
“Kamu berhasil, Deni.” Ucap Dila dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Suaranya memenuhi ruang gerbong, menciptakan harmoni di antara riuh kereta yang terus berlalu.
Aku tersenyum pada Dila. “Akhirnya, aku berhasil meraih tanganmu.”
“Aku pikir kejadian yang sama seperti sebelumnya akan terulang, saat kamu ditangkap petugas kereta.” Kata Dila menimpali perkataanku, sambil membalas senyumku.
“Cukup sekali saja aku gagal meraih tanganmu.”
Dengan kereta yang terus melaju, Dila menoleh ke arahku, matanya penuh pertanyaan tentang keberadaan Ridwan. “Ngomong-ngomong, Den, Ridwan ada di mana?”
Aku menghela nafas, mencoba menjelaskan situasi yang terjadi sebelumnya. “Tadi, aku memintanya naik kereta lebih dulu, tapi dia keras kepala ingin mencari mu. Kemungkinan dia tertinggal di stasiun.” Jawabku dengan suara yang sedikit terengah-engah akibat kelelahan per-jalanan.
Dila mengambil hp dari dalam tas dan mulai mengirim pesan ke Ridwan. Wajahnya terpancar harapan agar Ridwan mengetahui bahwa kami sudah berada di dalam kereta. “Ya udah, aku chat dia dulu, memberitahunya bahwa kita sudah bersama di dalam kereta.” Ucap Dila sambil mengetik pesan dengan cepat.
Sambil menunggu balasan dari Ridwan, aku menyodorkan minuman yang ku beli sebelum pergi ke stasiun. “Minum dulu, jangan sampai kamu kehilangan energi.” Kataku sambil memberikan minuman itu padanya. Dila menerima dengan rasa terima kasih, mengambil minuman itu dari tanganku, dan meneguknya
“Makasih ya.”
Setelah perjalanan yang melelahkan, kami tiba di Stasiun Kota Tua dan menantikan kedatangan Ridwan yang tertinggal di stasiun sebelumnya. Rasanya seperti setengah abad berlalu sebelum akhirnya Ridwan muncul, menyusul kami dengan langkah terburu-buru. Dila terlihat lega saat melihat Ridwan bergabung kembali dengan kami.
Tak ingin membuang waktu, kami segera bergegas menuju pameran mingguan tempat kami akan memotret lukisan-lukisan yang dipamerkan. Namun, kekhawatiran muncul dalam pikiran Dila. “Kamu tahu di mana tepat pamerannya?” Tanyanya kepadaku saat kami berjalan ber-sama, Ridwan berada di sampingnya.
“Nggak tau, soalnya aku belum pernah ke pameran.” Ucapku sambil menggelengkan kepalaku.
Tiba-tiba, Ridwan mengambil alih pertanyaan Dila yang di lontarkan kepadaku. “Aku tahu, karena dulu saat SMP sering melihat pameran di sana.”
“Emangnya disebelah mana pamerannya?”
Ridwan meraih tangan Dila dan mengajaknya mengikuti langkahnya. “Ikuti aku.” Kata Ridwan, mengarahkan mereka menuju pameran. Tapi Dila tidak ingin aku ter-tinggal dan memegang tanganku erat-erat agar aku tidak tersesat atau ketinggalan. Saat itu, kami saling bergenggaman melalui tangan Dila.
Sesampai di pameran, kami dengan semangat me-motret setiap lukisan yang kami temui. Tanpa sengaja, kamera ku menangkap momen indah saat Dila berdiri di dekat salah satu lukisan. Melalui lensa kamera, aku melihat Dila dengan kecantikan yang khas, terhias dengan latar belakang lukisan yang mempesona, diiringi oleh latar belakang lukisan yang begitu indah. Seperti magnet, keindahan lukisan dan pesona Dila menyatu dalam satu kesempurnaan yang tak terlupakan.
Saat aku menjelajahi pameran, melihat-lihat setiap karya seni yang dipajang, tak disangka aku menemukan sebuah pameran sajak yang menarik perhatianku. Langkah-ku pun terhenti di depan sebuah karya sajak yang tertulis dengan indah. Aku mendekatinya dan mulai membaca sajak tersebut dengan seksama.
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
(Sapardi djoko damono 1989)
Dalam sajak yang ditulis dengan indah, kata-kata itu mengalir dalam irama yang menggetarkan jiwa. Sajak itu membawa aku pada perjalanan emosi yang mendalam, menggugah imajinasi dan memancarkan makna yang dalam. Setiap barisnya menyiratkan kehidupan, cinta, dan keindahan alam dengan cara yang begitu menggugah hati.
Aku terhanyut dalam dunia kata-kata, merenungi makna-makna yang tersembunyi di balik tiap baris sajak itu. Seperti terhubung dengan penyairnya, aku merasakan getaran emosi yang sama, terinspirasi oleh kata-katanya yang melampaui batas-batas waktu dan ruang.
Dila yang melihatku tengah terpaku membaca sajak karya Sapardi Djoko Damono dengan tatapan penuh kekaguman, langkah-langkahnya mendekatiku. Suaranya yang lembut memecah keheningan.
__ADS_1
“Kamu lagi ngapain di sini, Den?” Tanyanya dengan rasa ingin tahu yang terpancar dari matanya.
Aku menatap Dila dengan penuh kekaguman, tersentuh oleh keindahan dan kedalaman sajak tersebut. “Aku sedang terpesona dengan sajak ini.” Jawabku dengan suara pelan.
Dila tersenyum lembut, memahami alasan di balik kekaguman ku. Kemudian, dia mendekatiku sedikit lebih dekat dan mulai membaca sajak tersebut dengan nada yang lembut, seperti melantunkan mantra yang mem-pesona.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucap, kayu kepada api yang men-jadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan, awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
Sajak itu terdengar seperti nyanyian puitis yang melintasi angkasa, menyentuh hati dan jiwa kita. Setiap kata yang diucapkan oleh Dila membawa kekuatan emosi yang tak tergambarkan. Saat itu, kami berdua berbagi momen yang penuh makna, terhubung oleh keindahan dan kekuatan kata-kata yang menyentuh hati.
“Kamu tau Dila? Puisi Aku Ingin ini menceritakan tentang perasaan sang penulis yang mencintai pujaan hatinya secara sederhana dan apa adanya, tidak mengharapkan imbalan mau pun belas kasihan. Dijelaskan pada larik 'Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.' Merupakan ketulusan sang penulis dalam mencintai pujaan hatinya. Mencintai tanpa mengharapkan imbalan dapat dibuktikan pada larik 'Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.' larik tersebut me-miliki makna bahwa sang penulis tidak mengutarakan perasaannya kepada sang pujaan hati, ia memilih bungkam dan tidak menunjukkan apa yang ia rasakan. Dan pada larik 'Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.' menunjukkan ketulusan hati sang penulis dalam mencintai dan menjaga perasaannya untuk tetap berada dalam hati saja, sampai akhir hayat yang membuatnya tetap memeluk erat perasaan itu. Jadi kesimpulannya, puisi Aku Ingin ini menjelaskan tentang perasaan hati sang penulis dalam mencintai sang pujaan hati dengan kesederhanaan dan tidak meminta imbalan, tidak memaksa perasaannya untuk terbalaskan.”
Dila terdiam, matanya terpaku padaku, mencermati setiap kata yang aku sampaikan dengan seksama. Hening melingkupi kami, dan aku bisa merasakan betapa kata-kata itu meresap ke dalam benaknya.
Aku tersenyum kecil, sambil memegang kepalaku. “Maaf, aku terbawa suasana.”
Dila menatapku dengan penuh ketertarikan. “Kamu sangat memahami sajak ini ya.”
Aku menggeleng perlahan. “Aku hanya bisa memahami makna umum dari kata-kata sajak ini. Tapi setiap orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda-beda, bukan?”
Dila tersenyum, menerima jawabanku. “Memang benar, setiap sajak dapat membangkitkan perasaan dan pemahaman yang unik pada setiap individu. Bagiku, mendengar mu mengartikan sajak ini dengan begitu penuh penghayatan adalah sesuatu yang sangat mengagumkan.”
Tak lama kemudian, Ridwan melangkah menuju ke tempat kami berdiri di pameran sajak. Nampaknya, selama ini ia tengah mencari Dila. Setelah mengabadikan cukup banyak foto untuk tugas seni budaya, aku keluar dari gedung pameran dan duduk di kursi yang teduh di bawah pohon. Dengan perlahan, aku meneguk minuman yang baru saja ku beli, merasakan dinginnya menyegarkan tenggorokanku.
Sambil menikmati momen itu, pandanganku tersesat ke arah sekeliling, dan tak lama kemudian, aku melihat Dila dan Ridwan berjalan menuju ke arahku.
“Aku kira kamu kemana.” Ucap Dila sambil duduk di kursi yang aku duduki juga.
“Sekarang kita mau kemana ni? Mumpung masih jam 15:30?” Kata Ridwan bertanya kepada Dila yang sedang duduk bersamaku.
Aku hanya mengangguk menyetujui perkataan Dila, kami pun pergi ketaman bermain di sana kami pun menghabiskan waktu untuk memasuki rumah kaca dan rumah hantu, menangkap ikat koi dengan kertas kemudian lomba mewarnai yang ada di sana.
“Oh iya, sebelum pulang, ayo kita naik Bianglala dulu.” Ucap Dila dengan penuh semangat, menarik tanganku dengan lembut menggunakan tangan kanannya dan Ridwan dengan tangan kirinya. Dila terlihat begitu bahagia, ter-senyum dengan keindahan yang memancar dari wajahnya. Namun, tak terbersit sedikitpun di benakku bahwa saat ini kami bukan berdua, tetapi bertiga, dengan kehadiran Ridwan.
“Ayo naik.” Ajak Dila kepada kami berdua. Bersama-sama, kami menaiki Bianglala. Aku duduk sendirian di hadapannya, sedangkan Dila duduk bersama Ridwan.
Tiba-tiba, suara Ridwan menghentak keheningan. “Emangnya kamu nggak takut ketinggian?” Tanya Ridwan heran, sementara Dila menengadah ke arah langit yang mulai berubah menjadi jingga.
Dila tersenyum dengan lembut, tatapannya terikat pada langit yang semakin indah. “Dulu memang aku takut ketinggian.” Ucapnya dengan suara yang penuh keyakinan. “Tapi semenjak Deni mengajakku naik Bianglala dan me-lihat langit sore yang indah, rasa takut itu seketika hilang.”
Ridwan terlihat terkejut mendengar perkataan Dila, dia menatap Dila dengan ekspresi campur aduk. “Kamu pernah naik Bianglala bareng Deni?”
“Iya, itu tahun lalu.” Jawab Dila dengan senyuman yang mengandung cerita yang tak terungkap.
Namun, tiba-tiba saja Bianglala berhenti, dan warna jingga menyinari sekitar kami. Ridwan, yang belum pernah mengalami situasi seperti ini, menjadi panik. “Ini kenapa? Apa yang sedang terjadi?” serunya khawatir.
Sementara Ridwan mencari penjelasan, Dila tiba-tiba mendekati jendela Bianglala di sampingku dan membuka-nya. “Dila, hati-hati!” seru Ridwan dengan panik, berusaha menghentikan tindakan Dila yang mengkhawatirkannya.
Namun, aku mencoba menenangkan Ridwan yang panik, sambil memegang tangan Dila agar tidak jatuh karena dia tak melihat bahaya di balik jendela yang terbuka itu. “Santai saja, sebentar lagi listriknya pasti menyala kembali.” Kataku mencoba meredakan kepanikan Ridwan.
“Lihat, itu seperti burung.” Kata Dila sambil menunjuk ke arah awan yang membentuk siluet seekor beruang.
Ridwan semakin panik karena Dila terus membuka jendela, tetapi karena Dila terlalu asyik memperhatikan keindahan senja, ia tidak menghiraukan kata-katanya. “Dila, jangan membuka jendelanya!” Ucapku dengan suara ber-getar.
Aku langsung memegang tangan Dila dan menutup jendela Bianglala itu, sambil menunjukkan peraturan yang terpampang di tembok. “Lihat, itu peraturannya. Tidak boleh membuka jendela Bianglala.”
__ADS_1
Dila tersenyum kecil, menyadari kesalahannya. “Maaf, aku terbawa suasana tadi.” Ucapnya dengan suara yang lembut.
“Eh, ini serius bakal nyala lagi bianglala nya?” seru Ridwan dengan nada khawatir, masih belum yakin bahwa situasi akan segera berubah.
Dila menatap Ridwan dengan penuh keyakinan. “Iya, percayalah, sebentar lagi bianglala nya pasti menyala kembali.” Ucapnya dengan suara yang lembut, sambil duduk di sampingku sambil meyakinkan pada Ridwan.
Tak lama kemudian, bianglala pun tiba-tiba menyala kembali, memancarkan cahaya yang memecah kegelapan malam. Hari telah berubah menjadi malam, dan kami bertiga turun dari bianglala tersebut. Langkah-langkah kami menuju stasiun terdengar di tengah keheningan malam, menciptakan jejak-jejak yang menghilang di bawah cahaya jalan yang redup.
Aku melihat wajah Dila yang terlihat pucat dan kelelahan, hampir tak sanggup berdiri lagi. Tanpa berpikir panjang, aku segera berjongkok di depannya, menginginkan agar dia naik di punggungku untuk ku santap dengan tenaga terakhir yang kumiliki.
Dila terkejut dengan tindakanku yang tiba-tiba. “Kenapa, Den?” Ucapnya dengan raut wajah yang membingungkan, melihat aku berjongkok di hadapannya dan mengajaknya naik di punggungku.
“Aku melihatmu terhuyung-huyung sejak tadi, khawatir kamu bisa pingsan sebelum kita sampai di stasiun, apalagi jaraknya masih cukup jauh.” Jawabku sambil mencoba meyakinkannya.
Dila mencari kepastian. “Kamu yakin nggak apa-apa?”
Aku tersenyum kecil. “Tentu saja, aku kan kuat.”
Dila tersenyum dan mengingat sesuatu. “Sepertinya aku pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.”
“Itu adalah kalimat yang pernah kamu ucapkan ketika aku menjenguk mu saat kamu sakit.” Kataku sambil mengenang kembali momen itu.
Dila akhirnya naik di punggungku dan aku pun berjalan dengan hati-hati, membawa Dila yang berada di punggung ku. Sesekali, aku melihat wajah kesal Ridwan karena Dila yang aku gendong.
“Maaf ya, Den, merepotkan mu.” Ucap Dila yang terdengar lemah, sambil menutup matanya yang ingin kembali terlelap di punggungku.
Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata Dila. Sepanjang perjalanan menuju stasiun, Dila tetap tertidur dengan nyenyak, sementara Ridwan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ketika kami tiba di stasiun, aku meminta bantuan Ridwan untuk membeli tiket kereta. Awalnya, dia menolak, namun setelah mengetahui bahwa itu untuk kebaikan Dila, dia akhirnya menyetujuinya. Setelah Ridwan pergi membeli tiket, aku mencari tempat duduk untuk ber-istirahat tanpa menyadari bahwa Dila yang berada di punggungku telah terbangun dari tidurnya.
“Kita sudah sampai?” Tanya Dila kepadaku, matanya terbuka perlahan.
“Kita baru saja tiba di stasiun. Sekarang, Ridwan sedang membeli tiket kereta untuk kita.” Jawabku, mem-biarkan Dila turun dari punggungku dan duduk di kursi stasiun.
“Tunggu sebentar ya, aku akan membeli minuman dulu.” Aku berjalan ke mesin minuman dan membeli tiga minuman untuk kita bertiga. Setelah beberapa saat, aku kembali ke tempat Dila dan memberikan minuman yang ku beli kepadanya.
“Ini minuman untukmu.” Kataku sambil mengambil satu kaleng minuman dari kantong plastik yang kubawa, kemudian membukanya.
Dila tersenyum dan meneguk minuman yang kuberikan. “Terima kasih.”
Tak lama berselang, Ridwan mendekatiku dan Dila yang masih duduk di kursi stasiun. Dia memberi tahu bahwa kereta yang kita tuju akan berangkat dalam waktu lima menit. Aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan menuju kereta yang akan kita naiki.
Sebelum naik ke kereta, aku melemparkan kaleng minuman yang masih ku genggam ke arah Ridwan, sambil berjalan mengikuti Dila dari belakang. “Ini buat lu.”
“Oke, terima kasih.”
Kami berjalan menuju peron kereta yang penuh dengan penumpang yang menunggu. Saat kereta tiba, kami naik dengan hati-hati dan mencari tempat duduk yang kosong.
Di dalam kereta, aku, Dila, dan Ridwan duduk bersama. Dila berada di tengah, aku di sebelah kanan, dan Ridwan di sebelah kiri. Waktu di dalam kereta, kelelahan menghampiriku, dan akhirnya aku tertidur pulas. Tanpa sengaja, kepala dan bahunya terasa nyaman untuk ku senderkan dan kupikir dia tak terganggu. Dila membiarkan aku ber-sender kepadanya, mempertahankan kedekatan yang tak biasa ini.
Aku memang tidak suka ketika ada orang lain yang mendekatimu atau berusaha akrab denganmu, tetapi aku juga sadar bahwa kamu belum menjadi milikku, dan aku tidak punya hak untuk melarang mu menjalin hubungan baik dengan siapapun.
“Den, bangun. Kita sudah sampai.” Ucap Dila dengan suara lembut, membangunkan ku dari tidurku. Mataku ter-buka dan aku melihat sekeliling. Ternyata semua penumpang telah keluar kecuali kami bertiga: aku, Dila, dan Ridwan.
“Maaf ya, tadi aku tertidur.” Ucapku sambil menggeliat. Dila tersenyum padaku dan melangkah mendahuluiku. “Nggak apa-apa.” Jawabnya dengan lembut.
Setelah keluar dari kereta, tampaknya Dila ingin segera pulang karena ada yang menjemputnya di stasiun. Aku dan Ridwan berjalan bersama menuju pintu keluar stasiun. Setelah meninggalkan stasiun, kami berdua pun berpisah, meninggalkan Dila yang melangkah pergi dengan orang yang menjemputnya.
__ADS_1
...****************...