
Setelah 2 jam pelajaran berlalu akhirnya guru itu keluar karena sudah waktunya istirahat, dan untuk memaksimal-kan waktu istirahatku aku pun berjalan ke arah Bintang untuk mengajaknya kekantin.
“Tang kantin nggak?”
“Bentar.”
“Oh iya, tunggu bentar gua kebelakang dulu.” kataku sambil melihat Dila dan memutuskan untuk berjalan men-dekatinya terlebih dahulu sebelum aku pergi kekantin bersama dengan Bintang.
“Mau kemana lu?” Kata Bintang bertanya padaku.
“Bentar.”
Aku pun berjalan menuju tempat duduk Dila. “Hey Dila?”
Dila tersenyum kepadaku. “Eh, hey.”
Aku tertawa kecil. “Aku nggak nyangka kita bakal sekelas. Hehehe.”
“Aku yang lebih nggak nyangka ternyata kamu orangnya berani yah, padahal kemarin pas jalan kayanya cuek. Hehehe.” katanya sambil tersenyum seperti biasa kepadaku. Dan ya senyuman biasanya itu adalah senyuman yang tak akan ada satu orang pun yang memiliki senyuman itu selain dirimu.
“Enggak kok itu cuma bercanda aja, eh kamu mau kekantin nggak?”
“Iya nanti aku nyusul.”
“Oh yaudah, aku sama Bintang duluan ya.” kataku sambil berdiri dan berjalan meninggalkan tempat duduk Dila, dan baru beberapa langkah meninggalkan Dila aku pun langsung berbalik dan menemui Dila lagi kemudian aku berbisik kepadanya. “Hari ini kamu cantik.”
Dila tersenyum melihatku, dan aku pun kembali berjalan meninggalkan Dila. “Tang ayo.”
“Oke.”
Sebelum aku kekantin bersama Bintang, aku memutus-kan untuk mengajak Ian juga ke kantin takutnya dia nggak ada temen di hari pertamanya di kelas baru.
“Eh Tang panggil si Ian gih.”
“Lah kok gua? Lu aja sana kan lu yang ngajak.”
“Lu kan lebih muda dari gua jadi lu nurut sama yang lebih tua.”
“Ah bangsat lu.” Bintang pun langsung berjalan ke pintu kelas 10 IPA 3 dan bertanya pada seseorang dan setelah beberapa menit Bintang pun kembali.
“Lu lama banget si, gua laper nih, mana si Ian?” Kataku dengan muka kesal.
“Udah ke kantin duluan dia.”
“Ah bangsat, tau gini gua nggak usah nungguin dia di sini.”
Aku dan Bintang pun pergi kekantin tetapi alangkah menyebalkannya hari ini, baru juga aku dan Bintang sampai di kantin Bel masuk udah berbunyi lagi. Mau tak mau, siap tak siap aku harus kembali ke kelasku dengan perut yang kosong karena dari tadi jam istirahat kami berdua habis untuk menunggu Ian yang tak pasti.
“Den sudahlah kita pasrahkan ini semua pada tuhan.” kata Bintang dengan muka yang lemas dan seperti tak ada alasan ia ingin masuk kelas karena perutnya belum di isi apa-apa.
“Baiklah.” kataku dengan muka lemas dan berjalan bersama Bintang seperti zombie.
“Eh kalian kenapa?” Tanya Windi yang berjalan bersama Dila yang barusa saja kembali dari kantin dan melihat aku dan Bintang seperti raga tanpa nyawa.
Aku menjawab perkataan Windi dengan muka memelas. “Kita belum makan siang, beri kita makan.”
“Eh bukannya tadi kalian yang lebih dulu ya kekantin-nya dari pada kita? Kenapa kalian bilang belum makan siang?”
“Karena lama nungguin Ian dan ternyata si Ian udah duluan di kantin, jadi kita telat buat beli makannya.”
“Kebetulan tadi aku sama Windi beli makanannya agak kebanyakan, jadi ini buat kalian berdua.” Ucap Dila sambil memberikan 2 bungkus snack dari kantong plastik yang ia pegang.
Aku pun mengambil kedua snack itu. “Makasih Dila, ternyata benar kalau bidadari itu ada dan aku melihatnya dari sosok kamu.”
“Bagi gua oi!”
“Ini Dila ngasih ke gua ege, bukan buat lu.”
Bintang berusaha mengambil snack itu. “Oi, bagi gua laper.”
Windi yang kesal melihat aku dan Bintang berebut makanan langsung memukul kita berdua agar membuat kita diam. “Kalian bisa diam nggak makannya?”
__ADS_1
“Maafin kita, tadi lagi nggak sadar karena dikuasai rasa lapar.” kata Bintang kepada Windi sambil memakan snack yang tadi Dila berikan kepada kita berdua.
Dila mendekatiku dengan tiba-tiba dan *******-***** rambutku dengan kasar. “Bagus ya, dibagi rata masih serakah?” ejeknya sambil tersenyum sinis.
“Aduh... sakit, Dila.” keluhku sambil mencoba menahan rasa sakit dan memegang tangannya yang sedang meremas rambutku dengan kuat.
Aku berusaha melepaskan genggamannya yang jauh lebih kecil daripada tanganku. “Tapi aku tidak ingin orang lain mengambil apa yang telah kamu berikan, termasuk Bintang.” aku menyampaikan dengan tegas.
“Diam...”Kata Windi sambil memukul perutku dengan keras “masih aja ngoceh, cepet makan nanti keburu ada guru yang masuk.”
“Aduh... Lu sama si Desi sama aja ya, nggak ada ramah-ramahnya jadi cewek.”
“Apa... Lu mau gua pukul lagi?” Ucap Windi sambil mengepalkan tangannya kembali.
“Nggak deh.” Aku ketakutan melihat Windi yang ingin kembali memukulku.
Jam pelajaran kedua pun dimulai, dan para siswa kelas sudah bersiap di kursi duduknya. Tak lama kemudian, wali kelasku yang juga menjadi guru matematika memasuki ruangan. Karena ini adalah hari pertama, wali kelasku memutuskan untuk mengubah sesi menjadi sesi perkenalan agar kami saling mengenal lebih baik. Di kelas ini, aku hanya mengenal beberapa orang, seperti Ravhy yang duduk di sebelahku, Bintang, Windi, dan Dila.
Bunda Yessy, demikian kami memanggilnya, memimpin kegiatan hari itu. “Baik anak-anak, karena ini adalah kelas yang baru dibentuk, bagaimana kalau kita saling berkenalan terlebih dahulu? Ibu akan memulai. Nama Ibu Yessy Capilaury, kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Bu Yessy.”
“Gimana kalau kita memanggilnya dengan sebutan Bunda?” ucap Felia, salah satu teman cewek di kelas. Aku belum terlalu mengenalnya secara mendalam, tetapi dari penilaian awalku, dia tampak baik, tegas, dan cantik.
“Iya, setuju!” sahut para siswi lainnya, setuju dengan usulan Felia. Namun, para siswa laki-laki kami bingung karena harus memanggil wali kelasku dengan sebutan Bunda.
“Baik, kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Bunda. Sekarang, kita lanjutkan dengan perkenalan diri sambil membentuk struktur organisasi kelas.” lanjut Bunda.
Setelah sekitar tiga puluh menit, perkenalan dan struktur organisasi kelas selesai terbentuk. Hendrik dan Yomi dipilih sebagai ketua dan wakil ketua kelas. Hendrik adalah seorang cowok dengan sikap konyol yang selalu membuat kami tertawa dengan kata-katanya yang selalu lucu. Sementara Yomi, meski memiliki wajah yang sangar, kelakuannya justru bertolak belakang dengan penampilan-nya yang seram.
“Baik, sekarang kita sudah memiliki ketua kelas dan wakil ketua kelas. Bagaimana kalau kita langsung memulai pelajaran hari ini?” ujar Bunda sambil menulis materi pertama yang akan disampaikan.
Setelah selesai semua mata pelajaran hari ini, suasana kelas pun mereda dan siswa-siswi mulai mengambil tas mereka. Aku dan Bintang bergegas menghampiri tempat duduk Dila dan Windi, berniat mengajak mereka pulang bersama.
Bintang melangkah di depanku sambil bertanya, “Udah selesai?”
Windi berdiri dari tempat duduknya dan bergabung dengan Bintang, “Iya, udah selesai. Ayo, pulang.”
Aku memperhatikan Dila yang tampak sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. “Kamu lagi ngapain?” tanyaku kepadanya.
Tanpa berkata apa-apa, aku mengeluarkan pulpen dari saku celanaku. “Pulpennya ini bukan?” kataku sambil menunjukkan pulpen yang aku temukan.
Dila segera meraih pulpen yang kuberikan. “Iya, itu pulpenku. Kok ada di kamu?”
Aku tersenyum. “Tadi aku pinjam pulpenmu saat istirahat, tepatnya ketika aku datang ke tempat duduk mu. Kebetulan ada pulpen yang tidak terpakai, jadi aku ambil saja.”
Dila, dengan ekspresi kesal, menjambak rambutku. “Ih, kalau mau pinjam, bilang dong.”
“Udah ayo. Cepat, nanti kita ditinggalin yang lain.” katanya sambil berdiri dan berjalan di depanku.
Aku dan Dila pun berjalan keluar kelas untuk mengejar Bintang dan Windi yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kelas, sesampai di depan pintu gerbang sekolah aku melihat Ian, Desi, Bintang dan juga Windi yang sedang menungguku dan Dila.
“Kalian nggak ada kerjaan apa, bukannya pulang malah diem di depan gerbang?”
Desi yang mendengar kata-kataku barusan langsung menghampiriku dan langsung memukul perutku dengan keras sambil menarik tangan Dila. “Berisik, kita nggak nungguin lu tapi kita nungguin Dila.”
Aku yang kesakitan karena di pukul oleh Desi pun meminta tolong kepada Dila. “Dila tolong!”
Desi mencegah Dila yang berusaha membantuku berdiri dan menariknya pergi. “Udah Dila biarin aja.”
“Lu udah tau ada Desi malah ngomong gitu.” kata Ian membantuku berdiri.
Aku hanya tersenyum sambil berusaha berdiri kembali dan di bantu oleh Ian.
“Kita mau kemana?” Tanya Dila kepada Desi yang menarik tangannya.
“Kita ketaman aja, mumpung masih siang.” Ucap Desi sambil berjalan paling depan.
Di perjalanan menuju taman aku menarik tangan Dila untuk menemaniku ke minimarket. “Dila ayo ikut sebentar!”
“Mau kemana?”
“Udah ikut aja.”
__ADS_1
“Oi Den, kita nitip ya.”
“Emangnya gua mau beli apa anjing?”
Dila yang mendengar kalau aku berkata kasar langsung mencubit perutku. “Itu mulut kasar banget si.”
Aku tertawa kecil sambil mencoba melepas cubitan Dila dari tubuhku. “Aduh... duh, maaf Dila reflek barusan.”
“Apa aja pokoknya kita nitip.” kata Bintang sambil terus berjalan menuju tempat duduk dibawah pohon bersama Windi, Ian dan Desi.
“Ya, nanti gua beliin.”
Aku dan Dila pun berjalan menuju minimarket yang berada di seberang jalan, sesampai di depan pintu minimarket aku dan Dila pun mendorong pintu minimarket itu untuk masuk.
“Dila, kenapa kamu mendorong pintu minimarket padahal bisa kan ditarik juga?” Kataku yang melihat Dila yang mendorong pintu minimarket.
“Ih yang gituan aja di pertanyain!” Ucap Dila dengan muka kesal karena aku bertanya seperti itu, aku yang me-lihat Dila kesel hanya tersenyum sambil mencari minuman di lemari es yang ada di dalam minimarket.
“Kamu mau minum apa?” Sambil membuka lemari es yang berisi beberapa minuman yang dingin.
“Samain aja sama kamu.” katanya sambil melihat-lihat ice cream yang nggak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Aku yang dari tadi melihat Dila memandangi tempat ice cream itu, setelah mengambil minuman untuk yang lain, kemudian aku pun berjalan menuju tempat ice cream itu yang dari tadi Dila pandangi dan mengambil 2 ice cream yang berasa stroberi dan juga coklat.
“Kamu kenapa beli ice cream?” Tanya Dila yang melihatku mengambil 2 buah ice cream.
Aku tersenyum. “Seperti kata kamu samain aja, Jadi kita sama-sama makan ice cream.”
Aku dan Dila pun berjalan menuju kasir untuk mem-bayar belanjaanku, setelah keluar dari minimarket aku mengambil dua buah ice cream dari kantung plastik yang berisi belanjaanku tadi, dan membuka kedua ice cream tersebut kemudian memberikan salah satu dari ice cream yang berasa stroberi itu kepada Dila.
“Nih buat kamu, makan cepet nanti keburu meleleh kalau kamu senyumin doang.”
Dila mengambil ice cream itu. “Mana bisa di senyumin dong meleleh?”
Aku tersenyum kepada Dila sambil berjalan bersama-nya. “Justru karena senyum kamu yang hangat itu, sesuatu yang membeku bisa mencair.”
Dila hanya tersenyum dengan kata-kataku barusan sambil berjalan menuju taman tempat yang lainnya ber-kumpul, diperjalanan aku dan Dila memperdebatkan kenapa kita lebih sering mendorong pintu minimarket padahal bisa untuk di tarik, kenapa tukang Rujak menaruh Buahnya di aquarium dan kenapa kamu lebih suka tidur yang ketiduran daripada tidur yang di rencanakan, hanya dengan membicarakan hal itu semua dunia seperti berhenti bergerak dan hanya aku dan Dila saja yang dapat bergerak dengan bebas di dunia tanpa ikatan waktu itu.
“Oi... kalian lama banget?” Teriak Bintang bertanya kepada aku dan Dila yang baru saja datang.
Aku pun melemparkan minuman kaleng ke arah Bintang dan Ian. “Nih...”
“Oke... Thanks” kata Ian sambil menangkap minuman yang aku lemparkan.
Tak terasa hari sudah mau gelap Dila, Windi, Desi dan Ian pulang terlebih dahulu dan hanya tertinggal aku dan Bintang saja berdua di taman yang tidak terlalu luas dan tak terlalu jauh dari pemukiman warga.
“Lu mau ngumpulin khodam sampai kapan nge, lu nggak mau balik napa?” Kataku kepada Bintang yang sedang duduk di bangku taman.
Bintang berdiri dari tempat duduknya. “Oh iya, gua harus pulang ya.”
“Terus faedahnya lu dari tadi diem di sini ngapain, orang-orang udah pada balik lu masih ngumpulin khodam?”
“Lah lu ngapain masih di sini?”
“Lah gua kan nebeng baliknya sama lu."
“Si anying... Pantes aja lu masih diem di sini.” Ucap Bintang sambil berdiri dari duduknya. “Lah iya ya gua bawa motor, motor gua ketinggalan di sekolah.” Ucapnya sambil berlari menuju sekolah untuk mengambil motornya .
Aku yang mengejar Bintang yang berlari kesekolah pun akhirnya dapat mengejarnya, dia terdiam karena gerbang sekolah sudah di kunci dan harus mengikhlaskan motornya untuk bermalam di sekolah.
“Dahlah... balik jalan kaki gua.” katanya sambil berjalan meninggalkan sekolah dengan jalan kaki.
“Lu daripada balik mending nginep aja dirumah gua.”
“Ya udahlah gua nginep di rumah lu aja.” Ucap bintang sambil berjalan kaki bersamaku menuju rumahku yang lumayan agak jauh jika berjalan kaki.
Ajak aku berdiskusi tentang apapun. Tentang mengapa tukang rujak menaruh buahnya di aquarium. Tentang mengapa kamu lebih suka tidur yang ketiduran daripada tidur yang di rencanakan.
Tentang kita yang sering mendorong pintu minimarket meski sebenarnya bisa untuk di tarik.
Karna semakin dewasa yang di butuhkan bukan lagi kata kata cinta tetapi tempat untuk berbagi cerita.
__ADS_1
....~~~....