Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Mencari kain


__ADS_3

Tepat saat ini adalah bulan November, kami yang merupakan anak kelas 3 diminta untuk menampilkan pagelaran untuk mendapatkan nilai praktek dari mata pelajaran Seni Budaya, dan waktu untuk menampilkan pagelaran itu adalah pertengahan Desember. Jadi kami hanya memiliki waktu satu setengah bulan untuk mempersiapkan pagelaran yang akan kami tampilkan di depan sekolah.


Anak-anak kelas pun sedang sibuk-sibuknya membahas tentang drama pagelaran tersebut, dan setelah menyelesaikan naskah drama kami pun membuat susunan organisasi untuk memudahkan acara pagelaran yang akan kami tampilkan. Dan susunannya itu terdiri dari Zahid yang merupakan produser, Windy yang menjadi sutradara, Felia yang menjadi penyusun naskah, Elis yang menjadi pemeran utama perempuan dan Robi yang menjadi pemeran utama laki-lakinya, Dicky, Winda dan Zaman menjadi tim music, sedangkan aku dan yang lainnya hanya di jadikan kacung yang di suruh-suruh oleh anak-anak kelas.


Sebenarnya tidak tepat juga kalau disebut kacung, aku, Dila, Windi, Bintang dan yang lainnya hanya menjadi orang yang membereskan property ya walau pun Bintang dan Windi hanya memiliki peran figuran yang harus sesekali naik keatas panggung.


“Eh kalian udah nentuin judul pagelarannya nggak?” Ucap Windy yang merupakan sutradara pagelaran tersebut bertanya kepada Felia yang merupakan orang yang membuat naskah drama tersebut.


Felia memberikan naskahnya kepada Zahid. “Kalau menurut gua si, karena cerita pagelarannya tentang orang yang berpindah dimensi gimana kalau judulnya itu harus ada kata dimensinya?”


Zahid mengambil naskah drama yang Felia berikan dan membacanya. “Emang nama pemeran utamanya siapa?”


“Quantin.”


Zahid  berpikir sambil tentang nama itu. “Quantin ya.”


“Dimensi dan Quantin ya, Dimensi Quantin kalau lebih di singkat lagi bakal dapet kata Dimensi Q.” Ucap Hendrik sambil berpikir menjabarkan perkataan Felia.


Aku langsung memberitahu ide dari Hendrik. “Nah itu boleh judulnya Dimensi Q.”


Windy memikirkan tentang judul yang keluar dari ide Hendrik. “Dimensi Q ya, sepertinya nggak buruk juga judul-nya.”


Zahid membuat keputusan akhir. “Oke, kita kayaknya udah nemuin judul dari pagelaran yang akan kita tampilkan nanti, yaitu Dimensi Q.”


Setelah selesai mendiskusikan tentang judul pagelaran kami pun mulai berlatih hampir setiap hari setelah pulang sekolah untuk membuat pagelaran kelas kami sukses dan menampilkan yang terbaik.


Aku yang melihat Dila yang sedang membuat daftar property yang di butuhkan kemudian menghampirinya untuk membantunya kali aja dia membutuhkan bantuan dariku.


Aku berjalan menghampiri Dila yang sedang berdiskusi dengan Windi dan Bintang. “Kamu lagi ngapain Dil?”


“Aku lagi buat daftar apa aja yang bakal dibutuhin untuk pagelaran nanti.”


“Coba aku lihat catatannya” Ucapku mengambil buku yang sedang Dila catat.


Dila mengambil kembali buku yang baru saja aku ambil. “Eh... eh... Itu belum beres.”


Windi memukul bahuku. “Lu mengganggu Dila mulu, nggak ada kerjaan napa?”


“Ya makannya gua kesini juga biar gua ada kerjaan.”


“Kirain lu kesini cuma mau godain Dila doang.” kata Windi sambil duduk di kursi yang sama dekat Dila.


Aku tersenyum. “Tapi itu salah satunya juga si.”


“Yaudah kalau lu nggak ada kerjaan dan ingin bantuin Dila, nih beliin kain buat property nanti.” Ucap Windi sambil memberikan kertas yang bertuliskan ukuran kain, warna kain dan jumlah kain yang harus dibeli.


Aku mengambil kertas yang Windi berikan. “Nah gitu dong, kan gua jadi ada kerjaan.”


“Mana duitnya?” Ucapku sambil menampan dengan tangan kananku untuk meminta uang kepada Windi.


“Ya jangan minta ke gua lah, sana minta ke produser, 100.000 aja jangan lebih, awas kalau lebih gua cincang lu.”


Aku pun berjalan ke arah Zahid untuk meminta uang untuk membeli kain yang di butuhkan tim property.


“Oi nge gua minta duit buat beli kain.” Ucapku me-minta uang kepada Zahid yang sedang duduk di kursinya sambil mengobrol dengan Felia yang merupakan pembuat naskah.


“Lah malah minta ke gua, emang gua bapak lu yang bisa ngasih duit buat lu.”


“Anying emang lu, yaudah kalau nggak mau ngasih duit buat beli bahan property, berarti kalau gua nggak ada kerjaan dan tim property ada kendala jangan nyalahin kita ya, lu aja yang tanggung jawab.” Aku berjalan meninggal-kan Zahid.


“Eh si bangsat baperan, nih gua kasih kwitansinya nanti ambil uangnya ke bendahara.” Ucap Zahid sambil mengambil kwitansi yang ada di bawah mejanya. “Emang-nya lu butuh berapa?”


Aku berbisik kepada Zahid. “Paling 150.000.”


“Oh 150.000.”


Zahid ingin menuliskan nominalnya di kwitansi, Dila yang melintas di belakangku melihat Zahid yang ingin menulis angka 150.000 tetapi Dila menghentikannya.


“Enggak  Zahid. 100.000 aja kasih uangnya.” Ucap Dila yang langsung berdiri di sampingku dan langsung memukul tubuhku karena aku berbohong tentang uang yang diminta.

__ADS_1


Zahid yang tau aku berbohong langsung menyentil dahiku dengan jarinya kemudian memberikan kwitansi yang sudah di tanda tangannya kepada Dila. “Langsung aja ambil uangnya ke bendahara.”


Aku berjalan menuju bendahara bersama Dila. “Ih Dila kenapa minta uang pas?”


“Yakan kita butuhnya juga cuma segitu.”


Aku berbisik di dekat telinga Dila. “Nanti nggak ada buat uang bensin, uang makan, sama uang buat karoke kita berdua?”


“Kamu ya ngeselin.” Ucap Dila sambil memukul perut ku dan meninggalkanku untuk mengambil uangnya di bendahara.


Aku masih merasakan nyeri di perut akibat pukulan dari Dila, sementara itu tanganku tetap memegang perutku dengan erat sembari menunggu Dila kembali dengan uangnya. Saat Dila akhirnya kembali dan memberikan uangnya kepadaku, pandanganku langsung tertuju pada tangannya yang menyodorkan uang itu. Tanpa ragu, aku segera meraih tangan Dila yang memegang uang dan membawa-nya keluar untuk membeli kain yang dibutuhkan.


“Eh... eh... Aku mau dibawa kemana? Tolong. Aku di culik sama Deni.” Ucap Dila berharap ada seseorang yang akan menolongnya tetapi Bintang dan Windi hanya tersenyum melihat Dila yang aku bawa.


Tanpa menghiraukan protes Dila, aku tetap menarik tangan Dila dengan mantap. “Udah diem! Kamu harus bertanggung jawab karena uangnya kurang.”


Aku dan Dila berjalan meninggalkan sekolah, menyusuri jalan menuju pasar atau toko kain terdekat untuk mencari kain yang kami butuhkan. Kami melangkah dengan langkah cepat dan tegas, melintasi keramaian dan hiruk-pikuk kehidupan di sekitar kami.


Hatiku berdebar-debar, khawatir kami tidak akan menemukan kain yang sesuai dengan kebutuhan pagelaran. Kami mengunjungi beberapa toko, namun kecewa me-warnai wajah kami ketika tidak menemukan kain yang tepat. Dila membutuhkan kain berukuran 2x6 meter yang berwarna hijau muda, dan kami membutuhkan tiga kain tersebut.


Kami terus berusaha mencari, berkeliling pasar dengan harapan menemukan toko yang menyediakan kain yang kami butuhkan. Namun, waktu terus berlalu dan kecemasan mulai merayapi pikiran kami. Setelah berlarian di sana-sini, kami merasa lelah dan kecewa. Kaki kami membawa kami ke bangku taman, tempat kami terduduk.


Kurang lebih setelah satu jam berlalu aku meninggal-kan kelas. Bintang dan Windi menghampiriku yang sedang duduk di bangku taman bersama Dila.


“Oi kalian bukannya balik kesekolah malah mojok di taman.” Ucap Bintang yang berjalan menghampiri aku dan Dila bersama dengan Windi.


“Mana kainnya?”


“Kain yang kita butuhkan nggak ada di toko-toko.”


Windi mengajak aku dan Dila kembali mencari kain tersebut. “Yaudah ayo kita temenin nyari, takutnya keburu sore.”


Tak terlalu lama kami pun menemukan sebuah toko kain yang agak besar dan Dila kami berempat pun me-masuki toko tersebut untuk mencari kain yang kami butuh-kan.


Dila yang ingin masuk duluan pun berjalan menuju toko itu. “Sini-sini anak SD nggak boleh jauh-jauh entar nyasar lagi.” Ucapku sambil memegang jaket Dila dan mengangkatnya, Dila yang kesal karena aku meledeknya langsung menendang kakiku dengan keras.


“Sukurin.” Ucap Dila sambil berjalan menuju Windi untuk mencari kain yang dibutuhkan.


Aku besama Bintang juga mencari kain yang di butuh-kan tetapi saat kami sedang mencari kain yang kita butuhkan, aku menemukan kain yang biasa digunakan untuk pengantin akad nikah, tanpa pikir panjang aku dan Bintang langsung berlari ke arah Dila dan Windi, aku pun memasangkan kain itu ke atas kepala Dila dan kepalaku dan langsung berjabat tangan dengan Bintang.


aku pun berjabat tangan dengan Bintang dan seakan-akan aku dan Dila sedang melakukan akad nikah. “Saya terima nikahnya Fadila Ningsih, dengan mas kawin kain hijau berukurang 2x6 meter dan seperangkat alat sekolah di bayar paylatter.”


“Sah...” Ucap Bintang dan berpura-pura berdoa bersamaku.


Windi dan Dila yang kesal dengan tingkah aku dan Bintang pun, langsung memukul dan mengusir kami berdua untuk menunggu di luar saja. Aku dan Bintang pun keluar dan menunggu Windi dan Dila yang sedang mencari kain-nya.


“Main kelereng nge berani nggak?” Bintang mengajak ku bermain kelereng sambil membeli kelereng yang di jualan di pinggir jalan.


Aku meremehkan Bintang. “Kayak yang bakal menang aja lu.”


Setelah beberapa menit aku dan Bintang bermain kelereng, sambil menunggu Windi dan Dila kembali. Aku pun memenangkan beberapa kali permainan kelereng dan Bintang hanya memenangkan sekali.


Aku mengejek Bintang kembali yang kalah terus main kelereng. “Ngaku bego main kelereng nggak lu?”


“Gua baru kalah lima kali ege.” Bintang menyangkal perkataanku.


Aku terus meledek Bintang. “Bilang aja bego, nggak usah banyak alasan lu.”


“OKE... SI PALING JAGO MAIN KELERENG.” Ucap Bintang dengan nada ngegas.


“SI PALING, SI PALING. LU SI DONGO.” Ucapku dengan nada ngegas dan berantem dengan Bintang, tiba-tiba Windi dan Dila datang untuk menghentikan tingkah kami yang konyol.


“Lu berdua ya, nggak di sekolah nggak di mana tetep aja ribut.”


“Si Bintang yang duluan.” Ucapku sambil menunjuk Bintang dengan jari telunjukku.


Bintang menyangkal perkataanku. “Elu yang duluan ngegas ege.”


“Elu...”

__ADS_1


“Elu...”


“Elu...”


“Berisik, ni bawa kainnya.” Ucap Windi sambil melemparkan kain yang baru saja dia beli kepadaku dan Bintang.


Aku, Bintang, Dila dan Windi pun berjalan kembali menuju sekolah untuk membawa kain yang baru saja kita beli kepada tim property untuk digunakan.


“Paket...” Ucapku dan Bintang sambil teriak dan me-masuki kelas.


Tetapi orang-orang yang dikelas malah menyoraki kami berdua karena mengganggu adegan latihan pagelaran tersebut tersebut.


“Heh... lu malah mengganggu, orang lagi pada latihan juga.” Ucap Zahid memarahiku dan mengambil kain yang aku bawa.


“Mana gua tahu, gua kan ikan.”


Dila yang melihat aku menggangu latihan yang lain pun langsung menyeret aku menjauh agar tidak mengganggu latihan tim pemeran.


“Udah sini aja, jangan ganggu mereka yang latihan.”


Aku pun menuruti perkataan Dila untuk tidak mengganggu mereka dan hanya menonton saja bersama yang lain. Aku yang dari tadi memperhatikan wajah Dila yang sedang terfokus menonton tim pemeran latihan membuat jantungku berdetak kencang. Seiring waktu berlalu, aku baru menyadari betapa Dila memiliki pesona yang begitu khas. Meskipun pendek, ia memiliki sikap yang tegas dan kadang suka memukul dan menginjak, tetapi di balik itu semua, ada keimutan dan kecantikan yang tak dapat di pungkiri.


Dila, dengan senyumnya yang selalu menghiasi wajah-nya, merespons perhatianku tanpa kata-kata. Senyumnya itu seakan menjadi candu bagiku, membuat hatiku ingin merasakannya lagi dan lagi. Senyumannya yang manis dan indah telah tertanam dalam ingatanku, dan saat ini, saat aku merindukannya, senyum itu tergambar jelas dalam pikiranku. Senyumnya yang selalu ingin aku lihat, walau dari jauh.


Melihat senyumnya, tanpa sadar, senyuman juga terukir di wajahku. Dalam hati, aku berharap bahwa aku bisa terus menikmati senyumannya sepanjang hidupku, hingga hari-hari terakhirku. Senyumannya menjadi penyejuk di tengah kegiatan ku yang sibuk dan menjadi cahaya di dalam kehidupanku.


Setelah selesai latihan, kami semua pulang untuk istirahat. Aku, Dila, dan Windi berjalan menuju gerbang sekolah, sementara Bintang pergi ke parkiran untuk mengambil motornya. Kami bertiga berjalan meninggalkan sekolah, tepat saat kami mencapai gerbang sekolah, Bintang sudah menunggu di samping jalan.


“Oi... Den sorry ya, gua nggak bisa nganter lu balik soalnya gua udah janji sama Windi mau nganter dia balik, lu kali-kali jalan kaki aja biar sehat.”


Windi berjalan menghampiri Bintang dan menaiki motornya. “Duluan ya, kalian berdua baik-baik jangan bikin masalah. Kalau nggak, gua bunuh lu.” ancam Windi dengan nada berat kepadaku.


“Sialan.” Ucapku dengan muka kesal kepada mereka yang sudah berjalan cukup jauh.


Dila tertawa melihat kekesalanku. “Kamu lucu kalau lagi marah.” kata Dila dengan senyuman.


“Anak SD jangan jauh-jauh nanti ada yang culik.” Ucapku sambil menarik tudung jaket Dila keatas.


Dila yang kesal karena selalu aku panggil anak SD yang nyasar pun langsung menjambak rambutku dengan keras.


“Nih aku nyampe buat menjambak rambut kamu, berarti aku bukan anak SD” Ucap Dila yang menjambak rambutku walau pun ia sambil jinjit menjambaknya.


Aku memegang tangan Dila yang masih menjambak rambutku. “Iya... Iya... Iya, kamu bukan anak SD, udah jangan jambak rambut aku, sakit Dila.”


Aku yang sedang asik bercanda dengan Dila sambil berjalan meninggalkan sekolah tiba-tiba Ridwan datang menghampiri aku dan Dila dan mengajak Dila untuk me-ngantarnya pulang dengan motornya.


Ridwan berhenti di dekatku dan Dila. “Eh Dila, mau bareng nggak?”


“Eh nggak usah, nanti ngerepotin.” Dila mencoba menolak ajakan Ridwan.


Ridwan mencoba meyakinkan Dila. “Enggak ko, lagian aku juga mau kerumah Robi dulu mau ngomongin tentang Ekskul.”


“Bener ni nggak papa?” Dila mencoba memastikan tawaran Ridwan.


“Iya nggak papa Dila.”


“Yaudah iya, aku terima tawaran kamu.” Akhirnya Dila menerima tawaran Ridwan untuk mengantarkannya pulang.


“Eh Den aku pulang duluan ya sama Ridwan, sampai jumpa besok.”


Dila berpamitan denganku tanpa sadar aku langsung memegang tangan Dila, yang ingin berjalan dan menaiki motor Ridwan. Dila yang merasakan kalau tangannya di pegang olehku langsung berbalik ke arahku.


“Eh maaf ya Dil nggak sengaja.” Ucapku sambil melepaskan tangan Dila yang aku pegang dan Dila hanya membalas ku dengan senyuman sebelum dia menaiki motor Ridwan dan diantar pulang.


“Dah.” Ucap Dila sambil melambaikan tangannya dan pergi bersama Ridwan.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman sebelum Dila dan Ridwan pergi menjauh, dari kejauhan sosok Dila menghilang karena jarak yang tak bisa tergapai.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2