
Empat hari telah berlalu sejak pameran mingguan di kota tua. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah tidak terlalu pagi, menunggu teman-teman kelasku di parkiran sekolah. Di sana, aku duduk bersama Hendrik dan Yomi, menunggu anak-anak yang lain. Sekitar 15 menit kemudian, akhirnya semua teman-temanku berkumpul, dan kami bersama-sama berjalan menuju kelas. Sepanjang perjalanan, kami tak lupa melirik adik kelas yang mungkin akan menjadi sasaran perhatian Hendrik dan Yomi.
Sesampai di kelas, aku menuju tempat dudukku. Dari kejauhan, aku melihat Ridwan dan Dila duduk berdua, sedang membahas tugas Seni Budaya dari hari sebelumnya. Saat Dila melihatku masuk ke kelas, dia memanggilku untuk bergabung dalam pembahasan tugas tersebut.
“Deni... Sini.” serunya.
Aku mendekati Dila dan Ridwan yang tengah asyik membahas tugas Seni Budaya. “Iya, ada apa, Dil?”
“Ini tugasnya, nanti kita kumpulkan saat istirahat. Kamu juga ikut, bawa foto-foto yang kamu ambil saat pameran kemarin.” Kata Dila.
“Iya, ini aku sudah bawa.” Jawabku sambil mengeluarkan sepuluh foto yang telah aku cetak. Tanpa memeriksa satu per satu fotoku, Dila langsung menggabungkannya dengan foto mereka berdua.
Bel istirahat berkumandang, dan aku, Dila, dan Ridwan meninggalkan kelas untuk mengumpulkan tugas Seni Budaya kepada guru pengajar. Ketika kami tiba di kantor guru, Dila dan Ridwan masuk terlebih dahulu, dan aku mengikutinya dari belakang.
“Permisi, pak. Maaf mengganggu waktu istirahatnya. Kami ingin mengumpulkan tugas yang bapak minta kemarin.” Ucap Dila dengan sopan kepada guru Seni Budaya sambil memberikan foto-foto yang dipegangnya.
Guru itu menerima foto-foto yang Dila berikan. “Oh iya, sebentar, saya cek dulu foto-fotonya.” Guru itu terus melihat semua foto lukisan sambil berkomentar, “Oh, ini bagus-bagus juga foto lukisannya.” Namun, tiba-tiba guru itu terdiam setelah melihat salah satu foto.
“Ini foto kamu?” Tanya guru itu kepada Dila.
Dila terkejut melihat dirinya dalam foto yang ada dalam tugas tersebut. Aku melihat Dila kebingungan dengan foto itu, dan akhirnya aku memberitahu guru itu bahwa aku yang mengambil foto Dila tanpa sepengetahuannya. Aku meminta maaf kepada Dila atas tindakanku tersebut.
“Ya udah, nggak apa-apa. Karena dalam foto tersebut masih ada gambar lukisan, jadi saya terima foto-foto ini.”
Setelah selesai mengumpulkan tugas Seni Budaya, Dila dan Ridwan meninggalkan ruangan guru dan berjalan menuju kelas. Sebelum aku meninggalkan ruangan guru, guru itu mendekatiku dan membisikkan sesuatu padaku saat aku hampir saja melangkah keluar.
“Barusan itu foto yang bagus, dengan objek yang sempurna, bukan hanya seni rupa saja, tapi dua keindahan dalam satu pandangan.” Bisik guru itu kepadaku.
Aku merasa malu dan tersenyum. “Terima kasih, pak.”
“Jadi kamu menyukai Dila?” Tanya guru itu dengan serius.
“Maaf, pak, saya izin ke kelas dulu ya, pak.” Kataku tanpa menjawab pertanyaan guru itu, lalu aku langsung berjalan meninggalkan ruangan guru tersebut.
Setelah aku keluar dari ruang guru tersebut aku ber-jalan menuju kelasku kembali tetapi sebelum aku sampai di kelas ada seseorang yang memanggil namaku tetapi menambahkan kata kak di depan namaku.
__ADS_1
“Kak Deni, tunggu...” Ucap orang itu memanggil namaku, aku yang mendengar ada seseorang yang me-manggil namaku langsung membalikan badan untuk me-lihat siapa orang yang memanggilku dan ternyata orang yang memanggilku adalah wanita.
“Siapa ya?” Kataku bertanya kepada wanita yang tidak aku kenal itu.
“Kakak nggak kenal aku? Ini aku Ayu adek kelas kakak pas SMP.”
“Oh Ayu, kamu sekolah di sini juga?” Aku pura-pura ingat aja padahal aslinya nggak ingat sama sekali.
Ayu tersenyum. “Iya kak, tadi Ayu liat kayak kak Deni yang keluar dari ruangan guru, dan ternyata memang bener kak Deni.”
“Oh iya kak, hari minggu sibuk nggak?” Katanya bertanya kepadaku.
“Kenapa emangnya?”
“Temenin Ayu nonton yuk kak.” Katanya dengan agresif memintaku untuk menemaninya nonton bioskop.
Aku berusaha mencari alasan agar aku bisa ke kelas dan tidak menanggapi perkataanya. “Eh maaf ya, kakak ke kelas dulu ya soalnya lagi ada tugas.”
“Eh kak nanti nontonnya gimana?” Katanya bertanya kepadaku, aku yang melihatnya hanya membalas dengan senyuman dan langsung pergi masuk ke kelas.
Bel pulang sekolah pun berbunyi tetapi sesaat kami ingin pergi pulang sekolah di sana sudah ada kakak kelas yang menjaga gerbang sekolah, sialnya aku dan teman-temanku tidak bisa keluar karena kami harus mengikuti ekskul pramuka yang katanya wajib diikuti dan katanya juga ekskul ini menjadi syarat kenaikan kelas, tetapi aku tidak terlalu peduli dengan hal seperti itu.
Tetapi sesaat sebelum aku berhasil memanjat tembok itu ada seseorang yang menarik tasku hingga aku terjatuh dan aku pun melihat orang yang menarik tasku itu ternyata orang itu adalah pembina ekskul pramuka, tanpa pikir panjang teman-temanku berusaha melarikan diri dan ya mereka semua berhasil kabur kecuali aku yang tertangkap. Aku pun di paksa untuk mengikuti ekskul itu sambil berjalan menuju lapangan dan saat itu semua orang yang mengikuti ekskul pramuka yang sudah duluan berkumpul di lapangan melihat ke arahku dan kemudian aku menjadi pusat perhatian saat itu dan juga Pembina pramuka pun menceritakan tentang aku yang berusaha bolos dengan cara memanjat tembok belakang, aku hanya menunduk sambil berjalan memasuki lapangan dan tak ingin melihat siapa pun sampai aku melihat Dila yang menatapku dan mungkin dengan keadaan ini juga Dila akan jauh lebih ilfil kepadaku, tetapi sesampai aku berpapasan dengannya, Dila berbisik.
“Seperti biasa ya kamu selalu bikin ulah yang bikin aku senyum-senyum sendiri.”
Aku yang mendengar suara Dila langsung menengok ke belakang tetapi aku hanya bisa melihat punggungnya saja karena Dila tidak berbalik untuk melihatku.
Sesaat setelah ekskul itu selesai aku berniat mendekati Dila untuk menanyakan kata-kata yang tadi Dila ucapkan, tetapi saat aku berjalan beberapa langkah untuk menghampiri Dila, dari hadapanku, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mendekatinya, menyapanya, tertawa dengannya dan pergi bersama dengannya dan orang itu adalah Ridwan. Sesaat suasana di sana terasa hening walau pun harusnya aku sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu tetapi saat ini entah kenapa keheningan ini membuat perasaanku tercampur aduk entah itu senang, kesal dan kecewa.
Aku berjalan tepat di belakang Dila dan Ridwan, aku hanya bisa menatap punggung Dila itu sampai aku berada di gerbang sekolah, setelah aku keluar gerbang aku terkejut karena saat itu teman-teman kelasku yang tadi meloloskan diri tiba-tiba mereka semua menghampiriku untuk mengetahui keadaanku apakah aku baik-baik saja atau udah langsung di tikam oleh Pembina pramuka.
“Eh lu tadi di apain aja sama mereka?” Kata Hendrik bertanya kepadaku sambil berjalan bersama-sama
“Gua...”
__ADS_1
“Iya kenapa lu?” Hendrik dan yang lainnya nampak penasaran dengan apa yang aku alami di tadi.
Aku tersenyum. “Gua jadi pusat perhatian ege, nyesel lu semua nggak ikut tadi pramuka.”
“Heh... kita kira lu mau di tembak mati, padahal gua udah mau syukuran kalau lu di tembak mati.” Ucap Hendrik sambil kembali sambil menghirup satu buah rokok yang berada diantara jari tengah dan telunjuknya.
“Bangsat lu.”
“Oi ege, daripada langsung pulang mending kita kumpul di ruko si Hendrik mumpung besok libur.” Ucap Zahid sambil memberhentikan langkah kaki kita semua
Hendrik mencoba menolak perkataan Zahid. “Eh si bangsat lu pasang ajak-ajak aja, di ruko gua nggak ada apa-apa.”
“Ni ceban pertama.” Robi langsung merespon perkataan Hendrik sambil mengeluarkan uangnya.
Semua teman-temanku pun mengumpulkan uang untuk membeli makan agar nanti pas di ruko kita nggak kelaparan. Aku dan teman-teman ku pergi ke ruko Hendrik dan jarak antara sekolah dan Rukonya kurang lebih 300 meter. Semua anak laki-laki kelasku ikut tetapi ada juga yang ingin memutuskan pulang terlebih dahulu dan ada juga yang tak ingin pulang salah satunya adalah aku.
Aku, Hendrik dan Yomi pergi terlebih dahulu ke Ruko tersebut, sesampai di sana aku hanya berdiam disebuah taman yang ada di belang halaman Ruko tersebut sambil memainkan gitar milik Rifki yang disimpan di Ruko itu, dan tak lama Ridwan pun datang setelah mengantarkan Dila dia langsung menghampiriku dan langsung meneguk kopi yang tadi aku buat sebelumnya.
“Lu habis nganterin Dila balik?”
“Iya, Gua baru balik nganterin Dila pulang.” Ucap Ridwan sambil membuka Hpnya dan aku tak sengaja melihat Chatingannya bersama Dila.
“Lu udah jadian sama Dila?” Tanyaku kembali sambil menyetem senar gitar dan juga aku sengaja bertanya seperti itu agar aku tau seberapa dekat hubungan Dila dan Ridwan.
Ridwan hanya tertawa mendengar pertanyaanku barusan. “Malah ketawa si bangsat, gua nanya?” Ucapku sambil melemparkan bungkus rokok yang ada di sampingku.
Ridwan tersenyum. “Gua udah mengungkapkan perasaan gua padanya!”
Aku yang mendengar perkataan Ridwan barusan langsung kaget dan terdiam hingga senar gitar yang aku stem pun putus karena saking kagetnya dengan perkataan Ridwan. Aku tak menyangka hal yang tak bisa aku lakukan selama ini malah bisa dilakukan oleh temanku.
“Lu kenapa?” Tanya Ridwan kepadaku karena melihat ekspresiku yang langsung diam dan mendengar suara putus senar gitar.
“Enggak, barusan senarnya kekencangan jadi putus” Kataku sambil melepas senar gitar yang putus tadi. “Terus, Dila jawab apa?”
“Tapi Dila belum kasih jawaban sudah satu bulan sejak gua mengungkapkan perasaan gua sama Dila.” Ucapnya sambil membawa kopi yang aku seduh dan berjalan meninggalkan-ku.
__ADS_1
Semesta terlalu bercanda, menghadirkan rasa tanpa aba-aba, dan meninggalkan luka tanpa jeda.
...****************...