, aku pun menempelkan kertas itu di lampion sambil menunggu aba-aba untuk menerbangkan lampion ku. Pak gubernur pun memberikan aba-aba untuk kita semua yang akan menerbangkan lampionnya.
“3... 2... 1...”
Lampion-lampion itu pun tebang menuju angkasa dengan serentak, menghiasi langit malam dengan gemerlap cahaya. Lagu "Yang Terdalam" dari Peterpan mengalun indah, menyertainya dengan lirik yang begitu dalam maknanya. "Kulepas semua yang kuinginkan... Tak akan ku ulangi... Maafkan jika kau ku sayangi... Dan bila kumenanti..."
Kulihat seketika langit penuh dengan lampion yang berterbangan menerangi malam hari ini yang membuat suasananya mirip seperti dalam film Tangled, tetapi bedanya aku sendiri, dan Rapunzel di temani bersama dengan Flynn Rider.
Setelah selesai acara Dieng culture festival, aku kembali ke penginapanku untuk beristirahat, di penginapan aku langsung membersihkan diriku dan pergi menuju ranjang tempat tidurku. Sebelum tidur aku memikirkan perkataan Bintang yang tadi, aku memang menginginkan Dila tidak menjalani hubungan dengan siapa pun kecuali diriku, tetapi aku juga tidak bisa melihat Dila bersedih.
Harusnya kita cukup jadi orang yang saling tau aja.
Harusnya aku nggak usah mengubah rasa kagum ini.
Menjadi harapan baru, untuk bisa tau gimana si rasanya memiliki kamu. Harusnya kamu tetap menjadi seseorang yang jauh dari pandanganku
Dan harusnya aku nggak perlu mengenalmu sedekat ini.
...****************...
__ADS_1