
Setelah selesai makan bersama, anak-anak pun meminta kita semua untuk berfoto bersama karena mungkin ini adalah hari terakhir kita berkumpul bersama. Setelah selesai acara foto-foto aku duduk di sofa sambil melihat TV bersama dengan Hendrik, Robi, Jey, Yomi, Ravhy, Julita, Elis dan Zahid. Waktu pun berlalu begitu cepat kulihat jam dinding dan tepat jam 17:45 dan aku langsung naik kelantai dua untuk meminjam charger ponsel Bintang untuk mengisi baterai ponselku.
“Tang pinjem charger lu?”
“Bentar gua juga lagi dipake.” Jawab Bintang sambil memainkan ponselnya.
“Emangnya lu dari tadi nggak di charger tuh hp?” Ucapku bertanya kembali kepada Bintang.
“Yakan boro-boro gua ngecek hp tadi.”
“Bangsat lu.”
Dari kejauhan aku melihat Dila yang sedang berdiri di teras lantai dua sambil melihat langit senja yang berwarna jingga. Aku pun menghampirinya dan berdiri di depan pintu teras, sambil terus memperhatikan Dila yang sedang memfoto langit senja, dan memang benar saja seperti dugaanku bahwa senja dan Dila adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan karena mereka sama-sama saling berhubungan. Dila yang melihatku yang sedang memperhatikannya tersenyum ke arahku.
“Deni, lihat senja.” Ucap Dila sambil menunjuk langit yang berwarna jingga. Aku hanya tersenyum ke arah Dila dan berjalan ke arahnya.
“Dila coba diam sebentar.” Sambil mengeluarkan ponselku yang baterainya tersisa 30% lagi, aku meminta Dila untuk diam di sana.
“Eh kamu mau ngapain?”
“Udah diam dulu aja, soalnya bagus ini.” Ucapku kepada Dila sambil mencoba memfoto dirinya.
“Udah belum?” Ucap Dila bertanya kepadaku.
“Coba kamu pindah ke sebelah sana.” Aku menyuruh Dila untuk berpindah tempat.
“Di sini?” Ucap Dila sambil berjalan ke pojok teras.
“Iya udah di sana.” Aku langsung memfoto Dila yang berlatar senja.
“Udah nih, cakep banget.” Sambil melihatkan hasil dari fotoku.
“Eh iya bagus, tapi Dila nya kucel.” Dila cemberut dan aku hanya tersenyum mendengar kata-kata dari Dila.
“Eh Deni sini.” Dila langsung mengajakku untuk berfoto selfi di ponselnya.
Aku mencoba menghindar. “Eh tapi Deni mati gaya kalau selfi.”
“Udah sini ayo.” Dila menarik tanganku dan berfoto selfi bersama.
“1... 2... 3..” Ucap Dila memberikan aba-aba untuk foto selfinya.
“Liat, kan cakep tuh kalau background senja. Hehehe.” Dila tertawa kecil sambil menunjukan hasil fotonya padaku.
Setelah aku selesai berfoto dengan Dila, langit yang berada di hadapanku dan Dila perlahan-lahan berubah menjadi warna hitam dan senja yang tadi ada menghilang begitu saja.
Aku mengajak Dila untuk masuk. “Ayo masuk udah malem.”
“Iya iya.” Dila mengikuti ku dari belakang memasuki Villa.
“Jangan lupa sholat magrib, aku juga ini mau sholat!” Ucapku sambil berjalan pergi meninggalkan Dila dan turun ke lantai bawah untuk sholat magrib.
Setelah selesai melaksanakan sholat magrib, aku kembali naik ke lantai atas untuk bersantai, karena lantai bawah sudah penuh dengan keramaian anak-anak lainnya.
Nafas lega menyelimuti diriku saat akhirnya aku men-dapatkan tempat untuk istirahat. Aku duduk di atas sofa yang terletak di lantai atas, merasakan kenyamanan yang terpancar dari tempat itu.
Setelah selesai sholat magrib, aku kembali ke lantai atas untuk bersantai karena lantai bawah sudah penuh dengan anak-anak yang lain. Tubuhku terasa lelah setelah seharian beraktivitas. Aku duduk bersandar, membawa gitar yang tadi siang di pakai Zaman, dan mulai memainkan beberapa melodi yang mengalun indah dari senar-senarnya.
Tak lama kemudian, Dila keluar dari kamar dan bergabung duduk di sebelahku. Matanya terpancar kehangatan saat dia menatapku. "Kamu udah sholat?” Tanya Dila dengan suara lembut.
Aku mengangguk sambil tersenyum, melanjutkan permainan gitar. "Baru selesai.”
“Den. Aku ingin dengar kamu nyanyi.” Ucap Dila menatapku yang masih memainkan gitar di sampingnya.
Dila menatapku dengan penuh harap. “Den, aku ingin mendengarmu nyanyi.”
Aku tertawa kecil, sedikit malu dengan suara yang kurang memuaskan. “Tapi suaraku pas-pasan.”
Dila meyakinkanku dengan tulus. “Nggak papa, aku akan dengan senang hati mendengarkan lagu yang kamu nyanyikan.”
Senyumku semakin lebar. “Ya udah deh, tapi ada syaratnya.”
Dila menunjukkan rasa penasaran. “Apa syaratnya?”
Aku memandang Dila dengan mata penuh keceriaan. “Kamu juga harus ikut nyanyi.”
Dila terkekeh, menerima tantanganku. “Ya udah deh, iya.”
“Kita mau nyanyi lagu apa ni?” Tanyaku.
“Gimana kalau nyanyi lagu Cinta dan Rahasia aja dari Yura Yunita?” Usul Dila.
“Ya udah kamu ambil vocal yang ceweknya, aku ambil vocal cowoknya.”
Dila mengangguk menyetujui usulanku.
Aku memulai memetik senar gitar, menghasilkan nada yang mengalun lembut dari chord awal C. Suara senar gitar yang ku hasilkan mengisi ruangan.
“Terakhir... kutatap mata indahmu... di bawah bintang-bintang... Terbelah hatiku, antara cinta dan rahasia.” Dila memulai lagu dengan suaranya yang memukau, mengisi ruangan dengan keindahan yang tak tergambarkan.
__ADS_1
Wajahku dipenuhi kekaguman saat aku mendengar suaranya yang begitu emosional. Dila mengalun dengan penuh perasaan, membawa lirik-lirik itu hidup dengan sempurna. Setiap nada yang terlantun meluncur dari bibirnya, menciptakan getaran yang mengguncang hatiku.
“Ku cinta, padamu... Namun kau milik sahabatku... Dilema hatiku... Andai ku bisa berkata sejujurnya.”
Suara gitar yang aku petik berpadu dengan lantunan suara Dila. Jari-jariku bergerak dengan penuh perasaan, seiring dengan ketukan hati yang semakin cepat. Tatapanku tidak dapat berpaling darinya, khusyuk menyaksikan keajaiban yang tercipta di hadapan kami.
“Jangan... Kau pilih dia... Pilihlah aku yang mampu mencintai mu lebih dari dia... Bukan kuingin merebutmu... Dari sahabatku... Namun kau tahu. Cinta tak bisa tak bisa kau salahkan.”
Dila memandangku dengan intensitas yang menyentuh, matanya berbinar seperti bintang-bintang yang bersinar di langit malam.
“Terakhir... kutatap mata indahmu... di bawah bintang bintang... Terbelah hatiku, antara cinta dan rahasia.” Aku mengambil alih vokal, membiarkan perasaanku terpancar melalui suara yang kuhasilkan. Setiap nada terasa begitu berarti, setiap kata terlontar dengan kejujuran yang tak terelakkan.
Dila terus memandangiku, matanya mencerminkan kerinduan yang tak terungkapkan. Dia memahami setiap getaran dalam setiap nada yang aku nyanyikan, seolah hatinya menyatu dengan hatiku.
“Ku cinta, padamu... Namun kau milik sahabatku... Dilema hatiku... Andai ku bisa berkata sejujurnya.”
Jari-jariku terus memainkan senar-senar gitar, mengekspresikan perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tatapanku hanya terfokus pada Dila, di dalam alunan musik yang kita ciptakan bersama..
“Jangan... Kau pilih dia... Pilihlah aku yang mampu mencintamu lebih dari dia... Bukan kuingin merebutmu... Dari sahabatku... Namun kau tahu. Cinta tak bisa tak bisa kau salahkan. Wooo... Hooo... Huuu...”
“Mmmhhh... Jangan... Kau pilih dia... Pilihlah aku yang mampu mencintamu lebih dari dia... Bukan kuingin merebutmu... Dari sahabatku... Namun kau tahu. Cinta tak bisa tak bisa kau salahkan. Wooo... Hooo... Huuu...” Aku dan Dila mulai bernyanyi bersama, suara kita menyatu bagaikan sebuah aliran yang membuat suasana menjadi sangat emosional.
Lagu itu mencapai akhirnya, tetapi emosi yang tercipta tetap terasa dalam udara. Kami saling menatap dengan pandangan yang penuh makna kemudian tersenyum bersama.
“Makasih ya, udah mau nurutin permintaan Dila.” Suara Dila terdengar lembut dan terisak, memperkuat keintiman di antara kami.
Aku menatapnya dengan mata yang penuh emosi. “Karena semuanya tentang kamu, Dila.” Ucapan itu terlontar begitu saja dari bibirku, membawa beban perasaan yang teramat besar.
Suasana menjadi semakin canggung, ketegangan memenuhi udara di sekitar kami. Kami merasa terhanyut dalam keheningan yang menghampiri, tak mampu menemukan kata-kata untuk melanjutkan obrolan. Matanya dan matiku saling berpandangan, mencoba menyampaikan pesan terdalam yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Oi ege, lu berdua udah sholat belum?” Tiba-tiba suara Bintang memecah kesunyian, mengusik kami dari momen yang mendalam. Ia membukakan tikar untuk tidur di lantai, mencoba meredakan ketegangan yang ada.
“Baru aja gua selesai.” Jawabku dengan ragu, sambil meletakkan gitar dan bergerak dari sofa menuju lantai yang telah ditutupi oleh tikar.
“Bagi gua bantalnya satu.” Bintang meminta bantal yang berada di sampingku dan aku pun langsung melempar-kan bantal itu ke arahnya.
Tak lama kemudian, Windi keluar dari kamar di lantai atas, tempat Dila sebelumnya keluar. Dia memperhatikan kami berdua dengan keheranan yang jelas terlihat di wajahnya.
“Lu berdua pada berisik amat si?” Tanya Windi, sambil duduk di samping Bintang.
“Ya maaf.” Jawabku sambil tersenyum.
“Oh ya, acara selanjutnya apa nih?” Tanya Dila, sambil berpindah duduk menjadi di sebelahku.
“Paling nanti jam setengah 8 ada acara BBQan.” Jawab ku, sambil merasakan kehangatan dari kebersamaan mereka.
“Jadi laper gua.” sahut Bintang, yang berada di dekat Windi.
Bintang mengusap dahinya dengan riang. Aku dan Dila hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua.
“Nih, rebahan dulu aja, masih satu jam lagi sebelum acara selanjutnya di mulai.” Kataku sambil memberikan sedikit ruang di tikar yang kami gunakan.
Dila ikut berbaring di sebelahku, sementara Windi berdampingan dengan Bintang. “Iya, makasih.” Ucap mereka serempak.
“Ngga kerasa ya, bentar lagi kita bakal lulus SMA.” Kata Windi, sambil melihat ke langit-langit Villa dengan pandangan penuh kerinduan.
Bintang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. “Udah jangan di bahas, nanti lu sendiri yang bakal nangis-nangis kalau ngomongin itu.”
Aku memandangi foto-foto yang baru saja kami ambil bersama, lalu Dila meminta untuk dikirimkan.
“Den, foto-foto tadi coba kirim.” Pinta Dila, sambil melihatku yang sedang memainkan ponsel.
Aku mengirimkan semua foto Dila yang kami abadikan tadi sore ke ponselnya. “Ini, aku kirim.”
Dila tersenyum, senyum yang begitu tulus dan indah. “Makasih.” Ucapnya dengan suara lembut.
Dalam momen itu, di antara senyuman dan kebersamaan yang terasa begitu nyata, aku sangat bahagia. Meski tak terasa, hari-hari indah di masa SMA akan segera berakhir, dan kami akan menghadapi perpisahan yang tak terelakkan. Namun, saat itu, aku hanya ingin menikmati setiap momen dengan kebahagiaan dan kedamaian yang ada saat ini..
“Dila... Kamu tau nggak? Burung, burung apa yang suka nolak?” Ucapku kepada Dila sambil duduk dan melihat ke arah Dila yang sedang rebahan.
“Burung pipit.” Jawab Dila mengenai pertanyaanku.
Aku tersenyum. “Salah.”
Tiba-tiba Bintang menimpali perkataanku. “Gua tau gua tau, pasti burung elang.”
“Emang burung elang suka nolak?” Ucap Windi menimpali perkataan Bintang.
“Soalnya gua punya burung elang di rumah, tapi setiap gua ngasih makan suka nolak dan nggak mah makan.” Ucap Bintang menimpali perkataan Windi.
“Salah juga”
“Terus burung apa?” Tanya Dila kepadaku dan duduk menghadap ke arahku.
Aku tertawa kecil ke arah Dila. “Burung gakgak.”
Dila menjambak rambutku. “Burung gagak Deni, tapi bukan burung gakgak.”
“Sungguh jawaban di luar nalar.” Ucap Bintang dengan muka kesel.
__ADS_1
Aku memanggil Dila dengan nada lembut. “Dila.”
“Pengen terus terang!” Ucapku kepada Dila yang masih menjambak rambutku. Dila, Bintang dan Windi yang mendengar perkataanku langsung terdiam dan menatapku dengan muka serius.
“Terus terang apa?”
Aku tersenyum. “Tapi udah malem.”
“Anjing, gua kira mau ngomong apa?” Ucap Bintang sambil kembali rebahan di sebelah Windi.
Dila menjambak rambutku dengan lebih keras lagi dan mengacak-acak nya juga. “Ngeselin.”
Aku tertawa kecil sambil memegang tangan Dila yang kecil dan mungil itu. “Becanda Dila, jangan dianggap serius.”
Satu jam berlalu aku yang sedang berkumpul dengan Dila, Windi dan Bintang disuruh untuk ke bawah oleh Hendrik yang memanggilku ke atas. “Oi, lu semua mau BBQan nggak?”
“Iya bentar gua ke bawah.”
“Oke oke gua tunggu di bawah, tapi kalau lu gamau ke bawah juga nggak papa berarti jatah lu semua buat gua ya?” Ucap Hendrik sambil tertawa dan berjalan menuruni anak tangga untuk ke lantai bawah.
“Ayo ke bawah.” Ajak ku kepada Dila sambil menjulurkan tangan kananku untuk membantunya berdiri.
“Lu berdua mau ke bawah nggak?” Kataku bertanya kepada Bintang dan Windi yang sedang rebahan.
Aku dan Dila mengikuti Bintang yang berjalan di depan ku. “Iya iya ini juga gua mau ke bawah.”
Setelah turun dari lantai atas, aku langsung menghampiri Hendrik, Yomi, Elis dan Robi, yang sedang mem-bakar BBQ nya dan mengambil satu buah BBQ yang masih di panggang di sana.
“Kirain udah beres lu panggangnya?”
“Itu masih setengah mateng ege, malah langsung di makan aja lu.” Ucap Hendrik yang masih mengkipasi BBQ tersebut.
“Panggil anak-anak yang di dalem, pada mau nggak ini BBQ nya.” Ucap Zahid yang baru saja membucin dengan Rofi dan berjalan menghampiriku, aku pun berjalan kembali menuju Villa sambil membawa dua tusuk BBQ yang aku ambil kembali dari tempat panggang untuk memanggil mereka semua keluar.
“Oi para makhluk hina, lu pada mau nggak ini BBQ? Kalau mau pada keluar napa? Malah pada diam di sini.” Ucapku kepada mereka yang sedang karoke dan main kartu di dalem Villa.
“Emang udah mateng semua?” Ucap Julita kepadaku yang berdiri di pintu masuk Villa.
“Kalau belum mateng gua nggak akan manggil kalian.”
Setelah aku memanggil mereka untuk keluar akhirnya mereka semua keluar juga dan aku pun menunggu Dila keluar untuk makan BBQ bersama.
Aku memberikan satu tusuk BBQ yang tadi aku ambil di panggangan. “Ini buat kamu.”
“Eh, belum juga dibagiin itu BBQ nya kamu dapet dari mana?” Ucap Dila bertanya mengenai BBQ yang aku bawa dan mengambilnya.
“Itulah kekuatan orang dalam.”
Dila tersenyum. “Dasar.”
“Ayo, mau lagi nggak?” Kataku mengajak Dila ketempat yang lainnya.
“Ini juga belum aku makan.” Sambil menunjukan BBQ yang aku berikan padanya.
“Itu mah paling langsung habis dua kali gigit juga, liat nih.” Ucapmu sambil memakan BBQ yang aku pegang dan menghabiskannya.
“Yakan kamu cowok.”
“Justru itu, masa cowok bisa cewek nggak bisa?”
Dila cemberut. “Nggak gitu konsepnya Deni.”
Aku tersenyum sambil mengelus kepala Dila. “Iya iya.”
Anak-anak yang tadi aku suruh keluar pun berkumpul di lapangan sambil menunggu BBQ nya di bagikan oleh Zahid yang merupakan ketua acara.
“Oi mana BBQ nya?” Ucap Bintang bertanya pada Zahid yang sedang merapihkan BBQ nya di atas meja.
“Sabar lah, gua baru aja selesai.” Balas Zahid yang bersiap membagikan BBQ nya.
“Nah gitu dong, gua udah laper kek dari tadi.”
“Banyak bacot lu Tang, makan aja napa?” Ucap Hendrik dengan nada ngegas sambil membawa BBQ yang lainnya.
“Berisik lu sat.” Ucap Bintang menimpali perkataan Hendrik.
Aku dan Dila duduk bersebelahan sambil memilih BBQ yang sudah di sediakan oleh Zahid.
Dila melihat kearah BBQ ku. “Eh Den punya kamu ada tulangnya nggak?”
“Ada kok, emangnya kenapa?” Tanyaku kepada Dila sambil melihatkan BBQ nya.
Dila memberikan BBQ miliknya. “Tukeran dong, soal-nya punya Dila nggak ada tulangnya.”
“Emangnya Dila suka tulang?” Ucapku sambil memberi-kan BBQ milikku kepada Dila.
Dila tak menjawab pertanyaanku dan hanya tersenyum kecil. Aku memberikan BBQ milikku padanya dan me-ngambil BBQ milik Dila. “Kayak kucing aja suka tulang.”
“Kucing Dila juga suka makan tulang, jadi Dila ketularan suka makan tulang juga.”
__ADS_1
Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataan-perkataan dari Dila, entah kenapa setiap semua hal yang Dila bahas selalu dapat aku nikmati dan dapat menjadi pendengar yang baik untuknya.
...****************...