
Setelah selesai makan aku dan Dila pun pergi untuk menemui yang lain, sesampai kita di bangku taman yang tadi, ternyata Windi, Bintang, Ian dan Desi sudah berada lebih dulu dan sedang menunggu aku dan Dila kembali.
Aku dan Dila berjalan mendekati mereka yang sedang berkumpul. “Maaf ya, kalian nungguin kita ya?”
“Kalian ngapain aja si dari tadi, lama banget?” Ucap Desi dengan muka kesal karena dari tadi dia dibawa paksa memasuki rumah hantu bersama Ian.
Dila hanya tersenyum. “Maaf-maaf.”
“Yaudah mending kita naik Roller coaster aja!” Ucap Bintang sambil mengusulkan idenya kepada yang lainnya.
Windi gemetar, merasa takut. “Gua belum pernah naik Roller coaster sebelumnya, jadi kayanya gua nggak ikut. Gua takut!”
Bintang memandang Windi penuh kepedulian, lalu menggenggam erat tangannya. “Tenang, Win. Gua akan selalu ada di samping kamu. Jangan takut.”
Dengan hati yang berdebar, Windi mengerti bahwa Bintang akan menjaga dirinya. Mereka berjalan menuju loket untuk naik Roller coaster, tangan mereka saling tergenggam erat.
Aku dan Dila duduk bersebelahan. Ketika Roller coaster mulai bergerak, tampaknya semua orang masih tenang-tenang saja. Namun, saat mencapai ketinggian maksimal dan tiba-tiba terjun bebas dengan kecepatan tinggi, teriakan menggema di sepanjang Roller coaster, termasuk Dila yang ketakutan sejak awal.
Dila yang takut segera menggenggam erat tanganku, seolah tak ingin melepaskannya. Aku melihat ekspresinya dan berbisik, “Tenang, selama aku ada di sini, semuanya akan baik-baik saja.”
Dila tersenyum melemah dan memegang tanganku dengan lebih erat. Sensasi Roller coaster yang menggelegar dan kecepatan yang melampaui batas memenuhi perasaan kami.
Setelah perjalanan naik Roller coaster selesai, tepat pukul setengah enam sore, kami melangkah turun dengan rasa lega. Sensasi drama yang menguras emosi kini mereda, meninggalkan kenangan tak terlupakan dalam hati kami.
Sebelum kami semua pulang, seseorang tiba-tiba mem-berikan sebuah brosur tentang diskon untuk menaiki bianglala. “Gimana kalau kita naik Bianglala, sebelum pulang?” usulku.
“Boleh tuh.” mereka menjawab hampir serentak.
Sesaat sebelum kami membeli tiket untuk bianglala, petugas memberitahu kami bahwa bianglala hanya dapat menampung empat orang untuk satu tempatnya. Karena kami berjumlah enam orang, aku memutuskan untuk kami menaiki bianglala secara berpasangan. Semuanya setuju, kecuali Desi yang terlihat kesal harus berpasangan dengan Ian.
“Win, naik bareng gua ya?” Desi mengajak Windi naik bianglala bersama karena ia enggan berbagi tempat dengan Ian.
“Eh, maaf ya Des, gua udah janji mau naik Bianglala bareng Bintang.” Windi menjawab dengan ragu.
“Oh, begitu ya. Yaudah, gua ajak Dila aja.” kata Desi sambil meninggalkan Windi dan Bintang, menuju ke arahku dan Dila.
“Dila, naiknya sama aku ya.” Desi memegang tangan Dila, mencoba membujuknya.
__ADS_1
“Eh... Eh... maaf ya, Dila udah berpasangan sama gua, Valid, no debat.” Ucapku sambil melepaskan genggaman tangan Desi pada Dila.
“Yaudah, nggak apa-apa, gua ikut aja sama kalian berdua. Nggak masalah jadi 'nyamuk' juga.” Desi menjawab dengan nada kesal.
Dila terlihat terkejut dengan perkataan Desi. “Eh...”
Tiba-tiba Ian langsung menggenggam tangan Desi dan langsung menaiki Bianglala tersebut. Dila yang melihat Ian dan Desi hanya tersenyum. Tak lama aku dan Dila pun menaiki Bianglala tersebut.
Setelah aku dan Dila menaiki Bianglala tersebut, bianglala perlahan-lahan naik ke atas, aku melihat yang Dila ter-lihat ketakutan dengan ketinggian. “Gimana menurutmu tentang hari ini?” tanyaku.
“Aku Perkataan Dila terputus karena tiba-tiba Bianglala mati dan tempat aku dan Dila berada di paling puncak atau berada di paling atas.
Aku melihat Dila, wajahnya penuh ketakutan saat bianglala tiba-tiba mati. Aku meraih tangannya, mencoba menenangkannya di tengah kegelapan yang menyelimuti kami. “Dila, tenanglah. Lihatlah keluar, langit begitu cerah dengan warna jingga yang meneranginya.” bisikku sambil memegang tangannya erat.
Aku ingin menunjukkan pada-nya keindahan senja yang tampak seperti semesta sedang tersenyum, menciptakan warna jingga yang sangat begitu memukau hanya untuk kami berdua.
Dila melirik ke luar, pandangannya awalnya gelap, namun perlahan warna-warni senja mulai merasuki ke-gelapan yang menyelimutinya. Sorot matanya berbinar saat langit terbuka, memancarkan keajaiban senja yang begitu mempesona. “Cantik banget.” bisiknya dengan suara serak, lalu dengan lembut ia menggenggam tanganku. “Ini senja terindah yang pernah aku lihat.”
Aku tersenyum padanya.”Tenang saja, Dila. Ini tidak akan lama. Sebentar lagi bianglala akan kembali menyala.”
Namun, saat itu bianglala tetap tidak menyala. Suasana di atas kian sunyi dan tegang. Kami berdua terdiam, me-natap ke bawah yang terlihat begitu jauh di bawah kami. Perasaan kegelisahan mulai menghampiri pikiran Dila. Aku melihat jam tangan yang aku kenakan di tangan kiriku. Waktu berlalu dengan lambat.
“Iya udah nyala.”
Kami pun turun dari Bianglala tersebut dan berkumpul dan bersiap-siap untuk pulang dan meninggalkan taman bermain tersebut.
“Anjir, gua kaget banget pas tadi bianglalanya tiba-tiba mati.” ucap Bintang dengan nada ngos-ngosan, mencerminkan kejutan yang masih membayangi dirinya.
Ian pun menimpali perkataan Bintang. “Sama gua juga Tang.”
Desi tertawa kecil kepada Ian. “Bukannya tadi lu bukannya kaget ya? tapi malah teriak-teriak histeris.”
Ian juga tertawa kepada Desi. “Eh sedikit si.”
Desi mendekati ku yang sedang berjalan di sebelah Dila. Sambil tetap tersenyum, ia bertanya kepadaku. “Nggak kaget ya tadi, lu? Bahkan nggak ada komentar apa-apa tentang kejadian itu?”
Aku tersenyum tipis, merasakan sentuhan lembut senja yang masih membayangi pikiranku. “Mungkin mati listrik.”
__ADS_1
Desi menyangkal dengan tegas, memukul perutku dengan sedikit lebih keras. “Mana mungkin mati listrik saat wahana yang lain masih bergerak? Jangan nyinyir!”
Aku mengambil nafas dalam-dalam, mencoba men-ahan rasa sakit dari pukulan Desi. Dengan hati-hati, aku mengeluarkan brosur Bianglala yang tadi kusimpan di saku jaketku. Kulihat mereka bertiga memperhatikan dengan penasaran.
“Emangnya kalian nggak baca? Di brosurnya dijelaskan, jam 17:45 Bianglala akan berhenti sejenak untuk menikmati langit senja.” kataku sambil menunjukkan bagian brosur yang menjelaskan penghentian sementara itu.
“Udah, yuk, mending kita pulang. Takut nanti keburu malam.” kata Dila yang berjalan di sampingku, mengajak kita semua untuk pulang setelah petualangan kami di taman bermain.
Ketika kami sampai di dalam kereta, Dila terlalu lelah sehingga tertidur dengan nyenyak di bahuku. Aku membiarkannya tidur, sambil melihat wajahnya dan mengagumi kecantikannya yang begitu tampak saat dia tertidur.
Aku berjanji Dila aku akan berusaha agar terus ber-samamu selama nafas ini masih bisa aku hembuskan, selama jantung ini masih berdetak, dan selama aku masih memiliki keberanian untuk terus menatap matamu, aku akan bersamamu kemana pun kamu pergi gumamku dalam hati sambil memandangi wajah Dila yang terlihat tertidur dengan pulas nya.
Bintang, Windi, Desi, dan Ian juga tertidur dengan nyenyak, menandakan betapa mereka semua menikmati perjalanan yang kami lalui hari ini. Suasana kereta menjadi tenang, hanya suara napas kami yang terdengar dalam keheningan malam.
Dengan perasaan campuran antara kelelahan dan kehangatan, kami melanjutkan perjalanan pulang, mem-bawa kenangan indah hari ini yang terukir dalam hati kami.
Sesampai di stasiun tujuan kami, aku dengan hati-hati membangunkan Dila yang tertidur di bahuku dengan kedamaian yang terpancar dari wajahnya. Meski rasanya tak tega membangunkannya, tapi kami sudah sampai tujuan, jadi aku perlahan-lahan membangunkannya.
“Dila, bangun. Kita sudah sampai.” bisikku padanya.
Dila menggosok-gosok matanya dan perlahan-lahan bangun dari tempat duduknya. “Udah sampai ya? Maaf, aku tertidur di bahu kamu.” katanya sambil mengucapkan permintaan maaf dengan lembut. Aku melihat Dila yang masih terlihat sedikit lunglai, segera berdiri dan menyokong tubuhnya untuk membantunya keluar dari kereta.
Kami berdua turun terlebih dahulu dari kereta dan berjalan di stasiun sambil menunggu teman-teman lainnya turun. Setelah semua berkumpul, saat itu tiba untuk berpisah.
“Kayanya kita harus berpisah di sini.” ucapku sambil berjalan meninggalkan mereka berlima dan menelusuri lorong stasiun menuju pintu keluar.
Aku masih melangkah di lorong stasiun, dan tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki yang berlari mendekati ku. Ternyata, Dila sedang mengejar ku dan memanggil nama ku dengan napas terengah-engah.
“Deni...”
Aku yang mendengar suara Dila langsung berbalik menengok ke arahnya dan berjalan menghampiri Dila yang sedang berusaha mengatur nafasnya, sepertinya dari ekspresi wajahnya dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku.
“Makasih untuk hari ini. Aku sangat bahagia dan aku nggak akan melupakan semuanya.”
Aku langsung mengusap kepalanya dan tersenyum kemudian pergi meninggalkan Dila. “Sampai berjumpa lagi di sekolah ya.”
Aku melanjutkan langkahku, membiarkan kehangatan perasaan dan kenangan indah hari itu membawa kami berdua ke arah yang tak terduga.
__ADS_1
Tuhan Terimakasih atas semua nafas yang telah kau berikan kepadaku. Dan terima kasih. Karena kau telah menciptakan sebuah senja tanpa harus takut tertelan langit malam.
....~~~....