
Setelah selesai selama seminggu orientasi kegiatan belajar pun dilaksanakan seperti biasa semua anak-anak menggunakan seragam putih abu begitu juga diriku. Hari pertamaku sungguh sangat mengecewakan karena aku harus berangkat kesiangan karena aku menunggu si Bintang untuk menebengan ke sekolah tetapi dia bilang kalau dia bareng sama si Windi dan akhirnya aku pun memutuskan untuk naik angkutan umum saja, dan ya angkutan umum ke arah sekolahku sangatlah lama.
Ketika aku tiba di gerbang sekolah, tepat jam 07:50, gerbang sudah terkunci. Karena tidak ada pilihan lain, aku memutuskan untuk memanjat tembok belakang sekolah agar aku bisa ikut dalam kegiatan sekolah hari itu. Beruntung, aku mengingat rute sekolah setelah mengelilingi setiap sudutnya kemarin.
Setelah berhasil memanjat tembok belakang sekolah, aku melihat bahwa upacara sepertinya belum selesai. Aku berusaha menyelinap masuk ke barisan upacara dengan hati-hati. Namun, nahasnya, aku ketahuan oleh salah satu osis yang bertugas menjaga upacara. Dan bukan hanya aku yang dihukum, ternyata kelas 12 dan 11 juga ikut dihukum karena terlambat. Sebagai hukumannya, kami yang terlambat diminta berdiri di depan dan ditonton oleh seluruh siswa yang telah mengikuti upacara sejak awal.
Meski dihukum, aku tidak mempermasalahkannya. Malah, aku merasa lega karena dengan berdiri di depan, aku bisa lebih leluasa mencari Dila. Dan benar saja, aku me-lihatnya sedang menatapku dengan senyuman. Sungguh, aku begitu menyukainya ketika dia tersenyum dan menatap ku. Senyumnya terasa begitu khusus, seolah-olah hanya di tujukan untukku dan tak ada orang lain yang bisa me-rasakannya. Dan tentu saja, senyuman istimewanya itu hanya untukku seorang.
Tidak lama setelah upacara selesai, siswa-siswa dari kelas 11 dan 12 diizinkan masuk ke kelas masing-masing. Namun, siswa-siswa kelas 10 harus menunggu di lapangan untuk pembagian kelas.
“Peserta didik kelas 10, mohon tunggu di lapangan karena kalian akan dibagi menjadi kelas-kelas baru.” ucap pembina upacara dengan candaannya yang kocak dan agak norak. Aku lupa siapa namanya, tapi dia memiliki gaya yang unik.
Setelah pembagian kelas selesai, kelas 10 terdiri dari tiga kelas IPA dan tiga kelas IPS. Nahasnya, aku di-tempatkan di kelas IPS, yang merupakan kelas yang paling tidak aku sukai. Aku berusaha memikirkan dengan keras bagaimana caranya agar aku bisa pindah ke kelas IPA. Meskipun aku tidak menyukainya, bukan berarti aku menolak untuk memasuki kelas IPS. Pada saat itu, aku di-tempatkan di kelas IPS 3.
Tak lama setelah aku memasuki kelas IPS itu kemudian ada pengumuman di speker sekolah. “Bagi siswa yang ingin pindah jurusan silakan mendekati sumber suara. Sekali lagi bagi siswa yang ingin pindah jurusan silakan mendekati sumber suara, terima kasih.”
Dan akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba, aku pun mengambil tasku dan langsung berlari mendekati sumber suara, saat aku berlari menuju sumber suara aku melihat Ian dan Bintang berteriak memanggilku tetapi aku tidak mempedulikannya yang paling penting sekarang yang harus aku lakukan adalah bisa pindah dari kelas IPS ke kelas IPA.
Sesampai di sumber suara aku melihat ternyata bukan hanya aku saja yang ingin pindah jurusan, tetapi banyak juga siswa yang ingin pindah jurusan dan aku pun menjadi siswa terakhir di antrian itu.
“Anjir banyak banget yang ngantri, udah kayak ngantri bantuan sembako aja?” Ucapku dengan nada kebingungan dan berusaha menerobos antrian.
“Eh... Ngantri dong!” Kata orang yang aku coba terobosan antriannya.
“Oh ya maaf-maaf.”
Tak lama kemudian ada seseorang yang menepuk pundakku, dan ternyata yang menepuk pundak ku adalah Saeful Rohman atau yang biasa dipanggil dengan Eful, dia adalah teman SMP ku juga, entah kenapa banyak banget temen SMP ku yang sekolah di SMA yang sama denganku, dia datang ke sini untuk mencari teman dekatnya yaitu Septian karena dia tidak sekelas dengannya.
“Eh Den, lu tau kelas si Septian?”
“Dia sekelas sama gua di IPS 3.” kataku sambil me-nengok ke arahnya dan kembali melihat antrian yang ada di hadapanku.
“Den? Lu mau nggak tukeran kelas sama gua, lu ke IPA 1 dan gua ke IPS 3, gimana?”
“Oke gua terima.”
Aku pun menyetujui untuk bertukar kelas dengan Eful dan langsung menemui kesiswaan untuk mengajukan ber-pindah kelas, dan kesiswaan pun menyetujuinya asalkan ada orang yang mau bertukar kelas denganku.
Setelah selesai dari kesiswaan aku pun mendapatkan sebuah surat izin perpindahan jurusan dari staff kesiswaan untuk di berikan kepada guru yang saat ini mengajar dikelas Ipa 1. Aku yang mencari di mana kelas 10 IPA 1 pun akhir-nya memutuskan untuk bertanya pada orang-orang yang berada di hadapanku.
__ADS_1
“Eh permisi, tau kelas 10 IPA 1?”
“Itu di belakang lu, lu nggak baca apa di atas papan pintu itu?” kata orang itu sambil menunjuk papan pintu yang bertuliskan 10 IPA 1.
Aku pun berbalik badan dan membaca papan nama kelas yang ada di atas pintu itu, yang menuliskan bahwa kelas itu adalah kelas 10 IPA 1. “Oh iya ya, makasih.”
Aku pun langsung membuka pintu kelas itu dan langsung masuk ke kelas itu dan ternyata kelas itu sudah di dahului dimasuki oleh guru. Aku langsung masuk tanpa mengucapkan salam dan langsung terperangah karena kaget kalau di kelas itu sudah ada guru dan ya saat itu aku menjadi pusat perhatian seketika.
“Anjir cobaan apalagi ini ya Tuhan.” Gumanku dalam hati, semua orang yang ada dikelas dan guru itu pun langsung melihat langsung ke arahku.
Aku hanya tertawa sambil meminta maaf. “Eh udah ada bapak.”
“Siapa nama kamu?” Ucap guru itu dengan tegas setelah melihatku.
Aku pun merapihkan bajuku sambil memberi aura kehangatan ke penjuru kelas. “Ehem... Nama saya Deni Ardiansyah Arafah.”
“Coba saya cek dulu dari absen, kamu jangan ber-gerak.”
Setelah mengecek absensi namaku tidak ada. “Nama-mu tidak terdapat diabsen ini.”
“Coba pak cek lagi kali aja nyalip?”
“Tidak ada. Silahkan kamu cek sendiri?” Kata guru itu sampai memberikan absensi nya kepadaku.
Aku pun mengambil absensi itu dan menghapus nama Saeful Rohman dengan namaku. “Ini pak ada, coba lihat baik-baik.”
“APA? Kenapa mencoret nama anak ini dan mengganti dengan nama kamu?”
Anak-anak yang berada di kelas 10 IPA 1 pun tertawa karena melihat tingkahku yang mencoret nama siswa lain. “Iya kan pak dari pada nggak ada mending saya tulis sendiri aja.”
“DIAM... SAYA TIDAK SUKA BERCANDA!” kata guru itu berteriak membuat kelas hening yang tadinya ramai dengan suara tertawa berubah jadi sunyi seperti hutan.
Guru itu berdiri dari tempat duduknya dan men-dekati ku. “Apa maksud kamu dengan mencoret nama siswa ini dan mengganti dengan namamu?”
“Saya dari kelas 10 IPS 3 di suruh pindah oleh kesiswaan untuk menggantikan siswa yang saya coret tadi karena kami bertukar kelas dan ini suratnya pak dari kesiswaan” kataku sambil memberikan surat pindah ku kepada guru itu.
Guru itu melunak setelah menerima alasanku yang logis. “Oke baiklah, silahkan duduk.”
“Makasih pak.”
__ADS_1
Aku pun menarik nafas dengan leganya dan berjalan mencari tempat duduk yang kosong, saat aku sedang mencari tempat duduk aku pun mendengar seseorang memanggilku dan memintanya duduk dengannya, dan ter-nyata orang yang memanggilku adalah Ravhy. Dia merupakan salah satu mantan teman sekelasku di 10 A jadi kami duduk bersama. Dan aku pun melihat Bintang duduk di barisan paling depan dengan seseorang yang bernama Ridwan dan dia pun menyapa ku.
Bintang tertawa dan mengejekku. “Hahaha... Nggak salah jurusan nih?”
“Enggaklah, oi di mana ian?” Kataku bertanya ke Bintang sambil berbisik.
“Dia di kelas 10 IPA 3.”
“Oh, kirain di kelas ini.”
“Den lihat kebelakang bangku wanita barisan keempat dari tengah?”
“Apaan? nggak kedengeran.”kataku sambil berusaha mendekat ke arah Bintang.
“Lihat dulu aja, nanti lu juga tahu”
Aku pun menengok ke belakang dan kaget ternyata wanita yang dimaksud Bintang adalah Dila. dan Dila pun melihat ke arahku dan melambaikan tangannya dan ter-senyum ke arahku, seketika aku pun membalas senyuman-nya.
“Oi, nengok nya bukan ke belakang tapi ke depan!” Kata guru itu padaku dan sepertinya guru itu tidak suka dengan kehadiranku yang membuat kelasnya menjadi semakin menyebalkan.
“Ke saya pak?”
“Bukan.”
“Syukurlah kalau bukan ke saya mah pak.”
“Ya ke kamulah yang dari tadi lihat lihat kebelakang, emangnya ada apa sih di belakang?”
“Sutt... Rahasia pak? Di belakang itu ada sesuatu yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata.”
Anak-anak kelas yang mendengar perkataanku hanya tertawa.
“Astaga... kenapa ada orang kaya kamu si di kelas yang tadinya hening?” kata guru itu sambil memegang kepalanya karena pusing melayaniku.
“Sudah-sudah perhatikan ke depan.”
“Iya pak.”
.......~~~.......
__ADS_1